
Arkana dan Seroja telah tiba di mansion. Pria itu segera naik keatas menuju kamarnya, sedangkan Seroja pergi ke kamar ibunya untuk memastikan keadaannya. Ia bersyukur kondisi ibunya kini telah berangsur membaik.
Ia meninggalkan kamar ibunya setelah memastikan wanita itu meminum obat dan beristirahat. Dirinya terkejut saat seseorang menarik tangannya dari belakang. Ternyata Aulia yang berada dibelakangnya, gadis itu menarik Seroja keatas menuju kamarnya.
Keduanya duduk dipinggir ranjang, Aulia begitu bersemangat untuk menanyakan sesuatu padanya.
" Katakan padaku, bagaimana hubunganmu dengan kakakku? Sepertinya kalian mulai akur sekarang. Aku tak menyangka kakakku bisa bersikap semanis itu padamu." tanyanya penasaran.
Seroja tak menyangka Aulia akan menanyakan hal sebodoh itu,
" Manamungkin kakakmu bisa akur denganku. Aku yakin dia sengaja melakukan hal itu untuk memanas-manasi kak Ardi." jawabnya spontan.
Serojapun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Aulia.
Aulia mendengarkan penjelasan sahabatnya dengan seksama, iapun kembali memancing Seroja untuk tahu sejauh mana hubungan sahabatnya itu dengan Kak Ardi.
" Lalu, apa Kak Ardi mengatakan sesuatu padamu saat aku meninggalkan kalian tadi? "
Begitu berat kalimat itu terlontar dari mulutnya. Namun, dirinya harus berani menerima kenyataan jika pria tersebut ternyata telah meresmikan hubungannya dengan Seroja.
Wajah Seroja berubah murung, " Dia tidak mengatakan apa-apa. Akupun segera pergi karena jam kuliahku akan segera dimulai. Aku bingung, manamungkin sebagai wanita aku menembaknya terlebih dahulu. Aku ragu apa dia juga punya perasaan yang sama sepertiku. " ungkapnya lemah.
Antara senang dan sedih, Aulia lega mendengar jawaban Seroja. Akan tetapi, iapun tak tega melihat sahabatnya murung seperti ini. Ia merengkuh tubuh Seroja dan memeluknya.
" Kau harus bersabar. Tuhan tahu kapan saat yang tepat untuk menyatukan bila kalian berjodoh. Aku doakan yang terbaik untuk kalian berdua. "
" Terima kasih. Kau memang sahabat terbaikku." Seroja membalas pelukan Aulia.
Deg...
Jantung Aulia berdesir mendengar perkataan Seroja. Ia benar-benar merasa bersalah karena memiliki perasaan pada lelaki yang sama dengan sahabatnya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Perasaan itu muncul begitu saja dari hati tanpa mampu ia mencegahnya.
...----------------...
Hari ini sama seperti hari biasanya, Seroja menunggu Arkana untuk berangkat menuju kampus. Dari kejauhan nampak pria itu berjalan mendekatinya. Arkana memasang tampang masam,
" Lama-lama aku bosan melihat tampangmu. " ucapnya dingin saat berpapasan dengan Seroja.
" Kau pikir aku senang harus bersama dengan pria menyebalkan sepertimu. Weekk ! " gadis itu menjulurkan lidah tanda mengejek.
__ADS_1
Keduanya masuk kedalam mobil, Arkana memilih duduk dibelakang kali ini. Tanpa basa basi Seroja segera melajukan mobil menuju kampus. Keduanya hanya terdiam, Arkana memandang sisi jalan untuk mengalihkan perhatian, sedangkan Seroja lebih fokus dalam menyetir.
Chiiittttt...
Tiba-tiba Seroja menghentikan laju mobilnya hingga membuat Arkana kaget, apalagi ia tak memakai sabuk pengaman.
" Hei ! Apa kau mau mencelakaiku? Yang benar saja kalau menyetir. " ucapnya kesal.
" Lihat kedepan,, kita dihadang. " jawab Seroja singkat.
Arkana segera menatap kedepan. Benar saja, sebuah mobil sport dan beberapa motor menghalangi jalan mereka saat sampai dijalanan sepi menuju kampus. Ia tahu betul siapa pemilik mobil itu.
" Breng**k !! " Ia keluar dari mobilnya dengan penuh emosi.
Seroja heran, kenapa pria itu susah sekali untuk mengendalikan dirinya. Ia tetap berada didalam mobil sambil memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Seseorang turun dari dalam mobil tersebut, Arkana tahu mengenalnya sebab lelaki itu juga satu kampus dengannya. Bersamaan dengan itu, sepuluh orang lelaki bertubuh kekar juga turun dari motornya.
" Aku tidak punya urusan denganmu. Berani- beraninya kau menghalangi jalanku. " ia menatap tajam pada pria tersebut sambil mengepalkan tangan sebagai pelampiasan kekesalan.
" Tidak punya urusan katamu? Dasar baj*ngan ! kau pikir aku tidak tahu kalau kau telah merebut Helena dariku! " teriak pria itu penuh emosi.
Arkana tersenyum sinis, ia tak menyangka pria itu bisa berbuat nekad hanya untuk seorang wanita.
" Aku tidak pernah memintanya untuk menjadi kekasihku. Dia sendiri yang menawarkan dirinya agar bisa menjadi kekasihku. Kalau kau mau, kau boleh mengambilnya kembali. " sindirnya pada Gio.
Gio semakin terbakar emosi, pria itu seolah- olah menganggapnya sebagai pengemis cinta. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk bersiap mengeroyok Arkana.
Seroja segera turun, ia yakin sebentar lagi pasti akan terjadi perkelahian disana. Apalagi, rasanya sungguh tidak adil jika Arkana harus melawan kesebelas orang itu seorang diri.
Arkana melirik gadis yang saat ini berada disebelahnya, ia tak menyangka Seroja mau menolongnya disaat seperti ini. Padahal, dirinya selalu bersikap kurang baik terhadap gadis itu.
Gio tertawa melihat Arkana bersiap melawannya dengan seorang wanita, apalagi mereka hanya berdua saja.
" Jadi ternyata benar gosip yang beredar dikampus, seleramu kini sudah berubah 180 derajat. Aku tak menyangka seorang Arkana yang gila popularitas kini berpasangan dengan gadis kampungan macam dia. " ejek Gio.
Arkana semakin geram, ia tak menyangka dirinya kini telah menjadi buah bibir dikampus.
" Tidak perlu banyak bicara, maju saja kalau kalian masih punya nyali."
__ADS_1
Gio mengkode anak buahnya untuk maju dan memberi pelajaran pada rivalnya. Merekapun maju satu persatu melawan Arkana dan Seroja.
Buughhh... Buughhh... Buughhh...
Perkelahian tak terelakkan lagi, Arkana dan Seroja menghajar musuhnya satu persatu.
Gio tak menyangka Arkana apalagi gadis itu begitu mahir dalam hal beladiri. Pria itu merasa kewalahan menghadapi rivalnya kali ini. Ia mengajak anak buahnya untuk mengeroyok mereka secara bersama-sama.
Arkana dan Seroja memasang kuda-kuda dan bersikap waspada, kini mereka dikepung oleh kesebelas orang tersebut.
" Habislah kau sekarang !! " Gio dan anak buahnya serempak menyerang keduanya.
Duughhh... Duughhh... Duughhh...
Seroja menendang penjahat itu dengan kakinya saat Arkana meraih tubuhnya dan memutarkan ke seluruh penjuru. Seluruh preman itu tumbang seketika.
Mereka mencoba berdiri dan melawan kembali, tetapi Seroja dan Arkana justru menghajarnya habis-habisan. Seluruh preman itu kabur setelah tak berdaya menghadapi keduanya. Giopun memilih ikut kabur setelah anak buahnya meninggalkannya.
" Huuhhh...Dasar pecundang. Bisanya kabur kalau sudah tidak berani melawan ! " teriak Seroja sambil meloncat kegirangan saat melihat musuhnya lari terbirit-birit.
Tanpa disadari dirinya hampir terjatuh saat menginjak sebuah batu yang ada dibelakangnya. Dengan sigap Arkana menangkap Seroja.
Kedua netra itu sekilas bertemu, Seroja segera berdiri dan membenahi pakaiannya kemudian masuk kedalam mobil. Ia benar-benar malu kali ini, dirinya baru sadar untuk kedua kalinya pria itu memeluknya meskipun hal itu karena faktor darurat.
Arkana menyusulnya masuk kedalam mobil, kali ini dirinya duduk di bangku samping kemudi. Rasa canggung menyeruak, mereka terdiam kembali sampai tiba-tiba Arkana mengucapkan sebuah kata padanya.
" Terima kasih. "
Seroja mendelik seketika, ia memastikan kali ini telinganya berfungsi dengan baik atau tidak.
" Hei, apa yang kau lakukan! " Arkana kesal melihat gadis itu justru membuka dan menutup telinganya seolah mengejek.
" Apa tadi kau bilang, coba ulangi sekali lagi. " pinta Seroja mencoba mendengarkan seksama. Rasanya seperti hujan dimusim kemarau, baru kali ini ia mendengar pria itu mengucapkan kata-kata yang baik untuknya.
" Gadis menyebalkan. " Arkana menonyor pelan kepalanya sambil berpura-pura kesal.
Seroja memasang wajah cemberut, namun kali ini dirinya senang pria itu bisa sedikit menghargainya. Keduanyapun memutuskan untuk segera menuju kampus sebelum terlambat.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...