
Juragan Jarot terperanjat kaget saat menyadari gadis itu telah mempunyai calon suami yang begitu tampan dan sepertinya dari kalangan orang berada.
Arkana menghampiri Seroja, gadis itu merasa tegang saat tangan Arkana tiba-tiba melingkar dipinggangnya. Pria itu menatap penuh damba padanya, seolah dia sangat merindukan pasangannya.
" Ayo sayang, kita pergi dari sini, aku rindu sekali padamu. Lain kali jangan seperti itu. Kau harus menceritakan semua masalahmu padaku." ucapnya sambil mengerlingkan mata sebagai kode untuk Seroja.
" Ba,,baiklah." cukup gugup memang rasanya hati Seroja diperlakukan seperti itu oleh Arkana. Keduanya berjalan hendak meninggalkan mimbar tersebut.
Juragan Jarot tak terima, ia tak ingin kehilangan Seroja.
" Tunggu ! Kau tak bisa membawanya begitu saja. Dia adalah alat pelunas hutang Bapaknya. Jadi kau tak boleh membawanya begitu saja! " gertak bandot tua tersebut.
Arkana melepaskan tangannya dari pinggang Seroja, iapun berjalan menghampiri lelaki tua itu.
" Memangnya berapa hutang calon ayah mertuaku itu? " tanyanya santai.
" 500juta. " juragan Jarot seketika menjawabnya.
Seluruh tamu undangan membelalak tak percaya jika Pak Anwar memiliki hutang sebanyak itu padahal hutang lamanya sudah dibayar dengan menjual rumahnya yang dahulu. Namun, mengingat pria tersebut adalah seorang rentenir mungkin bisa saja lantaran dirinya mematok bunga yang sangat tinggi.
Juragan Jarot tersenyum sinis, ia yakin pemuda itu akan berpikir dua kali untuk membayar hutang Anwar yang sebanyak itu.
Arkana tertawa meledek,
" Jadi cuma segitu sampai-sampai calon istriku rela mengorbankan masa depannya? "ia berbalik menatap Seroja.
" Sayang, apa kau belum kenal siapa keluargaku sebenarnya? Uang sebesar itu tidak semahal tas ibuku dirumah. " sindirnya.
Seroja dan semua yang hadir kembali dibuat tercengang. Akan tetapi, Seroja sadar mungkin kenyataannya memang seperti itu. Pasalnya, Arkaana rela merogoh kocek 125juta hanya untuk membeli kado saat ulang tahun Helena. Apalagi untuk ibunya sendiri, mungkin uang segitu tidak ada arti baginya. Sangat berbanding terbalik dengannya, membayangkannya saja sepertinya tidak.
Arkana kembali menghampiri juragan Jarot,
" Berikan nomor rekeningmu, aku akan mentransfernya sekarang juga. Aku tidak betah berlama-lama disini. " ucapnya dengan sedikit angkuh.
Juragan Jarot merasa tak terima dihina seperti itu, bagaimanapun ia harus menunjukkan wibawanya ditengah-tengah warga kampung dan juga sahabat-sahabatnya yang hadir.
Dengan geram ia memerintahkan anak buahnya untuk meringkus Arkana.
" Kalian, hajar begundal ini! Hajar dia dan buat berlutut dihadapanku! " ucapnya begis.
Dirinya begitu terkejut, hanya segelintir orang yang maju untuk berhadapan dengan Arkana. Ia menoleh ke sekeliling, dirinya baru menyadari anak buahnya yang lain sepertinya tidak ada disana.
Arkana tersenyum puas, pria itu sepertinya sedikit kelabakan. Dirinya menepuk tangan beberapa kali untuk memanggil para bodyguard terbaik Papanya.
__ADS_1
Juragan Jarot kembali dikejutkan dengan kedatangan belasan orang berbadan tinggi, kekar dan tegap. Nyalinya mulai menciut melihat lawannya yang terlihat sangat kuat. Ia kebingungan, setidaknya jika anak buahnya semua ada, jumlah anak buah rivalnya itu masih kalah jauh darinya.
Arkana kembali menyeringai senang,
" Kenapa kau bingung seperti itu? Apa kau mencari para anak buahmu? Mereka sepertinya sudah larut dalam mimpi indahnya. " sindir Arkana.
Yah, tengah malam tadi para bodyguard kiriman Alvin telah berhasil menyusul Arkana. Pemuda itu mengajak para anak buahnya untuk berunding dan menjalankan rencana sehalus mungkin.
Arkana sedikit berbeda dengan Alvin, Papanya. Meskipun keduanya sama-sama keras kepala, tapi Arkana selalu mengedepankan akalnya dan tidak gegabah dalam mengambil tindakan.
Dirinya tidak ingin sampai ada keributan besar, apalagi pertumpahan darah disana. Jangan sampai dirinya menimbulkan masalah di daerah orang lain.
Iapun meminta para bodyguard untuk menyamar sebagai tamu undangan yang hadir lebih awal. Lalu, merekapun membius satu-persatu anak buah bandot tersebut hingga semua yang ada diluar pingsan seketika. Juragan Jarot tidak menyadari hal itu sebab salah satu anak buahnyapun telah disuap untuk bisa mengalihkan perhatiannya.
" Kurang ajar! Bren***k!! Serang! " Teriak Jarot dengan penuh emosi memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyerang.
Dengan begitu mudah anak buah Juragan Jarot dibekukan oleh bodyguard Arkana. Mereka juga telah menyelamatkan Pak Anwar sebelum dijadikan tawanan kembali pria itu. Sedangkan Arkana sendiri, ia ingin memberi pelajaran pada bandot tua tersebut.
Buughhh...Buughhh...Buughhh...
Dengan beberapa pukulan saja pria tua itu sudah mulai kepayahan.
" Harusnya pria seusiamu itu sudah waktunya bertobat, bukannya membuat ulah seperti ini. Dasar bandot tua tidak tahu diri! " sindir Arkana.
Arkana yang melihat kedatangan gadis itu segera menghalanginya.
" Kau mau apa? Apa kau mau berkelahi dengan pakaian seperti itu? " tanyanya heran dengan gadis yang sedang berkebaya saat ini.
" Lepaskan! Aku juga mau memberi pelajaran pada bandot tua ini! " ia menepis tangan Arkana, lalu menaikkan sedikit bawahannya agar lebih mudah berjalan.
Ditatapnya Juragan Jarot yang sudah kepayahan, pria itu hendak berdiri untuk menyeimbangkan badan. Dengan sekuat tenaga gadis itu melayangkan beberapa tinju dan tendangan ke arah pria tersebut.
" Ini untuk membalas sakit hatiku dan luka yang telah kau berikan pada Bapakku. Rentenir keji! "
Bruk..
Juragan Jarot akhirnya kembali tumbang.
Seroja meloncat kegirangan, akhirnya lelaki tua itu KO juga.
Arkana geleng-geleng kepala dengan apa yang baru saja Seroja lakukan. Serojapun segera berlari kearahnya.
" Ayo kita segera pergi dari sini. " ajaknya bersemangat, gadis itu akhirnya bisa tertawa kembali setelah beberapa hari ini tangisnya tak kunjung surut. Setidaknya ia tidak jadi menikah dengan bandot tua itu.
__ADS_1
Arkana menonyor pelan kepala gadis itu,
" Kau ini memang wanita jadi-jadian. Bisa-bisanya berbuat sesadis itu." ia berjalan dibelakang Seroja.
Tanpa sengaja dirinya melihat kemben gadis itu sedikit melorot, mungkin karena tingkahnya yang diluar batas. Apalagi bahan kebaya luarnyapun bermotif transparan.
" Dasar gadis ceroboh. " gerutunya kesal.
Ia melepas jaket luar yang dikenakannya lalu memakaikannya pada gadis itu.
Seroja heran dengan apa yang dilakukan pria tersebut.
" Kenapa kau memakaikan jaket untukku? Aku tidak merasa kedinginan?" gerutunya.
Arkana menghela nafas panjang,
" Sudah pakai saja. Aku tidak mau kalau kau sampai masuk angin."
Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Kalau gadis itu tahu, mungkin bukan ucapan terima kasih yang ia terima, melainkan bogem mentah yang akan melayang ke wajahnya.
Keduanya hendak keluar, tanpa mereka sadari Juragan Jarot masih bisa meraih kesadarannya. Pria itu mengambil sebuah pistol yang ada di belakang punggungnya dan mengarahkannya pada Arkana dan Seroja. " Mati kalian ! "
Dor...Dor....
Netra Juragan Jarot terbelalak, bukannya Seroja dan Arkana yang terkena peluru darinya, melainkan istri pertamanya.
Wanita itu mengetahui apa yang akan dilakukan sang suami, iapun segera menghalangi niat buruk suaminya. Karena peluru tersebut meluncur begitu cepat, wanita itu rela mengorbankan dirinya untuk melindungi keduanya.
Seroja dan Arkana berbalik, mereka terperanjat ketika melihat istri juragan Jarot telah bersimbah darah akibat terkena tembakan sang suami.
" Ma...maaaa" pria tua itu berlari dan memeluk tubuh sang istri yang hampir meregangkan nyawa.
Meskipun ia ingin menikah lagi, tapi cintanyapun begitu besar terhadap sang istri. Wanita itulah yang pertama kali mendampinginya disaat kehidupan mereka masih susah hingga berjaya seperti sekarang. Wanita yang selalu setia dan pengertian kepadanya, namun kini sang suami telah diperbudak oleh kekuasaan.
Lelaki tua itu menangis hingga tangisannya itu menyayat hati. Terkadang kita baru mengerti arti penting seseorang setelah orang tersebut tidak ada disamping kita. Seroja dan Arkana ikut terharu dan miris menyaksikan apa yang ada dihadapannya saat ini.
Disela-sela sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, wanita itu berpesan agar sang suami mau bertobat dan menjadi pengayom untuk anak-anaknya yang telah dewasa.
Pria itupun akhirnya menyadari kesalahannya selama ini. Ia telah dibutakan oleh harta, tahta dan wanita tanpa memperdulikan perasaan sang istri yang begitu sayang dan setia padanya. Iapun berjanji akan menebus segala kesalahannya dimasa lalu dan mengembalikan uang warga yang telah dibungakannya dengan sangat tinggi.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...
__ADS_1