Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

Pagi ini Arkana kembali membuat janji temu dengan Tuan Yamada. Pria itu sekaligus ingin menanyakan mengenai jaminan privasi keamanan hotel milik Tuan Yamada. Sejujurnya ia masih kesal, bagaimana bisa Aluna masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


" Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Wanita itu memang datang menemui saya. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih anda dan ingin memberikan kejutan pada Tuan ditempat ini. Saya percaya saja padanya." sesal Tuan Yamada. Meskipun sebenarnya ia menutupi bagaimana Aluna merayunya untuk memberikan kunci duplikat kamar Arkana.


" Baiklah saya maafkan. Tapi, lain kali tolong jangan melakukan hal seperti itu diluar sepengetahuan saya. Kemungkinan saya akan membatalkan kerjasama kita jika hal itu terulang kembali. " tegasnya dengan wajah dingin.


" Tuan tenang saja. Kejadian seperti itu saya pastikan tidak terulang lagi. Sebagai ucapan permintaan maaf, saya ingin menyerahkan tiket bulan madu VVIP gratis di negara ini untuk anda dan istri anda. Jangan lupa kenalkan saya dengan wanita beruntung itu. " pria itu menyodorkan sebuah amplop padanya.


Wajah Arkana berbinar seketika, ia begitu senang menerima tiket tersebut. Memang itu merupakan salah satu tujuannya berangkat ke Jepang.


" Apa boleh buat, dengan senang hati saya menerimanya. Terimakasih atas kebaikan anda, Tuan Yamada. " pria itu membungkuk hormat sebagai ungkapan terima kasihnya.


Setelah urusannya dengan Tuan Yamada selesai, Arkana segera pergi dari tempat tersebut. Ia menatap tiket yang ada ditangannya dengan suka cita. Rasanya ia sudah tak sabar menunjukkan tiket itu pada istrinya.


" Dia pasti akan senang sekali." seutas senyum menghiasi wajah tampannya.


Dert...Dert...


Sebuah panggilan dari Aulia cukup mengejutkan lelaki itu. Tidak biasanya Aulia menelpon kecuali jika ada sesuatu hal yang penting.


" Ka,,kak."


Suara gadis itu tercekat di tenggorokan. Rasanya sungguh berat menyampaikan berita itu pada sang kakak. Sesekali isak tangis terdengar dari balik telepon.


Entah mengapa hati Arkana berdebar tak karuan, ia merasa sesuatu hal buruk tengah terjadi. Perasaan gugup, cemas dan takut memenuhi pikirannya saat ini.


" Ada apa? Katakan apa yang sebenarnya terjadi? " tanyanya ragu.


Gadis itu semakin tak mampu menahan tangisnya. Ia berusaha mengumpulkan segenap keberanian untuk mengungkap kenyataan yang ada.


" Kakak,, Seroja menghilang dan kemungkinan dia meninggal akibat kecelakaan."


Jlebb...


Pria itu terhenyak mendengar apa yang baru saja disampaikan Aulia. Jantungnya seakan dihujam ribuan pisau hingga perih tak terkira. Iapun langsung mematikan sambungan teleponnya. Wajahnya kini telah sembab oleh airmata.


Rasanya ia tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya. Dengan segera ia berlari tanpa memperdulikan apapun. Ia menghubungi pilot pesawat pribadinya untuk melakukan penerbangan ke tanah air saat ini juga.


" Tidak..Tidak mungkin. Kau tidak boleh meninggalkanku secepat itu!" batinnya mengelak.


...----------------...

__ADS_1


Dalam beberapa jam Arkana telah tiba di tanah air. Ia buru-buru pulang ke mansion untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Dirinya masih berharap apa yang didengarnya itu tidaklah benar.


Deg...


Jantungnya semakin berdebar hebat kala melihat raut kesedihan dan airmata dari para penghuni mansion.


" Tu,, Tuan Muda. Anda telah kembali?" sapa Bu Yani dengan wajah bersimbah air mata.


Arkana menelan ludahnya kasar, rasanya ia belum siap menghadapi semuanya.


" Mana Mama dan yang lainnya, Bi? " tanyanya datar.


" Nyonya baru saja sadar dari pingsannya. Non Aulia sedang menemani beliau diatas, Tuan."


Dengan langkah gontai pria itu menaiki tangga menuju kamar sang Mama, kebetulan kamar itu sedikit terbuka. Dirinya berdiri di depan pintu, netranya menatap iba melihat sang Mama tergolek lemah diatas ranjangnya.


Bianca menatap dalam kearah putranya. Wajah Arkana nampak kusut dengan penampilan yang sedikit acak-acakan. Netranya yang merah menunjukkan bahwa pria tersebut baru saja menangis. Sungguh, wanita itu tak sanggup melihat keadaan putranya sekarang. Apalagi, semua ini terjadi akibat kesalahannya.


Tiba-tiba dirinya menangis sesenggukan akibat rasa bersalah yang memenuhi dadanya. Aulia terkesiap, ia kembali mencoba menenangkan Mamanya, meskipun dirinya sendiri belum mampu membendung airmatanya.


Arkana berjalan perlahan mendekati keduanya. Dirinya berdiri tepat disamping ranjang sang Mama. Mulutnya terasa sulit untuk berkata, namun dirinya harus tahu yang sebenarnya.


" Katakan, apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanyanya dengan suara yang agak berat menahan kesedihan.


" Kemarin Seroja menghilang. Kami telah mencarinya kemana-mana, tapi tidak juga menemukan keberadaannya. Papa lalu mengerahkan seluruh bodyguard dan aparat kepolisian untuk mencarinya kembali. Alhasil, Seroja ditemukan meninggal dalam kecelakaan mobil di luar kota." jelas Aulia.


Arkana mengernyitkan dahinya lantaran heran,


" Kenapa istriku bisa sampai menghilang? Ada apa sebenarnya? Lalu, menurutku rasanya tidak mungkin. Seroja tidak pernah menyetir sendiri setelah menikah. Bagaimana bisa dirinya mengalami kecelakaan mobil? " cecarnya pada sang adik.


Aulia bingung harus berkata apa, ia takut Arkana akan naik pitam saat tahu istrinya pergi lantaran pertengkarannya dengan sang Mama.


" Aulia,, cepat katakan! " bentaknya tak sabar.


Bianca menatap wajah putrinya yang sedang bimbang. Wanita itu mengangguk seolah memberi isyarat pada putrinya untuk berbicara yang sebenarnya.


Dengan terpaksa Aulia menceritakan semua yang terjadi pada kakaknya. Arkana mematung, pikirannya entah kemana. Dirinyapun merutuki kebodohannya lantaran tidak segera membakar hangus surat kontrak nikah yang kini menjadi malapetaka bagi keluarganya.


Bianca menarik telapak tangan putranya secara tiba-tiba.


" Maafkan Mama. Ini semua salah Mama, harusnya Mama percaya dengan apa yang dikatakan oleh Seroja waktu itu. Mama khilaf. " airmata penyesalan membasahi telapak tangan putranya.

__ADS_1


Arkana hanya terdiam tanpa menjawab, ia mengalihkan pandangannya pada Aulia.


" Dimana jenazah itu berada sekarang? "


" Papa bilang tadi jenazahnya telah dibawa ke rumah sakit Xx untuk diidentifikasi lebih lanjut. Namun, mengingat jenazah itu benar-benar hangus terbakar. Mereka hanya mampu memastikan dari sebagian ciri fisiknya yang kebetulan mirip dengan Seroja. Terutama wanita itu memakai cincin berlian yang mirip sekali dengan yang kakak berikan pada Seroja. Disana ditemukan tas yang telah terbakar, tapi sebagian isi dompetnya masih ada yang tersisa. Disana terdapat kartu identitas Seroja."


Tubuh Arkana terhuyung seketika mendengar keterangan Aulia. Jiwanya seolah tak mampu menerima kenyataan yang ada. Dengan segera ia menghempaskan tangan sang Mama dan berlari meninggalkan kamar tersebut.


" Arkana! " panggilan sang Mama seolah bagaikan angin lalu. Bianca terpukul dengan kepergian putranya, namun ia tahu kondisi putranya sangat labil saat ini.


" Semoga putraku mau memaafkan segala kesalahanku." batinnya berharap.


...----------------...


Arkana kini tiba dirumah sakit yang dimaksud oleh Aulia. Dirinya segera mencari informasi mengenai jenazah tersebut. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Papa Alvin.


" Arkana?!" pria itu terkejut melihat kehadiran putranya.


Arkana berlari menghampiri sang ayah.


" Dimana jenazah itu, Pa? Katakan kalau semua tidak benar! Jenazah itu bukan jenazah istriku kan Pa! " teriaknya sambil berderai airmata.


Alvin benar-benar tak sanggup melihat kondisi putranya saat ini. Dengan terpaksa ia membawa Arkana melihat jenazah tersebut di ruang jenazah.


Perasaan gugup, takut sekaligus gelisah memenuhi jiwa Arkana saat menatap jenazah yang terbujur kaku dan tertutup oleh kain kafan. Ragu-ragu ia membuka sebagian kain yang menutupi wajah jenazah itu.


" Aarggghhhh..."


Pria itu segera memalingkan wajah melihat kondisi jenazah yang begitu tragis dan segera menutupnya. Alvin membekap kedua pundak putranya untuk menguatkan.


" Tenangkanlah dirimu. Kita harus ikhlas dan tabah menerima segala takdir yang digariskan Tuhan." ucapnya menenangkan.


" Tapi, itu bukan jenazah istriku, Pa! Aku yakin Seroja masih hidup !" bantahnya tak terima.


Alvin menghela nafas panjang, kenyataan ini pasti begitu pahit bagi putranya. Pasti sulit untuk bisa menerima jika orang yang dicintai meninggal secara tiba-tiba, apalagi dengan kondisi setragis itu.


" Papa sebenarnya juga tak ingin percaya. Tapi inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Wanita itu menggunakan cincin ini dijari manisnya. Dan kaupun tahu cincin siapa ini bukan?"


Netra Arkana membelalak tak percaya,


" Tidak,, tidak mungkin. Bukan, itu bukan istriku! " pria itu mundur dan berlari pergi karena tak sanggup menerima kenyataan.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2