Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
SEROJA JATUH SAKIT


__ADS_3

Arkana membawa Seroja ke kamar mereka setelah kesalahpahaman keluarganya pada Arzel terselesaikan. Dirinya tak tega melihat sang istri cidera seperti itu. Ia mendudukkan wanita itu disofa secara perlahan.


" Kau ini, masih saja suka berkelahi. Belajarlah jadi wanita normal, harusnya kalian menghubungiku kalau sedang ada masalah. " omelnya sambil memeriksa kaki Seroja yang sepertinya terkilir.


Seroja mengerucutkan bibirnya lantaran tak terima dinasehati seperti itu.


" Aku hanya membela diri. Kalau aku tidak bisa berkelahi, mungkin kami sudah dijadikan bulan-bulanan gerombolan preman itu. Manamungkin juga aku terpikir untuk menghubungimu. Waktu itu Aulia sudah panik, dalam pikiranku saat itu hanyalah melindungi keselamatannya." sangkalnya bersemangat.


" Dengan mengorbankan dirimu begitu? Apa kau tidak berpikir, orang lain begitu mencemaskan keadaanmu! " Arkana tampak marah lantaran gadis itu tidak memikirkan keselamatannya sendiri.


Seroja menanggapinya dengan santai,


" Memangnya siapa juga yang peduli denganku?" gerutunya kesal, pria itu terlalu berlebihan menurutnya.


Arkana menghela nafas panjang, dirinya berusaha untuk lebih bersabar menghadapi gadis itu.


" Tentu saja banyak yang peduli denganmu. Orang tuamu, adikmu, Mama, Papa, dan..." ia tak meneruskan kalimatnya agar gadis itu tidak terlalu percaya diri.


" Ah sudahlah, tidak ada gunanya berdebat denganmu. Buang-buang waktu saja. Sekarang kau diam, aku akan mencoba mengurut kakimu. Ini kedua kalinya kakimu seperti ini, aku tidak mau kejadian ini terulang lagi. Dasar ceroboh. " pria itu mengomel sambil memijit kaki Seroja.


Gadis itu menatap Arkana, meskipun cerewet pria itu terlihat begitu perhatian menurutnya. Dilihat dari sudut pandang manapun, Arkana masih saja tetap terlihat tampan walaupun sedang marah.


" Apa sekarang sudah terasa agak mendingan? tanya pria itu setelah selesai mengurut kakinya.


" Hei! " Arkana menepuk lutut Seroja lantaran gadis itu justru malah melamun.


Seroja gelagapan, ia tak tahu apa yang baru saja Arkana katakan.


" I,, iya. Apa yang kau katakan barusan?"


" Aisshh..kau ini. Aku hanya ingin tahu apa kakimu baik-baik saja sekarang? Sudahlah, cepat beristirahat sana. Minggu depan Papa akan mengadakan peresmian pengangkatanku, kau pastikan kakimu sudah benar-benar normal sebelumnya. "


Arkana berjalan menuju ranjangnya, sungguh dirinya tak ingin menunjukkan perhatian lebih pada istri kontraknya. Iapun tak mengerti mengapa dirinya bisa begitu mencemaskan gadis tersebut.


Ia segera membaringkan tubuhnya diatas ranjang, tapi kali ini ada saja yang membuatnya mengalihkan posisinya agar bisa mengamati apa yang sedang dilakukan gadis itu. Ternyata Seroja masih belum tidur, gadis itu masih duduk sambil memperhatikan sofa tempatnya tidur.


Yah, gadis itu sedang mencari posisi yang pas agar dirinya bisa tidur dengan nyaman. Arkana segera memejamkan rapat matanya saat tiba-tiba gadis itu menatap kearahnya. Seroja memastikan agar pria itu benar-benar tidur saat ini.


Raut wajahnya kini berubah seolah sedang menahan sakit. Tak dapat dipungkiri pukulan preman tadi sore membuat punggungnya terasa begitu nyeri saat ini. Ia ingin merebahkan diri, tapi ketika ia merebahkan tubuhnya, punggungnya justru semakin sakit.


Arkana yang masih mencuri-curi pandang ikut memperhatikan gadis itu.


" Ada apa dengannya? Kenapa ia terlihat kesakitan seperti itu? "


Ingin sekali dirinya bisa acuh dan tak peduli pada Seroja, tapi rasanya begitu sulit. Dirinyapun jadi tak bisa nyaman untuk tidur. Gadis itu selalu mengganggu pikirannya.


Hampir satu jam gadis itu terduduk sambil menahan rasa ngantuk. Arkana yang sama sekali tak bisa tidurpun bepura-pura mengeliat seolah baru saja terbangun.


Seroja gelagapan saat pria itu tiba-tiba menatap kearahnya, ia tak menyangka Arkana akan bangun secepat ini.


Pria itu berpura-pura mengucek matanya sambil memperhatikan Seroja dari atas ranjang.


" Kenapa kau belum tidur? Apa yang sedang kau lakukan? "


Seroja nampak memikirkan alasan yang tepat agar pria itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.


" A,, aku juga baru saja terbangun. Entah kenapa aku rasanya begitu haus. Aku ingin mengambil minum sebentar. " ungkapnya beralasan. Dirinya hendak beranjak, tapi Arkana segera mencegahnya.


" Biar aku saja. Aku juga sekalian ingin minum."


Seroja kembali duduk ditempatnya, tak berselang lama Arkanapun kembali dengan membawa dua gelas air putih ditangannya.


" Geser. " pria itu langsung mendudukan diri disebelahnya.


" Kau mau apa? " Seroja terlihat gugup, ia segera membuat jarak dengan pria tersebut.


" Bukankah sudah kukatakan kalau aku juga tidak bisa tidur. Aku masih ingin bersantai, tidak ada salahnya bukan jika aku duduk disofa milikku sendiri? " pria itu beralasan, dirinya dengan sengaja menepuk punggung Seroja untuk memastikan keadaannya.

__ADS_1


" Awwwwhh...."


Seketika gadis itu merintih kesakitan, ia sudah tidak bisa menutupi nyeri dipunggungnya pada pria itu.


Tentu saja Arkana terhenyak karenanya, ia yakin terjadi sesuatu pada punggung sang istri. Kedua netra Seroja membulat sempurna saat pria itu tiba-tiba membuka bagian belakang pakaiannya. Ia segera memegangi bagian depan bajunya agar tidak turut terangkat.


" Apa ini? Kenapa kau menutupi lukamu dariku? "Arkana tertegun melihat luka memar yang membekas dipunggung istrinya.


Seroja merasakan malu luar biasa, untuk kedua kalinya ia menunjukkan sebagian tubuhnya pada pria tersebut.


" Turunkan pakaianku. " ia menarik paksa tangan Arkana supaya menurunkan pakaiannya.


Arkana menyesali perbuatannya barusan, tidak seharusnya ia membuka pakaian Seroja tanpa izin.


" Maafkan aku, aku melakukannya begitu saja sebab diriku terkejut saat kau merintih kesakitan. Aku tak bermaksud apa-apa, tapi lukamu harus segera diobati atau paling tidak dikompres supaya rasa nyerinya sedikit berkurang."


Kedua bola mata gadis itu berkaca-kaca,


" Tidak apa-apa. Nanti juga akan sembuh dengan sendirinya. Sekarang aku mau tidur. Bisakah kau kembali ke ranjangmu." pintanya memelas.


Arkana semakin tak enak hati, tergambar jelas di wajah Seroja jika dirinya merasa sedih karena kejadian barusan. Namun, iapun cemas luka Seroja akan semakin parah jika tidak diobati.


" Kau tidurlah diranjang, biar aku saja yang tidur disini. Aku tak mau kau tambah sakit nantinya." ungkapnya khawatir.


Iapun berdiri dan berniat membantu Seroja berjalan hingga ke ranjang. Gadis itu awalnya menolak, tapi lantaran segudang alasan yang dibuat Arkana, akhirnya iapun luluh juga.


Arkana memapahnya menuju ranjang dan membantunya berbaring dengan benar.


" Beristirahatlah. Besok aku akan menelpon Dokter untuk memeriksa lukamu. " pria itu menyelimuti tubuh Seroja supaya hangat.


Saat dirinya hendak kembali ke sofa, tiba-tiba gadis itu menahannya.


" Kau tidurlah di sebelah sana. Kita buat guling ini sebagai pembatas. Rasanya tidak mungkin jika dalam waktu setahun kita akan terus-terusan seperti itu." ia mencoba menawarkan solusi.


Arkana memastikan gadis itu benar-benar ikhlas dengan perkataannya.


Seroja tersenyum tipis sambil mengangguk, menandakan gadis itu memang tulus mengatakannya.


Arkana begitu lega sekarang, iapun berjalan menuju ranjang sebelah. Setelah membuat pembatas dari guling, pria itupun beranjak naik ke atas ranjang. Ada rasa gugup tersendiri dalam dirinya, untuk pertama kali ia tidur satu ranjang dengan lawan jenis. Keduanyapun akhirnya tidur saling bersingkuran.


...----------------...


Subuh menjelang, Arkana terbangun dari tidurnya. Dirinya begitu kaget ketika melihat wajah Seroja yang tampak pucat. Perlahan pria itu memeriksa kening Seroja, ternyata suhu tubuhnya sangatlah tinggi.


" Astaga, dia benar-benar sakit sekarang." batinnya cemas.


Tanpa melihat waktu, pria itu bergegas menelpon dokter pribadi keluarganya. Dokter itu sangat terkejut saat Arkana meminta dirinya datang kemansion di pagi buta seperti ini. Dengan terpaksa sang Dokter menyanggupinya sebab pria itu terdengar begitu panik.


***


Ting...Tong....


Suara bel mansion berbunyi dipagi buta cukup membuat Bu Yani yang tengah mencuci piring merasa kaget.


" Tumben jam segini sudah ada yang bertamu? "


Ia segera mengeringkan tangan dan membukakan pintu untuk memastikan siapa yang datang.


" Dokter, tumben pagi-pagi kesini? Siapa yang sakit? " wanita itu merasa heran.


" Tuan Muda ada Bi? Barusan beliau menelpon, katanya istrinya sedang sakit. Saya diminta kesini untuk memeriksanya."


jelas sang Dokter.


Bu Yani terkejut mendengarnya, tapi memang semalam dirinya melihat Seroja berjalan sambil dipapah oleh Arkana. Iapun mengantarkan Dokter tersebut ke kamar Arkana.


Saat menaiki tangga tanpa sengaja mereka bertemu Bianca, Aulia dan juga Killa yang berada digendongan sang Mama.

__ADS_1


Keduanyapun terkejut melihat kedatangan sang Dokter, mereka memutuskan untuk ikut ke kamar Arkana guna memastikan keadaan Seroja.


Arkana yang sedari tadi mondar-mandir lantaran cemas langsung membukakan pintu saat mendengar ketukan dari arah luar pintu kamarnya.


" Itu pasti Dokter. "


Netranya terbelalak ketika melihat keberadaan Mama Bianca, Aulia dan juga Killa bersama Dokter tersebut. Mereka semua segera masuk untuk melihat keadaan Seroja langsung. Gadis yang sedang terbaring lemah itu segera membuka matanya saat menyadari siapa yang datang.


" Mama? Aulia? " sapanya lemah.


" Sudah, jangan banyak bergerak. Dokter akan memeriksamu sebentar lagi. " Bianca menghalangi Seroja yang hendak bangun. Kini dirinya menatap penuh tanya pada putranya,


" Arkana, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah semalam sepertinya Seroja baik-baik saja? Mama pikir hanya kakinya saja yang terkilir." ungkapnya cemas.


" Aku juga tidak tahu, Ma. Tapi semalam punggungnya terlihat memar, aku hendak mengompresnya tapi dia tidak mau. " jelas Arkana yang tak kalah paniknya.


Aulia jadi teringat kejadian tadi sore, salah satu preman telah memukul Seroja dengan sebuah kayu dengan sangat kencang. Arkana dan Bianca begitu miris mendengar cerita Aulia.


Dokter segera memeriksa keadaan Seroja, kemudian memberikan obat penurun panas serta pereda nyeri untuk gadis tersebut.


" Tuan, tolong anda kompres luka Nona dengan air hangat. Saya telah menyuntikkan obat untuk mengurangi rasa nyeri dan demam akibat lukanya itu. Dan satu lagi, tidak perlu teralu panik, Nona akan baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi. " sang Dokter berpamitan setelah selesai mengobati pasiennya, ia ingin tertawa mengingat pria itu begitu panik dari balik teleponnya subuh tadi.


Bianca dan Aulia tersenyum sendiri mendengarnya,ternyata Arkana begitu peduli pada istrinya. Bianca kemudian meminta Bi Yani menyiapkan air hangat untuk mengompres menantunya. Setelah itu ia meminta Arkana untuk mengompres punggung sang istri.


" Tidak, Ma. " ucap keduanya kompak.


" Maksudku, biar Mama atau Aulia saja yang melakukannya. Aku kurang telaten dalam hal seperti itu. " Arkana beralasan.


Aulia hendak mengompres kakak iparnya, tapi sang Mama segera mencegahnya.


" Tidak, Sayang. Biar kakakmu saja yang melakukannya. Dia adalah seorang suami, sudah sepatutnya ia belajar untuk mengurus istrinya sendiri. " tegas Bianca.


Aulipun mengurungkan niatnya, ia memberikan kain kompres tersebut pada kakaknya.


Arkana mematung, dirinya kini berada diposisi yang serba salah. Disatu sisi Mamanya pasti curiga jika ia tak mau menyentuh istrinya, namun disisi lain Serojapun pasti akan marah jika dirinya berani membuka pakaiannya kembali.


Serojapun tak kalah bingungnya, mana mungkin ia membiarkan Arkana menyentuh atau melihat tubuhnya kembali. Tapi dengan adanya Bianca dan Aulia disana, ia tak bisa berbuat apa-apa. Iapun tak mungkin mengatakan bahwa mereka hanya suami istri diatas kertas jadi Arkana tak berhak menyentuhnya.


" Mama, Aulia? Bisakah kalian keluar sebentar? Aku malu membuka pakaianku didepan orang lain." rona merah jambu kini menghiasi wajahnya yang tengah malu saat ini.


Aulia dan Bianca saling melempar senyum mendengar ucapan Seroja barusan. Namun, Bianca memaklumi hal itu lantaran keduanya masih pengantin baru.


" Baiklah, Mama dan Aulia akan keluar dari sini. Tapi berjanjilah, kau harus menurut saat putraku merawatmu. Kalau begitu kami permisi dulu."


Seketika keduanya bisa bernapas lega, terutama Seroja. Ia tidak bisa membayangkan jika pria itu menyentuhnya didepan Mama dan juga adik iparnya.


" Aku akan mengompres punggungmu. Berbaliklah."


Permintaan Arkana kali ini kembali mengagetkannya,


" Tidak, aku tidak mau. " tolaknya seketika.


Arkana membuang nafas kasar,


" Apa kau tidak mendengar ucapan Mama barusan? Aku harus bertanggung jawab atas kesembuhanmu. Jadi menurutlah,aku tidak ingin disalahkan jika kau bertambah sakit nantinya. " ucapnya dengan nada yang tegas.


"Aku tidak akan membuka pakaianmu. Aku hanya akan memasukkan kompres air hangat ini dari balik bajumu. " lanjutnya menjelaskan.


Seroja terdiam, tapi entah mengapa ia jadi menurut pada pria tersebut. Gadis itu duduk lalu memunggungi pemuda tersebut.


" Cepat lakukan. "


Arkana dengan tangan sedikit bergetar memasukkan kompres ke dalam pakaian Seroja. Ia menekan perlahan punggung gadis itu dengan kain kompres yang ada ditangannya untuk memberikan sedikit pijatan padanya.


" Tidak, kali ini aku tidak boleh mengkhianati kepercayaannya. " batinny bergejolak. Ia mencoba menahan hasratnya sebagai pria yang normal saat ini.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...


__ADS_2