Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
AKU MAU CILOK


__ADS_3

" Dasar wanita penggoda! Lama-lama aku tak sabar ingin mencakar wajahnya. " umpat Seroja kesal setelah keluar dari dalam rumah yang sudah seperti neraka baginya.


Rasanya ia sangat gemas dengan wanita yang tak henti-henti menggoda suaminya. Apalagi melihat pakaian wanita itu yang sudah tak berbentuk, suaminya menang banyak kali ini. Arkana jadi tersenyum melihat tingkah istrinya yang terbakar cemburu.


" Kenapa kau senyum-senyum? Kau senang melihat wanita setengah telanjang barusan. Dasar buaya. "


Arkana mengernyitkan dahinya karena heran,


" Kenapa kau jadi marah-marah padaku? Memangnya siapa juga yang senang melihat hal seperti itu. Aku hanya senang saja melihat istriku cemburu seperti itu." terang Arkana.


Seroja memberengkut kesal, bisa-bisanya sang suami senang melihatnya kesal seperti sekarang ini.


" Ya sudah, kembalilah ke dalam. Aku tak peduli jika kau mau bersama dengan macan betina itu! " ia berjalan mendahului Arkana dan berniat pulang bersama Aulia dan Arzel yang menunggu disamping pagar.


Arkana segera mengejar sang istri yang kini telah bertemu dengan kedua sahabatnya. Ia menarik tangan sang istri agar mau menghadapnya.


" Hei, tunggu! Kenapa kau gampang sekali emosi. Aku hanya bercanda, tolong maafkan aku. " sesal Arkana.


Arzel dan Aulia kini hanya mampu jadi penonton setia. Mereka tak mengerti apa persoalan yang membuat pasangan pengantin baru itu jadi bersitegang. Aulia jadi teringat tentang tangan kakaknya yang terluka waktu itu.


" Kakak? Bagaimana keadaan tanganmu? Apa sudah sembuh? "


Arkana hampir menjawab, namun Seroja segera memotongnya.


" Sudahlah Aulia, tidak usah pedulikan kakakmu itu. Biar macan betina itu saja yang mengurusnya. Ayo cepat kita pergi saja dari sini."


Seroja menarik tangan gadis itu menuju pintu mobil Arzel. Sedangkan Arkana memberi kode pada mereka untuk meninggalkan istrinya.


Aulia merasa bingung harus memilih yang mana, tapi menurutnya tidak baik juga jika suami istri tidak segera menyelesaikan persoalan rumah tangganya. Kini dirinya memberi kode Arzel untuk masuk terlebih dahulu ke dalam mobilnya.


Saat Aulia sudah masuk ia mendorong tubuh Seroja menjauh, lalu meminta Arzel untuk segera mengunci pintu mobilnya supaya Seroja tidak bisa ikut bersama mereka.


" Hei,, kenapa pintunya ditutup. Kalian mengerjaiku? " wanita itu berusaha menarik pintu mobil, namun sia-sia belaka. Arzel mulai melajukan mobilnya perlahan.


Aulia menurunkan sebagian kaca mobilnya, kemudian tersenyum ke arah Seroja.


" Selesaikan dulu urusanmu , setelah itu baru temui kami. Selamat bersenang-senang! " kekehnya dari dalam mobil sambil melambaikan tangan ke arah keduanya.


Arkana kembali tersenyum, sepertinya sang istri tidak ada pilihan lain selain pulang bersamanya. Ia segera memasang wajah datar saat Seroja berbalik kearahnya. Dirinya takut wanita itu akan kembali memarahinya gara-gara kata "senyum ".


Seroja melirik sang suami sambil memasang wajah ketus.

__ADS_1


" Ayo,, cepat pergi dari sini. "


Ia berjalan mendahului suaminya masuk ke halaman rumah Aluna. Namun, tiba-tiba sang suami memeluknya dari belakang sambil menyandarkan kepala di tengkuk lehernya.


" Maafkan aku. Aku tersenyum bukan karena meledekmu, tapi aku merasa senang sebab cemburumu itu menunjukkan rasa cintamu padaku. " ia mencium bagian terdekat dengan bibirnya.


Wajah Seroja bersemu merah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Arkana.


" Jangan seperti ini, aku takut ada yang melihat kita." ucapnya halus.


Pria itu mengecup puncak kepala Seroja kemudian menggandengnya menuju motor.


Benar dugaan Seroja, dari balik tirai kaca terlihat Aluna yang begitu geram melihat kemesraan kedua sejoli itu. Ia memperhatikan pasangan itu hingga menghilang dari halaman rumahnya.


" Breng**k!! Aku benar-benar benci dengan wanita kampungan itu. Apapun caranya aku harus berhasil menyingkirkan dia dari sisi Arkana!" tekadnya berapi-api.


...----------------...


Udara malam begitu menusuk ke badan Seroja. Wanita itu mempererat pelukannya pada tubuh Arkana. Pria itu menambah kecepatan laju motornya supaya sang istri semakin mendekapnya erat-erat.


Seroja menyandarkan kepala di punggung suaminya. Ia merasa nyaman dan hangat berada dekat dengan sang suami. Namun, netranya kini beralih pada penjual cilok keliling yang baru saja berpapasan dengan mereka dari arah berlawanan.


" Berhenti. " teriaknya seketika. Entah mengapa pedagang cilok itu begitu menggoda, bukan pedagangnya tapi cilok yang dijual maksudnya.😁


" Ada apa? Lain kali jangan begitu. Itu bisa membahayakan kita." tegurnya pada sang istri sebab dirinya melajukan motor cukup kencang barusan.


Seroja hanya menyengir menanggapi teguran suaminya, namun dirinya takuf penjual cilok itu akan pergi jauh meninggalkannya.


" Aku mau cilok itu." tunjuknya ragu sebab raut wajah suaminya sedang kurang bersahabat.


Arkana membuang nafasnya kasar, sikap istrinya akhir-akhir ini agaknya luar biasa menyebalkan menurutnya.


" Ini sudah malam, bukankah tadi kau bilang ingin segera pulang? " sabar-sabar Arkana, ini ujian bagimu.


" Tidak, ayo cepat pokoknya aku mau cilok. " rajuk sang istri sembari menarik-narik jaket suaminya. Wajahnya terlihat cemas lantaran penjual cilok tersebut semakin jauh darinya.


Lagi-lagi Arkana tak sanggup menolak keinginan istrinya. Ia segera berputar arah dan berusaha mengejar penjual cilok tersebut.


Sang penjual cilok begitu gugup saat menyadari sebuah motor mewah mengikutinya dari arah belakang. Apalagi, Arkana mengenakan jaket kulit warna hitam dengan helm fullface yang menutupi kepalanya. Sedangkan Seroja, wanita tersebut berpenampilan tomboy seperti biasanya.


Aksi kejar-kejaran sang penjual cilok dan Arkana tak bisa terelakkan lagi. Arkana mempercepat laju motornya dan menghadang penjual cilok tersebut di depannya.

__ADS_1


Penjual cilok memperhatikan daerah sekitarnya yang nampak sepi. Dirinya bergidik ketakutan saat Arkana menghampiri tanpa membuka helm fullface di kepalanya. Seroja sengaja menunggu suaminya di dekat motoe mereka.


" Ampun mas, saya ini hanya pedagang kecil dengan penghasilan tak seberapa. Kasihan anak dan istri saya menunggu dirumah. Tolong jangan rampok saya." ungkapnya mengiba.


Arkana mengernyitkan dahi, ia membuka helm fullface yang bertengger di kepalanya. Bapak itu semakin heran lantaran rampoknya terlalu tampan.


" Bapak ini kenapa? Saya tadi sengaja ngejar Bapak sebab istriku ingin membeli cilok." Arkana terkekeh melihat pria paruh baya itu ketakutan karenanya. Serojapun ikut menertawakannya dari jauh.


" Owalah mas, mas. Saya pikir rampok. Ciloknya tinggal lima ribuan nggak pa-pa?" ucapnya mengelus dada.


" Iya Pak. Yang penting masih ada untuk istri saya. " Arkana tersenyum ramah pada si penjual cilok sambil memberikan uang seratus ribuan.


" Banyak amat mas? Tunggu sebentar kembaliannya."


" Sudah untuk Bapak saja sebagai ganti bensin karena sudah balapan dengan saya. " kelakarnya seraya meninggalkan penjual cilok tersebut.


" Alhamdulillah, kalau rejeki nggak bakal kemana. " ungkap si penjual cilok senang.


Arkana segera menghampiri sang istri dan mengajaknya duduk di bangku panjang yang tak jauh darinya. Pria itu berselonjor dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. Dirinya begitu penat hari ini.


" Apa kau mau ciloknya? " tanya Seroja sambil menikmati cilok ditangannya.


" Tidak. Aku belum pernah membeli makanan seperti itu." Arkana mendongakkan wajah sambil memperhatikan istrinya makan.


Wanita itu tersenyum, tiba-tiba ia memasukkan sebutir cilok dimulut suaminya.


Pria itu mulai mengunyah makanan yang cukup asing di telinganya. Namun, cita rasanya lumayan enak jika dirasakan betul-betul.


" Enak bukan? Sesekali kau harus merasakan cita rasa makanan lokal yang tak kalah enaknya. " ucapnya sambil mengunyah cilok yang ada di mulutnya.


Seroja benar-benar menikmatinya, apalagi perutnya terasa lapar lantaran seharian hampir tak terisi makanan. Saat cilok tinggal setusuk terakhir tiba-tiba Arkana merebut cilok itu darinya.


" Kau ini,, aku masih mau lagi." ungkapnya ketagihan.


" Ambil kalau bisa."


Arkana justru memasukkan cilok tersebut kedalam mulutnya. Seroja memperhatikan sekitar, tempat itu tampak sepi tidak ada siapa-siapa.


" Kau nakal sekali ya? Memangnya kau pikir aku tidak bisa? " Seroja segera mencari cilok kesayangannya yang tersembunyi dibalik bibir suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Makasih sebelumnya..


__ADS_2