
Minggu besok Arkana akan berangkat ke Jepang. Sore ini setelah mengepak barang bawaannya, ia berniat membawa Seroja ketempat orang tuanya. Mereka berencana untuk menginap disana sebelum keberangkatan Arkana besok pagi.
Rumah Pak Anwar dan keluarga terletak di kompleks perumahan daerah pinggir kota. Bianca dan Alvin sengaja memilih daerah tersebut lantaran jaraknya tak terlalu jauh dari kediaman mereka dan suasana asri mirip di perkampungan masih cukup terasa disana.
Seroja nampak begitu menikmati perjalanannya. Sesaat dirinya cukup terhibur dan melupakan kesedihannya karena akan ditinggalkan oleh sang suami. Senyum Arkana mengembang sempurna melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya.
" Apa kau senang akan bertemu dengan orang tuamu? " liriknya sekilas kemudian kembali fokus untuk menyetir.
" Heeumm. Aku sangat rindu dengan orang tua dan adikku, sudah cukup lama kami tidak berjumpa. " ia membalas senyuman suaminya.
" Ingat pesanku. Jaga dirimu baik-baik dan banyak-banyaklah beristirahat supaya kesehatanmu cepat pulih. Kau ini memang keras kepala, diperiksakan ke Dokter saja tidak mau. "
Arkana menjewer pelan telinga istrinya karena gemas. Dirinya menyerah untuk membujuk dan merayu istrinya supaya mau diperiksa.
Wanita itu seperti anak kecil yang takut menghadapi jarum suntik saat akan di imunisasi. Ia merengek dan merajuk lantaran tidak ingin diperiksakan ke Dokter. Alasannya sederhana, ini hanya masuk angin biasa katanya. Ia tak mau dianggap sebagai wanita manja yang sakit sedikit harus segera diperiksa.
" Baik, Tuan Muda. Siap laksanakan ! " kelakarnya seraya memberi hormat pada suaminya.
Akhirnya merekapun memasuki kompleks perumahan dimana keluarga Seroja tinggal saat ini. Wanita itu memperhatikan sisi-sisi jalan. Disana, rumah-rumah tampak begitu asri dengan tamanan dan bunga-bunga yang menghiasi halamannya.
Ada satu rumah yang begitu menarik perhatiannya. Bukan rumahnya, melainkan mangga muda yang ada dihalaman rumah tersebut terlihat sangat segar menurutnya.
" Tidak..Tidak. Lebih baik aku segera kerumah Bapak. Kasihan, sepertinya dia sangat lelah. " dirinya mencoba menolak keinginan hatinya.
...----------------...
Tak berselang lama, mereka akhirnya tiba di kediaman Pak Anwar. Kedua orang tua Seroja begitu terkejut dengan kedatangan mereka sebab keduanya tak mengabari tentang kedatangan mereka sebelumnya.
" Kalau ibu tahu kau akan kesini pasti akan ibu masakkan makanan kesukaanmu asin cumi dan pete." canda Bu Eneng pada putrinya.
Seroja memberengkut seketika,
" Tadinya aku ingin memberi kejutan pada kalian. Tapi, ternyata nasibku malah apes. Aku jadi tidak bisa merasakan asin cumi dan sambal pete buatan ibu." cebiknya kesal.
Bu Eneng terkekeh melihat tingkah putrinya yang masih seperti anak kecil, padahal sudah bersuami. Beliau berjalan masuk ke dapur dan kembali keluar dengan membawa sepiring makanan.
" Ini ibu sengaja buatkan asin cumi sambal pete kesukaanmu. Kata Tuan Muda, ***** makanmu berkurang akhir-akhir ini. Kau harus makan yang banyak."
Netra Seroja berbinar seketika, dirinya memang begitu rindu masakan ibunya. Ia langsung melahap asin cumi dan sepiring nasi yang disajikan untuknya. Wanita itu menatap manja pada sang suami.
" Aku ingin disuapi olehmu."
Pak Anwar dan Bu Eneng terperanjat saat mendengar apa yang dikatakan putrinya barusan.
" Seroja, jangan berlaku tidak sopan terhadap suamimu. " Bu Eneng segera menegur putrinya.
Arkana tersenyum ke arah mertuanya.
" Tidak apa-apa, Bu. Kami sudah terbiasa seperti ini. Akupun jadi bisa ikut mencicipi masakan ibu yang begitu enak." jawabnya sopan.
Keduanya makan bersama, Arkana terlihat begitu telaten menyuapi istrinya. Pak Anwar dan Bu Eneng ikut senang melihat kemesraan kedua sejoli tersebut. Mereka bersyukur putrinya mendapatkan suami yang begitu sayang dan perhatian padanya.
Pak Anwar jadi teringat sesuatu,
" Oh ya, Nak. Kemarin ada seorang pemuda datang kemari. Dia mengatakan jika dirinya adalah sahabatmu. Apa dia menghubungimu? Kemarin pemuda itu mengajak kami berfoto bersama. Katanya dia akan mengirimkan foto tersebut padamu."
__ADS_1
Uhukk..Uhukk..Uhuk...
Arkana jadi tersendak mendengar penuturan mertuanya. Seroja segera mengambilkan segelas air putih untuknya. Ia yakin suaminya pasti akn mengintrograsinya mengenai lelaki yang dirinya sendiri tidak tahu menahu tentang sosok tersebut.
Pak Anwar merasa tak enak hati, dirinya lupa saat ini ada menantunya disana. Pasti Arkana tidak suka mendengar ada lelaki lain yang dekat dengan istrinya.
...----------------...
Malam tiba, kedua pasangan itu tidur saling memunggungi. Apalagi penyebabnya kalau bukan pria misterius tersebut. Puluhan kali Arkana menanyakan tentang hal itu, tapi istrinya tetap bersikukuh tidak mengenalnya.
Ia mencoba mencari barang kali ada foto yang dimaksud Pak Anwar. Akan tetapi, foto semacam itu tidak ada di ponsel istrinya atau mungkin sudah dihapus oleh Seroja.
Arkana kesal, harusnya moment seperti ini mereka habiskan untuk melampiaskan cinta satu sama lain. Tapi, ternyata ada saja pengganggu diantara mereka.
Pria itu mulai tak tahan, dua sisi berlainan seolah berbisik di telinganya.
" *Ingat Arkana, kesempatanmu hanya malam ini. Kau harus berpuasa selama seminggu setelah ini. " ucap sisi pertama.
" Tidak Arkana. Kau harus tetap pada pendirianmu. Diamkan saja istrimu sampai dia mau mengaku. " bisik sisi kedua*.
Kepala Arkana seolah mau pecah, ia membanting guling yang sedang dipeluknya, kemudian duduk lantaran tak bisa tidur.
Dirinya tak menyangka jika istrinya sedang berbaring menghadapnya sambil menyangga kepala dengan salah satu tangannya.
" Kenapa, apa kau tidak bisa tidur? Apa kau menginginkan sesuatu? " tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya untuk menggoda sang suami.
Arkana membuang nafas kasar, Seroja sudah hafal betul kartu AS nya.
" Tidak. Aku hanya tidak terbiasa tidur di kasur sempit seperti ini. Aku jadi susah bergerak." elaknya tak mau kalah.
" Baiklah. Aku akan tidur bersama Intan supaya kau lebih leluasa tidur."
Wanita itu hendak beranjak dari ranjang, namun tangan Arkana menariknya hingga jatuh dalam pelukannya. Seroja menyunggingkan senyumnya, sepertinya kali ini dialah yang menang.
" Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku ingin menghabiskan waktuku malam ini bersamamu." pria itu mulai menciumi tengkuk leher istrinya.
Seroja membalikkan badan menghadap suaminya.
" Apa kau lupa janji saling percaya diantara kita? Kenapa kau masih tetap tak percaya padaku tentang lelaki itu?"
Arkana menghela nafas panjang, ia menyesal lantaran sudah terbakar cemburu terlebih dahulu.
" Maafkan aku." ucapnya sambil melu**t perlahan bibir sang istri yang selalu menjadi candu baginya.
Tangan Seroja mulai membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Jemarinya berselancar menjelajahi dada bidang yang ditumbuhi sedikit bulu halus itu.
Ia menggigit bibir bawahnya saat tangannya mulai bermain didekat perut bagian bawah Arkana hingga membuat pria itu mulai menegang karenanya.
" Kau mulai pintar sekarang." Arkana memuji istrinya.
" Kau yang mengajariku." jawab Seroja seketika.
Mereka melampiaskan perasaan cintanya seperti malam-malam biasanya. Seroja meninggalkan beberapa jejak kepemilikan agar suaminya selalu teringat dengannya dan cepat segera kembali kepadanya.
Arkana bangga dengan lukisan alami buatan sang istri. Setidaknya itu yang akan menjadi tanda bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya nanti.
__ADS_1
Pria itu ingin segera tidur lantaran esok pagi dirinya harus cepat berangkat menuju bandara. Namun, ketenangannya mulai terusik saat istrinya tiba-tiba menggoyang-goyangkan tubuhnya agar segera bangun.
" Hei,, jangan tidur dulu, aku tak bisa tidur." ia kembali menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
" Eeumm,, aku sudah sangat mengantuk. Besok aku harus berangkat pagi." jawab sang suami yang enggan membuka matanya.
Seroja memberengkut kesal sang suami sama sekali tak memperdulikannya.
" Kau tidak adil. Aku selalu melayanimu saat kau meminta jatahmu. Tapi, giliran aku kesusahan seperti ini kau membiarkanku begitu saja. " gerutunya kesal.
Lamat-lamat Arkana masih mendengar perkataan sang istri. Perlahan dirinya membuka mata, berusaha untuk melawan rasa kantuknya.
" Kau mau apa? " tanyanya sambil memulihkan kesadarannya.
Belum juga raganya kembali seperti semula, Seroja menarik tangan pria itu dan mengajaknya keluar dari rumah bapaknya.
" Hei,, kita mau kemana? Ini sudah lewat tengah malam. Udara malam tidak bagus untuk kesehatanmu. Ayo cepat kembali. "
Pria itu hendak menariknya pulang, tapi Seroja menolak dan menghempaskan tangan suaminya.
" Tidak. Kau pulanglah sendiri, aku bisa pergi sendirian." tolaknya kesal.
" Sabar-sabar Arkana, sepertinya istrimu mulai berulah lagi." batinnya dalam hati. Dari gelagatnya, ia yakin istrinya akan berulah lagi.
Pria itu terpaksa mengikuti kemauan istrinya. Keduanya berjalan menuju sebuah rumah dimana terdapat pohon mangga dihalamannya. Entah mengapa, malam ini Seroja kembali teringat akan pohon mangga yang tadi siang dilihatnya. Rasanya ia begitu ingin memetiknya sendiri dengan tangannya.
" Kau mau apa? Ini sudah malam, bisa- bisa kau diteriaki maling kalau sampai ketahuan." cegah Arkana saat sang istri hendak memanjat pagar rumah tersebut.
" Aku mau mangga itu." rajuknya pada sang suami.
" Besok saja. Tidak sopan membangunkan orang tengah malam. Lebih baik kita segera pulang. " tegurnya pada sang istri, dirinya khawatir kalau - kalau ada warga yang melihat mereka.
Seroja tak menghiraukan nasehat sang suami, dirinya langsung melompat pagar dan mendekati pohon mangga incarannya. Arkana segera mengejar istrinya yang sulit diatur tersebut.
" Kau tidak boleh mencuri." cegahnya kembali.
" Tapi aku mau." ucapnya memelas.
" Tidak. "
" Pokoknya aku mau."
Keduanya justru saling bersitegang hingga membuat sang penghuni rumah terbangun karenanya.
" Hei,, siapa disana?" bentak wanita paruh baya saat mendengar keributan di halaman rumahnya.
Arkana dan Seroja saling berpandangan, kini mereka telah tertangkap basah. Maju kena mundur kena, Arkana menarik tangan sang istri untuk membawanya bertemu dengan sang empunya rumah.
" Maaf Bu karena mengganggu istirahat anda. Istri saya ingin sekali memetik buah mangga yang ada pekarangan anda. Kalau boleh saya ingin membeli satu untuknya. Dia putri Pak Anwar yang tinggal tidak jauh dari sini." jelas Arkana sopan.
" Oh,,putrinya Pak Anwar? Saya kenal baik dengan beliau. Lagi nyidam ya Neng? Silahkan saja, dari pada ileran nanti anaknya. "
Netra keduanya membola seketika. Keduanya saling menatap tak percaya. Hal seperti itu hampir tak terlintas di pikiran mereka.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Tinggalkan like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Makasih sebelumnya🤗