
Dengan langkah terburu-buru Arkana dan Seroja segera menuju ruangan tempat Mama Bianca dirawat. Keduanya sangat cemas dan khawatir jika sampai terjadi sesuatu dengan sang Mama. Apalagi Arkana, ia merasa begitu bersalah lantaran sejak istrinya menghilang dirinya bersikap acuh pada sang Mama.
Langkah mereka berangsur perlahan saat hampir tiba di depan ruangan tempat Bianca dirawat. Aulia terlihat sedang menangis sambil bersandar dibahu Arzel yang berada disampingnya. Gadis itu cemas, sebab ini pertama kali Mamanya sampai masuk rumah sakit. Apalagi dirinya juga tahu, apa yang membuat Mamanya sampai seperti ini.
" Aulia bagaimana kondisi Mama sekarang? Apa Mama sudah lebih baik? Memangnya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mama bisa sampai masuk rumah sakit?" Arkana menghujani gadis itu dengan beberapa pertanyaan saat tiba dihadapannya.
Aulia terhenyak saat menyadari kehadiran sang kakak. Netranya membola dengan sempurna kala melihat wanita yang berada disamping Arkana.
" Se,,ro ja? Kau masih hidup? " ia segera berdiri dan menghampiri wanita itu. Dipegangnya wanita tersebut untuk memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar nyata.
Seroja tersenyum tipis, " Iya. Aku masih hidup,aapa kau pikir yang berdiri disini adalah seorang hantu, heum?" godanya pada Aulia.
Seketika Aulia memeluk sahabat sekaligus kakak iparnya tersebut. Dirinya begitu senang Seroja telah kembali, ia yakin Mamanya pasti akan segera sembuh karenanya.
" Syukurlah kau masih hidup dan selamat, pasti Mama akan sangat senang melihat kehadiranmu." airmata kebahagiaaan meliputi keduanya saat ini.
" Oh ya, bagaimana keadaan Mama? Kau belum menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi! " ungkap Arkana cemas.
Keduanya segera melepaskan pelukannya, Aulia kini beralih menatap sang kakak.
" Akhir-akhir ini Mama kurang menjaga pola makannya, ditambah lagi masalah yang menimpa keluarga kita membuat Mama mengalami stress. Dia merasa sangat bersalah pada kakak atas kejadian waktu itu. Mungkin dengan kalian menemuinya sekarang, pasti Mama akan sangat senang dan beliau bisa segera sembuh. Cepatlah masuk, Papa ada didalam menemani Mama." jelas Aulia.
" Baiklah, aku akan masuk ke dalam. Sayang, kau tunggulah disini terlebih dahulu. Nanti aku akan memanggilmu saat waktunya tiba." Arkana memberi kode pada Seroja.
Ia sengaja meminta sang istri menunggu diluar, dirinya berniat untuk memberikan kejutan pada Mama dan Papanya bahwa Seroja masih hidup.
Pria itu perlahan membuka pintu ruangan, seluruh mata tertuju padanya. Terutama Bianca, netranya berkaca-kaca saat melihat kehadiran putranya. Dirinya sangat merindukan putra sulungnya yang beberapa bulan ini jarang pulang ke mansion.
Arkana menatap iba pada wanita yang telah melahirkannya. Wanita itu terbaring tak berdaya dengan infus yang terpasang disalah satu tangannya. Badannya terlihat kurus dan raut wajahnya terlihat pucat. Pria itu berjalan mendekat pada Bianca dan duduk disamping wanita tersebut.
" Maafkan Arkana, Ma. Mama jadi seperti ini karenaku." suaranya parau, ia menangis sambil mencium tangan ibunya.
Bianca tak mampu menahan airmatanya lagi, rasa senang dan sedih bersatu padu menyelimuti dirinya. Ia begitu rindu pada putranya, namun rasa bersalah itu muncul seketika. Ialah yang menjadi penghancur kebahagiaan Arkana selama ini.
__ADS_1
" Mama yang seharusnya minta maaf padamu. Gara-gara Mama kau jadi kehilangan istri dan calon anakmu. Mama benar-benar ibu yang kejam. " wanita itu menangis tersedu-sedu mengingat perlakuan buruknya saat mengusir menantunya.
Arkana dan Alvin berusaha menenangkan Mamanya, kesedihan tergambar dengan begitu jelas di wajah wanita paruh baya tersebut.
" Sayang, kau jangan seperti ini terus-terusan. Semua yang terjadi sudah menjadi kehendak Ilahi. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. " Alvin tak kuasa melihat kondisi istrinya saat ini.
" Benar kata Papa. Mama tidak perlu bersedih lagi, Seroja masih hidup. Istri dan calon cucu Mama masih selamat. " ucap Arkana.
Kedua orang itu terkejut mendengar penuturan Arkana.
" Benarkah itu, Nak? Kau tidak sedang membohongi Mama 'kan?" tanya Bianca seolah tak percaya.
" Iya, Ma. Seroja masih hidup, dia ada disini sekarang. "
Arkana berdiri kemudian berjalan keluar untuk menjemput Seroja. Aulia dan Arzelpun ikut masuk kedalam untuk menyaksikan kebahagiaaan yang dibawa Arkana pada sang Mama.
Bianca kembali menangis, tapi airmatanya kini berubah menjadi airmata kebahagiaan. Arkana memberi jalan pada sang istri untuk mendekatkan diri pada Mama Bianca.
Seketika Bianca mencoba memeluk perlahan menantunya tersebut. Rasa syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut wanita tersebut.
Seroja membalas pelukan hangat Ibu Mertuanya. Ia sama sekali tidak pernah menyalahkan wanita itu,
" Ini semua bukan salah Mama. Mama tidak boleh menyalahkan diri Mama sendiri. Yang terpenting saat ini, aku masih hidup dan selamat. Mamapun harus segera bangkit dan bersemangat demi kesembuhan Mama. " Seroja berusaha menyemangati.
Alvin masih terpaku dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi, wanita yang ada dalam mobil yang hangus terbakar waktu itu memakai cincin Seroja dan kebetulan kartu identitas menantunya juga ada disana.
" Tunggu-tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nak? Kenapa kau bisa sampai menghilang begitu lama dari kami? Lalu, kemana kau selama ini?" kata-kata menuntut jawaban keluar begitu saja dari mulut Alvin.
Semuapun menatap dengan raut wajah penasaran, dalam hati mereka juga memiliki pertanyaan yang sama dengan Alvin.
Arkana mencoba menjadi penengah,
" Nanti aku akan menjelaskan pada kalian semua, tapi tidak disini. Ceritanya panjang dam sangat rumit. Yang terpenting sekarang istriku telah kembali dan kita fokus terlebih dahulu pada kesembuhan Mama." pinta Arkana.
__ADS_1
Semuanya setuju, hari ini harus menjadi hari bahagia. Kembalinya Seroja merupakan anugrah Ilaihi yang patut mereka syukuri. Semua saling berpelukan untuk meluapkan kebahagiaaan.
...----------------...
Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, akhirnya Bianca telah diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Yah, wanita itu memang begitu bersemangat untuk segera sembuh setelah mengetahui menantu dan calon cucunya masih hidup.
Arkana, Seroja, dan Alvin membantu Bianca berkemas, sedangkan Aulia dan Arzel menyiapkan acara penyambutan untuk beliau saat tiba dirumah.
Tanpa sengaja Arkana melihat seseorang yang tidak asing baginya juga berada dirumah sakit tersebut. Raut wajahnya tiba-tiba berubah kesal, dirinya meminta sang Papa dan istrinya membawa Mamanya ke mobil terlebih dahulu.
" Kau mau kemana? Kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu? " Seroja menahan tangan sang suami, perasaannya tidak enak melihat perubahan wajah Arkana.
" Tadi aku seperti melihat Aluna dan Mamanya juga ada di rumah sakit ini. Kau pergilah bersama Papa terlebih dahulu. Aku akan menemui mereka sebentar. " jelas Arkana.
" Tidak, aku ikut. " tahan Seroja kembali. Ia takut Arkana berbuat diluar batas.
Pria itu melepas perlahan tangan sang istri, ia berusaha menenangkan.
" Kau tidak perlu ikut. Aku tidak mau Mama dan Papa curiga, kita berhutang penjelasan pada mereka. Aku berjanji akan menjaga diriku baik-baik.
Dengan terpaksa Seroja menuruti perintah suaminya, iapun menyusul Alvin dan Bianca kembali.
" Baiklah, kau berhati-hatilah. " ucap Seroja.
Pria itu meninggalkan sebuah kecupan kemudian pergi mencari Aluna dan Mamanya.
Benar saja yang dilihatnya, wanita itu adnalah Aluna dan sang Mama. Iapun dengan segera menghampiri keduanya.
Plaakkkk!!!
" Ini balasan untukmu karena berani melukai istriku dan mengusik keluargaku! "
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya