
Aluna begitu ketakutan saat anak buah Glenn menjemputnya secara paksa. Dirinya yakin pria tersebut pasti akan marah besar kepadanya.
Bruugghh...
Aluna jatuh tersungkur dibawah kaki Glenn saat anak buah lelaki itu mendorongnya kasar. Netranya berlinang air mata, disaat kondisinya sedang kurang sehat, ia justru mendapatkan penyiksaan seperti ini.
" Maafkan aku. Tolong ampuni ak. A,, aku sudah melakukan seperti apa yang kau perintahkan. Tapi, ternyata Arkana berhasil mendorong dan menghindar dariku. " rasa gugup dan takut menyelimuti perasaannya kali ini.
Plakkk!!
" Dasar wanita bodoh! Begitu saja tidak becus. Kau benar-benar tak berguna!" umpatnya kasar setelah melayangkan sebuah tamparan keras pada wanita itu dan mendorong tubuhnya kembali.
Aluna menangis tersedu-sedu, ia merasa seperti sampah yang dibuang begitu saja. Wanita itu berdiri tertatih-tatih mendekati lelaki tersebut.
Plaakkkk!!!
Kini dirinya berganti menampar Glenn dengan sekuat tenaganya. Ia merasa begitu terhina dan dirinyapun tak peduli jika lelaki itu membunuhnya saat ini.
Glenn menatapnya dengan sorot mata geram,
" Berani-beraninya kau?"
" Apa? Kau pikir aku takut padamu? Pria breng**k! Ku pikir kau memang berniat membantuku untuk mendapatkan Arkana. Tapi sekarang? Setelah aku mulai mundur, justru kau memaksaku untuk mendapatkannya! Sebenarnya apa tujuanmu, hah?" bentaknya penuh amarah.
Glenn menyeringai licik, wanita itu ternyata sudah mulai curiga akan maksud dan tujuannya yang sebenarnya.
" Jadi sekarang kau baru sadar bahwa aku memang sengaja memanfaatkanmu? Yah benar, aku sengaja memanfaatkanmu untuk menghancurkan keluarga Pramudya,, musuh keluarga Aryatama." ungkap Glenn sambil menyunggingkan senyum ke sebelah bibirnya.
" Apa! Jadi selama ini kau hanya memanfaatkanku?" ucap Aluna tak percaya.
" Yah,, aku hanya memanfaatkanmu saat aku tahu kau mengincar salah satu anak keluarga Pramudya. Mereka telah membuat Paman dan kakek angkatku meninggal.
" Papaku merupakan anak angkat kakek Antonie, sejak paman Ferdinand meninggal akibat ulah keluarga itu. Papakulah yang menjalankan semua usaha mereka. Akupun merasa berhutang budi. Lalu kebetulan aku mengenalmu, kupikir itulah jembatan untuk bisa membalaskan dendam mereka." seringainya licik.
Aluna begitu geram rasanya, ia mengumpat seraya memukuli lelaki tersebut.
" Dasar brengsek,, aku bunuh kau! " wanita itu memukul-mukul Glenn sekenanya karena kesal.
Pria itu menghempaskan tubuhnya hingga terjatuh diatas sofa. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk keluar dari sana, kemudian menghampiri Aluna.
__ADS_1
" Berani sekali kau bersikap seperti itu padaku. Ku pastikan kau akan menyesal sekarang!"
Dengan kasar pria itu merobek pakaian Aluna. Wanita itu begidik ngeri, saat sorot mata lelaki itu menatap penuh amarah kepadanya.
" Tolong jangan perlakukan aku dengan kasar. Ba,,gian intiku sedang terluka saat ini. " ucapnya memelas. Memang bagian intinya terasa perih belakangan ini setelah berhubungan dengan lawan jenis.
Namun, Glenn sama sekali tak menggubrisnya. Pria itu kalap dan memperlakukannya dengan begitu kasar saat mensetubuhinya.
Wanita itu merasakan sakit tak terperi disekujur tubuhnya. Ia tergolek lemas tak berdaya, air matanya berderai dalam diam. Beberapa luka lebam nampak di bagian tubuhnya saat pria itu menyiksanya barusan.
" Sekarang kau tahu akibatnya bukan? Jangan pernah berani menentangku, aku bisa berbuat lebih dari ini." bisik Glenn menyeringai puas. Ia segera memakai pakaiannya dan meninggalkan Aluna begitu saja.
Batin Aluna begitu terhina, dirinya merutuki nasibnya yang begitu malang saat ini. Dirinya seolah mirip ja**ng yang dibuang lantaran sudah tak berguna.
Sambil menahan perih, dengan tertatih-tatih ia memunguti pakaiannya yang telah tak berbentuk, mau bagaimana lagi hanya itu pakaian satu-satunya yang ia miliki. Dan iapun harus pergi dari sana.
" Kenapa nasibku jadi seperti ini? Apa ini sebuah karma atas perbuatanku selama ini? " batinnya menangis.
...----------------...
Arkana mendatangi resepsionis hotel dan bertanya mengenai siapa orang yang telah membawanya kesana semalam. Betapa terkejut dirinya saat tahu bahwa memang istrinyalah yang telah memesan kamar hotel untuknya.
" Jadi istriku benar-benar masih hidup? Tapi, kenapa dia menghindar dariku? Apa karena Mama mengusirnya waktu itu? " batinnya kebingungan.
Arkana kembali memastikan pada Resepsionis hotel, mereka menjelaskan ciri-ciri wanita itu. Dari apa yang mereka sampaikan, nampak ciri-ciri itu memang mirip seperti istrinya.
Pria itu tak kehabisan akal, ia meminta rekaman CCTV pada sang pemilik hotel untuk mengungkapkan kebenarannya. Mereka dengan senang hati memberikan rekaman CCTV yang terpasang dilorong hotel saat tahu siapa pria itu sebenarnya.
Lagi dan lagi, Arkana mematung seakan tak percaya. Wanita yang baru saja keluar dari kamarnya memang Seroja. Dirabanya gambar tersebut, netranya berkaca-kaca lantaran menahan rasa rindunya selama ini.
Namun, kenyataan pahit belum bisa berujung manis. Dirinya sama sekali tidak tahu keberadaan istrinya saat ini.
" Tolong perlambat timernya." ia mencoba memperhatikan lebih seksama video yang ada dihadapannya.
" Kenapa aku seperti mengenal pakaian yang digunakannya? Pakaian itu mirip.."
Pria itu segera berlari meninggalkan tempat tersebut. Dirinya mulai sadar dengan pakaian itu sama persis dengan pakaian yang digunakan Andara sewaktu memata-matainya kemarin. Dengan segera ia melajukan mobilnya secepat mungkin menuju apartemennya.
" Semoga belum terlambat. Bagaimana bisa aku tak menyadarinya sama sekali." seulas senyum tersungging disalah satu sudut bibirnya.
__ADS_1
Pantas saja selama ini ia merasakan sesuatu yang berbeda pada Andara. Sorot mata dan beberapa perilaku gadis tersebut hampir mirip, itu karena mereka memang orang yang sama. Yang membedakan hanyalah istrinya tomboy, sedangkan wanita itu terlihat feminim. Ia merutuki dirinya sendiri lantaran berhasil dikelabuhi oleh sang istri.
Mobilnya tepat berhenti di apartemen, tempat yang hampir sebulan ini tidak pernah ia kunjungi. Dengan segera ia turun dan menuju apartemen miliknya. Ia menatap pintu apartemen tersebut.
" Lebih baik aku masuk begitu saja, belum tentu dirinya mau membukakan pintu jika tahu kedatanganku."
...----------------...
Seroja tengah mandi dan membersihkan diri, rasanya ia begitu geli mengingat percintaannya semalam dengan sang suami. Dirinya wanita normal, seorang istri yang membutuhkan sentuhan kasih sayang dari seorang suami.
Namun, tatapannya berubah sendu saat mengingat Arkana saling melempar senyum pada Aluna. Sepertinya, lelaki itu bisa dengan mudah melupakannya.
" Mungkinkah aku yang jatuh cinta sendiri? Sementara suamiku sudah tak memikirkanku sama sekali?"
Huh,,
Ia membuang nafas kasar, memejamkan mata sambil mendongakkan wajahnya ke atas shower. Guyuran air yang turun membasahi tubuhnya ia harapkan mampu menyapu segala beban pikirannya saat ini.
Wanita tersebut mengakhiri sesi mandinya. Ia membungkus rambutnya yang basah dengan handuk kecil dan membelitkan sebuah handuk lagi untuk menutupi tubuh polosnya.
Wanita tersebut keluar dari dalam kamar mandi, kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
Ceklek...
Netranya membola seketika saat menyadari suara pintu kamar yang terbuka.
" Bagaimana bisa aku tidak sadar ada seseorang yang datang? Tapi, bagaimana bisa ia masuk ke apartemen bahkan ke kamar ini? Aku rasa aku sudah menguncinya tadi." batinnya.
Perasaan waspada sekaligus cemas menyeruak dalam dirinya saat terdengar langkah kaki berjalan mendekat kearahnya.
Posisinya saat ini memunggungi orang itu. Ia membalikkan badan, merasa geram dengan tamu tak diundang.
" Kurang ajar! Siapa kau berani memasuki apartemenku tanpa izin! " bentaknya kesal.
Dirinya terperanjat saat menatap sosok pria yang ada dihadapannya sekarang. Dengan segera ia menutupi wajah dan berjalan menjauh dari pria tersebut sambil memunggunginya kembali.
" Kau benar-benar tidak sopan. Cepat pergi dari sini! " bentaknya kembali.
Bersambung,,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...