
Arkana, Seroja, Alvin dan juga Bianca kini telah tiba dihalaman mansion. Seroja memperhatikan sekitarnya, tidak banyak yang berubah disana. Keempatnyapun melangkah masuk ke dalam mansion,
" Selamat datang kembali.."
Ucap seluruh penghuni mansion secara serempak, kebetulan keluarga Seroja juga ada disana. Mereka begitu bahagia saat Aulia dan Arzel menyampaikan bahwa Seroja masih hidup. Merekapun mengundang Nyonya Almira dan asistennya yang telah berjasa menyelamatkan Seroja waktu itu.
Suasana haru biru memenuhi mansion, semua bersuka cita menyambut kedatangan Seroja yang tadinya menghilang beberapa bulan lamanya.
" Ibu dan Bapak senang sekali ketika mendengar kau masih hidup, Nak. Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan doa ibu. Ibu selalu berusaha yakin bahwa wanita yang meninggal saat itu bukanlah dirimu. " ungkap Bu Eneng sembari memeluk putri kesayangannya. Airmata kebahagiaaan meliputi keduanya saat ini.
" Seroja juga senang, akhirnya kita bisa berkumpul kembali Bu. Aku sangat merindukan kalian semua." gadis itu menumpahkan airmata di bahu ibunya.
" Sudahlah, jangan menangis lagi. Ini adalah malam penyambutanmu kembali ke mansion seharusnya kita bersuka cita menikmati malam ini. " Arkana mencoba menenangkan sang istri.
Keduanya melangkah ke depan dan meminta perhatian semua yang ada disana. Mereka menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas anugrah yang diberikan padanya, terutama bayi yang ada didalam perut Seroja saat ini.
Acara ditutup dengan makan malam bersama seluruh anggota keluarga. Setelah acara makan makan malam selesai, Nyonya Almira dan sang asisten berniat untuk kembali ke kediamannya dan berpamitan pada keluarga besar Pramudya.
Namun, bunyi ponsel Arkana yang berbunyi cukup nyaring mengalihkan perhatian semuanya. Arkana segera mengecek siapa yang tengah menelponnya disaat seperti ini. Dirinya terkesiap ketika melihat Mama Alunalah yang menghubunginya. Ia segera mengangkat teleponnya.
" Arkana, Arkana tolong Tante. Aluna tidak ada diruangannya, seseorang sepertinya telah menculiknya. Tante takut terjadi apa-apa padanya, Tante tidak tahu harus meminta toling kepada siapa lagi. " ungkap wanita itu tergesa-gesa, sesekali terdengar isak tangis dari seberang sana.
Arkana terkejut mendengar hal tersebut, ia segera menghampiri sang istri untuk meminta izin pergi sementara waktu.
" Sayang, maaf aku harus pergi ke rumah sakit. Aluna diculik, Mamanya memintaku untuk membantu mencari keberadaannya. "
Seroja dan yang lain ikut terkejut mendengarnya, Alvin dan Arzel menghampiri pria itu dan berniat untuk membantunya. Begitu juga Nyonya Almira, beliau meminta sang asisten untuk ikut bergabung bersama mereka.
" Sangat berbahaya jika kau pergi seorang diri. Kita tidak tahu seberapa besar kekuatan lawan. Papa akan menyuruh beberapa bodyguard untuk bergabung bersama kita." usul Alvin pada putranya.
" Baik, Pa. Aku setuju, aku yakin pria itulah yang telah menculiknya. Dasar brengsek, aku pasti akan membuat perhitungan dengannya. " ungkapnya penuh kekesalan. "
Arkana hendak melangkah, namun tiba-tiba sang istri menahannya sesaat.
" Bolehkah aku bergabung bersama kalian? Aku juga ingin membantumu meringkus pria itu. " pintanya pada sang suami.
Arkana tersenyum tipis,
" Tolong untuk saat ini lebih baik kau dirumah saja. Aku tidak ingin membahayakanmu dan juga calon anak kita. Kalian adalah yang terpenting bagiku, aku sudah tidak ingin lagi merasakan kehilangan orang-orang yang aku cintai." pinta Arkana.
Seroja mendekap erat tubuh suaminya,
__ADS_1
" Baiklah kalau itu maumu. Tetapi kau harus berjanji bahwa kau akan kembali dengan selamat. " ungkapnya berderai airmata.
Pria itu mengelus punggung sang istri untuk menenangkan,
" Kau tenang saja. Aku pasti akan kembali dengan selamat demi kamu dan calon buah hati kita. " ia mengecup sesaat puncak kepala istrinya, lalu pergi bersama yang lainnya untuk menyelamatkan Aluna.
Seroja menatap seluit sang suami hingga tak nampak dari pandangannya.
" Ya Rabb, selamatkanlah mereka. Semoga semuanya akan kembali dengan selamat." do'anya dalam hati.
...----------------...
Arkana dan yang lain segera menuju rumah sakit untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka mencari keberadaan Mama Aluna, wanita tersebut ternyata tengah berada di pos keamanan rumah sakit. Beliau begitu lega melihat kedatangan Arkana bersama yang lainnya. Seketika beliau menghampiri mereka dengan berlinang airmata.
" Syukurlah akhirnya kau datang juga kemari. Tante bingung harus meminta tolong pada siapa lagi." ucapnya berputus asa.
" Memangnya apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa Aluna diculik?" Arkana mencoba menyelidiki.
" Tadi Tante sedang ke kantin sebentar untuk membeli makan. Tiba-tiba saat Tante kembali, ternyata Aluna sudah tidak ada di ruangannya. Tante mencoba bertanya kepada para perawat, tapi tidak ada yang tahu kemana putriku pergi. Tante sangat khawatir, apalagi kondisinya saat ini sangat lemah, dirinya membutuhkan perawatan khusus. " jelas wanita itu cemas.
" Tante tenang dulu, kami pasti akan membantu menemukan keberadaan Aluna." Arkana mencoba menenangkan.
Seluruh bodyguard telah melakukan penyusuran semua penjuru rumah sakit, tetapi hasilnya nihil. Aluna sepertinya sudah tidak berada di rumah sakit tersebut. Merek juga telah melihat rekaman CCTV rumah sakit, namun penjahat itu sangat lihai. Mereka bisa melumpuhkan jaringan keamanan rumah sakit tersebut.
" Setidaknya kita tahu siapa orang itu sebenarnya, Pa." Arkana yakin pria itu pasti pria sama yang ingin melenyapkan nyawa istrinya.
" Apa maksudmu?" Alvin belum mengerti.
" Yah, ternyata orang yang selama ini mencoba membunuh istriku dan berusaha menghancurkan keluarga kita berasal dari keluarga Aryatama. Dia bernama Glenn Aryatama. " ungkap Arkana pada sang ayah.
" Apa?! Jadi ini semua ulah keluarga Aryatama?" Alvin sangat terkejut mendengar nama keluarga Aryatama kembali disebut. Seketika ia teringat keluarga itu memang memiliki dendam masa lalu dengan keluarganya.
Alvin membuang nafas berat,
" Papa tak menyangka, dendam itu masih berlanjut hingga sekarang." ia kembali teringat masa lalunya.
" Iya, Tuan. Kami juga telah menyelidiki hal itu, dia juga merupakan seorang mafia, bandar pengedar obat-obatan terlarang. " asisten Nyonya Almira ikut menambahkan.
" Yang terpenting sekarang, kita harus menemukan Aluna. Dia merupakan saksi kunci dari kejahatan Glenn. Aku takut pria tersebut melenyapkannya untuk menghilangkan bukti." pikir Arkana.
" Ya sudah, kalau begitu lebih baik kita datangi saja markasnya. Aku yakin mereka pasti berada disana." ajak Arzel bersemangat.
__ADS_1
Keempat lelaki tersebut bersama anak buahnya segera pergi dari rumah sakit menuju markas Glenn setelahnya.
...----------------...
Glenn menyeringai puas menatap wanita yang kini tengah terikat di atas kursi dengan keadaan yang begitu lemah. Wajah dan sekujur tubuhnya nampak kebiru-biruan akibat beberapa cambukan yang dilayangkan kepadanya.
" Bagaimana kau masih mau merasakan yang lebih dari itu sebelum ajalmu tiba, heum?" pria itu mencambukkan pecutnya disamping Aluna hingga wanita setengah sadar itu terkesiap seketika.
Aluna tertawa kecil, tubuhnya terasa remuk redam, tapi dirinya berusaha untuk terlihat kuat.
" Apa kau tidak ingin bercinta denganku? Rasanya aku ingin bercinta sepuasnya sebelum ajalku tiba. Aku masih sanggup melayani dan memuaskanmu meski keadaanku seperti ini." ia menggigit bibir bawahnya, netranya menatap penuh hasrat berharap pria itu tergoda olehnya.
" Ayolah, bebaskan aku. Apa kau takut aku akan kabur dengan kondisiku seperti ini? Bukankah kau bilang aku sangat pandai memuaskanmu? " godanya kembali saat lelaki itu nampak berpikir.
Glenn yang memang maniak dalam **** tentu saja senang mendengar hal itu. Apalagi sebenarnya dirinya sendiri sangat menyukai permainan Aluna.
Ia berjalan mendekati Aluna dan membuka perlahan tali yang mengikat wanita tersebut. Seringainya kembali muncul disalah satu sudut bibirnya,
" Aku belum pernah merasakan bercinta dengan orang yang sedang sekarat."
Dirinya mulai melucuti pakaian Aluna,
" Kau tampak kurus dan peot sekarang. " ejeknya pada wanita itu.
" Heh,, kau akan menyesal karena telah menghinaku? Bahkan kau juga sering kalah dariku. " sindir Aluna balik.
Pria itupun segera melucuti pakaiannya sendiri, seperti biasa ia mengambil alat pengaman sebelum melakukan aksinya. Perlahan ia mulai menyusuri tubuh wanita itu dan keduanya mulai melakukan adegan panasnya.
Perih tak terkira dirasakan Aluna, jiwa dan raganya seolah akan berpisah saat ini. Dirinya pasrah, mungkin ini karma yang harus diterimanya akibat perbuatannya di masa lalu.
Api gairah Glenn mulai memuncak, ia ingin segera melakukan penyatuan dengan gadis yang ada dalam kungkungannya saat ini. Tiba-tiba Aluna menarik alat pengaman yang membungkus junior lelaki itu.
" Untuk yang terakhir kali. " pintanya seolah memelas.
Lantaran pria itu sudah tak mampu menahan miliknya yang hampir membucah, iapun segera memasukkan miliknya pada bagian inti Aluna. Keduanya meraih pelepasan bersama-sama.
" Kau selalu pandai memuaskanku." ungkap pria itu tersenyum puas.
Kini giliran Aluna menyeringai penuh kemenangan,
" Aku terkena HIV/AIDS. Kuharap kaupun merasakannya juga." ucapnya sebelum kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf upnya agak siang. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya....