
Pyaarrrr..
Sebuah gelas terjatuh hingga pecahannya berserakan begitu saja di lantai.
Degg...
Hati Arkana tiba-tiba merasa tidak enak saat tanpa sengaja dirinya menjatuhkan gelas yang tersimpan di atas nakas.
" Ada apa sebenarnya? Kenapa hatiku rasanya tidak tenang?" batinnya gelisah.
Ia membuka pesan yang dikirimnya untuk Seroja. Pesan itu sudah dibaca, namun tidak ada balasan sama sekali. Ia mencoba menghubungi sang istri berkali-kali, tapi nomor yang dihubungi sedang tidak aktif.
" Kemana dia? Tumben ponselnya tidak aktif begini? " batinnya kembali bertanya-tanya.
Iapun memutuskan untuk menghubungi keluarganya barang kali mereka tahu dimana dan sedang apa istrinya saat ini.
...----------------...
Keesokan harinya, Bianca dan keluarganya berniat untuk berkunjung ke rumah Seroja. Alvin telah diberitahu mengenai masalah yang terjadi antara istri dan menantunya. Tanpa menyalahkan, ia berharap sang istri jangan terlalu mudah percaya hasutan orang lain.
Dert..Dert...
Sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Bianca. Ia menelan kasar salivanya saat nama putra sulungnya yang tertera disana.
" Aku harus menjawab apa jika putraku menanyakan tentang istrinya? Ya Rabb,, kenapa hamba bisa seceroboh ini." batinnya gelisah.
Alvin yang melihat istrinya pucat pasi segera mengambil ponsel tersebut dari tangan Bianca. Iapun mengangkat panggilan dari putranya tersebut.
" Assalamualaikum, Ma. Ma,, apa Seroja ada di mansion? Aku menghubunginya berkali-kali semalam, tapi tidak ada jawaban darinya. Aku cemas dan takut dirinya kenapa-napa." ucap Arkana dari balik telepon.
Alvin menghela nafas panjang, dengan terpaksa ia membohongi putranya agar Arkana bisa tenang disana.
" Waalaikumsalam. Istrimu sepertinya masih tidur diatas, mungkin dia lupa sedang mengecas ponselnya. Papa akan memintanya untuk menghubungimu setelah bangun nanti. " jawab Alvin beralasan.
__ADS_1
Rasanya iapun tak tega membohongi putranya. Namun, menurutnya aneh juga jika sang menantu jadi sulit dihubungi oleh Arkana.
" Apa mungkin Seroja benar-benar marah hingga dirinya tidak ingin berbicara dengan Arkana? Atau diapun tidak ingin menceritakan masalahnya kemarin?" batinnya bertanya-tanya.
Arkanapun sedikit heran, tidak biasanya sang ayah yang mengangkat teleponnya. Namun, dirinya lega sang istri ternyata ada di mansion keluarganya.
" Baiklah, Pa. Nanti aku akan coba menghubunginya kembali. Makasih, Pa."
Keduanya sama-sama menutup sambungan teleponnya. Alvin segera mengajak anak dan istrinya berangkat supaya persoalan bisa segera terselesaikan.
...----------------...
Mobil Alvin berhenti tepat di pekarangan rumah Pak Anwar. Pak Anwar sekeluargapun cukup terkejut melihat kedatangan keluarga besannya yang tiba-tiba.
Mereka menyambut hangat keluarga Alvin. Pria itu memperhatikan sekitar saat dirinya telah dipersilahkan duduk oleh sang empunya rumah. Dirinya mencari keberadaan Seroja yang sama sekali tak terlihat.
" Maaf Pak Anwar, Bu Eneng. Kedatangan kami kemari ingin bertemu dengan Seroja." ucapnya menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.
Pak Anwar begitu terkesiap mendengar penuturan Alvin.
Alvin dan Bianca begitu terperanjat mendengar bahwa ternyata Seroja tidak pulang ke tempat orang tuanya. Terutama Bianca, rasa bersalah melekat erat dalam dirinya saat ini.
Alvin menggenggam tangan istrinya yang dingin karena takut, iapun kemudian menjelaskan secara pelan-pelan mengenai apa yang terjadi antara istrinya dan Seroja. Tentang pernikahan kontrak Arkana dan Seroja, tentang pria yang mengaku sebagai kekasih Seroja hingga kesalahpahaman Bianca dan Seroja yang mengakibatkan menantunya pergi dari rumah.
Airmata Bu Eneng meluncur seketika mendengar apa yang menimpa putrinya. Ia membaca dan melihat surat dan foto yang dibawa Alvin untuk ditunjukkan pada keluarganya. Netranya membola sempurna saat melihat pria yang berfoto bersama keluarganya kemarin.
" Nyonya, ini? Ini pria yang tiba-tiba datang dan meminta foto bersama kami beberapa hari yang lalu. Putriku sama sekali tak mengenalnya, dia mengaku sebagai sahabat Seroja." ungkap Bu Eneng seketika.
Mendengar hal itu, Pak Anwar segera merampas foto yang berada di tangan istrinya.
" Betul, Tuan, Nyonya. Kami sama sekali tidak mengenalnya. Dia mengaku-ngaku sebagai sahabat putriku. " jawabnya meyakinkan.
Jlebbbb...
__ADS_1
Hati Bianca seolah tertusuk sebilah pisau, Ternyata benar dirinya telah ditipu, pria itu telah berhasil menghasut pikirannya.
Ia mendekati Eneng dan bersimpuh di dekatnya. Air matanya mengalir deras akibat hatinya yang dipenuhi oleh rasa bersalah.
" Maafkan aku. Seharusnya aku bisa lebih bijak menyingkapi semua ini. Saat itu aku terlalu kecewa lantaran putra dan menantuku telah membohongiku selama ini tanpa mendengarkan penjelasan mereka terlebih dahulu. " sesalnya mengingat kejadian waktu itu.
Eneng segera memberdirikan wanita yang selama ini begitu dihormatinya.
" Tidak, Nyonya. Ini semua bukan sepenuhnya salah anda. Yang terpenting sekarang, tolong temukan keberadaan putri saya. Perasaan saya tidak enak, apalagi kemungkinan Seroja sedang hamil sekarang." jawabnya sesenggukan.
Bak tersambar petir, Bianca dan Alvin kini dihadapkan kenyataan yang lebih pahit lagi. Mereka akan semakin berdosa jika apa yang baru saja Eneng katakan adalah benar adanya.
" Ha,, hamil? Maksudmu menantuku sedang mengandung anak Arkana?" tanyanya cemas sekaligus penasaran.
" Saya belum tahu pasti, tapi dari gelagat dan ciri-cirinya dia sepertinya memang sedang hamil muda. Katanya dia juga sudah dua bulan terlambat datang bulan. Oleh sebab itu rencananya dia akan membeli alat tes kehamilan sambil kembali ke mansion." jelas Eneng.
Bianca menjatuhkan diri ke tubuh sang suami, tubuhnya terasa lunglai menghadapi kenyataan yang baru saja didengarnya. Dirinya pasti akan semakin bersalah jika sampai terjadi sesuatu dengan menantu dan calon cucunya.
Alvin berusaha menguatkan sang istri yang kini kembali berlinang airmata.
" Sudah. Kau tenangkan dirimu terlebih dahulu, kita berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Seroja. Aku akan mengerahkan para bodyguard untuk mencari keberadaannya." ucapnya menenangkan sambil mengelus lengan sang istri.
Merekapun segera pamit undur diri. Rencananya Alvin dan Bianca akan mencari Seroja di apartemen Arkana. Jika memang wanita itu tidak ada disana, ia akan menyuruh anak buahnya untuk segera mencari dan meminta bantuan pihak yang berwajib untuk menemukan keberadaan sang menantu.
...----------------...
" Nyonya, apa anda keluarga pasien? Sepertinya Nona ini mengalami luka yang cukup parah. Dia juga sepertinya sedang hamil muda. Kami harus segera mengambil tindakan." ucap Dokter pada wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat begitu anggun.
" Lakukan yang terbaik untuknya, Dok. Selamatkan ibu beserta bayinya. Saya akan menanggung sepenuhnya untuk keselamatan mereka." jawab wanita itu merasa iba dengan gadis yang terbaring tak sadarkan diri dengan cukup banyak luka ditubuhnya.
Dokter segera membawanya ke ruang ICU untuk memberikan tindakan lebih lanjut. Wanita itu harap-harap cemas, ia takut terjadi hal yang buruk pada Seroja.
" Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka." doanya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗