
Seroja menggenggam tangan Bianca untuk meyakinkan wanita itu bahwa foto-foto tersebut tidaklah benar dan hanya rekayasa semata. Ia menyesalkan mengapa hal ini bisa sampai terjadi padanya dan juga Arkana.
Arkanapun segera memeluk Mamanya, kali ini netranyapun tak sanggup menahan airmata melihat sang Mama begitu terluka karenanya.
" Ma, maafkan aku. Ini semua tidaklah benar, ada yang berusaha menjebak kami." tuturnya dalam pelukan Mamanya.
Biancapun sebenarnya tak ingin mempercayai semua ini. Tapi, mengingat kelakuan Arkana selama ini, hal itu mungkin saja bisa terjadi.
Netranya beralih menatap Seroja, gadis yang menurutnya begitu baik selama ini. Mungkinkah gadis selugu itu tega mencoreng nama baik keluarganya?
Hatinya bimbang, benar atau tidaknya foto-foto itu, tetap saja telah menjadi konsumsi umum. Kertas yang telah tergores pena tidak akan mungkin bisa kembali seperti semula. Nama baik keluarganya telah tercoreng kali ini.
Ia melepaskan pelukan Arkana, rasanya ia tak sanggup menatap wajah putra sulungnya tersebut. Wanita itu mengambil sikap netral,
" Untuk masalah ini, saya serahkan sepenuhnya pada Dewan kampus untuk mencari kebenarannya. Saya tidak akan membela jika benar putra saya terbukti bersalah. Mereka berdua dalam asuhan saya. Kami semua adalah keluarga, saya sendiri belum bisa mempercayai seluruh foto-foto tersebut. "
" Baiklah, Nyonya. Tentu saja, kami akan menyelidiki hal ini terlebih dahulu. Semoga semua ini tidaklah benar, keluarga Pramudya adalah keluarga yang begitu dihormati disini. " sang dosen menyayangkan kejadian yang baru saja menimpa keluarga tersebut.
Seroja dan Arkana akhirnya bisa bernafas lega, Mama Bianca tidak mau percaya begitu saja pada foto-foto tersebut.
" Terima kasih, Ma. " Arkana memeluk kembali sang Mama untuk sesaat.
Kali ini Bianca bersikap tegas pada putranya,
" Mama tidak percaya bukan berarti Mama percaya sepenuhnya padamu. Sedikit banyak ini juga adalah buah dari perbuatan yang kau lakukan selama ini. Kita akan membahasnya nanti malam bersama Papa. " wanita itupun pergi meninggalkan kampus tersebut.
Seroja dan Arkanapun segera keluar dari ruangan itu bersama-sama. Saat diluar ruangan, gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Arkana yang tadinya berada didepan, iapun ikut berhenti dan berbalik saat melihat gadis itu terdiam mematung di dekat ruangan barusan. Ia kembali melangkah menghampiri Seroja.
" Kenapa kau berhenti? " ia menatap nanar gadis tersebut yang masih sembab oleh air mata. Seroja yang biasanya kuat dan periang, entah mengapa saat ini seolah menjadi orang lain yang berbeda.
" Aku tidak bisa, aku tidak mau menanggung aib seperti ini. A,, aku lebih baik berhenti kuliah kembali. " ucapnya dengan nada suara yang bergetar.
Pria itu begitu iba melihatnya, hal ini sepertinya menimbulkan trauma yang dalam bagi gadis itu. Ia sadar Seroja masih begitu lugu dan polos. Jelas saja ia merasa begitu terpukul jika dianggap sebagai gadis yang tak bermoral.
Tak ada gading yang tak retak, setiap orang memiliki sisi kuat dan lemah dalam dirinya. Sekuat-kuatnya seorang Seroja, batinnya menjadi begitu lemah saat dihadapkan dengan situasi seperti ini.
" Bicara apa kau ini? Bukankah kau sendiri tahu kalau kita tidak bersalah? Jangan perlihatkan sisi lemahmu, buktikan pada semua orang bahwa kau tidak seperti yang mereka kira. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama. " Arkana mengulurkan tangannya.
Gadis itupun mengangguk tanda setuju, ia meraih tangan pria tersebut dan berjalan beriringan. Semua mata masih tertuju pada mereka, Arkana semakin memperkuat genggamannya untuk menyemangati gadis tersebut.
Helena dan geng tiba-tiba menghadang jalan mereka. Sambil melipat kedua tangan, gadis itu tersenyum sinis pada keduanya.
" Ini dia pasangan mesum itu? Pria yang terkenal suka berganti-ganti pacar dan gadis kampungan yang dikira lugu, ternyata sangat bejat kelakuannya."
Arkana terbakar emosi karenanya, gadis tersebut sengaja memancing amarahnya.
Namun, ia berusaha menahan diri. Ia tak ingin menambah masalah baru yang membuat kasusnya semakin pelik.
" Tutup mulutmu, gadis bre***ek! Aku yakin ini semua ulahmu. Kau belum tahu sedang berhadapan dengan siapa. Aku pasti akan membuatmu menyesali perbuatanmu!" ungkap Arkana menggebu-gebu.
" Silahkan saja, aku tak peduli berhadap dengan siapa. Yang jelas, kali ini rasa sakit hatiku hampir terbayar sudah. Kalian jadi bahan cibiran di kampus ini, terutama dia." tunjuknya pada Seroja.
" Sudah kampungan, sekolah dibiayai masih saja berani berulah." sindirnya kembali.
Serojapun ikut terpancing emosi, tangannya mengepal siap melayangkan sebuah bogem ke arah gadis tersebut. Ia sudah tidak sabar ingin membuat gadis itu terkapar seketika, jika saja Arkana tidak mencegahnya.
" Jangan ladeni dia, lebih baik kita pergi dari sini."
Serojapun menurut, keduanyapun melangkah hendak meninggalkan kampus.
Kali ini, mereka kembali berpapasan dengan kak Ardi yang tengah bersama Aulia. Gadis itu sedari tadi ingin meyakinkan Ardi bahwa itu pasti hanyalah rekayasa. Meskipun ia menyukai pria tersebut, tapi dirinya tak ingin menikung sahabatnya sendiri.
Netra Seroja menatap sendu kepada pria tersebut, ia melepaskan genggaman tangannya pada Arkana saat pria itu terlihat cemburu pada pria disampingnya.
Ia mendekati Ardi untuk meyakinkannya, kali ini Arkana tidak meninggalkan gadis tersebut. Sebab ia takut kekasih Seroja itu justru mempercayai foto-foto tersebut.
Gadis itu berdiri dihadapan Ardi, ia meraih tangan pria tersebut untuk meminta maaf.
" Kak Ardi, maafkan aku. Ini semua tak seperti yang kau lihat, foto-foto itu tidaklah benar. A,,aku dan Arkana, kami hanya bersahabat. Tolong percayalah padaku. " ucapnya memelas.
__ADS_1
Benar saja, tiba-tiba pria itu menghempaskan tangan Seroja dengan kasar. Arkana dan Aulia yang berada disana juga kaget melihatnya.
Ardi menatap penuh amarah kepadanya.
" Kau pikir aku bisa percaya padamu setelah kau mempermainkan perasaanku! Kau sudah berubah sekarang, Seroja. Tadinya aku percaya kalau kau tidak ada hubungan dengannya meskipun kalian sering terlihat bersama. Tapi, aku benar-benar kecewa. Bahkan kau lebih memilih pulang bersama pria itu setelah berkencan denganku. Aku melihatmu dipeluk dan pulang bersamanya waktu itu."ucap Ardi miris.
Seroja langsung menyanggah hal itu,
" Tidak! Itu tidak benar. Semua tidak seperti yang kak Ardi lihat. Aku bisa menjelaskan semuanya, ini semua hanyalah salah paham. " kini gadis tersebut kembali berlinang air mata.
Ardi sebenarnya tak tega melihat Seroja seperti sekarang ini, tapi batinnya seakan tersayat sembilu mengingat kejadian di taman hiburan kemarin. Gadis itu enggan ia antarkan karena ingin pulang sendiri, tapi ternyata tanpa sengaja ia melihat Arkana memeluk kekasihnya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
" Sudah, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Lebih baik aku pergi dari sini." Ardi hendak berlalu, tapi Aulia menahannya. Ia tak tega melihat Seroja kini bersimbah airmata.
" Kak Ardi, tolong dengarkan Seroja terlebih dahulu. Aku mohon, aku yakin dia bukan gadis seperti itu. " pintanya pada Ardi.
Namun, Ardi tak mau mendengarkan kata-katanya. Hatinya terasa sesak mengingat apa yang telah Seroja lakukan. Iapun berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Aulia menghampiri sahabatnya yang tengah menangis saat ini,
" Kau tenanglah dulu, sekarang lebih baik kau pulang bersama kakak. Nanti aku akan mencoba menjelaskan kembali pada kak Ardi." Ia memeluk sahabatnya untuk mengurangi kesedihan.
" Terima kasih karena kau masih percaya padaku." air mata Seroja kini tumpah dipundak sahabatnya.
" Aku percaya kalian berdua, aku sangat mengenal dirimu dan kakakku. Semoga masalah kalian ini cepat terselesaikan. " gadis itu ikut menguatkan.
Akhirnya, keduanya memutuskan untuk pulang. Diperjalanan Seroja hanya terdiam dengan airmata yang terus membasahi wajahnya.
Arkana ikut bersedih karenanya, ia telah mencoba menawari berbagai hal makann, permainan, jalan-jalan supaya gadis itu bisa teralihkan bebannya. Namun, kali ini Seroja tak bergeming, sepertinya hatinya benar-benar terluka kali ini.
Mobil telah tiba di mansion, Seroja merasa malu untuk turun. Ia masih teringat betapa kecewanya Bianca tadi siang. Rasanya ia ingin kabur saja supaya masalah ini lenyap sudah. Tapi, ia tak tega sebab ibunya masih dalam masa penyembuhan.
Dengan langkah berat ia memasuki mansion bersama Arkana. Pria itu masih saja menggandeng sahabatnya yang terlihat bergetar ketakutan. Tapi, pria itu berpamitan dengannya saat tiba ditangga menuju kamarnya.
" Tunggu. Bolehkah aku ikut keatas, aku ingin bertemu dengan Nyonya Bianca." pintanya pada Arkana. Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk ke arahnya. Iapun mengantarkan Seroja hingga ke depan pintu kamar Mamanya.
Tok...Tok...Tok...
" Seroja? " hatinya terasa sesak saat menatap gadis itu, tapi ia berusaha setegar mungkin menghadapinya.
Seroja masih melihat gurat-gurat kesedihan di wajah wanita paruh baya yang ada dihadapannya saat ini. Kedua matanyapun masih terlihat merah dan bengkak pertanda dirinya baru menangis.
" Nyonya, bolehkah saya masuk dan bicara dengan anda sebentar? " ia mengumpulkan keberaniannya untuk meminta waktu pada wanita tersebut.
" Masuklah. " Bianca berusaha tersenyum.
Keduanya duduk saling berhadapan, namun tiba-tiba Seroja bersimpuh dipangkuan wanita itu. Airmata yang sedari tadi tertahan kini membucah sudah.
" Nyonya, maafkan aku telah mencoreng nama baik keluarga anda. Aku memang gadis tak tahu diri. Tapi sungguh, aku dan Tuan muda tidak pernah melakukan hal sebejat itu. Sebagian foto-foto itu hanyalah rekayasa, Nyonya."
Bianca memberdirikan gadis itu dan membawanya duduk kembali bersamanya. Ia memegang kedua lengan Seroja yang tertunduk malu didepannya.
" Aku percaya padamu, kau adalah gadis yang baik. Aku berharap semoga kebenarannya akan segera terungkap." ia membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
" Terima kasih, Nyonya. Bolehkah aku meminta tolong pada anda sekali lagi? Tolong jangan katakan pada ibuku tentang hal ini, Nyonya. Beliau masih dalam masa penyembuhan, aku tidak ingin kondisinya semakin memburuk." sambil berlinang airmata gadis itu memohon padanya.
Bianca tersenyum datar, " Kau tenang saja. Aku akan merahasiakan hal ini daru ibumu. " wanita itu mencoba menenangkan.
Malam menjelang, Alvin tiba dikediamannya. Wajahnya kali ini tampak murung, tadi siang Bianca telah menceritakan kejadian yang menimpa putranya dan juga Seroja melalui sambungan telepon.
Pria itu begitu terkejut mendengar apa yang disampaikan istrinya. Kini nama baik keluarga Pramudya telah tercoreng di lingkungan kampus tersebut.
Ia mengumpulkan anak, istri dan Seroja diruang keluarga setelah menyelesaikan makan malamnya.
" Arkana,, katakan dengan jujur pada Papa. Apakah foto-foto itu benar adanya. " tanyanya tegas pada putra sulungnya.
Arkana dengan mantap menjawab bahwa foto-foto tersebut tidaklah semua benar adanya. Diapun mulai menceritakan yang sebenarnya pada sang Papa.
Begitupun Seroja, ia menampik semua tuduhan tersebut. Dirinya dan Arkana benar-benar tidak pernah melakukan perbuatan tak senonoh seperti itu.
Alvin menepuk bahu putranya,
__ADS_1
" Baiklah, Papa akan meminta anak buah Papa untuk menyelidiki hal ini. Akupun tidak bisa tinggal diam karena hal itu benar-benar telah mencoreng nama baik keluarga. Papa harap setelah ini kau tidak lagi mempermainkan para gadis-gadis. Sedikit banyak ini juga karena ulahmu sendiri. " nasehatnya terhadap sang anak.
Arkana merenungi kata-kata sang Papa. Mungkin benar adanya, ini semua karena ulahnya sendiri. Meskipun ia tak pernah melakukan hal lebih, tapi kini ia sadar dirinya telah sering menyakiti perasaan orang lain.
" Baiklah Pa, aku akan berusaha memperbaiki diri. " ucapnya bersungguh-sungguh.
...----------------...
Tiga hari masa skors Arkana dan Seroja telah habis, kini keduanya bisa berkuliah kembali. Tadinya Seroja enggan masuk kuliah, tapi setelah Arkana meyakinkan dirinya, iapun akhirnya mau berangkat bersamanya.
Kali ini pria itu yang mengawalnya hingga menuju ke ruang kuliahnya. Ia tak ingin gadis itu sampai dibuli oleh mahasiswa yang lain. Biar bagaimanapun, Arkana masih disegani oleh mahasiswa lainnya, sebab orang tuanya adalah donatur terbesar dikampus tersebut.
Iapun berpesan pada Seroja agar menunggu diruangannya saja sampai dirinya menjemput gadis tersebut. Untung diruangan itu masih ada Aulia yang selalu mendampinginya sehingga ia tak terpuruk seorang diri.
Seroja memperhatikan para mahasiswa yang lain, ia sadar dari pandangan mereka sepertinya mereka kurang menyukai keberadaannya. Bahkan banyak diantaranya yang berbisik dan mencibir di belakangnya.
" Sudahlah, kau tak perlu memperdulikan mereka. Kita berdo'a saja semoga kebenaran cepat terungkap. Aku yakin kau gadis yang kuat. " Aulia menyemangati sahabatnya.
Sebenarnya Seroja belum bisa menerima situasi seperti ini, keberaniannya seolah memudar tertutup oleh rasa malunya. Untung jam kuliah hampir berakhir, dirinya ingin segera kembali ke mansion. Ia berusaha kuat didepan sahabatnya itu.
" Terima kasih, Aulia. Kau tak perlu khawatir, aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. " gadis itu mencoba tersenyum agar tak terlihat lemah.
" Oh ya, aku akan ke toilet sebentar. Tolong sampaikan pada kakakmu supaya dia tidak mencari-cariku nanti. " pintanya pada Aulia sebab jam kuliah telah berakhir.
Aulia sedikit cemas, Arkana berpesan padanya untuk selalu mendampingi Seroja.
" Apa aku perlu menemanimu? "
Seroja terkekeh mendengarnya,
" Kau ini terlalu berlebihan, aku bukan anak kecil lagi. Kau tak perlu mengkhawatirkanku, kau tahu siapa aku bukan?" Dengan terpaksa Aulia membiarkannya ketoilet seorang diri.
Seroja berjalan meninggalkan ruangannya. Tanpa ia sadari beberapa pemuda mengikutinya dari belakang.
Gadis itupun segera keluar dari toilet setelah menuntaskan hajatnya. Namun dirinya merasa aneh, lorong toilet tersebut terlihat sepi tak seperti biasanya.
Ia berjalan menyusuri lorong, namun langkahnya terhenti saat beberapa pemuda menghadangnya.
" Siapa kalian? Ini toilet wanita. Tolong minggirlah, aku mau lewat. " gadis itu berusaha sopan meskipun ia mencium gelagat tidak baik dari para pemuda itu.
Para pemuda tersebut justru menyeringai kearahnya,
" Mau kemana gadis manis? Ternyata kau memang cantik, pantas saja Arkana tergila-gila padamu. Tubuhmu itu, benar-benar seksi." ucap salah satu diantaranya sambil menatap penuh gairah ke arah Seroja.
Seroja merasa jijik ditatap seperti itu, mereka seolah sedang membayangkan tubuhnya. Ia sungguh tak terima diperlakukan seperti itu.
" Ayolah, sayang. Berapa harga yang harus kami bayar untuk bisa menikmati dirimu." ucap pemuda lainnya.
Duuughhhh...
Dengan sekali tendangan gadis itu berhasil menjatuhkan salah satu diantara mereka yang berniat menyentuh tubuhnya. Emosinya telah mencapai ubun-ubun saat ini.
" Hei ! Rupanya kau tak bisa diperlakukan secara halus ya? Baiklah kalau begitu, jadi rupanya kau ingin dipaksa ya? " ucap pemuda itu seraya menyeringai licik.
Hati Seroja seolah tertusuk sembilu, dirinya seakan dianggap sebagai barang pemuas nafsu.
" Tidak perlu banyak bicara. Kalian majulah satu persatu! " bentaknya pemuh amarah.
*B*uughh..Buughhh...Buughhh...
Perkelahian tak dapat terhindarkan lagi, gadis itu bertarung penuh emosi, ia menghajar pemuda-pemuda itu dengan membabi buta. Namun, tanpa ia sadari salah satu pemuda berhasil memukulnya dari belakang. Gadis itu kini terjatuh, ia merintih merasakan nyeri dipunggungnya.
Keenam pemuda itu langsung bangun dan kini mengepung Seroja yang belum bisa memperoleh keseimbangannya.
" Sepertinya kau sudah mulai kelelahan rupanya. Kalau begitu? Menurut sajalah pada kami. " mereka melangkah mendekati Seroja dengan tatapan penuh hasrat.
Seroja berusaha bangun, dirinya merasa lemah kali ini. Kini ia benar-benar merasa ketakutan, mungkinkah ia akan mengalami pelecehan saat ini?
Bersambung....
Kira- kira siapa yang menolong Seroja? Arkana ataukah Ardi🤔
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasny buat karya keduaku ya. Dukungan kalian semangat Bu Author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..