Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
APA MAKSUDNYA SEPERTI ITU?


__ADS_3

" Brengsek,, ku pikir kau sudah berhasil melenyapkan wanita itu! Aku jadi ragu, apa kau benar-benar mafia atau bukan. " sindir Aluna pada Glenn.


Setelah pergi dari kantor Arkana, wanita itu menghubungi Glenn dan membuat janji temu dengannya. Dirinya benar-benar kesal, pria itu tidak menepati janji dan Arkana kini justru menaruh kecurigaan terhadapnya.


Pria itu geram mendengar penghinaan Aluna. Ia berdiri dari kursi kebesarannya dan mendekati Aluna.


" Jaga ucapanmu kalau kau masih ingin pergi hidup-hidup dari sini! " ancamnya sambil mencengkeram leher wanita itu.


Aluna kesulitan bernafas saat pria itu mencekik lehernya, tatapan Glenn seolah bagaikan malaikat pencabut nyawa yang bersiap untuk memisahkan jasad dari raganya.


" Ma,,afkan aku. "


Susah payah dirinya mengucapkan kata itu agar Glenn masih mau berbaik hati padanya. Pria itu seketika melepaskan tangannya dari leher Aluna.


Uhuk...Uhuk...Uhuk..


Pria itu menyeringai melihat Aluna kesakitan.


" Untung saja kau bisa memuaskanku. Kalau tidak? Aku bisa saja membuangmu ke kolam buaya peliharaanku. "


Aluna memelas pada pria tersebut, dirinya hampir lupa bahwa sekarang ia sedang berada di kandang harimau.


" Maafkan aku. Sebenarnya aku bingung karena Arkana kini telah mencurigaiku. Dia mengancam akan membuatku membusuk di penjara jika sampai aku ketahuan terlibat kasus percobaan pembunuhan terhadap istrinya. " terangnya pada Glenn.


" Kau tidak perlu khawatir. Aku selalu melakukan pekerjaanku dengan bersih. Pantang bagiku mengalami kegagalan. Mangsa yang kuincar takkan ku lepaskan begitu saja. Ini bukan hanya karenamu, tapi juga menyangkut harga diriku." tegas lelaki itu penuh penekanan.


" Baiklah, aku tunggu kabar baik darimu. Ku harap kau bisa melenyapkan wanita itu secepatnya agar aku bisa dengan mudah memiliki Arkana. Kalau begitu aku permisi. "


Aluna buru-buru meninggalkan tempat itu. Ia sangat frustasi bukannya mengurangi masalah, justru ia malah menambah masalah.


Glenn segera mengkode anak buahnya untuk masuk setelah Aluna pergi meninggalkan mansionnya.


" Bagaimana,, Apa kau sudah menyelidiki tentang pria itu?"


Salah satu diantara mereka maju untuk melapor pada Bosnya.


" Dia putra dari Alvin Mahesa Pramudya, pemilik Pramudya Group. Dirinya memimpin salah satu cabang penting perusahaan keluarganya."


Glenn menyeringai senang, tentu saja dirinya mengenal perusahaan besar itu.


" Bagus juga seleranya. Kita dapat meraup keuntungan lebih jika dapat memanfaatkan wanita itu. " dirinya memiliki rencana licik tersendiri terhadap Aluna.


...----------------...


Mata kuliah Seroja telah usai, namun tampaknya kali ini wanita itu terlihat lesu dan kurang bersemangat. Ia memilih untuk tidur di dalam kelasnya daripada mencari makan di kantin seperti biasanya.

__ADS_1


Aulia memperhatikan tingkah sahabat sekaligus kakak iparnya, dirinya cukup khawatir lantaran tingkah Seroja tak seperti biasanya. Ia menghampiri wanita itu dan duduk disebelahnya.


" Kau kenapa? Apa kau sakit? Tumben sekali kau tidak ke kantin dan membeli makanan disana. " tanyanya penasaran.


Sedikit banyak Arzel telah menceritakan perihal yang menimpa Seroja dan kakaknya sewaktu di gunung. Iapun ingin menengok kakaknya, sebab sudah cukup lama mereka tinggal di apartemen dan belum pulang ke mansion.


" Sepertinya begitu. Kepalaku agak pusing dan badanku terasa lemas. Mungkin aku sedang masuk angin." jawabnya tanpa mengangkat kepala dari atas meja. Sepertinya ia memang masuk angin lantaran memakai pakaian kurang bahan yang diminta Arkana semalam.


" Ya sudah,, kau beristirahatlah. Atau mungkin kau menginginkan sesuatu untuk kubelikan? Aku akan ke kantin bersama Arzel untuk membeli makanan. Kebetulan aku lapar sekali hari ini." bujuk Aulia.


Dirinya sengaja memancing Seroja barangkali sahabatnya itu sungkan meminta tolong padanya. Ia ingat betul, wanita itu belum pernah sekalipun meninggalkan jam makan siangnya. Bahkan, jikalau kesal Seroja justru malah menambah porsi makannya.


" Tidak. Aku tidak ingin apa-apa, sepertinya aku sedang ingin cepat bertemu dengan kakakmu."


Entah mengapa dalam pikirannya saat ini hanyalah Arkana. Rasanya ia begitu rindu dengan suaminya. Apa mungkin pria itu telah memakai pelet untuk memikatnya hingga begitu tergila-gila seperti ini? Wanita itu tersenyum seorang diri.


Aulia terkekeh melihat tingkah lucu kakak iparnya tersebut. Ia mengira ucapan Seroja hanyalah gurauan saja.


" Sepertinya dia sedang mengalami sindrom bucin akut. Lebih baik kau tinggalkan dia sebelum tertular. " goda Arzel pada Seroja.


Wanita itu menegakkan sedikit kepalanya untuk menatap pemuda yang baru saja mengejeknya.


" Setidaknya kau lebih parah dariku tergila-gila pada seseorang, tapi sampai sekarang masih bertepuk sebelah tangan." ungkap Seroja tak mau kalah.


" Benarkah itu Seroja? Bagaimana kau bisa tahu? Cepat katakan siapa gadis itu! Arzel tak pernah bercerita apapun padaku. " ia mencecar sahabatnya akibat rasa penasarannya yang tinggi.


Arzel terbelakak seketika, dirinya memberi kode pada Seroja agar tutup mulut.


" Cepat Seroja, katakan. Siapa gadis itu?" Aulia mengulangi pertanyaannya.


Seroja nampak kebingungan, padahal dirinya sudah berjanji pada Arzel untuk menyimpan rahasianya.


" Diaa?...Dia..."


" Dia ada jauh dari sini. Kau tak mungkin mengenalnya. Aku hanya bercerita sekilas pada Seroja. Sudah jangan ladeni dia. " Arzel segera mendahului.


" Tapi .."


Belum sempat Aulia meneruskan kata-katanya, Arzel segera menarik tangan gadis itu. Ia tak ingin pujaan hatinya itu kembali bertanya lebih jauh.


Seroj membuang nafas kasar sambil mengelus dadanya. Untung saja Arzel segera membuat alasan yang tepat barusan. Tiba-tiba pikirannya kembali tertuju pada sang suami. Dirinya berinisiatif untuk menelpon suaminya.


" Assalamualaikum..Apa kau sibuk hari ini?"


Wajah Seroja nampak bersemu seperti ABG yang sedang kasmaran. Ia menggigit bibir bawahnya lantaran malu pada suaminya yang ada dibalik telepon.

__ADS_1


" Waalaikumsalam. Aku baru saja selesai meeting. Memangnya ada apa? Tumben sekali kau menelponku di jam kerja seperti ini?"


Arkana heran, ini memang pertama kalinya Seroja menelpon dirinya saat sedang bekerja.


Wanita itu malu untuk mengatakan yang sebenarnya, mana mungkin dirinya bilang sangat rindu pada suaminya? Padahal, baru tadi mereka berpisah.


" Aku sedang kurang enak badan, bisakah kau menjemputku kesini sekarang? " ucapnya memelas.


" Sekarang? Bukankah jam kuliahmu masih ada? " Arkana melirik jam di pergelangan tangannya, memang benar ini belum waktunya Seroja pulang.


" Sudah jangan banyak bertanya. Kau mau atau tidak! " 😤 ungkapnya kesal.


Arkana terperanjat mendengar sang istri membentaknya. Mungkin istrinya benar-benar sakit dan ingin cepat pulang.


" Ba,, baiklah. Kau tunggu dulu, sebentar lagi aku akan tiba disana." jawab pria itu panik.


Raut wajah Seroja berbinar seketika. Iapun segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar menuju pintu gerbang kampus.


Kurang lebih lima belas menit Arkana telah tiba di kampus istrinya. Seroja terkejut lantaran tidak biasanya sang suami datang menggunakan motor sport miliknya. Ia baru menyadari pria itu adalah suaminya saat Arkana membuka helmnya. Sungguh terlihat keren dan gagah menurut istrinya.


Seroja segera berlari menuju sang suami.


" Akhirnya kau datang juga, tumben sekali kau naik motor." ujarnya dengan hati berbunga-bunga.


" Aku takut terlambat datang karena kau memintaku untuk cepat datang. Jika aku memakai mobil pasti akan terjebak macet. Ayo naik ." pinta pria itu dengan raut wajah yang nampak lelah.



Seroja tersenyum kemudian mencubit pelan kedua pipi Arkana karena gemas.


" Sudah,, kembalilah. Aku harus segera masuk untuk mengikuti mata kuliahku kembali. " jawabnya puas.


Arkana melongo seketika.


" Apa maksudmu? Kau marah-marah dan memintaku segera datang kesini hanya untuk itu saja? Hah? " ungkapnya tak percaya.


Seroja tersenyum tipis, dirinya segera melambaikan tangan dan segera pergi dari sana.


Arkana masih mematung dan hanya mampu geleng-geleng kepala.


" Keterlaluan. Apa maksudnya seperti itu?" dirinya membuang nafas kasar dan terpaksa segera pergi dari sana.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like,koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...

__ADS_1


__ADS_2