
Netra kedua wanita itu saling bertemu, untuk pertama kali Seroja berhadapan langsung dengan wanita yang pernah bertahta dihati suaminya. Dirinya merasa minder, gadis itu memang sangat cantik, seksi dan terlihat berkelas. Lain halnya dengan dirinya yang hanya seorang gadis kampung dengan penampilan biasa-biasa saja.
Hatinya merasa was-was, ia tak menyangka gadis itu juga berada disini saat ini. Padahal, dirinya sudah bersusah payah untuk datang ke kantor suaminya. Namun, ternyata gadis itu sudah berada disana terlebih dulu.
" Kenapa kau ngos-ngosan seperti itu? Cepat kemarilah. "
Pria itu tersenyum hangat menyambut kehadiran sang istri. Ada rasa cemburu dalam hati Aluna saat melihat raut wajah Arkana yang begitu bahagia bertemu istrinya.
Seroja berjalan mendekati sang suami. Ia meletakkan bekal makanan buatannya di atas meja kerja suaminya sambil berdiri disamping pria tersebut. Sesaat dirinya melirik kotak bekal lain yang sepertinya dibawa oleh Aluna.
" Cepat cerita, ada apa sebenarnya? Kenapa kau berlari-lari seperti tadi? "
Pria itu berdiri dan mengambil tissue untuk menghapus peluh yang membasahi wajah Seroja, lalu iapun mencium kening sang istri yang telah ia nantikan kedatangannya. Agaknya kali ini Aluna harus menjadi penonton setia drama percintaan kedua sejoli tersebut.
" Tadi ban mobil Pak Supri gembes saat hampir tiba disini. Aku takut kau akan terlambat makan siang, jadi aku putuskan untuk berjalan kaki menuju kantor." jelas Seroja pada suaminya.
Arkana mengusap puncak kepalanya lantaran tak tega melihat istrinya kelelahan seperti itu. Dirinya hampir lupa dengan keberadaan Aluna saat ini.
" Lain kali kau bisa menghubungiku. Aku pasti akan menunggumu dari pada melihatmu kelelahan seperti ini. Oh ya, maaf aku hampir lupa mengenalkanmu pada Aluna.
Pria itu kini berganti menatap tamu yang ada diruangannya.
" Aluna, perkenalkan dia istriku, Seroja. "
Kedua wanita itu saling berjabat tangan. Mereka menatap satu sama lain dengan pemikiran masing-masing.
Ingin rasanya Aluna bisa menjambak dan menampar wanita yang telah berani merebut Arkana darinya. Akan tetapi, kali ini ia harus berpura-pura baik agar bisa mendapatkan simpati dari Arkana.
" Senang bertemu denganmu, aku Aluna."
Dirinya tersenyum ramah pada rivalnya itu.
" Seroja."
Kalimat singkat yang keluar dari mulut Seroja dengan setengah hati. Entah mengapa meskipun gadis itu seolah bersikap baik, namun hatinya tak bisa begitu saja percaya. Menurutnya, jarang sekali seorang wanita bisa ikhlas melihat orang yang dicintainya menikahi wanita lain.
__ADS_1
" Hei,, apa kalian akan berjabat tangan terus-terusan seperti itu. "
Ucapan Arkana membuyarkan segala lamunan kedua wanita tersebut.
Aluna kembali duduk di bangkunya sambil tersenyum ramah kepada Seroja.
" Maafkan aku. Aku kesini hanya ingin bersilaturahmi dengan suamimu. Meskipun kami sudah tidak bersama, apa kau tidak keberatan jika kami tetap berteman seperti biasanya? Kami telah mengenal semenjak SMP, rasanya kurang baik jika putusnya hubungan kami juga ikut memutuskan tali persahabatan." wanita itu menjelaskan maksud kedatangannya.
Arkana tertegun mendengar penuturan Aluna, ia tak menyangka wanita itu berani berkata seperti itu pada istrinya. Rasanya baru kemarin ia meminta Arkana untuk mau kembali lagi padanya. Tetapi hari ini, ia menawarkan persahabatan kepada istrinya.
Seroja seolah mendapat pertanyaan jebakan. Ini mirip bagaikan makan buah simalakama. Jika ia menjawab tidak, tentunya seolah disini posisinya menjadi istri yang kejam karena terlalu mengekang sang suami.
" Tentu saja,boleh. Akan tetapi, setidaknya kau juga harus bisa menempatkan diri sebagai seorang teman. Aku sangat percaya pada suamiku."
Kini Seroja berganti menatap penuh arti pada sang suami. Ia sengaja membebankan hal ini pada sang suami lantaran pria itupun harus bisa bersikap tegas dan menjaga kepercayaan dari istrinya.
Arkana paham, wanita itu pasti sulit menentukan jawaban. Kini dirinya yang dituntut untuk bisa bersikap lebih bijak.
" Terima kasih, sayang. Kau yang terbaik." ia kembali mengecup kening sang istri hingga membuat wanita yang sedang duduk itu terbakar diatas kursinya.
" Oh ya, bekal apa yang kau bawakan untukku." ungkapnya bersemangat.
" Aku membawakanmu tumis kangkung, ikan asin dan pete bakar. Kau harus mencobanya." jawabnya bersemangat.
Wajah Arkana mendadak pias mendengar makanan yang dibawa oleh sang istri barusan, terutama makanan terakhir. Seumur-umur dirinya belum pernah memakannya, apalagi makanan itu terkenal bau dimulut.
Aluna ingin tertawa puas saat ini, ia yakin pria itu tidak akan suka dengan makanan kampungan yang disebutkan istrinya.
" Sudahlah, lebih baik kau memakan spaghetti kesukaanmu ini dari pada kau harus membiarkan perutmu sakit lantaran memakan makananan seperti itu. " sindirnya sembari menyodorkan bekal makanan yang ia bawa.
Jlebbb....
Seroja merasa kalah langkah kali ini, ia mampu membaca bahwa sang suami kurang suka dengan makanan yang ia bawa. Apalagi wanita itu telah membawakan bekal makanan kesukaannya yang baru kali ini dirinyapun mengetahui hal itu.
" Terima kasih. Tapi istriku telah bersusah payah menyiapkan dan mengantar bekal makanan untukku. Aku sangat menghargai usahanya." pria itu mengambil kotak makanan yang dibawa sang istri menuju sofa yang ada diruangan tersebut.
__ADS_1
Seroja begitu lega, ia senang akhirnya sang suami menghargai usahanya. Iapun segera mengahampiri suaminya sambil membawa kotak makanan pemberian Aluna.
" Terima kasih. Biar ini nanti aku saja yang makan, aku juga belum makan siang." ucapnya pada Aluna seraya berjalan mendekati sang suami dan duduk disebelahnya.
" Kau mencari apa?" tanya Seroja saat melihat pria itu mencari-cari sesuatu.
" Apa kau lupa membawa sendok dan garpu? " tanyanya kebingungan.
Seroja terkekeh mendengarnya,
" Makanan seperti ini mana enak dimakan menggunakan sendok dan garpu. Tunggu sebentar, aku akan mencuci tangan lalu menyuapimu." gadis itu beranjak menuju wastafel, ternyata Arkanapun ikut menyusulnya.
" Akupun bisa melakukannya sendiri. " keduanya saling melempar senyum dan menggoda satu sama lain, kemudian kembali menuju sofa.
Dengan telaten Seroja memberikan suapan pertamanya untuk sang suami,
" Coba kau cicipi masakan ini. "
Ragu-ragu Arkana membuka mulutnya, sebenarnya ada rasa enggan lantaran ia tak begitu menyukai makanan seperti itu. Namun, dirinya tak ingin melihat istrinya kecewa.
" Huppp.."
Pria itu mengunyah suapan yang diberikan kepadanya.
" Eummm...ternyata makanan seperti ini enak juga. Sekarang gantian aku yang akan menyuapimu. " ucapnya sambil menikmati makanan yang ada di dalam mulutnya, lalu berganti menyuapi sang istri.
Keduanya makan dengan begitu nikmaat dan terlihat sangat romantis. Seroja menatap sekilas pada Aluna yang terlihat memperhatikan mereka sedari tadi.
" Aluna,, apa kau mau bergabung bersama kami? Makanan ini sangat enak, lihatlah Arkana begitu menyukainya. " sindirnya halus seraya kembali menyuapkan makanan ke mulut suaminya.
" Tidak usah, aku belum lapar. Lebih baik aku pergi dari sini, masih ada urusan yang harus ku selesaikan. Kalian lanjutkan saja makannya. " gadis itu segera beranjak lantaran sudah tak tahan lagi melihat kemesraan keduanya.
Seroja menatap kepergian wanita itu sambil menyeringai senang,
" Tak kubiarkan orang lain mengambil kesempatan untuk menggoda suamiku. Aku harus lebih waspada terhadapnya."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like ,koment ,rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗