
Alvin telah kembali dari kantornya, Bianca telah memberitahukan kedatangan Eneng beserta anaknya yang tak lain adalah gadis yang menolongnya waktu itu.
Mereka mengajak Seroja dan adiknya untuk makan makan malam bersama. Beberapa makanan yang menggugah selera telah tersaji diatas meja makan. Intan yang memang belum pernah menikmati makanan seenak itu rasanya sudah tak sabar ingin mencicipinya.
" Hush..tunggu setelah selesai berdoa. " Seroja menampik tangan adiknya yang hampir mencomot makanan yang ada disana. Intan meringis menahan malu saat orang-orang menatapnya.
Semua tertawa melihat tingkah lugu Intan, keluarga itu menyadari bahwa mungkin makanan tersebut jarang-jarang mereka nikmati.
" Biarkan saja, Seroja. Intan pilih makanan manasaja yang kau sukai, tidak perlu sungkan. " Bianca menjamu tamunya.
" Iya, pilih saja semua yang kalian suka. Kalau habis, Bi Yani masih menyiapkan banyak di dapur. " Alvin menambahkan. Ia melirik jam yang tergantung di dinding ruang makan, dirinya heran sebab anak lelakinya belum juga turun dan bergabung bersama mereka.
" Terima kasih, Tuan, Nyonya. Maaf, untuk kedepannya kami lebih baik makan bersama Bi Yani dibelakang. Kami mohon, perlakukan saja kami seperti pekerja yang lain supaya kamipun lebih nyaman. " pinta Seroja.
" Baiklah, terserah kalian saja. Tapi ingatlah, kami tidak pernah menganggap kalian orang lain, kalian adalah bagian dari kami. " Bianca mengingatkan.
" Benar Seroja, kau adalah sahabatku. Aku akan lebih senang kalau kau makan bersama kami seperti ini. " Aulia ikut menambahkan.
Seroja mengangguk, ia sangat bersyukur keluarga itu dapat menerimanya dengan baik. Merekapun melanjutkan makan malamnya kembali.
" Oh ya Ma, dimana Arkana? Apa dia ada dikamarnya? Tidak biasanya ia tidak turun dan bergabung bersama kita. Apa dia masih marah gara-gara masalah kemarin? " Alvin mencari-cari anak lelakinya.
Bianca hampir terlupa, dirinyapun tak mendapati Arkana sedari tadi.
" Entahlah Pa. Mama juga belum melihatnya dari tadi. Aulia sayang, apa kakakmu ada dikamar barusan? " tanyanya pada anak keduanya.
" Kak Arkana sepertinya belum pulang, Ma, Pa. Aku belum mendengar mobilnya datang. Mungkin dia pergi kerumah temannya. " jawab Aulia gugup. Sebenarnya tadi ia melihat kakaknya pergi dari kampus dengan wajah yang kesal. Tapi, ia sendiri tidak tahu apa yang apa yang terjadi dengan sang kakak.
" Baiklah. Setelah ini kalian beristirahatlah terlebih dahulu. Intan, mulai besok kau akan berangkat diantar oleh Pak Kusno. Sedangkan kau Seroja, kami akan mengurus supaya kau bisa berkuliah kembali. " terang Bianca pada keduanya.
" Terima kasih, Tuan, Nyonya. Tapi, saya masih belum tega meninggalkan ibu sendiri disini. Untuk sementara, biar saya mengurus beliau. Kami sudah terlalu merepotkan keluarga anda. " Seroja merasa tak enak hati.
Bianca meyakinkan gadis itu bahwa Eneng akan mendapatkan pelayanan yang baik disana. Ditambah lagi, akan ada perawat khusus dan Dokter yang akan memeriksa keadaan ibunya.
Serojapun akhirnya menyetujui keinginan keluarga Pramudya, sepertinya mereka benar-benar tulus membantu keluarganya.
" Seroja, maukah kau berkunjung ke kamarku diatas. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, aku ingin bercerita banyak hal padamu. " ajak Aulia pada gadis tersebut.
__ADS_1
" Baiklah, kaupun harus menjelaskan banyak hal padaku, Nona." ia ingin mendengar cerita dari Aulia. Iapun meminta izin pada Intan untuk mengunjungi kamar Aulia terlebih dahulu.
Kedua gadis itupun naik ke atas. Bianca dan Alvin memutuskan untuk menunggu kedatangan putra sulung mereka diruang keluarga.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, terdengar suara sebuah mobil baru saja tiba dimansion.
" Sepertinya itu, mobil Arkana tiba. "
Bianca hendak beranjak menemui putranya, namun Alvin justru menahannya.
Ceklek...
Terdengar pintu rumah terbuka, Arkana memasuki kediamannya dengan wajah yang kusut. Dirinya merasa kesal atas beberapa kejadian yang dialaminya hari ini.
Ia hendak langsung ke atas menuju kamarnya, namun tiba-tiba suara sang ayah menghentikan langkahnya.
" Dari mana saja kau? Kenapa jam segini baru pulang? Kau membuat kami semua khawatir, seharusnya kau meminta izin terlebih dahulu jika memang harus terlambat pulang. " Alvin menasehati putranya yang baru saja tiba.
Arkana mendengus kesal, ia merasa diperlakukan seperti anak kecil.
" Aku anak laki-laki, Pa. Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan keinginanku sendiri. " jawabnya ketus.
" Baiklah, Sayang. Kau cepatlah beristirahat kekamarmu. Tapi, Mama mohon lain kali kanari kami jika kau akan terlambat pulang. Kami semua mencemaskanmu. " Bianca mencoba berbicara sehalus mungkin.
" Iya, Ma. Maafkan aku, tadi aku ada perlu dengan temanku sebentar, lain kali aku pasti akan mengabari kalian. " ucapnya sambil tersenyum ramah ke arah sang Mama. Iapun segera menuju keatas menuju ke kamarnya.
Alvin hanya mampu geleng-geleng kepala, ia sadar putra sulungnya itu memang keras kepala dan bersifat dingin. Namun, sebenarnya ia tahu bahwa putranya itu sangat menyayangi keluarganya.
" Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. " sindir Bianca pada sang suami. Ia hafal betul suaminya itupun dulu adalah pria yang dingin dan keras kepala seperti putranya. Mama Stefani bahkan tak mampu untuk melawan apa yang menjadi keinginannya.
" Apa maksudmu? Aku adalah pria yang hangat dan romantis, terutama padamu, Sayang. ucapnya mulai merayu sang istri.
" Kau ini bisa saja." Bianca mencubit pinggang sang suami, wajahnya bersemu merah mendengar rayuan pria tersebut. Keduanyapun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
...----------------...
Seroja dan Aulia masih saja mengobrol, begitu banyak hal yang mereka bahas terutama sejak Seroja keluar dari kampus waktu itu.
__ADS_1
" Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau berasal dari keluarga kaya raya. Aku bangga padamu, sebab kau tak pernah menunjukkan jati dirimu dan tidak pernah memilih dalam berteman. " Seroja memuji sahabatnya itu.
" Apa maksudmu? Apa kau mau bilang kalau aku tidak pantas menjadi orang kaya? " Aulia mengerucutkan bibirnya bermaksud menggoda sahabatnya.
" Tentu saja, tidak. Maksudku, kau bahkan ke kampus jarang diantar supir, bahkan lebih sering menaiki taksi online. Kaupun tidak seperti gadis lain yang berpenampilan glamour dan membanggakan harta kekayaan orang tuanya. Aku benar-benar bangga padamu. " ungkap Seroja tulus.
" Aku memang lebih senang seperti itu, menurutku aku akan menemukan sahabat sejatiku dengan keadaanku yang seperti ini. Sahabat sejati bagiku adalah sahabat yang mampu menerima diriku apa adanya, bukan ada apanya, seperti kau. " Aulia mencubit pipi sahabatnya.
" Aww,, kau ini kebiasaan. Oh ya,, apa kau belum dekat dengan seorang pria selama aku tidak ada di kampus ? " goda Seroja pada sahabatnya.
" Tidak. Aku tidak dekat dengan siapapun, mungkin hanya kak Ardi yang sering menemaniku di perpustakaan. Aku rasa cuma dia satu-satunya pria baik dikampus, menurutku. " ucap Aulia jujur.
Deg...
Raut wajah Seroja berubah seketika saat nama pria itu disebut. Bagaimanapun, ia pernah menaruh perasaan pada pria itu. Ia tak bisa membayangkan jika seandainya Auliapun menaruh hati padanya.
" Kau kenapa? Apa kau cemburu mendengarku menyebut nama Kak Ardi? " godanya kembali pada Seroja. Ia sadar bahwa keduanyapun memang sempat dekat.
" Kau ini, aku dan kak Ardi hanya berteman, tidak lebih. Untuk apa aku cemburu . " Seroja berusaha menutupi perasaannya.
" Benarkah? Jangan sampai kau menyesal nanti kalau sampai kak Ardi berpacaran dengan gadis lain ya? " godanya kembali pada Seroja. Namun, dirinya begitu terkejut saat tahu bahwa waktu menunjukkan pukul 11 malam.
" Astagfirulloh hal adzim,, Seroja aku harus cepat tidur. Besok aku ada kuliah pagi, kalau kau mau kau bisa tidur disini bersamaku. "
" Kau cepatlah tidur, lebih baik aku kembali ke kamarku. Akupun sudah mengantuk, Hooammm. " Seroja segera keluar dari kamar Aulia, iapun sudah mulai mengantuk sekarang.
Ia berjalan menyusuri lorong kamar Aulia, namun tiba-tiba saja seseorang menabraknya.
Bruugghh...
Keduanya terjatuh, Seroja memegangi kepalanya yang sakit akibat tertabrak orang diseberangnya.
Arkanapun segera berdiri, dirinya begitu terkejut saat melihat gadis yang berdiri dihadapannya saat ini.
" Kau? Dasar gadis sinting. Apa yang kau lakukan disini! " ucapnya kesal.
" Huwaaa... Dasar pria gila!! kenapa kau bisa ada disini! "
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..