
Acara jamuan makan telah berakhir, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan gedung. Arzel menghampiri keluarga besar Alvin untuk berpamitan pulang.
" Om, Tante. Terimakasih atas jamuan makannya. Ku doakan semoga perusahaan kalian semakin lancar dan sukses kedepannya. Kalau begitu aku permisi dulu. "
" Arzel tunggu. " pemuda itu berbalik saat Bianca memanggilnya. Wanita itu hampir terlupa untuk menyampaikan niatnya.
" Bukankah Mama dan Papamu telah kembali ke Amerika? Kau pasti kesepian tinggal di mansion seorang diri. Kalau kau mau, kaupun bisa tinggal di mansion kami. Aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri. Kedua orangtuamu juga telah menitipkanmu kepada kami." ajak Bianca.
Arkana membelalak seketika tatkala mendengar apa yang disampaikan Mamanya. Tentu saja dirinya tidak setuju, apalagi ia takut jika Seroja berdekatan dengan pemuda itu.
" Tapi Ma? Bukankah Arzel itu seorang lelaki? Tentu sudah hal yang biasa jika dia tinggal seorang diri. Lagi pula Mama tahu sendiri, Aulia dan Arzel sudah seperti kucing dan tikus. Manamungkin Aulia betah tinggal satu rumah dengannya. " ia memakai sang adik sebagai kambing hitam.
Arzel tersenyum datar, sejak Arkana memergoki Seroja bersamanya waktu di mall, pria itu menjadi sensi terhadapnya.
" Terima kasih,, Tante. Tapi, benar yang dikatakan Arkana, aku sudah terbiasa mandiri. Tante tidak perlu khawatir, aku tidak ingin merepotkan kalian." ia terpaksa berpura-pura menolak, padahal sebenarnya ia ingin sekali berdekatan dengan Aulia.
Arkana bernafas lega kali ini, Arzelpun ternyata menolak tawaran sang Mama. Namun, ternyata Bianca tak pantang menyerah. Dirinya tetap berusaha merayu pemuda itu untuk tinggal di mansionnya.
" Tentu saja Tante tidak merasa direpotkan. Justru kami khawatir lantaran tidak bisa mengawasi dan memperhatikanmu.Orang tuamu sudah seperti saudara kami sendiri. Mereka mempercayakan pengawasanmu pada kami. " pintanya setengah memaksa. Ia menatap putrinya yang sedang asyik bermain dengan Killa dan juga Seroja.
" Aulia sayang? Apa kau keberatan jika Arzel tinggal bersama kita di mansion?" tanyanya pada putri keduanya.
Aulia menatap pria yang dimaksud oleh sang Mama, pemuda itupun tak melepaskan pandangannya begitu saja pada sang pujaan hati.
Kali ini Arkana yakin jika sang adik pasti akan menolak mentah-mentah kehadiran pemuda itu. Namun, dirinya kembali tercengang mendengar apa yang disampaikan Aulia.
" Aku tidak keberatan, Ma. Lagipula Arzel sudah mulai berubah sekarang. " jawabnya sambil tersenyum ke arah sang Mama.
Kini Bianca kembali menegaskan pada pemuda tersebut,
" Bagaimana Arzel? Kau dengar sendiri bukan? Putriku tidak keberatan jika kau tinggal bersama kami. Kau sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang."
Dalam hati Arzel begitu senang, akhirnya keinginannya kali ini benar-benar terkabul. Untuk urusan Arkana, dirinya tak begitu memikirkannya. Ia tahu pemuda itu hanya cemburu berat.
__ADS_1
" Baiklah jika Tante memaksa, mulai besok aku akan tinggal bersama Tante. " jawabnya seolah terpaksa.
Semua anggota keluarga bersuka cita mendengar Arzel berkenan tinggal di mansion mereka, kecuali Arkana. Pria itu membuang nafas kasar. Mau bagaimana lagi, terpaksa iapun harus menerimanya.
" Kali ini aku benar- benar harus ekstra menjaga Seroja. " batinnya gelisah.
Merekapun akhirnya pergi meninggalkan gedung dan berniat kembali ke mansion. Seperti formasi sebelumnya, Alvin, Bianca dan kedua putrinya berada dalam satu mobil, sedangkan Arkana bersama sang istri menaiki mobilnya sendiri.
Saat Aulia hendak memasuki mobil Papanya, tiba-tiba Arzel berlari untuk menyusulnya.
" Aulia, tunggu. " pintanya dengan nafas terengah-engah. Alvin mengizinkan pemuda itu untuk berbicara sebentar dengan putrinya.
" Ada apa? " tanya gadis itu penasaran.
" Tidak, aku hanya ingin berterima kasih padamu karena bersedia menerimaku untuk tinggal di mansion." ucapnya beralasan.
Aulia mengembangkan senyum manisnya,
" Kau ini, kupikir ada apa. Bukankah kau telah resmi menjadi anak didikku. Jangan sia-siakan kesempatan, kita bisa sering belajar bersama. Aku pasti akan malu jika anak didikku sampai tidak lulus lagi tahun ini. " ujarnya polos.
Wajah Aulia bersemu merah mendengar pujian yang dilontarkan pria itu kepadanya. Untuk pertama kali ada seorang pria yang memuji kecantikannya.
" Terima kasih. Kalau begitu aku permisi." gadis tersebut berpamitan tanpa berani menatap lawan bicaranya.
Arzel masih terpaku sambil memandangi mobil Alvin yang kini telah berlalu. Sebuah senyum kembali tersimpul di wajah tampannya.
" Yang jelas aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memilikimu. Aulia just for Arzel. " tekadnya dalam hati.
...----------------...
Mobil Arkana melaju mengiringi mobil Papanya. Sedari tadi pria itu hanya terdiam sambil memasang wajah masam.
Seroja memperhatikan raut wajah sang suami, agaknya ia tahu apa yang membuat pemuda itu kehilangan moodnya.
__ADS_1
" Sepertinya kau tidak suka dengan Arzel? Kulihat wajahmu jadi cemberut saat Mama meminta Arzel untuk tinggal bersama kita. " dirinya mencoba menerka.
Arkana menghela nafas panjang, ucapan Seroja barusan membuat emosinya ikut terpancing.
" Aku bukan tidak suka padanya. Hanya saja, aku tidak mau kau jadi terpengaruh dengannya. Kulihat kalian berdua begitu akrab. Aku takut ia membawa pengaruh buruk untukmu.
Seroja mengernyitkan dahinya,
" Pengaruh buruk? Apa maksudmu? Kurasa Arzel itu pemuda yang baik, tampan dan dirinya kini sudah mulai merubah tingkah lakunya."
Telinga Arkana terasa panas kala mendengar gadis itu memuji pria lain didepannya.
" Oh,, jadi menurutmu Arzel itu lebih segala-galanya dariku. Dengan mudahnya kau memuji orang lain, sedangkan memuji suamimu sendiri hampir-hampir kau tak pernah. " ungkapnya kecewa.
Seroja menatap heran saat pria itu mengomel-ngomel didepannya. Padahal, dirinya tak pernah bermaksud membandingkan Arzel dan suaminya.
" Apa kau cemburu padanya? " kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
" Cemburu? " lelaki itu seolah bingung dengan kata yang baru saja diucapkan oleh Seroja.
Gadis itu segera meralat ucapannya, manamungkin Arkana cemburu sedangkan pria itu belum tentu menyukainya.
" Maksudku,, kau seperti seorang lelaki yang cemburu saat kekasihnya didekati pria lain. Itu,, itu seperti yang biasa kulihat di drama korea. " gadis itu jadi ikut gugup karenanya.
Arkana terdiam tanpa menjawab. Ia memikirkan kata-kata Seroja barusan.
" Cemburu? Apa benar aku cemburu? " batinnya bertanya-tanya.
Dirinyapun mulai menyadari hal itu. Entah sejak kapan ia mulai cemburu jika Seroja didekati pria lain. Padahal, dulu saat gadis itu bersama Ardi, dirinya justru yang menyemangati Seroja untuk bisa mendapatkan cintanya.
Perasaannya kini telah berubah, gadis itu telah berhasil mencuri hatinya. Ia yakin dirinya benar-benar telah jatuh hati pada Seroja. Namun, bagaimana dengan Seroja? Apa dia juga memiliki perasaan yang sama? Ataukah ia masih menyukai Ardi, cinta pertamanya?
" Aku harus segera mengungkapkan perasaanku padanya. Bagaimanapun aku harus bisa menerima konsekuensi jika memang cintaku nanti bertepuk sebelah tangan." tekadnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗