
Aulia dan Seroja telah menyelesaikan mata kuliahnya hari ini. Mereka berniat untuk pulang bersama-sama lantaran Arkana masih belum pulang dari kantornya. Keduanya menunggu bus kota di halte dekat kampus.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan keduanya duduk. Seroja memperhatikan siapa yang ada dihadapannya, sedangkan Aulia segera memalingkan wajahnya sebab dirinya tahu pasti siapa pemuda yang ada didalam mobil itu.
" Seroja, apa kau mau pulang bersamaku? Kebetulan Tante Bianca menelpon dan memintaku untuk datang ke mansion. Kita bisa pulang bersama-sama, lagipula kalian harus berjalan agak jauh jika menaiki bus kota." ajak Arzel seolah tidak memperdulikan keberadaan Aulia.
Seroja hendak menjawab, tapi Aulia segera memotongnya.
" Tidak, kami memang sekalian ingin jalan-jalan. Kalau kau ada perlu dengan Mama datang saja kesana, kami bisa pulang sendiri. " tolak Aulia seketika.
Arzel menatap kesal pada gadis itu, Aulia selalu saja bersikap kasar padanya.
" Aku tidak bertanya kepadamu. Kalau kau mau naik bus, naik saja sendiri. Kalau bukan karena Tante aku juga tidak akan menawari kalian pulang bersamaku. " sarkas pemuda itu tak terima.
Aulia memberengkut kesal, dirinya menarik paksa Seroja menaiki sebuah bus yang berhenti disana tanpa melihat terlebih dahulu jurusan yang dinaiki sudah benar atau belum.
Seroja ingin menolak, tetapi Aulia keburu menariknya hingga naik ke pintu bagian belakang bus. Kini Seroja yang berganti kesal pada adik iparnya.
" Aulia, kau ini kenapa? Kalau kau tak ingin pulang bersama Arzel tidak perlu seperti ini. Lihatlah, kita sekarang menaiki bus yang salah. Ini berlawanan dengan arah mansion." gerutunya sebal.
Auliapun menyesalkan tindakannya barusan, dirinya geram karena sejak dulu Arzel selalu saja mengganggunya. Dan kini yang lebih parahnya lagi, pria itu sekarang harus satu kampus dan satu jurusan dengannya. Baru sehari berkuliah pria itu sudah membuat masalah dengannya.
" Maaf, aku sendiri bingung kenapa pria tengil itu bisa satu kampus dengan kita. Padahal setahuku dia seharusnya sudah lulus tahun ini seperti Kakak. Sepertinya dia terlalu bodoh sampai-sampai tidak lulus kuliah. " gerutunya.
Seroja menertawakan Aulia, baru kali ini dirinya melihat sahabatnya bisa kesal seperti itu terhadap orang lain.
" Sudahlah tidak apa. Lebih baik kita bertanya pada supir kemana arah pulang menuju mansion. Aku takut Mama cemas jika kita terlambat datang."
Aulia menuruti kata-kata sahabatnya, keduanyapun berjalan kedepan dan bertanya pada supir. Sang supir menurunkan mereka hingga ke halte depan dan meminta mereka untuk menaiki bus jurusan AB dari sana.
Keduanya turun dihalte yang masih tampak asing untuk keduanya. Aulia memegangi lengan Seroja lantaran takut sebab suasana disana terlihat sepi. Seroja ingin tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang sedang ketakutan.
" Seroja? Apa tidak salah, kenapa disini sepi sekali? " gadis itu mengamati sekeliling, sepertinya tidak ada siapa-siapa disana.
" Kenapa? Apa kau takut? Tadi bukannya sok-sok an tidak ingin ikut bersama Arzel?" godanya pada sang adik ipar.
Seketika gadis itu mencubit pinggang sahabatnya lantaran kesal.
" Kalau dia tidak mendatangi kita tadi, mana mungkin kita tersesat seperti ini. Seharusnya yang kau salahkan itu dia bukan aku. " elaknya tak terima.
" Iya-iya, Nona. Ini semua bukan salahmu, salahkan saja rumput yang bergoyang. " goda Seroja menertawakan sahabatnya.
Keduanya memutuskan untuk duduk sambil menunggu barang kali ada bus yang lewat. Namun, tiba- tiba segerombolan pemuda bertampang preman menghampiri mereka.
Seroja terlihat waspada terhadap gerobolan tersebut, ia merasakan gelagat kurang baik dari gerombolan yang kini mendekat ke arahnya. Sedangkan Aulia, gadis itu berpegangan di lengan sahabatnya seolah meminta perlindungan.
Netra Seroja melirik Aulia seolah mengisyaratkan agar gadis itu berlindung di belakangnya. Iapun bertanya dengan tegas pada gerombolan yang kini ada dihadapannya.
" Mau apa kalian?!"
Salah seorang diantaranya menyeringai seraya menggoda keduanya.
" Tenang saja, Nona cantik. Tidak perlu marah-marah seperti itu. Nanti kalian bisa cepat tua." segerombolan itu menertawakan keduanya.
Seroja semakin kesal, ia mencoba memperingatkan mereka untuk kedua kalinya.
" Cepat pergi dari sini atau aku akan memberi kalian semua pelajaran! " bentaknya kencang.
Salah satu diantara mereka ingin menggodanya kembali, tapi Seroja langsung mendaratkan sebuah tendangan tepat di perutnya.
Buugghhh...
Gerombolan itu akhirnya ikut terpancing emosi, mereka langsung mengeroyok Seroja dan Aulia untuk memberi pelajaran pada keduanya.
Buuughhh...Buuughhh...Ciattt...Ciatttt...
Baku hantam tak terelakkan lagi, Seroja memukul mundur satu persatu lawannya. Dengan susah payah ia menghajar lawannya yang berjumlah cukup banyak.
" Seroja, tolong! " teriakan Aulia mengalihkan perhatian gadis itu.
Seroja terperanjat seketika disaat salah seorang preman menodong sahabatnya dengan sebilah pisau. Dirinya ingin menolong, akan tetapi salah seorang preman memukulnya dengan sebilah kayu mengenai bagian punggung dan lengannya.
Aulia begitu kaget melihat apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya. Airmatanya mengalir, dirinya ingin menolong tapi apa daya, ia hanyalah gadis yang lemah. Sedangkan dihadapannya kini berdiri seorang preman yang masih menodongkan sebilah pisau ke arahnya.
" Cepat serahkan tasmu padaku! " bentak preman itu dengan garangnya.
__ADS_1
Aulia semakin ketakutan, dirinyapun segera berjongkok dan memejamkan matanya seraya menengadahkan tas miliknya. Dirinya tak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan nyawanya.
Dengan mudah preman itu merampas tasnya. Namun, belum puas sampai disitu saja, preman tersebut memaksanya berdiri dan berniat hendak melecehkannya.
" Ayo ikut aku, Nona manis. " ia menyeret paksa Aulia untuk bersamanya.
Gadis itu semakin ketakutan kali ini, apalagi terlihat olehnya Seroja mulai kewalahan menghadapi segerombolan preman.
" Tolong lepaskan aku! " Aulia menangis dan meronta sambil terus saja berusaha melepaskan diri dari preman tersebut.
Pria itu tertawa puas sembari menyeret Aulia untuk ikut bersamanya. Tanpa ia sadari seseorang menendangnya dari belakang.
Duuughhhh....
Netranya berbalik, pria itu sangat geram lantaran seseorang menyerangnya dari belakang. Aulia jadi terlepas begitu saja dari genggamannya. Gadis itu merasa lega melihat siapa yang datang.
" Hei, siapa kau? Kurang ajar! " preman itu langsung melayangkan beberapa pukulan kepada Arzel.
" Kau tidak perlu tahu siapa aku. Habislah kau sekarang!! " Arzel menghajar lawannya secara membabi buta.
Pria itu menyadari sewaktu Aulia dan Seroja menaiki bus yang salah. Akan tetapi, dirinya berusaha untuk tidak perduli pada keduanya lantaran kesal pada Aulia.
Ia memilih memutar balik mobilnya dan pergi dari halte tersebut. Namun, selama diperjalanan otaknya tak bisa lepas memikirkan keduanya, terutama Aulia. Ia segera menginjak pedal remnya dan memutar balik kembali mobilnya untuk menyusul mereka.
Benar saja, saat dirinya menyusuri jalur bus tersebut tampak olehnya Seroja dikeroyok segerombolan preman dan Aulia yang sedang berjongkok ketakutan. Iapun segera turun untuk menyelamatkan keduanya.
Baku hantam semakin panas, Arzel berhasil memukul preman itu hingga terkapar tak berdaya. Ia sangat kesal lantaran berani- beraninya preman itu menyentuh wanita pujaannya.
" Bersembunyilah ditempat yang aman, aku harus menolong Seroja! " perintahnya pada gadis itu.
Aulia mengangguk, iapun segera bersembunyi di balik semak-semak.
Arzel segera menghampiri dan membantu Seroja menghajar lawan-lawannya. Setelah beberapa lama terjadi baku hantam yang cukup sengit. Akhirnya para preman itu berlari tunggang langgang dan kabur dari mereka.
Seroja menghampiri pemuda itu dengan berjalan tertatih- tatih.
" Terima kasih. Untung kau datang tepat waktu." ucapnya seraya meringis menahan sakit.
Dengan sigap pemuda itu langsung membantu Seroja untuk berjalan. Aulia yang mengetahui bahwa situasinya sudah aman segera keluar dari persembunyiannya, lalu menghampiri Arzel dan Seroja.
Seroja berusaha menenangkan sahabatnya, " Aku tidak apa-apa, kau jagan cemas." ia mencoba untuk tersenyum.
Arzel justru kini yang menatap tajam ke arah Aulia,
" Ini semua gara-gara kau! Kalau kau tak egois tadi, Seroja pasti tidak mungkin seperti ini." bentaknya kasar. Iapun berlalu sambil memapah Seroja untuk masuk kedalam mobilnya.
Aulia mematung, netranyapun mulai berkaca- kaca. Benar kata Arzel, ini semua memang kesalahannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib dirinya dan juga Seroja jika saja tadi pemuda itu tidak menolong mereka.
Arzel yang telah berada didalam mobil bersama Seroja, menatap Aulia dari balik kaca spionnya. Ia merasa bersalah pada gadis itu, ucapannya tadi sepertinya terlalu kasar pada gadis itu. Iapun segera turun kembali dari mobil dan menghampirinya.
" Cepat naiklah. Aku harus segera mengantar kalian pulang. Tante Bianca pasti sedang cemas saat ini. " ucapnya halus.
Aulia mengangguk, mulutnya terasa sulit berucap lantaran rasa bersalahnya. Iapun mengikuti Arzel dan duduk di bangku belakang mobil. Seroja yang telah duduk di bangku depan terlebih dahulu, segera menengok ke arah gadis itu.
" Aulia, kau jangan bersedih. Aku benar- benar tidak apa-apa. Kita harus bersikap biasa supaya Mama tidak terlalu cemas. " nasehatnya pada Aulia.
Aulia berusaha memaksakan senyumnya, ia yakin Seroja pasti merasakan sakit saat ini. Masih tergambar jelas di kepalanya saat preman itu memukul punggung sahabatnya.
Ketiganya hanya terdiam sambil menikmati udara menjelang malam di ibukota. Mereka telah larut dalam pikirannya masing- masing. Sesekali Arzel memperhatikan wajah Aulia yang masih tampak bersedih akibat kejadian barusan. Rasanya ia tak tega melihat gadis itu menyesali perbuatannya.
\*\*\*\*\*
Bianca telah mondar- mandir di depan pintu sedari tadi. Dirinya sangat cemas, tidak biasanya putri dan menantunya pulang selarut ini. Ia mencoba menghubungi keduanya, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Terdengar deru mobil memasuki halaman mansion. Ia berharap jika itu mereka, tapi kenyataannya tidak. Ternyata itu adalah suara mobil dari suami dan anaknya.
Alvin dan Arkana segera turun dan menghampiri Bianca yang terlihat sedang cemas.
" Ada apa, Ma? Papa perhatikan Mama mondar- mandir saja sedari tadi? " tanya Alvin penasaran.
Gurat- gurat kecemasan terlukis jelas di wajah wanita itu. Dirinya menatap bergantian suami dan putranya.
" Sampai sekarang Aulia dan Seroja belum kembali. Mama takut terjadi sesuatu dengan mereka. Tidak biasanya mereka pulang selarut ini. Padahal Mama tadi berpesan pada Arzel untuk membawa mereka pulang bersama."
Alvin dan Arkana begitu terkejut mendengarnya, merekapun tak kalah cemas kali ini. Pikiran negatif tiba- tiba muncul di kepala Alvin.
__ADS_1
" Kenapa Mama menitipkan mereka pada pemuda itu? Aku tahu dia anak Dinda dan Dion, tapi Mama tahu sendiri bukan bagaimana kelakuan anak itu? " ia menyesalkan tindakan sang istri.
Bianca membenarkan pemikiran suaminya. Tidak seharusnya ia percaya begitu saja pada Arzel. Wanita itupun jadi bersedih menyesalkan keputusannya tadi.
Arkana yang melihat perubahan raut wajah sang Mama. Ia tak tega melihat wanita itu bersedih hati, walaupun disisi lain ia sangat mencemaskan keadaan istri dan adiknya.
" Sudah, Mama tenangkan diri terlebih dahulu. Aku akan ganti pakaian sebentar. Jika mereka belum kembali, kami pasti akan segera mencarinya sampai ketemu." ucapnya sambil mengelus- elus punggung wanita yang kini hampir menumpahkan air matanya.
Alvin menyesalkan kata-katanya yang seolah menyalahkan sang istri. Dirinya segera memeluk sang istri dan meminta maaf padanya. Air mata Bianca kini tak terbendung lagi,
" Aku takut terjadi sesuatu pada mereka, Pa." wanita itu kini menumpahkan airmatanya dipundak sang suami.
" Mama tenangkan diri terlebih dahulu. Papa berjanji akan mencari mereka dan membawanya pulang dengan selamat." Alvin berusaha menenangkan.
Tak berselang lama, Arkana telah kembali ke depan mansion. Kini dirinya bersiap-siap untuk mencari adik dan istrinya. Alvinpun ikut menyusul putranya, ia memerintahkan beberapa bodyguard untuk ikut bersama mereka.
Ketika mereka hendak masuk kedalam mobil, tiba- tiba sebuah mobil sport hitam masuk ke halaman mansion.
" Bukankah itu mobil Arzel? " batin Arkana.
Iapun mengurungkan niatnya untuk pergi sambil memastikan siapa yang datang. Netranya terbelalak saat melihat Arzel keluar dari mobil, kemudian memapah Seroja yang sepertinya sedang cidera.
Ada seakan perasaan tak terima ketika dirinya menyaksikan sang istri berdekatan dengan pria lain. Arkana segera mendatangi pria itu dan mengambil alih Seroja dari tangannya.
" Biar aku saja. " ucapnya dingin. Iapun berganti memapah Seroja dan membawanya menjauh dari pemuda itu.
Pintu belakang mobilpun ikut terbuka. Terlihat Aulia baru saja keluar dari sana dengan keadaan lesu. Alvin segera menghampiri putrinya karena cemas.
" Aulia kau tidak apa-apa, Nak?" tanyanya khawatir.
Gadis tersebut hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. Sang Papa segera memeluknya untuk menenangkan.
Bianca memperhatikan Seroja yang berjalan tertatih-tatih dengan dibantu oleh suaminya.
" Sayang, apa yang sebenarnya terjadi? " ungkapnya khawatir.
Serojapun tersenyum, ia tak ingin melihat wanita itu bersedih hati.
" Mama tidak perlu cemas, ini hanya kecelakaan kecil."
Kini perhatian Alvin tertuju pada Arzel, pandangannya berubah geram. Ia melepaskan pelukannya pada Aulia dan mendekati pemuda itu.
" Brengsek! Ini semua pasti karena ulahmu. Duuughhh..."
Sebuah bogem mentah berhasil mendarat dengan sempurna di pipi Arzel. Semua yang ada disana sangat terkejut melihatnya. Pemuda itu hanya diam tanpa melawan.
Netra Aulia membola seketika saat saat sang Papa hendak mendaratkan pukulan kembali.
" Hentikan, Pa.Ini semua bukan salah Arzel, justru dia yang menolong kami. " Aulia kembali memeluk Alvin untuk mencegahnya berbuat lebih.
Emosi Alvin mulai menyurut mendengar perkataan putrinya. Ia menyesali tindakannya yang main hakim sendiri. Seroja meminta Arkana untuk membantunya berjalan mendekati ketiganya. Dirinya ingin ikut menjelaskan yang sebenarnya.
" Benar kata Aulia, Pa. Untung ada Arzel yang menolong kami. Tadi kami hampir saja celaka karena diganggu segerombolan preman saat menunggu bus di halte. "
Seroja berusaha meluruskan kesalah pahaman. Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya pada semua yang ada disana.
Biancapun ikut menambahkan bahwa memang dirinyalah yang menyuruh Arzel mengantar keduanya pulang sambil menjelaskan pada Aulia bahwa orang tua Arzel meminta bantuannya agar membantu pemuda itu dalam belajar.
Alvin segera meminta maaf pada pemuda tersebut, sikapnya dari dulu masih belum berubah. Ia masih sering terpancing emosi dari pada menggunakan akal sehatnya, apalagi ini berhubungan dengan keluarganya.
Arzelpun memaklumi semuanya, pemuda itu berpamitan pulang lantaran takut orang tuanya juga ikut cemas. Aulia berusaha mengejar pemuda itu sebelum keluar dari pintu gerbang.
" Terimakasih untuk yang tadi. Dan aku minta maaf atas kejadian kurang mengenakan barusan. Juga, sikapku yang kasar padamu. " ucap Aulia tulus, gadis itu menundukkan kepalanya karena malu.
Arzel menatapnya dengan wajah dingin,
" Kau selalu saja salah paham denganku."
Aulia mendongakkan wajahnya saat mendengar ucapan Arzel barusan. Tapi nyatanya pemuda itu telah melajukan mobilnya kembali.
Dari balik spion pria itu melihat Aulia yang masih menatap kepergiannya. Pemuda itu tersenyum, mendapat perlakuan dan ucapan halus dari gadis itu saja sudah mampu meluluhkan hatinya.
" Aulia, kau benar- benar membuatku gila." batinnya bergejolak.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya....