
Arkana dan Seroja telah tiba dipesta ulang tahun yang diadakan Helena. Setiap pasang mata begitu kagum dengan kedua sejoli tersebut. Mereka bahkan hampir tidak mengenali Seroja, gadis kampung yang selalu membuntuti Arkana. Gadis itu benar-benar berbeda, ia terlihat begitu cantik malam ini.
" Kenapa mereka semua menatap kearah kita? Apa ada yang aneh dengan wajahku? " bisik Seroja pada pria disampingnya.
Arkana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Seroja, gadis itu sungguh polos menurutnya. Tanpa banyak basa basi ia menggandeng tangan Seroja menuju pesta yang bertemakan outdoor itu.
Seseorang tiba-tiba menghampiri keduanya,
" Hai,, maaf bolehkah aku mengambil foto kalian sebentar. Kalian terlihat sangat serasi malam ini. " pinta seseorang yang tak lain adalah fotografer yang ditugaskan untuk mengabadikan setiap moment yang ada disana.
Rona merah menghiasi pipi Seroja, Arkanapun tersanjung mendengar pujian yang dilontarkan pria tersebut.
" Tapi, kami bukan? " Seroja hendak menjelaskan pada orang itu, namun Arkana meremas jemari tangannya.
" Tentu saja boleh. " ucap Arkana ramah. Sang fotograferpun senang, ia meminta keduanya untuk berpose bersama
" Terima kasih. Semoga hubungan kalian langgeng seterusnya." Sang fotografer mendoakan keduanya, Seroja mendelik seketika saat mendengar apa yang dikatakan pria tersebut. Arkana terkekeh melihat ekspresi gadis disampingnya.
...----------...
Helena terlihat sibuk menyalami teman-temannya, ia sangat senang karena pesta yang diadakannya berjalan dengan lancar. Apalagi hari ini akan menjadi hari paling spesial untuknya, sebab ia ingin mengumumkan hubungannya dengan Arkana.
Ia mencari-cari keberadaan pria tersebut, namun dia pikir Arkana belum datang.
" Helena, selamat ulang tahun ! " seru Sisil dan beberapa teman satu geng mereka.
" Makasih kalian sudah mau datang, selamat menikmati pestanya." Helena meminta salah satu pelayan memberikan minuman untuk sahabat-sahabatnya.
" Helena?! Maafkan sikapku kemarin-kemarin. Aku hanya terbawa emosi saja karena Arkana memutuskanku tiba-tiba. Tolong, minta Papamu untuk membatalkan pencabutan sahamnya di perusahaan Papaku. Aku janji tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Arkana. " Sesal Sisil.
Meskipun dalam hati ia masih kesal, tapi ia sadar perusahaan Papanya sangat bergantung pada Papa Helena. Ia tak mau perusahaan Papanya jatuh bangkrut hanya karena ia memperebutkan seorang pria dengan gadis itu.
Dalam hati Helena merasa puas, Sisil kini sadar dirinya siapa. Ia dan keluarganya bisa dengan mudah menghancurkan keluarga sahabatnya itu.
" Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi ingat, sekali lagi kau berusaha merebut Arkana dariku, aku pastikan keluargamu akan benar-benar miskin karenanya." ancam Helena dengan sombongnya.
" I,, iya. Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi. Tapi, dimana Arkana? Apa dia belum datang kemari? " Sisil melirik sekitar. Helenapun sedikit cemas, ia takut pria itu tidak mau hadir di pestanya.
" Itu Arkana. Tapi, siapa gadis cantik yang sedang digandengnya? " salah satu sahabat Helena menunjuk kearah belakang gadis itu.
Helena membalikkan badannya, benar saja dari jauh terlihat Arkana datang bersama seorang gadis cantik. Rasanya ia geram ingin segera membuang jauh gadis itu dari sisi kekasihnya.
Batin Sisil begitu senang, akhirnya sebentar lagi sahabatnya akan merasakan hal yang sama seperti dirinya. Dicampakkan begitu saja oleh sang idola kampus.
" Itu si gadis kampung. " ungkap Helena kesal. Ia hampir tak percaya gadis itu bisa berubah menjadi seperti sekarang ini. Sahabat-sahabatnyapun ikut terkejut dengan penampilan Seroja saat ini.
Helena membisikkan sesuatu pada teman-temannya, kali ini dirinya harus memberi pelajaran pada Seroja karena ia berhasil membuat mood Helena menjadi buruk.
Helena mendekati keduanya,
" Hai Sayang. Aku senang sekali kau mau datang ke pestaku malam ini. " Helena segera berhambur ke pelukan Arkana, ia menghempaskan tangan Seroja yang berada digenggaman pria itu.
Arkana merenggangkan pelukan Helena,
" Selamat ulang tahun, ini untukmu. " Arkana memberikan kadonya pada wanita itu. Helena begitu senang, pasti Arkana memberikan kado yang mahal untuknya.
" Terima kasih. " ia secara tiba-tiba mencium sekilas pipi Arkana. Pria itu berusaha menahan kekesalannya, kalau bukan karena ini pesta ulang tahun Helena, ia pasti sudah memarahi gadis tersebut.
" Sama-sama. " dirinya berusaha tersenyum manis.
Seroja ikut mendekati gadis itu, " Helena, selamat ulang tahun. Ini untukmu.." ia memberikan sebuah kado yang sebelumnya telah dia siapkan.
Tadinya ia malu memberikan kadonya pada Helena lantaran kadonya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kado yang diberikan Arkana. Namun, iapun malu jika tidak membawa apa-apa di pesta ulang tahun temannya.
" Maaf ya, aku yakin kadomu itu pasti kado murahan. " tolak Helena dengan sombongnya.
Seroja begitu miris, gadis itu sama sekali tak menghargai gadis miskin sepertinya.
__ADS_1
" Kau harus menghargai pemberian orang lain. Dia sudah berusaha keras untuk bisa membeli kado untukmu. " Arkana menasehati kekasihnya. Ia sebenarnya muak mengetahui perilaku Helena yang kurang sopan.
Helenapun terpaksa menerima kado dari Seroja, ia tak mau Arkana kesal padanya.
" Baiklah, aku terima kado darimu. " ia mengambil kado Seroja dengan kedua jarinya seolah jijik.
" Sayang, ayo ikut denganku. Aku ingin mengenalkanmu pada teman-teman lainnya." ia menggandeng lalu menarik Arkana bersamanya.
Pria itu menoleh ke arah Seroja, gadis itu tersenyum padanya.
" Pergilah, aku akan menunggumu disini. "
Arkanapun mengikuti kemauan Helena, dengan terpaksa ia meninggalkan Seroja seorang diri.
Seroja bingung harus berbuat apa. Disana ia tidak begitu mengenal tamu undangan Helena meskipun ia tahu sebagian berasal dari kampus.
Seorang pelayan menghampiri gadis tersebut, ia menyampaikan bahwa Arkana memintanya untuk menunggu didekat kolam renang. Seroja merasa aneh, untuk apa dirinya diminta menunggu disana? Tapi ia tak berburuk sangka, dirinyapun mengikuti apa yang disampaikan pelayan barusan.
Saat berada didekat kolam, dirinya sedang asyik membalas pesan dari temannya. Tanpa ia sadari salah seorang pelayan mendorong tubuhnya cukup kencang hingga jatuh di dalam kolam.
Blurrrr...
Seroja tercebur kedalam sana, dirinya begitu panik sebab ia sama sekali tidak bisa berenang. Gadis itu gelagapan dan berusaha meminta tolong pada seseorang.
Dari jauh Sisil dan teman-temannya menertawakan gadis itu. Ia puas lantaran telah berhasil mengerjainya.
Seroja kini menjadi pusat perhatian. Helena tersenyum sinis, akhirnya rencananya kali ini berhasil. Arkanapun ikut memperhatikan siapa yang sedang tercebur didalam kolam, ia kaget ketika menyadari bahwa Serojalah yang tercebur disana.
" Kau mau kemana? " Helena menahan tangan pria itu saat hendak pergi darinya. Ia berusaha menghalangi Arkana untuk menolong gadis tersebut. Namun, Arkana segera mendorong Helena menjauh darinya, yang terpenting baginya kini adalah keselamatan Seroja.
Arkana panik, ia berlari menuju kolam dan menceburkan dirinya kedalam sana.
Bluuurrrr....
Pria itu berenang mendekati Seroja, ia kaget saat tiba-tiba gadis itu tenggelam kedasar kolam. Dirinya segera mencari keberadaan Seroja dan membawa naik tubuhnya ke permukaan.
Dengan bantuan beberapa orang, mereka menolong pria itu untuk naik ke atas bersama Seroja.
Ia segera memeriksa keadaan gadis itu, tak disangka gadis sekuat Seroja ternyata tidak bisa berenang.
Dirinya berusaha memeriksa denyut nadinya, ternyata denyut nadi gadis tersebut begitu lemah.
Raut kekhawatiran meliputi pria itu saat ini, ia mencoba menekan perut untuk mengeluarkan air dalam tubuh Seroja. Berberapa orang hanya berani melihat apa yang dilakukan pria tersebut.
Lantaran air tak kunjung keluar, dengan terpaksa ia memberikan nafas buatan pada gadis itu. Semua orang tercengang saat melihatnya, terutama kaum hawa. Mereka iri pada gadis itu karena telah berhasil mendapatkan ciuman seorang Arkana.
Helena, Sisil dan gengnya begitu kesal, bukannya mereka berhasil mengerjai dan membuat malu gadis tersebut. Kali ini justru ia harus mendapati pemandangan yang membuat dirinya semakin panas akibat terbakar cemburu.
Uhuk...Uhuk...
Usaha Arkana akhirnya berhasil, Seroja telah mengeluarkan air yang berada dalam tubuhnya. Ia mulai tersadar dan menatap sekeliling, tubuhnya menggigil kedinginan karena pakaiannya basah kuyup.
Ia merasa malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disana. Dirinya mencoba berdiri sambil memegangi kedua lengannya yang kedinginan.
" Aku ingin pergi dari sini." ucapnya lemah pada pria disampingnya, ia malu jadi pusat perhatian semua orang.
" Baiklah, kita pergi saja." jawab Arkana hendak menuntun gadis tersebut.
Seroja mencegah Arkana pergi bersamanya sebab pesta Helena belum selesai.
" Tapi pestanya? Aku akan menunggumu dimobil. Disana masih ada pakaianku yang tadi, aku bisa memakainya kembali. "
Arkana tetap pada pendiriannya, " Tidak, kita pulang saja. Apa kau tidak melihat pakaiankupun basah kuyup, aku tidak nyaman disini. "
Gadis itu tercengang, sedari tadi ia memang kurang memperhatikan pria disampingnya. Meskipun ia tidak terlalu mengingat kejadian setelah dirinya tenggelam, tapi samar-samar ia melihat Arkana berlari menghampirinya saat hampir tenggelam. Setelah itu, dirinya tidak mengingat apa-apa.
Akhirnya Serojapun tidak dapat menolak saat pria itu menuntunnya pergi meninggalkan pesta. Helena yang mengetahui sang kekasih berniat pergi dari sana, iapun segera mengejar Arkana untuk mencegah kepergiannya.
" Tunggu, kau mau kemana? Pestaku belum selesai dan aku belum mengumumkan tentang peresmian hubungan kita. Kumohon, disinilah terlebih dahulu. Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu. " ucapnya memelas, berharap sang kekasih mau menuruti keinginannya.
Arkana tetap pada pendiriannya, ia beralasan tidak nyaman jika harus memakai pakaian yang bukan miliknya sendiri. Helena tidak mampu menahan kepergian pria tersebut. Dengan terpaksa ia membiarkan Arkana untuk pergi dari sana.
Rasanya ia benar-benar kecewa, pesta yang diharapkan menjadi pesta terindah dalam hidupnya kini menjadi pesta yang paling mengecewakan baginya. Dalam hati ia begitu benci pada Seroja, Arkana lebih memilih bersama gadis kampung itu daripada dirinya.
__ADS_1
Sisil memperhatikan raut wajah Helena yang tampak kesal dan kecewa. Dalam batinnya ia puas, akhirnya sahabat yang berani menikungnya itu merasakan apa yang ia rasakan sebelumnya.
...----------------...
Arkana menuntun Seroja menuju mobil, ia membantu gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.
Pria itu memperhatikan Seroja yang masih menggigil kedinginan.
" Apa kau mau mengganti pakaianmu terlebih dahulu? Kau bisa berganti pakaian disini, aku akan menunggumu diluar. " tawarnya pada gadis tersebut.
Seroja menolak tawaran pria itu seketika, "
" Tidak, lebih baik aku berganti pakaian dirumah saja."
Meskipun kaca mobil tidak tembus pandang, rasanya ia tidak nyaman jika harus berganti baju disana. Apalagi ia bisa melihat orang lain berlalu lalang didepannya.
" Ya sudah, kita kembali saja ke apartemenku. Lebih baik kita berganti pakaian disana." ajak Arkana. Seperti biasa, ia tak ingin adiknya tahu apa yang terjadi padanya kali ini.
Seroja hanya mengangguk mengiyakan. Sedikit banyak ia sudah mulai paham dengan sifat Arkana.
Keduanya kini tiba di apartemen. Masing-masing segera mandi dan membersihkan diri, lalu mereka memutuskan untuk segera pulang. Mereka khawatir Aulia akan curiga jika mereka kembali ke mansion terlalu larut.
Ditengah perjalanan, perut Seroja terdengar mengeluarkan suara khasnya.
Krucuk....Krucuk....
Gadis itu meringis saat Arkanapun mendengar suara perutnya yang keroncongan. Ia belum sempat menikmati makanan di pesta Helena barusan. Apalagi saat tenggelam mungkin cukup menguras tenaganya.
" Sepertinya kau lapar. Apa kau ingin makam direstoran terdekat dari sini? " Arkana meliril sisi jalan sambil memperhatikan jika ada restoran yang berada didekat sana.
" Tidak, tidak perlu. Makan direstoran terlalu lama menurutku. Kita harus memesan dan menunggu makanan cukup lama. Aku ingin makan dipinggir jalan saja. " ungkapnya polos.
" Lihat dipinggir sana, ada yang berjualan nasi goreng. Aku ingin makan disana saja. " ajaknya bersemangat.
Arkana menatapnya dengan penuh keheranan, ia sama sekali belum pernah makan makanan dipinggir jalan. Selain tempatnya yang kurang nyaman, pasti makanan disana kurang higienis menurutnya.
" Lebih baik kita cari rumah makan saja. " ia enggan menuruti gadis itu kembali.
" Tidak, tidak. Kumohon aku sudah lapar sekali. Lagi pula ini sudah malam, kita tidak boleh terlalu lama dijalan. " Seroja beralasan.
Lagi-lagi Arkana kembali menuruti keinginannya, setidaknya tempat itu tidak becek dan bau seperti di pasar waktu itu.
Arkana memarkirkan mobilnya disisi jalan, keduanyapun segera menuju kepangkalan tukang nasi goreng yang diminta oleh Seroja.
Gadis itu dengan semangat segera memesan makanannya, ia tidak tahan dengan perutnya yang meronta-ronta ingin segera diisi.
" Kau mau pesan apa? " tanyanya pada Arkana.
" Tidak, aku masih kenyang. Tadi aku sempat makan saat dipesta Helena. " tolak Arkana.
Seroja begitu senang saat nasi goreng pesanannya tiba. Ia mencoba menawari Arkana barang kali pria itu berubah pikiran, namun lagi-lagi Arkana menolaknya. Dirinyapun segera melahap nasi goreng yang telah tersaji didepannya.
Arkana kembali teringat akan kejadian yang menimpa gadis itu barusan. Ia heran kenapa Seroja bisa sampai terjatuh kedalam kolam.
" Ceritakan padaku, Bagaimana bisa kau sampai tercebur kedalam kolam? Dasar,, kau ini memang ceroboh. "
Seroja tak terima dengan tuduhan Arkana barusan, dengan mulut yang masih terisi makanan ia segera menyanggah tuduhan pria tersebut.
" Enak saja kau mengataiku ceroboh. Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku sampai tercebut ke kolam ! "
" Apa maksudmu? " Arkana bingung karena justru dialah yang disalahkan.
" Bukankah kau yang menyuruhku supaya menunggumu di dekat kolam? Aku menunggumu disana, tapi tiba-tiba seorang pelayan seolah mendorongku hingga tercebur disana. " jelas Seroja sambil mengunyah makanannya.
" Tunggu, tunggu! Aku tidak pernah memintamu menungguku disana. Aku yakin ada seseorang yang sengaja ingin mencelakaimu. Tapi siapa? " Arkana mulai berpikir.
Seroja heran pria itu tidak bisa berpikir dengan cepat.
" Huh,, kau ini, begitu saja tidak tahu. Tentu saja kekasih centilmu itu yang melakukannya, siapa lagi? Awas saja besok aku pasti akan memberinya pelajaran. " ungkapnya kesal sembari melahap makanannya kembali.
Arkana hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu yang sangat tidak tahu malu.Akan tetapi, apa yang dikatakan Seroja memanglah benar. Hanya Helena yang berpotensi melakukan hal itu, ia memang tidak menyukai Seroja sedari awal.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...