
Arkana meninggalkan mansion dengan perasaan begitu kecewa. Ia tak menyangka sang Mama tega mengambil keputusan sepihak, padahal Mamanya tahu siapa gadis yang ia cintai sebenarnya.
Ia memutuskan untuk pergi ke apartemen sahabat terdekatnya, Rehan. Ia yakin Papa Alvin pasti akan mencarinya di apartemen miliknya.
Rehan segera membuka pintu saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia kaget ketika melihat siapa yang datang.
" Kau? Tumben sekali kau kesini. Aku tidak melihatmu dikampus hari ini, kupikir kau sedang sakit."
Arkana tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, ia masuk begitu saja kedalam apartemen. Wajahnya terlihat kusut, dirinya hanya memegangi kepalanya yang terasa berat saat ini.
" Sepertinya kau sedang ada masalah? Ini minumlah. " Rehan menyodorkan sebotol minuman kaleng untuk sahabatnya. Ia memperhatikan tingkah pria itu yang terasa lain dari biasanya.
" Aku pergi dari rumah. " jawab Arkana singkat sambil meneguk minumannya. Ia membuang nafas kasar untuk menghilangkan sedikit kekesalannya saat ini.
" Apa?! Pergi dari rumah? Memangnya apa yang terjadi? Bukankah masalah dengan Papamu sudah beres? Kau juga sudah menemukan dalang dibalik rusaknya pestamu malam itu bukan?" ungkap Rehan penasaran.
Arkana memang selalu bercerita tentang semua masalah yang sedang ia hadapi pada sahabatnya itu. Keduanya begitu dekat, ia sudah mengenal Rehan sejak SMP. Rehanpun mengenal Aluna, kekasih yang merupakan cinta pertama Arkana.
" Ini semua gara-gara kedua gadis itu, mereka membuat keributan dirumahku."
Jawaban Arkana semakin membuat Rehan kebingungan, ia tidak mengerti siapa gadis yang dimaksud Arkana. Pria itu nampak berpikir sejenak.
" Tunggu, tunggu. Aku masih belum mengerti apa maksudmu? Apa gadis yang kau maksud Helena dan Sisil? " ia berusaha menebak.
Ia berpikir demikian sebab dirinya tahu siapa Helena. Gadis itu adalah sahabat Sisil yang telah membongkar rencana licik Sisil untuk menjebak Arkana saat dipesta dengan membuatnya mabuk. Namun, ia meminta imbalan dengan meminta Arkana menjadi kekasihnya.
Arkana membenarkan apa yang dipikirkan sahabatnya. Iapun menceritakan ide gila sang Mama yang hendak menjodohkannya dengan pembantu baru dirumahnya. Apalagi, gadis itu adalah wanita yang merusak dan mengempesi ban mobilnya waktu itu.
" Kau harus bersabar, mungkin itu hanya emosi sesaat Mamamu. Tinggallah disini semaumu, anggap saja rumah sendiri. " Rehan turut bersimpati terhadap apa yang terjadi pada sahabatnya.
" Terimakasih, kau memang sahabat terbaikku." ucap Arkana tulus.
" Oh ya,, apa kau sudah makan? Aku akan memesankan makanan untukmu. Aku baru saja makan. Aku ada janji dengan pacarku hari ini." Rehan kembali menawari Arkana.
Sekilas Arkana teringat saat dirinya tadi dikerjai Seroja yang telah menghabiskan sarapan paginya dan menggantinya dengan ceplok telor. Gadis itu benar-benar mengesalkan menurutnya.
" Hei, kenapa kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan? " pertanyaan Rehan membuyarkan lamunannya.
" Oh, tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah makan. Nanti aku akan mencari sendiri jika lapar. Kau pergi saja, kekasihmu pasti sudah menunggu. " sanggahnya. Rehanpun segera pergi, Arkana memang sudah biasa berada disana seorang diri.
...----------------...
__ADS_1
Arkana menghabiskan waktunya hanya untuk tidur seharian ini, lelaki itu terbangun saat waktu menunjukkan sepuluh malam. Ia mengamati sekeliling, sepertinya Rehan belum kembali.
Krucuk...Krucuk..
Suara perutnya yang lapar mulai berbunyi. Ia teringat hari ini dirinya baru memakan telor ceplok buatan Seroja saja. Arkana mendengus kesal, sejak kedatangan gadis itu dirinya selalu saja ditimpa kesialan.
Ia membuka isi kulkas Rehan, ternyata tidak ada apa-apa didalamnya. Iapun memutuskan untuk mencari makanan diluar sambil mencari udara segar.
Ia mendatangi sebuah restoran cepat saji yang buka 24jam. Setelah menikmati makanannya, pria itu hendak membayar dengan kartu kreditnya.
" Maaf Tuan, kartu anda tidak berlaku. " kasir mengembalikan kartu kreditnya.
Arkana terkejut, ia mencoba memberikan kartunya yang lain. Namun, hasilnya tetap sama. Dirinya baru menyadari bahwa Papa Alvin telah memblokir semua kartu miliknya. Ini pasti akal-akalan Papanya supaya ia kembali ke mansion.
Untung saja masih ada beberapa lembar uang didompetnya. Ia segera membayar, kemudian berniat kembali ke apartemen Rehan.
" Sial !! " umpatnya kesal sambil memukul stir mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kencang sebagai pelampiasan kekesalan. Ia bingung bagaimana ia bisa bertahan, sementara selama ini ia hanya bergantung pada pemberian orang tuanya.
Arkana telah tiba di apartemen Rehan, ternyata sahabatnya itu telah kembali kesana.
Arkana membuang nafas kasar seolah pasrah.
" Aku baru saja mencari makan, ternyata Papa memblokir semua kartu kreditku. " ia mendudukkan tubuhnya diatas sofa.
Rehan tertawa mendengar apa yang disampaikan sahabatnya.
" Sepertinya kau harus menikahi pembantu barumu itu. " ejeknya pada Arkana.
Arkana melirik tajam, ia kesal sahabatnya justru mengejeknya.
" Diam kau !! " ia melemparkan bantal kearah Rehan.
Reham kembali menertawakannya,
" Santai, Bro. Aku hanya bercanda. Apa kau akan kuliah besok? "
" Entahlah, kita lihat saja nanti. " ia memilih untuk beristirahat dikamar. Rasanya beban dikepalanya sangat berat saat ini.
Rehan memandang kepergian Arkana, iapun merasa iba mengetahui apa yang sedang dialami sahabatnya saat ini.
__ADS_1
...----------------...
Hari ini Seroja kembali berkuliah bersama Aulia. Bianca telah mendaftarkan kembali gadis itu dikampusnya agar bisa melanjutkan pendidikannya kembali.
Ia berpamitan pada ibunya terlebih dahulu sebelum berangkat. Sebenarnya dirinya tak tega meninggalkan wanita itu seorang diri. Namun, setelah Bianca meyakinkannya dan sang ibu yang mendukung, dirinyapun memutuskan untuk kembali berkuliah.
Aulia begitu senang sebab sahabatnya kini kembali berkuliah bersamanya. Keduanya berangkat menggunakan taksi online, seperti biasa Aulia tidak ingin identitasnya diketahui selama ini. Bahkan, hampir tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah adik dari Arkana, kecuali sahabat terdekat kakaknya yang sering kerumah.
Aulia mengajak sahabatnya itu kekantin saat jam kuliah berakhir.
" Tunggu, aku mau ke toilet sebentar. Kau tunggu saja disini. " pamitnya pada Seroja.
" Baiklah, jangan lama-lama. Kau yang mentraktirku hari ini. " goda Seroja padanya.
" Kau ini?! Baiklah karena ini hari pertamamu berkuliah kembali, aku akan mentraktirmu. Ya sudah, aku pergi dulu. " Aulia meninggalkan sahabatnya sementara.
Serojapun menunggu sahabatnya sambil memesan minuman yang ada disana. Sebenarnya, ia merasa sedikit canggung. Namun, mungkin hanya beberapa orang saja yang mengenalnya.
Dirinya sadar, ia hanyalah gadis miskin biasa yang tidak terkenal dan tidak banyak bergaul.
" Hei?! Apa yang kau lakukan disini! " bentak seseorang dari belakang. Iapun segera menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.
" Kau?! " ia begitu kaget saat mengetahui Arkana berada disana. Apalagi wajah pria tersebut seperti memendam kekesalan padanya.
Arkana tersenyum sinis, ia benar-benar muak dengan gadis itu.
" Ternyata benar dugaanku, kau hanya ingin mencari muka didepan Mama. Kau hanya ingin mendapatkan uang dari keluargaku bukan? Dasar benalu! " sindirnya pada Seroja.
Gadis itu segera berdiri, ia tak terima mendengar apa yang dituduhkan Arkana padanya. Hampir saja ia melayangkan sebuah tamparan ke arah pria itu, namun dengan sigap Arkana menahannya. Ia berusaha melepaskan tangannya dari pria itu, namun genggaman Arkana begitu erat padanya.
" Jangan harap kau bisa mendapatkan apa yang kau mau! Aku tidak akan membiarkanmu merusak ketentraman keluargaku. Aku tidak akan sudi menikah denganmu! " ancam Arkana.
Seroja menatapnya dengan penuh kekesalan,
" Lepaskan aku, pria brengsek!! Akupun tidak akan sudi menikahi pria sepertimu. Bahkan, jika dibumi ini hanya ada dirimu, lebih baik aku melajang seumur hidupku ! " sangkalnya tak mau kalah. Keduanya saling bertatapan penuh emosi.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...
__ADS_1