
Seroja berlari meninggalkan ruangannya dengan berlinang air mata. Aulia ingin mengejarnya, tapi dosen telah berada disana. Dengan terpaksa ia harus membiarkan sahabatnya pergi seorang diri.
Tanpa sengaja Seroja hampir bertabrakan dengan Ardi, bahkan pria itupun tak memandangnya sama sekali. Hati Seroja semakin sakit dibuatnya, pria itu seakan tak ingin mengenalnya lagi.
Ia kembali berlari hendak meninggalkan kampus. Rehan yang tak sengaja berpapasan dengannya ingin menegur, tapi Seroja keburu pergi. Iapun segera menemui Arkana dan menyampaikan apa yang dilihatnya barusan.
" Bro,, tadi aku baru saja berpapasan dengan Seroja. Ia berlari-lari sambil menangis, aku takut terjadi apa-apa dengannya. "
" Apa?!! "
Arkana sungguh terkejut mendengar penuturan Rehan.Tanpa berpikir panjang, pria itu berlari meninggalkan ruangannya untuk mengejar Seroja. Iapun khawatir terjadi sesuatu pada gadis tersebut.
Arkana berusaha mencari keberadaannya. Ia memperhatikan sekeliling, tapi dirinya tak menemukan dimana Seroja berada.
" Kemana perginya gadis itu? Apa jangan-jangan dia pergi meninggalkan kampus? " ia hampir putus asa lantaran belum bisa menemukan gadis yang dicarinya.
Arkana memutuskan untuk pergi keluar kampus, untung saja dugaannya benar. Gadis itu terlihat menyebrangi trotoar dengan berlinang airmata. Ia semakin mempercepat langkahnya agar bisa menyusul Seroja.
Gadis itupun sebenarnya tidak memiliki arah dan tujuan. Dirinya hanya berniat pergi sejauh mungkin dan bisa melampiaskan kesedihannya.
Ia memandang sebuah gedung tinggi tak terpakai yang berada tak jauh darinya, terbesit dipikirannya untuk menumpahkan segala keluh kesahnya disana. Gadis itu berlari menuju ke atas gedung tersebut.
Arkana yang melihatnya semakin cemas,
" Untuk apa dia pergi ke gedung itu? Jangan-jangan !! "
Pikiran buruk telah memenuhi otaknya saat ini. Disaat sedang kalut seperti sekarang, gadis itu mungkin saja berbuat nekad. Ia harus segera mencegahnya sebelum Seroja bertindak diluar akal sehatnya.
Seroja telah berhasil naik ke atas puncak gedung, Dirinya berlari menuju tembok pembatas. Terlihat pemandangan hiruk pikuk perkotaan yang tengah ramai kendaraan berlalu lalang dari bawah sana.
Sambil menghela nafas panjang, ia ingin menumpahkan segala kekesalannya saat ini.
" Aku benci semuanyaaaaaa...."
" Aku benci dengan keadaan iniiiii...." teriaknya kencang. Ia berharap dengan begitu dirinya bisa sedikit mengurangi beban berat yang menumpuk dipikirannya.
__ADS_1
Tak puas sampai disitu, ia menaiki pagar pembatas, sambil membentangkan kedua tangannya gadis itu rasanya ingin kembali berteriak.
" Hei! Kau jangan gila, cepat turun dari sana. Kita bisa membicarakan ini semua baik-baik. Tidak perlu bunuh diri seperti itu." teriak Arkana sambil berlari menghampirinya. Ia takut terlambat menyelamatkan Seroja.
Gadis itu terkejut melihat siapa yang datang, tanpa ia sadari dirinya kehilangan keseimbangan.
Bruuughhh...
Serojapun terjatuh, tapi kali ini dirinya aman sebab tubuhnya jatuh tepat diatas tubuh Arkana. Pria itu akhirnya sampai dibawah Seroja, tapi naasnya dirinya terkejut saat gadis itu jatuh dan menindihnya.
Netra keduanya kembali bertemu sesaat, Seroja segera bangun dan merapikan pakaiannya. Dirinya takut Arkana akan mendengar detak jantungnya yang tak beraturan karena gugup.
" Aww...tubuhmu kecil tapi aku seperti tertimpa gajah rasanya. " Arkana merasakan tubuhnya yang terasa nyeri akibat tertindih gadis tersebut.
Seroja menahan tawanya, ia merasa geli melihat pria itu tersiksa karenanya.
" Salah sendiri kau berada dibawahku? Siapa juga yang menyuruhmu berada disini. " elak Seroja.
Arkana perlahan mulai bangun sambil memegangi tubuhnya yang terasa encok.
" Kau selalu saja menyalahkanku. Bagaimana kalau diriku tadi terlambat datang? Kau pikir dengan bunuh diri bisa menyelesaikan masalah. Kau tak boleh berpikiran sempit, bunuh diri itu dosa besar! " tegas Arkana.
" Memangnya siapa juga yang mau bunuh diri? Kau saja yang salah paham. Aku kesini karena aku ingin menumpahkan kekesalanku. Aku ingin berteriak sepuas-puasnya agar semua beban dipikiranku ikut lenyap bersama angin." sangkal gadis itu. Ia tertawa kecil saat mendengar pria itu salah paham kepadanya.
Arkana merasa malu, tapi sikapnya itupun tidak bisa disalahkan.
" Siapa juga yang tidak khawatir? Kau pergi sambil berlari meninggalkan kampus dengan berlinang airmata. Lalu kau naik keatas gedung ini, kupikir kau akan bunuh diri disini. "
Seroja membuang nafas panjang dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Arkana. Ia kesal karena semua mahasiswa masih saja berpikiran buruk kepadanya.
Ternyata dugaan Arkana benar, gadis itu masih saja dibulli oleh mahasiswa yang lainnya. Namun, kali ini dirinya tak mau membahas mengenai nikah kontrak kembali.
" Seharusnya kau patahkan saja kaki dan tangan anak itu. Dengan begitu mahasiswa yang lain akan takut bila berhadapan denganmu. " kelakar Arkana.
" Kau benar, tadinya aku juga berpikir seperti itu. Tapi, Dosen keburu datang sebelum aku mematahkan kaki dan tangannya. " sesal Seroja.
__ADS_1
" Sepertinya aku akan terkena skors lagi. Rasanya aku sudah tidak ingin masuk kuliah. Kalau saja aku tidak memikirkan keinginan ibu agar putrinya bersekolah tinggi, mungkin sekarang aku lebih senang berdagang dipinggir jalan seperti dulu. " keluhnya pada Arkana.
Arkana merasa iba dengan apa yang dialami gadis itu, dirinya berusaha menyemangati Seroja agar lebih kuat menghadapi semuanya.
" Kau tenang saja. Aku sudah menemukan bukti-bukti yang memberatkan Helena dan Papanya. Aku tidak menyangka, ternyata Papa Helena memanfaatkan situasi ini untuk bisa menjatuhkan bisnis Papaku. Dialah yang telah menyebarkan gambar itu ke seluruh media. " terang Arkana.
Seroja merasa geram saat mendengar cerita Arkana,
" Ternyata Bapak dan anak sama saja, sama-sama liciknya. Aku tidak sabar ingin melihat mereka mendekam dipenjara. "
" Iya. Sebentar lagi aku akan melaporkan ini ke pihak yang berwajib. Tindakan Helena ini tidak bisa dibiarkan dan harus ditindak tegas karena melanggar hukum. Aku berharap setelah semuanya terungkap, nama baikmu dan keluargaku akan kembali lagi."
" Semoga saja. " gadis itu tersenyum tipis menanggapi ucapan Arkana barusan.
Setelah hati Seroja agak tenang, Arkana berniat membawa gadis itu untuk pergi dari sana. Namun, Seroja masih ingin berteriak kembali agar pikirannya semakin lega.
" Apa kau mau sama-sama berteriak bersamaku? Aku sering melakukannya dikampung, aku biasanya naik keatas bukit dan berteriak seorang diri saat aku sedang kesal. Itu cukup membuatku merasa lega. " jelasnya.
Arkana sedikit heran, tapi iapun penasaran ingin mencobanya. Keduanya berteriak bersahut-sahutan, setelah itu mereka tertawa bersama mengingat kelakuan mereka barusan.
" Ayo pulang. " ajak Arkana saat keduanya telah puas melepaskan tawanya.
Serojapun menuruti ajakan pemuda tersebut, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
" Tunggu sebentar. " ucapan gadis itu seketika menhentikan langkah kaki Arkana. Pria itu berbalik dan mendekatinya.
" Ada apa? " tanyanya penasaran.
Seroja sedikit gugup, namun ia berusaha untuk bisa menyampaikan keputusannya.
" A,, aku sepakat untuk nikah kontrak denganmu." wajahnya bersemu merah. Meskipun ini hanyalah rencana pernikahan pura-pura, tapi itu cukup membuatnya gelisah.
Arkana tersenyum lega, akhirnya gadis itu menyetujui rencananya.
" Baiklah, kita sepakat. "
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian diaini. Kasih like, koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..