
Mobil yang mengantar Seroja kini telah berhenti tepat di lobby kantor sang suami. Untuk pertama kalinya, ia menginjakkan kaki di perusahaan besar milik keluarga Pramudya.
" Huh,, besar sekali gedung ini. Sepertinya kekayaan keluarga Pramudya tidak akan habis tujuh turunan. " gumamnya sambil menatap gedung yang menjulang tinggi dihadapannya.
" Mari Nona, silahkan turun. Saya akan meminta salah satu staf untuk mengantarkan anda sampai ke ruangan Tuan Muda. " ucap sang sopir seraya membukakan pintu untuk istri atasannya.
Seroja turun dan mengikuti kemana pria itu pergi. Hingga pria itu berpapasan dengan salah satu pegawai wanita dan memintanya untuk mengantarkan Seroja ke ruangan atasannya.
Wanita itu menatap ragu pada gadis dihadapannya. Rasanya ia hampir tak percaya jika atasannya memiliki istri seorang wanita biasa.
" Mari Nona, saya akan mengantarkan anda ke ruangan Tuan Arkana. " ucapnya sambil membusungkan sedikit dadanya. Ia rasa gadis itu tak jauh beda dengannya.
" Aishhh..sombong sekali. Apa karyawan disini memang sombong seperti dia? Beda sekali dengan saat di butik waktu itu." gerutunya kesal.
Untuk pertama kali ia datang ke kantor itu, tapi seolah para karyawan menatap sinis padanya. Namun, bukan Seroja namanya jika ia mudah terbawa perasaan. Gadis itu berlagak acuh dan enggan memperdulikan pandangan orang.
Keduanya menaiki lift menuju lantai 21 dimana kantor Arkana berada. Wanita itu berada didepan sambil sesekali melirik sinis pada Seroja tanpa berucap apapun. Ia memperbaiki penampilannya sebelum tiba diruangan atasannya.
Yah, tentu saja wanita itu iri. Dilihat dari penampilan saja Seroja terlihat biasa-biasa. Badannyapun tak terlihat seksi seperti dirinya. Apalagi dari tindak tanduknya, jelas sekali dia hanyalah seorang gadis kampungan.
Pintu lift terbuka, keduanya segera keluar dari sana.
" Dimana ruangan Tuan Arkana? " tanya Seroja tak sabar. Ia merasa jengah berdekatan lama-lama dengan wanita tersebut.
" Itu di depan. Aku akan mengantarkanmu kesana." ucapnya sinis.
Wanita itu berharap bisa bertemu dengan atasan barunya yang terkenal sangat tampan. Ia kembali memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah.
Tanpa ia sadari Seroja menyenggol sebagian tubuhnya hingga ia terjatuh karenanya.
Bruuughh..
Wanita itu meringis sambil berusaha kembali menjaga keseimbangan tubuhnya.
" Ooppss..Maaf aku tidak sengaja. " Seroja segera berlalu dan meninggalkannya begitu saja.
" Dasar wanita genit. Rasakan akibatnya." Seringainya muncul lantaran puas mengerjai wanita itu.
Tanpa mengetuk pintu dengan penuh semangat Seroja memasuki ruangan suaminya. Ia berharap Arkana akan terkejut sekaligus senang melihat kedatangannya.
Kini, bukannya Arkana yang terkejut melainkan dirinya yang dibuat terbelalak seketika saat melihat seorang wanita seksi berdiri disamping suaminya dengan jarak yang begitu dekat.
Keduanya menatap kedatangan Seroja yang begitu tiba-tiba. Senyum Arkana mengembang sempurna saat menyadari kedatangan sang istri. Berbeda dengan wanita disampingnya, padahal ia sedang mencari kesempatan untuk bisa mendekati atasannya itu.
" Hei,, siapa kau? Berani-beraninya masuk tanpa permisi. Ini ruangan atasan, tidak semua orang bisa keluar masuk ke ruangan ini. " hardik wanita tersebut kesal. Gadis itu telah merusak rencananya.
Arkana menatap tajam pada sekretaris barunya.
__ADS_1
" Jaga ucapanmu. Dia adalah istriku, aku tidak suka orang lain membentak istriku seperti itu. " tegas Arkana.
Wajah sekretaris itu pucat pasi seketika. Dirinya tak menyangka gadis kampungan yang ada dihadapannya itu adalah istri sang atasan.
Seroja begitu puas mendengar Arkana justru membelanya. Tapi iapun kesal melihat pria itu berdekatan dengan wanita lain, apalagi wanita ganjen seperti itu. Terlihat jelas olehnya saat wanita itu membungkukkan dada yang sedikit terbuka untuk menarik perhatian Arkana.
Arkana berdiri dirinya berniat untuk menghampiri sang istri. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, gadis itu justru berhambur ke pelukannya.
" Aku rindu sekali padamu, kukira kau sendiri yang akan menjemputku ke kampus." rajuknya pada pria yang kini sedang mematung lantaran tak ada angin tiada hujan gadis itu tiba-tiba berhambur ke pelukannya.
Seroja sesekali melirik wanita yang kini sedang panas dingin menyaksikan kemesraan keduanya.
" Sepertinya kau sangat sibuk? Maaf jika aku mengganggumu." ucapnya sambil bergelayut manja pada sang suami.
Arkana membawanya duduk di sofa yang ada disana. Ia curiga sang istri memang sengaja memanas-manasi sekertaris barunya, ia sendiri sebenarnya sadar wanita itu sepertinya berniat menggodanya. Sebuah senyum tersimpul di wajah tampannya.
" Apa dia sedang cemburu? Tapi, tak apalah. Aku bisa memanfaatkan ini untuk semakin dekat dengannya.
" Sayang, apa kau mendengarku? " ucapan Seroja membuyarkan seluruh lamunannya.
Kata " sayang " yang baru saja diucapkan gadis itu sungguh membuatnya berbunga-bunga. Ini pertama kali gadi itu memanggilnya dengn begitu manis.
" Tentu saja tidak apa-apa. Bukankah aku yang memintamu kemari. Sedikit lagi pekerjaanku beres, kita bisa pulang setelahnya."
Kini Arkana justru merapatkan tubuhnya dan melingkarkan salah satu tangannya dipinggang Seroja. Gadis itu kini yang merasa risih lantaran pria itu terlalu mepet padanya.
" Tuan, jika anda sedang sibuk dengan istri anda. Lebih baik saya keluar sekarang. Tapi, proposal ini belum selesai anda tanda tangani. " wanita itu rasanya sudah gerah melihat pasangan suami istri tersebut.
Tentu saja Arkana tidak ingin sekertarisnya pergi, sedangkan dengan adanya wanita itu sang istri mau bermanja-manja dengannya.
" Kau tetaplah disini terlebih dahulu. Tolong ambilkan makanan yang ada disana untuk istriku. Dia pasti sangat lapar." Arkana menunjuk makanan yang berada di dekat lemari kerjanya. Dirinya telah memesan makanan sebelumnya karena ia tahu istrinya hoby makan.
Cuupp....
Sebuah ciuman dari Arkana mendarat tepat dikening Seroja. Rasanya gadis itu ia ingin sekali protes, tapi dirinya juga tak mau sekertaris genit itu melihat kelakuan bar-barnya. Pasti wanita itu senang jika melihatnya bertengkar dengan Arkana.
Iapun tersenyum dan menatap manja pada sang suami.
" Terima kasih. Kau benar-benar suami yang pengertian."
Sekertaris itu mengeratkan kedua rahangnya lantaran kesal. Atasannya tampak begitu menyayangi dan memanjakan sang istri. Padahal dilihat dari segi manapun, menurutnya ia lebih menarik dari pada Seroja.
Tapi mau bagaimana lagi, ia terpaksa menuruti apa yang diperintahkan atasannya walau setengah hati.
" Ini Tuan, Nona. Makanan kalian sudah siap." wanita itu menaruh makanan keduanya diatas meja.
Arkana membuka box makanan yang telah dipesannya.
__ADS_1
" Eeumm..ini rasanya enak sekali, aku yakin kau pasti menyukainya. Ayo coba buka mulutmu."
Netra Seroja membola sempurna, ia menelan kasar air liurnya. Seonggok makanan kini siap meluncur ke mulutnya. Arkana tersenyum senang, ia mengusap- usap puncak kepala sang istri lantaran gemas.
Jantung Seroja kini kembali tak karuan, apalagi perlakuan pria itu begitu manis saat ini. Ia mengelap bibir sang istri yang belepotan karena makanan. Gadis itu tersenyum manis, ia menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh suaminya.
Sekertaris itu hanya berdiri mematung sambil memperhatikan kemesraan keduanya. Ia seolah menjadi obat nyamuk kali ini. Sang atasan benar-benar sangat menyayangi istrinya.
" Selesai, kau pintar sekali, Sayang. "
Ia memuji sang istri yang telah menghabiskan makanannya, dan kembali mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala gadis itu. Perasaan Seroja semakin tak karuan, ini pertama kalinya juga pria itu melontarkan kata " sayang " padanya.
Rasanya ini sudah seperti senjata makan tuan. Tadinya ia berniat mengerjai sekertaris itu, tapi kini ia justru dikerjai oleh sang suami. Pria itu benar-benar telah mengobrak-abrik hatinya, jantungnya berdebar kencang mendapat perlakuan manis seperti itu.
Arkana segera kembali ke meja kerjanya, ia membaca dan menandatangi beberapa proposal yang belum ia selesaikan. Sekertaris itu bernapas lega, akhirnya ia bisa keluar dari ruangan panas yang seolah hampir membakar tubuhnya.
Arkana segera membereskan berkas-berkas dan mengambil tas kerjanya, ia berjalan menghampiri sang istri.
" Ayo kita pulang. " ajaknya ramah.
Seroja bangkit dari tempat duduknya, ia kembali dikejutkan saat pria kembali melenggangkan tangan dipinggangnyaa dengan possesive.
" Lepaskan. Jangan coba-coba mencari kesempatan." ancamnya kesal. Ia menghempaskan tangan Arkana dari pingganggnya.
Arkana mengernyit heran, ia berpura-pura tak tahu apa-apa.
" Memangnya kenapa? Bukankah kau tadi senang kupeluk seperti itu. "
" Tentu saja berbeda. Aku hanya ingin mengerjai sekertaris genit itu supaya dia tidak kecentilan padamu." jawabnya geregetan.
Arkana mencoba memancingnya kembali,
" Memangnya kenapa kalau dia kecentilan? Apa kau cemburu padanya?"
Pertanyaan itu membuat Seroja terdiam seketika, ia menatap nanar pada pria tersebut.
" Memang salah, aku cemburu, aku tidak suka orang lain mendekatimu karena aku sangat-sangat mencintaimu." jawaban itu hanya tertahan dihatinya saja.
" Karena aku? aku tidak suka melihat wanita yang suka kecentilan saja. " jawabnya setengah hati.
Mana mungkin ia mengungkapkan yang sebenarnya, sedangkan ia sendiri tak tahu apa Arkana juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Pria itu tersenyum, ia sudah mampu membaca dari perubahan raut wajah istrinya.
" Aku berharap kau akan berkata bahwa kau cinta padaku karena akupun juga sangat mencintaimu. Aku tidak bisa terus menerus mengelak dari hatiku, aku harus segera mengungkapkannya. "
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungn kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...