
Hari ini tepat seminggu sejak Helena mengundang Arkana ke pesta ulang tahunnya. nanti malam. Ia berencana untuk datang bersama Seroja.
Keduanya berniat pergi mencari kado untuk Helena setelah pulang kuliah. Tanpa sengaja saat hendak meninggalkan kampus, mereka kembali berpapasan dengan Ardi yang baru saja keluar dari perpustakaan bersama Aulia.
Meskipun Seroja telah menjelaskan bahwa dirinya tidak punya hubungan apa-apa dengan Arkana. Akan tetapi, pria itu tetap saja was-was sebab keduanya sering sekali bersama. Apalagi, Arkana adalah pria yang merupakan idola dikampus mereka.
" Kak Ardi? " sapa Seroja bersemangat saat melihat pria pujaannya berada dihadapannya saat ini. Kali ini dirinya sudah tidak merasa canggung pada pria tersebut.
Arkana meminta gadis itu untuk menemui Ardi terlebih dahulu, ia akan menunggunya di parkiran. Auliapun mencoba memberi kesempatan keduanya untuk bisa mengobrol bersama. Biar bagaimanapun ia tahu sahabatnya itu masih menyukai Kak Ardi.
" Apa kabar? " sapa keduanya kompak. Mereka tertawa malu, rona merah menghiasi pipi Seroja.
" Kau saja duluan. " Ardi mempersilahkan gadis itu untuk berbicara terlebih dahulu.
" Alhamdulillah kabarku baik. Kakak apa kabar? Maaf aku tidak bisa lama hari ini. Aku hanya ingin menyampaikan kalau aku ingin mengajakmu ke taman hiburan minggu depan. " ungkap Seroja malu-malu. Kali ini ia berusaha untuk sedikit agresif sesuai nasehat Arkana.
Ardi sontak kaget mendengarnya, tapi ia senang akhirnya ia bisa dekat kembali bersama Seroja.
" Alhamdulillah kabarku juga baik. Tentu, tentu saja aku mau. Kita janjian disana atau aku yang menjemputmu? Tapi, aku tidak tahu dimana dirimu tinggal sekarang. " jawab Ardi bersemangat, sepertinya gadis itu mulai memberikan kode untuknya. Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
" Kita janjian bertemu disana saja. Aku tinggal ditempat majikan ibu sekarang. Aku takut nanti beliau salah paham denganku. Tapi, aku sudah minta izin untuk pergi minggu ini." sangkal Seroja beralasan, ia belum siap mengakui bahwa dirinya sekarang tinggal di mansion Arkana. Apalagi, Aulia juga tinggal disana.
Ardi merasa sedikit aneh dengan sikap Seroja, tapi itu sudah tidak terlalu penting sebab yang terpenting saat ini adalah dirinya memiliki waktu yang cukup lama untuk bersama gadis itu. Dan itu bisa jadi kesempatannya untuk menyatakan perasaan.
" Baiklah kalau itu maumu. Aku pasti akan datang kesana." jawabnya pasti.
Binar-binar kebahagiaaan terpancar dari wajah Seroja, ia sangat senang pria itu mau menerima ajakannya.
" Terima kasih. Kalau begitu aku permisi dulu, aku masih ada urusan penting. Maafkan aku kak, akhir-akhir ini aku tidak bisa berkumpul bersama kalian. " sesalnya.
Sebenarnya Ardipun penasaran, biasanya mereka selalu kemana-mana bertiga. Tapi, sekarang Seroja sering menghilang dan terkadang ia menjumpai gadis itu bersama-sama Arkana. Tapi rasanya kurang tepat jika ia menyampaikan unek-uneknya saat ini.
" Tidak apa-apa. Aku tahu kau punya kesibukan tersendiri. Ya sudah, kau hati-hatilah. " Ardi tersenyum sambil menepuk bahu gadis itu.
Seroja seakan melayang diudara, sudah lama sekali Ardi tidak bersikap semanis itu. Pria tersebut terlihat lebih tampan dan dewasa menurutnya. Kalau bukan karena Arkana sedang menunggunya, ia pasti betah berlama-lama disana.
Iapun segera pergi dan menemui Arkana di parkiran. Gadis itu terlihat lebih ceria saat memasuki mobil. Arkana tersenyum sinis, gadis itu benar-benar lugu menurutnya.
" Sepertinya rencanamu berhasil, kau harusnya mentraktirku karena telah mencetuskan ide yang brilian untukmu. " sindir Arkana.
" Kau ini perhitungan sekali dengan teman. Tapi? Apa aku tidak seperti gadis yang mengejar-ngejar pria. Seolah-olah aku ini gadis yang agresif." ungkapnya malu.
" Dizaman sekarang tidak ada bedanya perempuan atau laki-laki yang menembak lebih dulu. Buktinya aku sering sekali ditembak wanita. Setidaknya kau akan lebih lega ketika telah mengungkapkan perasaanmu." Arkana menyampaikan pendapatnya.
" Iya kau benar. Aku tidak tahu pasti apa dirinya juga memiliki perasaan yang sama denganku. Yang terpenting aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya. Terimakasih sarannya. " Seroja tersenyum menatap pria itu.
" Sudah ku bilang, aku pasti akan membantumu. Sekarang kita harus mencari kado untuk Helena. Aku berencana memberikan sebuah tas untuknya. " Arkana memandang sisi jalan, mereka hampir sampai ditempat tersebut.
Ia memarkirkan mobilnya ditoko tas ternama ibukota. Keduanya turun dan memasuki toko tersebut.
Seroja begitu takjub, model tas disana sangat sangat bagus untuk seorang wanita. Ia mencoba melihat salah satu tas yang sepertinya sangat bagus menurutnya.
" Itu sepertinya bagus. " Seroja mendekati tas itu. Netranya terbelalak saat tahu bandrol yang tertera disana.
" Seleramu bagus juga. Ya sudah, aku ambil yang ini saja. " Arkana mengambil tas tersebut dari tangan Seroja .
" Jangan, jangan !! Lebih baik kau cari yang lain saja." Gadis itu menghalangi niat Arkana, ia membisikkan sesuatu ke telinganya.
" Harganya terlalu mahal, lebih baik kita cari yang lain saja yang lebih murah. " Seroja meletakkan tas itu kembali.
Arkana merasa geli melihat tingkah gadis tersebut. Dalam batinnya ingin tertawa, manamungkin ada tas murah disana. Semua dibandrol diatas 100 juta rupiah.
" Coba saja kau cari. " ia berkata sambil menahan tawanya.
__ADS_1
Seroja berkeliling mencari tas yang sekiranya agak murah, ia melihat salah satu tas kembali. Netranya kembali dikejutkan oleh harga yang terpampang disana. Ia melihat sebelahnya dan sebelahnya lagi, harganyapun rata-rata diatas seratus juta. Iapun kembali pada Arkana dan menarik pria itu agar keluar dari sana.
" Hei, kau mau membawaku kemana? Kita belum membeli tasnya. " Arkana menarik balik tangan gadis itu.
Seroja kembali berbisik padanya. " Kita cari ditempat lain, disini tidak ada yang murah. "
Arkana sontak menertawakan gadis itu, Seroja justru heran melihatnya.
" Aku juga tahu disini tidak ada yang murah, aku sudah biasa membeli tas disini. " Iapun menarik Seroja kembali masuk kedalam dan membeli salah satu tas yang ada disana.
Seroja keluar dengan wajah cemberut, ia kesal sebab pria itu terlalu boros menurutnya.
" Kenapa mukamu seperti itu? Apa kau iri karena aku membelikan tas mahal untuk Helena." ejeknya pada Seroja.
Seroja tak terima dengan ucapan Arkana,
" Aku tidak pernah iri dengan gadis sombong itu. Aku hanya kasihan dengan orang tuamu. Mereka bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan kalian, tapi kau dengan seenaknya menggunakan uang itu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Aku tak peduli jika itu hasil jerih payahmu, setidaknya hargai apa yang telah mereka usahakan." bantahnya.
Arkana hanya tersenyum menanggapi ucapan Seroja,
" Kau tidak tahu seberapa besar kekayaan keluarga Pramudya. Kami mempunyai banyak aspek bisnis besar di seluruh negeri ini hingga ke mancanegara. Uang segitu tidak ada artinya untuk Papaku, beliau bahkan memberiku kartu kredit no limit yang bisa kugunakan sesukaku." sanggah Arkana santai.
Seroja geleng-geleng kepala menanggapi apa yang dikatakan pria disampingnya. Mungkin pria ini terlalu dimanjakan oleh orang tuanya.
" Kau seharusnya bisa berpikir bahwa hidup itu suatu saat bisa berputar. Tidak selamanya yang diatas itu selalu diatas dan yang dibawah hanya mampu dibawah. Seharusnya kau mempergunakan apa yang diberikan orangtuamu dengan lebih bijak. Tahukah kau? Untuk mencapai kesuksesan itu butuh perjuangan yang besar dari Papamu. Apa kau yakin jika kau mampu sepertinya? Setidaknya, jika kau belum bisa membantunya, kau bisa menjaga apa yang mereka miliki." bantah Seroja tegas.
Deg....
Perkataan Seroja begitu mengena dihati Arkana, ia jadi teringat permintaan sang Papa. Ia cukup kagum dengan pemikiran gadis itu yang sepertinya lebih dewasa. Namun, dirinya enggan mengakui. Ia memilih diam tanpa menanggapi ocehan Seroja.
Gadis itu bisa merasakan perubahan sikap Arkana padanya. Ia baru sadar sepertinya dirinya agak lancang ikut campur masalah pribadi pria tersebut. Kecanggunganpun menyeruak diantara mereka, keduanya saling terdiam hingga sesampainya di mansion.
Arkana memarkirkan mobilnya, saat hendak turun gadis itu tiba-tiba menahannya.
" Maaf atas perkataanku tadi, seharusnya aku berfikir terlebih dahulu sebelum bicara. Kuharal kau tak memasukkannya dalam hati. " sesalnya.
" Kita berangkat lebih awal, jangan terlambat. Ada sesuatu yang harus kulakukan terlebih dahulu. " jawabnya datar.
Seroja hampir lupa bahwa dirinya hari ini juga ikut menghadiri pesta Helena, ia bingung sebab dirinya belum memiliki baju pesta. Tadinya ia berencana mengajak Arkana membeli pakaian untuknya sebentar saat lewat pasar. Namun, lantaran ketegangan diantara keduanya barusan, ia sampai lupa dengan hal itu.
" Sepertinya aku tidak jadi ikut, kau saja yang pergi kesana. Aku tidak memiliki kado yang mahal untuknya, lagipula dia juga pasti tidak mau menerima kado murahan dariku. " ia memutuskan untuk tidak jadi pergi.
Arkana kesal pada gadis itu, alasannya tidak bisa diterima.
" Sudah kubilang aku hanya akan pergi jika kau ikut denganku. Kalau kau tak mau, akupun tidak akan berangkat. Kau sahabatku, aku yang memintamu untuk pergi bersamaku. Helena tidak akan mengharap hadiah darimu. "
" Tapi?! " Belum sempat Seroja menyampaikan penolakannya, pria itu sudah pergi meninggalkannya.
" Dasar pria keras kepala! " gerutunya kesal.
Ia bingung harus bagaimana, untuk membelipun pasti sudah tidak sempat karena pria itu mengajaknya berangkat lebih awal.
...----------------...
Sorepun tiba, Arkana menunggu Seroja disamping mobilnya. Pria itu heran, gadis itu tak juga muncul padahal ia sudah berpesan untuk berangkat lebih awal.
Dengan terpaksa ia kembali masuk ke dalam mansion untuk menjemputnya. Ia khawatir Seroja benar-benar memutuskan untuk tidak ikut dengannya.
Tok...Tok...Tok....
Pria itu mengetuk pintu kamar Seroja. Gadia yang didalampun akhirnya keluar. Ia menatap heran dengan penampilan gadis itu saat ini. Arkana sampai tidak mampu menahan tawanya melihat penampilan Seroja saat ini.
Raut wajah gadis itu murung seketika, ia tahu pasti Arkana tertawa lantaran penampilannya yang kampungan. Padahal, dirinya sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempercantik penampilannya kali ini, menurutnya.
__ADS_1
Yah, tadinya ia kebingungan sebab tidak memiliki pakaian untuk ke undangan. Dirinya memang tidak pernah memikirkan hal itu, tentunya. Iapun berpikir untuk meminjam baju Intan lantaran adiknya berpenampilan lebih feminim dibandingkan dengannya.
Alhasil, ternyata baju Intan tidak muat dibadannya. Gadis itu lebih kecil sebab umurnyapun lebih muda. Sebenarnya ia ingin meminjam pakaian Aulia, tapi ia malu gadis itu pasti akan meledeknya kembali karena berpakaian wanita.
Karena menemui jalan buntu, satu hal yang terpaksa harus ia lakukan. Meminjam pakaian ibunya, itu pilihan terakhir menurutnya. Sebab pakaian sang ibu pasti muat dibadannya, meskipun modelnya kurang sesuai dengan anak muda.
Iapun masuk ke kamar ibunya untuk meminjam pakaian. Sang ibu mengijinkannya, apalagi ia memang tidak pernah kemana-mana. Jadi baju itu pasti jarang ia pakai.
Seroja melihat beberapa alat make up sang ibu yang tersimpan dalam sebuah tas kecilnya. Ada keinginan dalam otaknya untuk bisa berdandan seperti gadis-gadis kebanyakan. Iapun mengambil peralatan make up tersebut dan membawa ke kamarnya.
Ia kembali ke kamarnya, dengan bersemangat ia memoleskan bedak dan lipstik berwarna merah menyala di bibirnya. Ia mencoba memakai blush on dipipinya.
" Kenapa seperti ini? " gerutunya seorang diri. Ia terlihat seperti ibu-ibu yang akan berangkat ke undangan dengan pakaian batik milik ibunya. Karena merasa aneh, ia berniat menghapus make up diwajahnya. Namun sialnya, ia telah melihat Arkana menunggunya didepan pintu sebelum melakukannya.
...****...
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud.." belum sampai Arkana menyelesaikan kata-katanya, gadis itu telah menyela pembicaraan.
" Aku tahu, aku pasti terlihat aneh. Sudah kubilang lebih baik aku dirumah saja. Kau pergilah sendiri, aku tidak mau mempermalukanmu. " Seroja hendak menutup pintu kamarnya, namun Arkana segera menghalanginya.
" Ganti bajumu dengan baju yang biasa kau pakai sehari-hari, hapus juga make upmu itu. Aku mau kau berpenampilan seperti biasanya.
" Tapi? " Seroja mengurungkan niatnya untuk menolak saat melihat pria itu telah menatap tajam kearahnya.
Merekapun segera pergi, Arkana menghentikan laju mobilnya saat tiba disebuah pusat fashion ternama di ibukota.
" Kenapa kita kesini? Apa kau akan membelikan kado lagi untuk Helena?" Seroja merasa heran.
Tanpa menjawab pertanyaan Seroja, Arkana membawa gadis itu masuk kedalam sana.
" Berikan baju pesta yang cocok untuknya tapi jangan yang terlalu fulgar. Aku mau kalian mendandaninya agar tidak terlihat kampungan." perintah Arkana pada pegawai yang ada disana.
" Baik, Tuan Muda. " para pegawai tersebut memberi hormat pada Arkana. Seroja tak menyangka pria itu begitu dihormati disana.
" Wah, kau langganan disini ya? Lihatlah, semua pegawai memberi hormat padamu tadi. " Seroja merasa kagum.
" Ini adalah perusahaan Mamaku, " B& A" Fashion. Tentu mereka semua mengenalku. " jawab Arkana bangga. Serojapun takjub, ia tak menyangka majikan wanitanya itu ternyata memiliki sebuah pusat fashion ternama di negara ini.
Para pegawai membawa Seroja sesuai perintah Arkana. Mereka mendandani gadis tersebut sedemikian rupa sehingga gadis tersebut terlihat begitu cantik dan menawan.
Mereka memilihkan beberapa highheels untuknya. Seroja menatap ngeri dengan highheels yang belum pernah ia coba sama sekali seumur-umur.
" Nona, Silahkan. Ini pasti sangat cocok untuk anda. " salah satu pegawai memberikan highheels untuknya.
Seroja mencoba berdiri dan berjalan, namun dirinya sangat sulit mendapatkan keseimbangan. Ia hampir saja terjatuh, untung saja Arkana dengan sigap menangkap tubuhnya.
Pria itu membantunya berdiri kembali, dalam hati ia benar-benar kagum. Seroja begitu berbeda dari biasanya. Ia terlihat sangat cantik malam ini. Netranya hampir tak berkedip mengagumi kecantikan gadis itu.
Begitupun Seroja, dirinya merasa begitu gugup saat Arkana menangkap tubuhnya barusan. Keduanya saling memandang selama beberapa detik hingga seorang pegawai menyadarkan keduanya.
" Tuan, sepertinya Nona belum bisa menggunakan highheels. " keduanya segera menjauhkan diri masing-masing.
Arkana berjalan mendekati sebuah sepatu berwarna putih yang sepertinya cocok untuk Seroja. Ia memberikan sepatu itu padanya.
" Pakailah, kau akan lebih nyaman menggunakan sepatu ini."
" Terima kasih. " Seroja menundukkan pandangannya, rasanya ia masih gugup menatap netra pria didepannya. Iapun segera memakai sepatu tersebut yang terasa pas dan nyaman dikakinya.
" Kau menyukainya?" tanya Arkana kembali.
" Heeum. Aku merasa lebih nyaman dengan sepatu ini." jawab gadis itu jujur.
Keduanyapun segera meninggalkan tempat itu agar tidak terlambat datang ke pesta ulang tahun Helena.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat Author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...