
Siang ini, seluruh mahasiswa berkumpul untuk mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan yang diselenggarakan oleh panitia penyelenggara acara. Arkana sebagai ketua panitia tengah disibukkan untuk memimpin jalannya berbagai kegiatan yang ada disana.
Seroja terlihat celingukan, dirinya mencari sosok Aulia yang tak terlihat mengikuti kegiatan sejak pagi.
" Kemana Aulia? Apa mungkin dia masih di tenda? " ia segera mencari di tempat yang sepertinya tidak mungkin ditinggalkan gadis tersebut.
Benar saja, gadis itu tengah berada di dalam tendanya. Seroja begitu terperanjat saat melihat kaki gadis itu yang terluka dan terlihat lebam.
" Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau bisa sampai seperti ini." dirinya segera mendekati dan memastikan luka di kaki Aulia.
" Semalam aku terjatuh saat berada di sungai. Kau sih,, aku sudah memanggilmu semalam untuk mengantarku kesana, tapi sepertinya kau sudah tidur. " gerutu gadis itu seraya merintih merasakan nyeri di kakinya.
Seroja ikut merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, ia tak mungkin menemui gadis itu dengan keadaan seperti semalam.
" Maafkan aku, aku benar-benar menyesal. Tapi, lukamu ini harus segera diperiksakan. Aku takut ada cidera yang kau alami melihat lebam yang muncul di kakimu. Tunggu sebentar, aku akan memberitahukan hal ini kepada kakakmu." Seroja hendak beranjak, namun gadis itu segera mencegahnya.
" Jangan, nanti saja jika kakak sudah tidak begitu sibuk. Dia adalah ketua panitia, aku tak mau gara-gara aku dirinya melupakan tanggung jawabnya." cegah Aulia.
Tak berselang lama, Arzelpun masuk ke dalam tenda secara tiba-tiba hingga membuat keduanya terkejut.
" Kau ini,, datang tanpa permisi. Bagaimana kalau Aulia sedang berganti pakaian? Tidak sopan. " ketus Seroja kesal.
" Aku kesini untuk memastikan keadaannya. Dia bilang semalam kakinya hanya terluka sedikit, tapi kuperhatikan dia tidak keluar sama sekali dari tenda." jelas Arzel tak terima.
Seketika dirinya menatap gadis yang begitu ia cemaskan, " Bagaimana dengan lukamu. Apa sekarang sudah lebih baik?"
Aulia menutupi luka dikakinya dengan selimut. Ia sungkan jika harus menimbulkan kepanikan orang lain.
" A,,aku tidak apa-apa. Itu hanya luka kecil saja. Kau tak perlu khawatir." jawabnya sedikit gugup. Hampir saja Seroja menegurnya, namun gadis itu memberi kode supaya dirinya tutup mulut.
Akan tetapi, bukan Arzel namanya jika hanya tinggal diam, sontak pria itu membuka selimut yang menutupi kaki Aulia.
" Ini yang kau bilang baik-baik saja? " ungkapnya kecewa. Dirinya semakin khawatir dengan luka yang dialami gadia tersebut.
" Kita kembali saja ke kota. Aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat." ajaknya pada Aulia.
Dengan spontan gadis itu menolaknya.
" Tidak. Kegiatan ini adalah acara yang diselenggarakan kampus, kita tidak bisa pergi begitu saja tanpa seizin panitia."
" Baiklah. Aku akan meminta izin pada panitia dulu sebelum membawamu pergi." pria itupun berlalu dari tenda Aulia.
__ADS_1
Seroja menunggui gadis itu sembari memperhatikan kepergian Arzel.
" Arzel terlihat begitu perhatian denganmu. Aku sangat setuju jika kau berpasangan dengannya." ia mencoba memancing sahabatnya.
Aulia memberengkut kesal mendengar penuturan Seroja. Ia menganggap ucapan wanita itu hanyalah sekedar gurauan saja.
" Kau ini, aku sedang tidak ingin bercanda. Apa kau tak melihat kakiku benar-benar nyeri saat ini."
Seroja membuang nafasnya kasar,
" Tadi saat ditanya Arzel katanya kau baik-baik saja. Tapi giliran pria itu pergi, kau bilang kakimu terasa nyeri sekali. " sindirnya pada Aulia sambil mencebikkan bibirnya.
Tiba-tiba salah seorang mahasiswa memanggil Seroja untuk mengikuti kegiatan berikutnya. Wanita itu merasa berat harus meninggalkan sahabatnya seorang diri.
" Apa kau tidak apa-apa ku tinggal sendiri?" ungkapnya cemas sekaligus tak enak hati.
Aulia tersenyum, ia sama sekali tak ingin merepotkan sahabatnya.
" Iya,, cepat pergi sana. Sebentar lagi Arzel juga pasti kembali kesini. "
Dengan terpaksa, akhirnya Seroja pergi meninggalkan Aulia di tendanya.
...----------------...
" Bisakah aku berbicara sebentar denganmu?" ia menepuk punggung Arkana dari belakang, pemuda itupun langsung berbalik dan menyuruh salah satu rekannya untuk menggantikannya.
" Ada apa? " Arkana mengernyitkan dahinya. Dari raut wajah Arzel nampak pria itu sedang begitu cemas saat ini.
" Aulia terluka, kakinya bengkak dan lebam akibat terjatuh semalam. Aku berniat untuk membawanya ke kota dan memeriksakan keadaannya." ungkapnya cemas.
Seketika raut wajah Arkana menjadi panik. Bagaimanapun Aulia adalah merupakan tanggung jawabnya sebagai kakak. Tanpa basa-basi pria itu mendatangi tenda Aulia untuk memastikan keadaannya. Arzelpun mengikuti Arkana dari belakang.
Pria itu terperanjat saat melihat kaki Aulia yang bengkak dan mengeluarkan ruam biru.
" Bagaimana ini bisa terjadi? Ayo, kakak akan memeriksakanmu ke klinik terdekat dari sini. " Pria itu nampak panik, ia berniat menggendong sang adik di belakang punggungnya. Uliapun terpaksa mengikuti perintah kakaknya.v
" Sebaiknya aku saja yang membawanya, kau pasti sangat dibutuhkan disini. Aku akan mengantarnya pulang ke mansion setelahnya." cegah Arzel mencoba menawarkan diri. Ia ikut panik jika tak memastikan keselamatan Aulia dengan mata kepalanya sendiri.
" Tidak. Aku bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan adikku. Lebih baik kau segera mengikuti kegiatan di depan. Oh ya, satu lagi. Tolong sampaikan hal ini pada Seroja. Aku takut dia cemas mencari keberadaanku.
Dengan terpaksa ia mengikuti kemauan Arkana, dirinya tak tega melihat gadis itu terus-terusan menahan sakit.
__ADS_1
...----------------...
Menjelang malam, Seroja akhirnya menyelesaikan semua kegiatan yang harus ikutinya. Wanita itu menghela nafas panjang, ternyata lelah juga mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan alam.
Dirinya menatap sekeliling, rasanya ia sangat rindu dengan Arkana yang tak terlihat seharian. Meskipun terkadang suaminya itu menjengkelkan, tetapi rasanya iapun tak kuat berlama-lama jauh dari sang suami.
Salah seorang mahasiswa menghampirinya,
" Seroja, tadi Arkana berpesan agar kau menyusulnya untuk mencari kayu bakar dihutan. Ia tadi pergi ke arah sana. "
Seroja mengamati arah yang ditunjukkan pemuda itu. Dirinya heran lantaran seharusnya pria itu menunggunya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam hutan. Jika begini, terpaksa ia harus menemukan keberadaan Arkana di saat hari sudah mulai gelap.
" Semoga saja dia belum jauh." dirinya bertekad menerobos gelapnya hutan seorang diri.
...----------------...
Arkana telah selesai memeriksakan luka di kaki Aulia. Pemuda itu lega sebab menurut Dokter tidak ada luka serius di kaki adiknya. Bengkak dan lebam tersebut dikarenakan lukanya yang tidak segera diobati.
Iapun segera kembali setelah memulangkan adiknya terlebih dahulu ke mansion orang tuanya. Di jalan tadi, ia membeli berbagai cemilan, dirinya berharap dengan itu ia bisa merayu istrinya agar mau membantunya berjuang keras untuk mendapatkan seorang Arkana junior nantinya.
Pemuda itu kembali ke tenda, sang istri ternyata tidak sedang berada disana. Dirinya semakin cemas sebab setelah dicari-cari ia tak menemukan keberadaan wanita itu.
" Kemana dia?"
Dirinya teringat Arzel, tadi sore ia telah berpesan pada pemuda itu untuk menyampaikan kepergiannya pada Seroja. Iapun sekalian mencari dimana pemuda itu berada.
" Hei,, dimana Seroja? Apa kau sudah menyampaikan pesanku tadi? " tanyanya panik.
" Akupun sedang mencarinya. Tadi aku diminta untuk mengikuti perlombaan setelah kepergianmu. Jadi aku berniat mengatakannya setelahnya. Tapi, sampai sekarang aku belum bertemu dengannya."
Arkana mengusap wajah kasar, ia benar-benar khawatir dengan keselamatan sang istri. Keduanyapun kembali mencari sembari bertanya pada mahasiswa yang lain barangkali melihatnya.
" Aku tadi melihatnya berjalan masuk ke hutan sana. " tunjuk salah satu mahasiswa yang kebetulan melihatnya.
Arkana semakin gelisah, tanpa berpikir panjang pria itu ikut masuk ke dalam hutan.
" Semoga tidak terjadi apa-apa padanya."
Bersambung...
Makasih buat teman-teman yang setia memberikan dukungan. Maaf belum bisa membalas koment kalian satu persatu karena author sangat sibuk di dunia nyata. Makasih sekali lagi🤗
__ADS_1