
Seroja mulai beringsut dari atas ranjangnya setelah pergumulan panjang dengan sang suami semalam. Tangan Arkana yang terluka nyatanya tak menyurutkan hasrat pria itu untuk segera mengakhiri percintaannya.
" Kau mau kemana? " tanya Arkana saat menyadari pergerakan dari atas ranjangnya. Pria itu melirik jam dinding yang menempel sempurna di tembok kamarnya. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, ia menarik tubuh polos sang istri agar tak menjauh darinya.
" Aku mau ke kamar mandi sebentar." jawab Seroja yang posisinya memunggungi Arkana saat ini. Dirinya sangat malu lantaran belum memakai pakaiannya. Diraihnya kembali selimut yang menutupi tubuhnya barusan.
Arkana membuka matanya perlahan. Ia mengusap-usap punggung wanita itu dengan bibirnya dan meninggalkan beberapa kecupan disana. Pria itu tersenyum sembari memperhatikan tanda tahi lalat kecil yang ada dipunggung istrinya.
" Terima kasih untuk semalam." ia kembali mengecup bagian itu, lalu merengkuh tubuh sang istri untuk memberikan kehangatan.
" Katakan, apa kau tidak akan bosan seperti ini denganku?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut istrinya. Ada rasa khawatir dalam diri Seroja jika suatu saat pria itu akan mencampakkannya jika ia sudah mulai bosan kepadanya. Bagaimana tidak? Pria itu hampir setiap hari meminta jatahnya setelah mereka resmi saling menyatakan cinta hampir dua bulan yang lalu.
Arkana mempererat pelukannya,
" Aku tidak akan pernah bosan, justru kau seolah menjadi candu untukku. Kepolosanmu, ketulusanmu dan semua sifat-sifatmu aku suka. Semakin hari rasa ini seolah terpupuk subur di dalam sanubariku. " pria itu kembali menghujaninya dengan kecupan.
" Bagaimana jika suatu hari aku berubah dan menjadi orang yang berbeda?" tanya Seroja spontan.
" Aku mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu bagaimanapun dirimu nanti." Arkana semakin mendekapnya lantaran gemas.
Seroja terkekeh mendengarnya, namun ia berusaha melonggarkan tangan sang suami yang melilit erat di pinggangnya.
" Hentikan. Kau membuatku kesulitan bernafas. Aku mau ke kamar mandi dulu."
Arkana mengembangkan senyumnya,
" Cium aku dulu, baru aku mau melepaskanmu."
Serojapun berbalik dan tersenyum kearahnya.
" Aku sangat mencintaimu, Arkana Nuraz Aryasatya Pramudya."
Ciuman hangat kembali ia daratkan di bibir suaminya. Sedikit luma**n membuat keduanya semakin bergairah untuk menye**pi satu sama lain. Seroja segera melepaskan tautan bibir mereka supaya tidak membangunkan sisi lain dari suaminya.
__ADS_1
" Aku mau ke kamar mandi. Jangan coba merayuku lagi. "
Wanita itu membalut tubuhnya dengan selimut dan berlari ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya. Senyum tak henti-hentinya terukir di wajah Seroja. Ia seolah menjadi wanita paling bahagia didunia ini lantaran memiliki suami yang begitu mencintainya.
...----------------...
Tiga hari setelah kejadian kemarin, kedua sejoli itu kembali beraktifitas seperti biasanya. Arkana kembali bekerja, sedangkan Seroja akan kembali berkuliah ke kampus. Wanita itu membantu sang suami memasangkan dasi kemejanya.
" Rencananya aku akan ke kantor polisi setelah mengantarmu nanti. Aku ingin tahu bagaimana hasil penyelidikan mereka. Apa mereka memang sengaja mengincarmu atau memang mereka penjahat yang sering melakukan aksi kejahatan disana. Tapi, aku harap semoga ini hanyalah kebetulan saja karena aku telah lalai menjagamu."
Seroja tersenyum tipis,
" Akupun berharap demikian. Rasa-rasanya aku tidak memiliki musuh selama ini. Kemungkinan mereka hanya perampok yang sengaja mencari mangsa."
Keduanya segera berangkat setelahnya. Arkana langsung ke kantor polisi untuk menanyakan hasil penyelidikan mereka. Ia sudah tak sabar untuk mengungkapkan kebenarannya. Rasanya ia begitu geram saat mengingat penjahat itu hampir membunuh istrinya jika saja dirinya tidak segera datang.
Polisi memberikan laporan hasil penyelidikannya.
" Tuan, setelah kami menyelidiki kasus kemarin. Ternyata di daerah tersebut belum pernah terjadi kasus seperti ini sebelumnya. Kemungkinan besar, penjahat itu sudah mengincar istri anda." jelas salah satu staff kepolisian.
Arkana menyimak dengan baik apa yang disampaikan polisi tersebut. Dirinya tak menyangka ada yang berani mengincar nyawa istrinya. Ia teringat kembali dengan juragan Jarot, namun setahunya pria itu telah bertaubat.
" Siapa yang berani melakukan hal ini pada istriku? Apa mungkin dia? " Arkana hampir tidak percaya akan hal itu.
Pria itu segera pergi dari sana dan berangkat ke kantornya sebab siang ini dirinya ada janji meeting bersama klien.
Setibanya di kantor, dirinya tak menyangka bertemu lagi dengan wanita yang dicurigainya. Siapa lagi kalau bukan Aluna, wanita itu telah berada di loby kantor. Ia sudah tak sabar mendengar berita buruk dari Arkana.
Dirinya yakin, orang suruhan Glen pasti berhasil melakukan tugasnya. Mereka sudah sangat berpengalaman melenyapkan nyawa seseorang, apalagi ini hanyalah nyawa seorang wanita.
Ia segera menghampiri pria itu yang baru saja terlihat keluar dari mobilnya. Arkana hanya melirik sepintas ke arahnya dan berpura-pura acuh terhadapnya. Dari raut wajah pria itu yang masam, sepertinya memang ada hal buruk yang menimpnya.
Aluna tertawa dalam hati, namun memasang tampang memelas di hadapan mantan kekasihnya.
" Arkana tunggu. Aku kesini hanya ingin meminta maaf denganmu. Waktu itu diriki masih emosi dan belum bisa menerima kenyataan bahwa kau telah dimiliki Seroja. Aku benar-benar menyesali perbuatanku. "
__ADS_1
Wanita itu mengeluarkan air mata buayanya untuk mengelabuhi Arkana. Ia berharap dengan tidak adanya Seroja, dirinya akan bisa mengambil simpati sang mantan kembali.
" Seharusnya kau minta maaf padanya, bukan padaku. " jawab pria itu tegas.
Aluna mematung tak mengerti,
" Apa maksud Arkana barusan? Apa jangan- jangan wanita sialan itu masih hidup. Kurang ajar! " batinnya kesal.
Ia kembali fokus pada Arkana dan berpura-pura seolah tak tahu apa-apa.
" Nanti aku akan minta maaf padanya, tap aku juga harus meminta maaf padamu karena telah membuatmu marah waktu itu."
Aaarrghhhh..
Aluna terkejut mendengar pria itu merintih saat ia memegang tangannya untuk meminta maaf.
" Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau sedang terluka. Apa yang terjadi padamu? " dirinya memang benar-benar tak sengaja sebab tangan Arkan tertutup jas panjang.
Arkana menatap tajam ke arahnya,
" Kemarin ada yang mencoba menyewa pembunuh bayaran untuk memcelakai istriku. Untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak? Mungkin nyawanya sudah melayang saat ini. " jelas Arkana penuh penekanan.
Aluna terhenyak, ternyata wanita itu masih bisa selamat. Ia merasa gentar saat Arkana menatapnya setajam elang.
" Aku peringatkan dirimu sekali lagi. Jika kau sampai terlibat masalah ini, aku akan membuatmu membusuk di penjara !" ancamnya penuh amarah.
Air mata Aluna kembali menganak pinak, wanita tersebut sungguh pandai berakting.
" Tega-teganya kau menuduhku seperti itu! Apa kau tak tahu? Perusahaan Papaku hampir bangkrut dan karierku sudah menurun sekarang. Uang dari mana sampai aku bisa menyewa
pembunuh bayaran seperti yang kau tuduhkan. Kau benar-benar jahat! " gadis itu berlari dengan berlinang air mata meninggalkan Arkana.
Pemuda itu mematung, ada rasa bersalah dalam dirinya. Akan tetapi, dirinya bingung siapa lagi yang tega mencelakai istrinya jika bukan Aluna?
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗