
Seroja mencari keberadaan Arkana, ternyata pria itu itu telah kembali ke tempat pertama ia mengantarkan gadis tersebut. Dirinya memang memutuskan untuk menunggu saja sambil bermain game didalam mobilnya.
Arkana begitu terkejut saat Seroja menggebrak cukup keras kaca mobilnya. Wanita itu sepertinya terlihat sangat kesal. Ia membuka kunci mobil dan menurunkan sebagian kaca mobilnya.
" Ayo masuk. " pintanya tanpa memandang lawan bicaranya. Ia enggan berhadapan dengan gadis yang selalu berubah-ubah tempramennya.
" Cepat turun ! " bentak Seroja padanya.
Ckckck...
Pria itu mendengus kesal, firasat kurang baik dapat ia rasakan kali ini. Dengan terpaksa ia turun dari mobil dan menghampiri gadis itu.
" Ada apa? " tanyanya malas.
Emosi Seroja semakin menggebu- gebu saat melihat Arkana didepannya.
Duugghhh...
Gadis itu langsung melayangkan sebuah bogem mentah ke wajah Arkana. Pria itu mengusap bercak darah yang tersisa di sudut bibirnya. Kini dirinyapun ikut terbakar emosi atas apa yang dilakukan gadis itu padanya.
" Kau sudah gila ya? Bisa-bisanya memukul orang tanpa alasan yang jelas." ucapnya berapi-api.
Gadis itu justru semakin menjadi-jadi, kalau saja dirinya tidak memakai pakaian feminim saat ini, pasti ia bisa menghajar pria itu habis-habisan. Ia melayangkan beberapa pukulan, tapi dengan mudah pria itu menangkisnya.
Pria itu segera mengunci kedua tangan Seroja. Ia mendorong gadis itu kedalam mobilnya sebab sedari tadi orang yang berlalu lalang ikut memperhatikan pertengkaran keduanya.
Gadis itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
" Lepaskan aku, breng**k ! " umpatnya pada Arkana.
Pria itu enggan mendengarkan ocehan Seroja, setelah gadis itu agak tenang baru ia melepaskannya. Ia segera mengunci pintu mobil dan melajukannya meninggalkan tempat tersebut.
Wajah Seroja kini berubah sendu, tiba-tiba airmatanya meluncur begitu saja membasahi kedua pipinya.
Arkana memperhatikan gadis disampingnya, meskipun kesal ia tetap tak tega melihat wanita menangis di hadapannya.
" Kau kenapa? Apa pria itu menolakmu? " tanyanya halus.
Sorot mata Seroja kini menatap tajam kearah Arkana,
" Turunkan aku disini. Aku tidak sudi pulang bersamamu! Hiks..Hiks.." kini gadis itu menangis kembali.
Arkana menggaruk kasar tengkuknya, ia bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya pada gadis itu.
Ia mengamati sisi jalan, dirinya teringat didaerah sana ada sebuah danau kecil. Mungkin gadis itu akan sedikit terhibur karenanya.
Arkana menepikan mobilnya di tepi danau buatan yang terlihat tenang dan asri sebab belum banyak pengunjung yang mengetahui tempat tersebut.
Seroja mengamati sekitar, sedari tadi dirinya sibuk menangis hingga ia tak sadar pria itu membawanya kemana. Dirinya merasa asing dengan tempat itu.
" Turun ! " ucap pria itu datar.
" Kau membawaku kemana? Kenapa kau membawaku kesini? Kau sengaja ingin membuangku bukan! " bentak Seroja kembali.
" Bukankah kau yang meminta untuk turun barusan? Sekarang cepat turun!" balas Arkana.
Tanpa berpikir panjang, Serojapun turun dari sana. Air matanya masih saja tak kunjung berhenti, sepanjang jalan gadis itu menggerutu terus-terusan.
" Dasar buaya darat, aku pasti akan membalasmu. "
Arkana mengikuti Seroja dari belakang, ia tak tega membiarkan gadis itu seorang diri dengan keadaan seperti itu.
" Hei, kau mau kemana? Kau akan tersesat dihutan jika berjalan kearah sana. " teriaknya memperingatkan gadis itu.
Seroja membalikkan badan, netranya menatap penuh kebencian kepada pria itu.
" Untuk apa kau mengikutiku? Kau tak perlu berpura-pura baik padaku. Dasar buaya darat! " ia kembali berjalan tanpa memperdulikan Arkana.
Pria itu berlari secepat mungkin untuk mengejar gadis tersebut. Ia menarik lengan Seroja untuk menghentikannya.
" Jangan menyentuhku! Aku benci padamu! " amarahnya semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
" Sebenarnya ada apa? Memangnya apa salahku sampai kau begitu membenciku? Bukankah aku telah membantumu untuk bisa berkencan dengan pria itu? " Arkana kebingungan lantaran tidak ada angin, tidak ada hujan, Seroja tiba-tiba mengamuk padanya.
Gadis itu terdiam beberapa saat, netranya masih menatap tajam pada Arkana seolah menuntut penjelasan.
" Katakan dengan jujur! Apa yang kau lakukan padaku saat aku tenggelam di kolam waktu itu?"
Arkana terkejut, ia tak menyangka gadis itu bisa mengingat kejadian sewaktu dirinya tenggelam. Pasti kini Seroja tahu bahwa ia telah memberikan nafas buatan untuknya. Arkana bingung harus menjawab apa, ia khawatir Seroja akan semakin mengamuk padanya.
" A,, aku? " rasanya sulit baginya untuk jujur.
" Kenapa? Apa kau takut mengakuinya? Dasar buaya darat, berani-beraninya kau menciumku didepan orang banyak !" Seroja kembali memukuli pria itu, kali ini Arkana tidak ingin menghindar.
" Pukul saja aku! Memangnya kau pikir aku tidak terpaksa melakukannya? Saat itu aku bingung, diriku telah melakukan berbagai cara untuk menolongmu, tapi kau tetap tidak sadarkan diri. Dengan terpaksa aku memberikan nafas buatan padamu." Arkana mencoba memberi penjelasan padanya.
" Kau jahat! Aku benci padamu. Kau telah merampas ciuman pertamaku." gadis itu terus memukuli Arkana.
Setelah energinya terkuras cukup banyak, ia berangsur-angsur mulai tenang. Iapun sebenarnya tahu cara seperti itu memang biasa dilakukan pada orang yang tenggelam.
Tapi, rasanya ia belum bisa terima dicium oleh pria lain. Ia ingin ciuman pertamanya dipersembahkan hanya untuk pria yang ia cintai. Tubuhnya terasa lunglai tanpa daya, ia menjatuhkan dirinya ke tanah dengan airmata yang masih membasahi pipinya.
Arkana tidak berputus asa, ia kembali mendekati gadis itu untuk menenangkannya.
" Kau tenangkanlah dirimu terlebih dahulu. Sebelumnya aku minta maaf, aku tidak pernah berniat melecehkanmu. Ini semua murni karena keadaan. Kau boleh memukulku atau melakukan apa saja yang kau mau, asal kau mau memaafkanku."
Seroja hanya terdiam tanpa menjawab, ia berjalan menuju danau dan duduk dibangku yang ada ada di tepi danau tersebut. Airmatanya tak kunjung surut, ia menatap seluas mata memandang danau yang terhampar dihadapannya.
Arkana mengikuti gadis itu, pria itu berdiri dihadapannya. Ia memberikan sapu tangan yang tersimpan disakunya agar gadis itu membersihkan air matanya.
" Ini ambillah. "
Seroja menatap sendu pria tersebut, dari sorot matanya terlihat sepertinya Arkana memang benar-benar menyesali perbuatannya.
Dengan ragu ia mengambil sapu tangan itu dari Arkana, kemudian menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Seutas senyum nan tipis terukir di wajah tampan Arkana, gadis itu sudah mulai tenang saat ini. Ia pun duduk di sebelah Seroja dengan membuat sedikit jarak dengan gadis itu.
" Itu sapu tangan dari Mamaku. Dulu semasa kecil aku sangat cengeng dan manja. Mama memakai sapu tangan itu untuk membersihkan air mataku." Arkana mengenang masa kecilnya.
" Aku sangat menyayangi Mama. Iapun selalu berpesan padaku untuk selalu menghormati dan menghargai seorang wanita. Sejak aku remaja, Mamapun selalu memperingatkanku supaya aku tidak mempermainkan wanita. Jika aku melukai wanita berarti aku juga telah melukai Mama. Jika aku mencintai seseorang maka akupun harus menjaganya seperti permata yang berharga dan memetiknya saat waktunya tiba."
Seroja yang tadinya terdiam, kini iapun ikut protes saat mendengar cerita Arkana. Ia tersenyum sinis menanggapi ucapannya.
" Menghargai dan menghormati wanita kau bilang? Dengan memacari banyak gadis dan mengambil kesempatan dari mereka. Begitukah? " sindir Seroja.
Arkana tersenyum menanggapi sindiran gadis itu, ia sadar selama ini kelakuannya memang kurang baik.
" Aku juga manusia biasa. Tapi aku pria yang berprinsip, aku tidak akan melecehkan apalagi mengambil kehormatan wanita sebelum kami memiliki ikatan yang pasti. Aku lebih senang sering berganti- ganti pacar, itu lebih baik menurutku daripada berpacaran lama yang cenderung membawa kita untuk melakukan hal-hal diluar batas. "
" Bagaimana dengan cinta pertamamu itu, bukankah kau juga lama berpacaran dengannya?" sanggah Seroja.
" Dia adalah pengecualian, aku benar- benar menyukainya dan aku berniat serius dengannya. Rencananya setelah kelulusan nanti, aku akan menyusulnya kesana dan aku juga ingin melamarnya. Dia adalah cinta pertama dan akan menjadi pelabuhan terakhir bagiku. " jelas Arkana. Dari cara bicara lelaki itu, sepertinya ia memang jujur dengan apa yang ia ucapkan.
Seroja tiba- tiba menangis saat Arkana menceritakan tentang kekasihnya. Ia jadi teringat pada Ardi yang juga akan pergi jauh darinya.
Arkana kembali terkejut melihat gadis itu menangis lagi.
" Hei, kau kenapa lagi? Bukankah aku sudah benar-benar menyesali perbuatanku? " ungkapnya khawatir.
Tangis Seroja malah menjadi-jadi, gadis itu justru menangis tambah kencang. Arkana hampir angkat tangan menghadapinya, ia seperti mengasuh anak kecil yang sedang merengek.
" Kak Ardiii !!Hiks..hiks.." ia menghapus air mata dan dari hidungnya dengan sapu tangan milik Arkana. Pria itu agak jijik melihatnya, apalagi itu adalah sapu tangan kesayangannya.
" Sudah, tenanglah. Apa pria itu menolakmu? Kau tenang saja, aku akan membantumu untuk bisa mendapatkannya." Arkana mengusap-usap bahu gadis itu untuk menenangkannya.
" Kak Ardi akan melanjutkan studinya ke Australia. Sebentar lagi kami akan berpisah. Hiks..Hiks. " ia kembali membersihkan air dari pipi dan hidungnya.
Arkana membuang nafas kasar, " Jadi karena itu kau sampai menangis seperti ini? Harusnya kau senang, pria itu sedang menata masa depan yang cerah untukmu nanti. " nasehat Arkana.
" Iya, tapi rasanya sungguh tidak adil. Kami sudah sekian lama memendam perasaan, tapi baru saja kami jadian kamipun harus berpisah sebentar lagi. " Seroja belum bisa menerima kenyataan yang ada.
" Kau harus bersabar. Yang terpenting kalian saling menjaga dan percaya satu sama lain. Aku rasa dia itu pria yang baik." Arkana menyemangati gadis itu.
__ADS_1
" Terima kasih. Maaf atas sikapku tadi, ini aku kembalikan sapu tanganmu." Seroja menyodorkan sapu tangan itu pada pemiliknya, namun Arkana justru menyengir melihatnya.
" Simpan untukmu saja. Ingat pesanku saat kau melihat sapu tangan ini. Jangan cengeng dan jadilah gadis yang kuat. " pria itu mengusap puncak kepala Seroja.
" Baiklah asal kau berjanji padaku bahwa kau tidak akan berbuat seperti itu lagi kepadaku dan juga pada gadis lain. Janji sahabat ? " gadis itu menjentikan jari kelingkingnya.
Arkana terkekeh melihat kelakuannya, lagi dan lagi ia merasa Seroja tak ubahnya seperti adik kecilnya, Killa yang sangat manja padanya. Iapun menautkan jari kelingkingnya pada gadis tersebut.
" Janji. "
Keduanya berniat pergi darisana. Seroja begitu bersemangat, sepertinya mood gadis itu kembali membaik. Ia berlari menuju mobil yang cukup jauh dari sana.
Arkana berlari menyusul Seroja, ia senang gadis itu telah kembali seperti sedia kala. Seroja yang melihat Arkana mengejarnya langsung berbalik dan mengejek pria itu.
" Kejar aku kalau bisa !! " ia menjulurkan lidahnya seraya meledek Arkana. Namun, dirinya tidak menyadari ada batu di depannya.
*Bruughhh...
Auwww*...
Seroja terjatuh dan merintih kesakitan, lututnya berdarah karena bergesekan dengan aspal.
Arkana kaget melihat apa yang terjadi pada gadis itu, ia segera berlari untuk menolong.
" Kau tidak apa-apa? Lututmu berdarah, kau ini ceroboh sekali. " ia membersihkan kotoran yang menempel di sekitar lutut Seroja.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya,
" Ini semua gara-gara kau. Kau pasti menyumpahiku supaya terjatuh bukan? " ucapnya asal.
Arkana mendengus kesal, " Kenapa kau selalu berpikiran buruk tentangku? Bukankah aku sudah berbuat baik padamu. " pria itu sampai geleng- geleng kepala.
Seroja tersenyum, sebenarnya ia hanya bercanda. Ia sengaja ingin memancing emosi Arkana.
" Kalau begitu bantu aku berdiri. " pintanya manja.
Arkana membantunya untuk berdiri, namun tiba- tiba gadis itu mendorongnya pelan. Ia tak ingin dibantu berjalan karena khawatir Arkana mengambil kesempatan.
Pria itu sebenarnya tak tega, tapi mereka baru saja akur, ia tak mau Seroja mengamuk lagi padanya. Ia berjalan pelan didepan gadis itu, sambil sesekali melirik ke belakang.
Seroja mencoba berjalan sendiri, tapi kakinya terasa nyeri saat ini. Ia berjalan perlahan sambil menahan rasa nyeri di kakinya. Ingin rasanya ia meminta tolong pada Arkana, tapi ia gengsi karena telah menolak bantuannya tadi.
Arkana berhenti saat melihat gadis itu tertinggal jauh darinya, iapun kembali menghampiri Seroja. Tanpa banyak bicara, ia menaruh sebelah tangan Seroja dipundaknya sambil memegangi pinggang gadis itu untuk membantunya berjalan.
Seroja tidak melawan kali ini, jujur iapun memang tak sanggup berjalan sendiri. Keduanya tak banyak bicara, sesekali Seroja mencuri pandang pada pria itu, menurutnya Arkana terlihat begitu tampan bila sedang serius seperti itu.
" Astagfirulloh hal adzim,, apa yang kupikirkan barusan. Bukankah aku telah memiliki kekasih sekarang. " tanpa sadar ia memukul kepalanya yang sedang tidak waras menurutnya saat ini.
" Kau kenapa? " Seroja tidak sadar pria iti memperhatikannya sedari tadi.
" Ti,, tidak. Mungkin kepalaku agak pusing gara-gara terjatuh tadi. " jawabnya gugup.
" Kau ini ada-ada saja. " Arkana menyeringai menanggapi jawaban gadis itu. Iapun membawa Seroja menuju mobilnya.
Ia membantu Seroja duduk di kursi mobil, lalu pria itu mengambil air putih botol dan kotak P3K yang ada dimobilnya.
" Kau mau apa? " tanya Seroja seketika saat pria itu kembali menyentuh lututnya.
" Lukamu ini harus cepat dibersihkan supaya tidak sampai infeksi." Arkana dengan telaten membersihkan dan mengobati luka yang ada dilutut Seroja.
Gadis itu memperhatikan pria yang sedang sibuk membersihkan lukanya. Hatinya menghangat saat mendapatkan perlakuan manis dari Arkana. Ternyata pria itu tak seburuk yang ia pikirkan selama ini.
" Terima kasih. Maaf atas perlakuanku tadi." Seroja menyesali apa yang telah dilakukannya.
" Sama-sama. Itulah gunanya sahabat. " Keduanya saling melempar senyuman.
Setelah selesai mengobati Seroja, Arkana segera melajukan mobilnya mansion. Ia tak ingin membuat Mamanya cemas karena pulang terlalu larut.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk tetap berkarya. Makasih sebelumnya..
__ADS_1