
Semalaman Seroja tak bisa tidur, perasaan bimbang, ragu, gelisah dan juga senang bercampur aduk didalam hatinya.
Yah,,menikah bukanlah sesuatu yang main-main. Apalagi nikah kontrak? Apa itu bisa dibenarkan? Akan tetapi, ketika ia mengingat apa yang telah dilakukan teman-temannya, sikap Ardi yang jadi acuh padanya serta Helena yang tertawa diatas penderitaannya. Hal itu seolah menjadi alasan kuat baginya untuk membalas sakit hatinya pada mereka.
Terbersit niat dihatinya untuk membuat beberapa syarat agar jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan kedepannya. Meskipun Arkana sekarang baik padanya, belum tentu ia akan tetap seperti itu kedepannya.
Beberapa coretan tinta telah ia susun diatas kertas putih miliknya. Gadis itu tersenyum seorang diri.
" Besok aku harus menyerahkan ini padanya. Dia harus menyetujui semua syarat dariku."
...----------------...
Keesokan harinya, Arkana mengajak Seroja ke kantor polisi untuk membuat laporan tentang bukti-bukti kejahatan Helena dan Papanya. Seroja begitu bersemangat, ia ingin kasus ini cepat selesai agar nama baiknya kembali dan dapat memberikan hukuman setimpal pada Helena serta Papanya.
Mereka segera pergi dari sana setelahnya, namun hari ini keduanya terpaksa membolos kuliah. Seroja masih enggan berkuliah sebelum nama baiknya pulih. Sedangkan Arkana, ia lebih bersemangat lagi sebab ada temannya membolos haru ini.
" Aku tidak sabar ingin melihat reaksi gadis licik itu saat polisi menangkapnya. " ungkap Seroja bersemangat.
Arkana tersenyum menanggapi apa yang baru saja Seroja sampaikan.
" Aku yakin gadis itu pasti akan menyesali perbuatannya. Itulah akibatnya jika dia berani bermain-main dengan keluarga Pramudya. "
Keduanya saling melempar senyum, sedikit demi sedikit masalah mereka mulai terpecahkan. Pria itu melajukan mobilnya menuju salah satu cafe ternama di ibukota.
Keduanya masuk dan duduk di salah satu meja yang ada disudut cafe.
" Kau tahu saja kalau aku sedang lapar, ayo cepat kita pesan makanannya. " ucap gadis itu sambil mengelus-elus perutnya.
" Ceck..kau ini tahunya hanya makan saja." keluh Arkana heran. Pemuda itu segera memanggil salah satu pelayan untuk memesan makanan dan minumannya.
Seroja begitu bersemangat, ia memperhatikan Arkana yang terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Pemuda itu mengeluarkan sebuah map dan memberikannya kepada Seroja.
" Apa ini? gadis itu memperhatikan map yang ada ditangannya.
" Buka saja kau akan tahu apa isinya." jawab Arkana malas.
Seroja membelalak saat mengetahui isi map tersebut. Disana terlampir beberapa lembar kertas yang berisi perjanjian pra nikah, peraturan selama menikah dan pertanggung jawaban Arkana setelah bercerai dengan dirinya.
Surat itu telah tertulis hitam diatas putih dengan dibubuhi tanda tangan dan materai oleh Arkana sebagai pihak pertama. Ternyata pria itu telah mempersiapkan lebih detail daripada apa yang disusunnya semalam.
__ADS_1
" Kenapa disini isinya hampir semuanya tugas dan kewajibanku? Ini rasanya tidak adil, bukankah seharusnya kita memiliki hak dan kewajiban yang sama? " protes Seroja.
Disana tertulis bahwa dirinya harus menjaga tutur kata, tingkah laku, harkat, martabat sebagai seorang Nyonya Pramudya. Menjaga nama baik keluarga, patuh pada suami, menjalankan kewajiban sebagai seorang istri terkecuali hubungan suami istri.
" Kau tidak membaca bab yang terakhir, aku masih akan memberikan santunan untukmu sebesar 10milliar asal kau bisa menjalankan tugas-tugasmu dengan baik selama setahun. Anggap saja kau bekerja padaku, kurasa uang sebanyak itu lebih dari cukup untukmu membeli rumah dan sebagai modal usaha. "
Seroja mencebikkan bibirnya, tapi benar juga kata Arkana. Masih untung pria itu berbaik hati memberikan imbalan untuknya. Ia berharap suatu saat nanti bisa memiliki rumah untuk kedua orang tuanya dan memiliki usaha sendiri. Tidak mungkin dirinya harus bergantung dengan keluarga Pramudya atas dasar balas budi selama-lamanya.
" Baiklah. Tapi, akupun mengajukan satu syarat untukmu. Aku tidak ingin ada orang ketiga selama pernikahan kita. " tegas Seroja.
Arkana terhenyak saat mendengar permintaan gadis itu. Meskipun dirinya tidak akan mempermainkan perempuan kembali, tapi cintanya masih sama, hanya untuk Aluna. Pria itu hendak melayangkan protes, tapi Seroja segera menyelanya.
" Tidak juga dengan kekasihmu, Aluna. " tegasnya seolah dirinya tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu.
" Aku hanya meminta waktu setahun. Aku tidak ingin rumah tangga kita sampai diterpa gosip karena adanya orang ketiga. Setelah bercerai, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu dan kau berhak bersama dengan wanita mana saja yang kau mau." lanjutnya menegaskan.
Arkana tampak berpikir, bagaimana jika Aluna tahu dirinya telah menikah? Apa dia akan percaya begitu saja jika pernikahannya hanyalah pura-pura?
" Tapi, aku minta kau tetap mengizinkanku berhubungan dengannya lewat dunia maya atau jika aku sendiri yang menemuinya di luar negeri. Aku mohon padamu, aku tak mungkin mencampakkannya begitu saja selama setahun. Aku akan mengunjunginya dan mencegahnya datang ke negara ini. " pinta Arkana.
Seroja menghela nafas panjang, sulit sekali baginya untuk menerima permintaan Arkana lantaran hal tersebut sangatlah beresiko. Akan tetapi, rasanya iapun tak tega melihat pria itu memelas kepadanya.
...----------------...
Malam menjelang, Arkana dan Seroja meminta waktu pada seluruh anggota keluarga untuk berkumpul di ruang keluarga.
Alvin dan Bianca penasaran dengan apa yang ingin disampaikan keduanya. Begitupun dengan Bu Eneng dan Intan, mereka merasa janggal sebab tidak biasanya mereka dikumpulkan seperti sekarang. Bahkan para pelayan dan penjaga mansion juga diajak berkumpul bersama-sama.
Semua bertanya-tanya, ada apa ini sebenarnya? Hingga akhirnya Arkana dan Seroja maju kedepan ditengah-tengah semuanya.
" Maaf sebelumnya, karena kami meminta waktu kalian semua untuk berkumpul disini. Ada suatu kabar menggembirakan yang ingin kami sampaikan kepada kalian semuanya. Aku dan Seroja telah memutuskan untuk mengikat hubungan kami kejenjang pernikahan. "
Semua yang ada disana begitu terkejut, tidak ada angin, tidak ada hujan keduanya memutuskan untuk menikah. Padahal keduanya justru lebih sering terlihat bertengkar. Mungkin benar kata pepatah, dari benci bisa menjadi cinta.
Alvin dan Bianca begitu senang mendengar hal ini, akhirnya Seroja benar-benar akan menjadi menantu mereka. Arkana sedikit banyak berubah menjadi lebih baik sejak kehadiran gadis itu.
Bianca maju ke depan, ia segera memeluk putranya. Air mata kebahagiaan meluncur begitu saja dari kedua pelupuk matanya.
" Terima kasih, Sayang. Kau telah mengabulkan permintaan Mama. " ungkap wanita paruh baya itu dengan tulus.
__ADS_1
Arkana membalas pelukan sang Mama. Ada kebahagian tersendiri dalam hatinya karena telah membahagiakan sang ibu. Suasana haru biru kini menyelimuti ruangan tersebut.
" Den Arkana kok ndak ada romantis-romantisnya to? Kalah sama Pak Udin waktu melamar Bi Sumi. " tiba-tiba wanita itu mengalihkan perhatian semua yang ada disana.
" Iya. Kak Arkana tidak romantis. Aku ingin melihat kakak melamar Seroja didepan kami semua. " Aulia ikut menyindir sang kakak.
Seketika wajah keduanya bersemu merah lantaran menahan malu. Tapi semua yang ada disana menyoraki keduanya.
" Ayo ! Ayo! Ayo! "
Glek...
Arkana menelan ludahnya sendiri, iapun gugup sebab seumur hidup baru kali ini dirinya akan melamar seorang wanita.
Pemuda itu menatap dalam Seroja yang saat ini tak kalah gugupnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
" Seroja,,maukah kau menikah denganku." Sebuah cincin bertahtakan berlian begitu indah ia persembahkan untuk gadis tersebut.
Jantung Seroja berdetak tak karuan, meskipun ini hanya sandiwara belaka, tapi dirinya merasakan gugup yang luar biasa.
" I,,iya. Aku mau menikah denganmu. " rasanya begitu sulit baginya mengeluarkan kata-kata tersebut. Arkanapun menyematkan cincin tersebut dijari manis Seroja, begitu pula sebaliknya.
Semua yang ada disana bertepuk tangan, kini giliran Bi Sumi kembali menggoda mereka.
" Tuan Muda, cium to mbak Serojanya." semua yang hadir tertawa, kali ini mereka kembali menyoraki keduanya.
" Cium..cium...cium!! " sorak sorai memenuhi ruangan itu.
" Tidak! Tidak ! Tidak! " tolak Seroja lantaran begitu malu. Gadis itu benar-benar takut Arkana akan menciumnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya karena gugup.
" Maaf semuanya, kami belum resmi. Bukan muhrim mencium sebelum waktunya. " canda Arkana untuk mengalihkan perhatian. Ia tahu gadis itu begitu ketakutan.
" Iya. Putraku benar, nanti saja jika keduanya resmi menikah. Kita minta mereka untuk berciuman di depan tamu undangan. " Bianca membenarkan ucapan Arkana.
Seroja bisa bernafas lega, pria itu tidak jadi menciumnya kali ini.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya untuk karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...
__ADS_1