Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
SIKAPNYA YANG BERUBAH


__ADS_3

Seroja terbangun dari tidurnya, ia merenggangkan sedikit otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Tapi, dirinya lega rasa nyeri dipunggungnya kini telah berangsur-angsur pulih kembali.


Ia melirik pria disampingnya, Arkana masih tertidur pulas sepertinya. Senyumnya merekah begitu saja ketika mengingat keduanya yang semalam tertawa begitu lepas saat menonton acara komedi di TV.


Ia mendekatkan tubuhnya pada pria disampingnya. Hal yang paling menyenangkan baginya adalah bisa memandang lelaki itu dari dekat. Disentuhnya wajah tampan Arkana dari atas dahi hingga ke ujung janggutnya perlahan.


" Kau sangat tampan. " batinnya senang.


Namun ia segera menjauhkan tubuhnya saat pria itu sepertinya mulai terbangun. Ia tak ingin Arkana tahu apa yang baru saja ia lakukan. Iapun berpura-pura masih tidur supaya pria itu tidak curiga.


Pria itu mulai terbangun dan mendudukkan dirinya sesaat ditepi ranjang. Ia menatap Seroja yang masih tidur. Dirinya teringat akan pesan Aluna semalam,


" Aku harus menjaga jarak dengannya demi Aluna. " tekadnya dalam hati. Pria itu segera beranjak dari kamar mandi.


Suara gemericik air menandakan pria itu sedang mandi saat ini. Seroja segera bangun dan turun dari ranjangnya.


" Alhamdulillah, sepertinya sudah baikan." batinnya senang.


Gadis itu berjalan menuju walk in closet. Sesuai permintaan Arkana, ia menyiapkan pakaian kerja dan perlengkapan suaminya. Dirinya menciumi wangi pakaian Arkana sambil memeluk pakaiannya.


" Astaga, jangan-jangan aku...." dirinya terhenyak saat menyadari perbuatan yang baru saja ia lakukan. Gadis itu tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, perasaannya jadi tak karuan saat ini.


Pintu kamar mandi mulai terbuka, Arkana telah menyelesaikan mandinya. Seroja segera berjalan menghampiri suaminya.


" Ini pakaian kerja yang telah kusiapkan untukmu." senyum mengembang sempurna di bibirnya saat menyerahkan pakaian itu pada sang suami.


" Aku bisa menyiapkan pakaianku sendiri. Mulai sekarang kau tak perlu melakukannya lagi. " ucap Arkana dingin. Bahkan dirinya tak mengambil pakaian itu dari tangan Seroja, ia berlalu begitu saja menuju tempat gantinya.


Seketika netra gadis itu berkaca-kaca, entah mengapa rasanya begitu sakit mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami. Hampir saja airmata itu lolos dari pelupuk matanya. Ia segera mengusapnya agar jangan sampai pria itu tahu.


" Aku tidak boleh lemah dan terluka seperti ini, harusnya diriku tak boleh berharap lebih. Dia memang tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku. " ia berusaha menguatkan hati.


Begitupun dengan Arkana, ia rasanya begitu kesal pada dirinya sendiri saat mengingat apa yang barusan ia lakukan pada Seroja.


" Aahhhggghh...tidak !! Memang seharusnya seperti ini. " pria itu memukul pelan dinding ruang gantinya lantaran kesal.


Arkana kini telah terlihat rapi, buru-buru ia memakai sepatu kerjanya. Sekilas netranya melirik gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia segera berdiri dan mengambil tas kerjanya.


" Berangkatlah bersama Aulia jika kau ingin kuliah. Pak Kusno akan mengantar kalian. " ia berbicara tanpa melihat lawan bicaranya dan berlalu begitu saja meninggalkan Seroja.


Rasa sakit itu kembali menjangkiti hati Seroja, batinnyapun bertanya-tanya apa gerangan yang membuat pria itu jadi berubah sekarang. Padahal, hubungan mereka terlihat baik-baik saja bahkan semakin dekat akhir-akhir ini. Ia segera mengusap airmata yang hampir menetes dari pelupuknya kembali.

__ADS_1


Gadis itu memilih bersiap-siap berangkat kuliah untuk mengalihkan kegalauan hatinya saat ini. Ia segera turun dan bergabung dengan yang lain diruang makan.


Dirinya tertegun saat menyadari bangku sang suami kini telah kosong. Iapun duduk dan bergabung untuk sarapan pagi bersama yang lainnya.


" Sayang, apa kau yakin akan berkuliah hari ini? Kau jangan memaksakan diri jika memang tubuhmu belum sehat. Arkana baru saja berangkat, ia ada pertemuan dengan klien pagi ini. " ucap Bianca saat menyadari gadis itu memperhatikan bangku suaminya. Ia khawatir lantaran gadis itu masih terlihat lemah dan tampak tak bersemangat.


" Mama tidak perlu cemas, aku sudah lebih baik sekarang. Lebih baik aku pergi kuliah dari pada bosan berlama-lama diatas ranjang. " ia memaksakan senyumnya untuk menenangkan sang mertua.


Seroja dan Aulia segera berpamitan untuk berangkat kuliah bersama-sama. Pak Kusno telah menunggu keduanya di halaman mansion.


Sepanjang perjalanan Aulia mencurahkan segala uneg-unegnya saat Seroja tidak masuk kuliah beberapa hari ini. Tentang Arzel yang selalu usil padanya, tapi pemuda itu pula yang membelanya dari geng wanita yang ada dikampusnya.


Seroja hanya tersenyum mendengarkan apa yang baru saja Aulia katakan. Pikirannya sedang tidak fokus hari ini, ia masih memikirkan perubahan sikap Arkana yang berubah drastis kepadanya.


Aulia memperhatikan gadis disebelahnya yang terlihat murung sambil memperhatikan ke sisi jalan.


" Seroja, kau kenapa? Apa kau masih sakit? Atau kau sedang ada masalah? " tanyanya cemas.


Seroja segera mengalihkan pandangannya ke gadis itu,


" Aku tidak apa-apa. Aku sudah sehat meskipun badanku masih sedikit lemas karenanya. Kau jangan khawatir. " ia berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihan dalam hatinya. Ia memang terbiasa memendam masalahnya sendiri.


Keduanya telah tiba di tikungan gang dekat kampus. Seperti biasa, Aulia meminta Pak Kusno untuk mengantarkannya sampai disana saja. Pak Kusnopun melajukan mobilnya pelan sambil memastikan majikannya itu sampai kampus dengan selamat.


Tit...Tit....


Bunyi klakson mobil mengejutkan keduanya. Aulia sudah hafal bunyi mobil siapa yang ada dibelakangnya saat ini.


Seroj mencolek pinggang gadis tersebut,


" Ada Arzel." bisiknya pada Aulia.


" Biarkan saja. Aku bosan setiap hari harus bertemu dengan makhluk pengganggu itu. " jawabnya ketus.


Pemuda itu menyeringai senang, iapun mensejajarkan mobilnya dengan kedua gadis yang sedang berjalan dipinggir trotoar.


" Ternyata putri cupu kini dikawal oleh supir pribadi Papanya. Benar-benar mirip burung dalam sangkar emas. Pantas saja kau tidak mengerti apa-apa dengan dunia luar." ejeknya pada Aulia.


Aulia menatap kesal pada pemuda itu.


" Biarkan saja, terserah apa katamu. Aku tak perduli. " ia memalingkan wajahnya dan menarik tangan Seroja agar berjalan lebih cepat memasuki kampus.

__ADS_1


" Hei, tunggu!! " Gadis itu enggan menoleh saat pemuda itu memanggilnya. Arzel segera memarkirkan mobilnya dan berniat mengejar Aulia setelahnya.


Sebenarnya Auliapun merasakan hal yang sama seperti yang Arzel katakan. Ruang geraknya seolah dibatasi, ia merasa tidak nyaman karenanya. Bahkan untuk membeli buku diluar saja sang Papa meminta gadis itu menulis keperluannya agar pengawal saja yang membeli untuknya.


" Hei tunggu!! " Arzel menarik sebelah bahu keduanya agar mereka mau berhenti.


" Kau ini kenapa selalu mencari gara-gara denganku? Sudahlah, tolong jangan ganggu aku. " Aulia menepis tangan Arzel dari pundaknya. Seroja hanya menjadi penonton kali ini.


" Kau jangan salah paham, justru aku ingin membantumu. Biar aku saja yang mengantar jemput kalian ke kampus, jika kalian ingin jalan-jalan atau mencari sesuatu akupun siap mengantarkanmu." tawarnya pada keduanya.


Aulia membenarkan kaca mata sambil memperhatikan pemuda itu dengan seksama.


" Aku tak percaya jika kau sebaik itu. Aku yakin kau pasti punya maksud tertentu. " ungkapnya curiga.


Arzel membuang nafas kasar, kini dirinya harus memikirkan alasan yang tepat sebab Aulia bukanlah gadis yang bodoh.


" Mama dan Papa mengancam akan memblokir kartu kreditku jika sampai aku tidak lulus kuliah lagi tahun ini. Aku butuh bantuanmu, kau tahu sendiri aku sedikit lemah dalam belajar. Aku berharap nilaiku akan membaik jika sering bergaul denganmu. Lagi pula, aku yakin Om dan Tante akan percaya dan merasa aman jika kalian berdua bersamaku setelah kesalahpahaman kemarin. " ucapnya beralasan.


Aulia tampak berpikir, gadis itu manggut-manggut seolah dirinya bisa menerima alasan yang diutarakan Arzel barusan. Sebuah senyum mengembang sempurna diwajahnya.


" Baiklah, aku setuju. Jika kau ingin sungguh-sungguh berubah, akupun siap membantumu. Tapi, jika kau hanya ingin mengerjaiku saja, kupastikan orangtuamu akan memblokir kartu kreditmu lebih cepat dari yang kau bayangkan." ancamnya tegas pada pria dihadapannya.


" Huh,, kau ini. Masih saja suka mengadu seperti anak kecil. " gerutu Arzel. Memang sejak dulu Aulia suka mengadukan dirinya jika Arzel telah berhasil mengerjainya.


" Terserah kau saja, aku tidak memaksa." gadis itu menarik Seroja untuk berjalan kembali.


" Tunggu! Baiklah aku setuju. "


Aulia tersenyum dan berbalik padanya,


" Deal? "


" Deal." keduanya berjabat tangan sebagai tanda kekompakan.


Kini Arzel yang merasa menang karena rencananya telah berhasil. Ia sengaja melakukan hal itu agar dirinya bisa semakin dekat dengan Aulia.


" Sedikit demi sedikit aku pasti bisa mendapatkan hatimu. Dan itu akan menjadi kemenangan terbesar dalam hidupku. She's just for me. "


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...

__ADS_1


__ADS_2