
" Tunggu, kau jangan salah paham." Seroja segera mengejar suaminya yang berlalu begitu saja darinya.
Arzel hanya bisa mengamati drama rumah tangga diantara keduanya. Untuk kedua kalinya Arkana begitu cemburu melihat kedekatannya dengan Seroja.
" Dasar tukang cemburuan. " gerutunya heran.
Arkana benar-benar kesal, padahal Seroja mengerti bahwa ia tidak suka istrinya bersama dengan pria lain. Namun, wanita itu masih saja tidak menuruti perintahnya.
Pria itu langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Posisinya saat ini membelakangi sang istri.
Serojapun menyusul masuk ke dalam kamar, dirinya berjalan perlahan menuju ranjang sambil memperhatikan sang suami. Wanita itu berbaring mendekati suaminya. Ia memeluk Arkana dari belakang, siapa tahu pria itu mau memaafkannya.
" Apa kau sudah tidur? Maafkan aku. Tadi aku memang mengambil minum, tapi tanpa sengaja aku bertemu Arzel. Kami tidak berbuat apa-apa, kami hanya mengobrol saja."
Arkana enggan menanggapi penuturan istrinya, ia memilih untuk berpura-pura tidur. Tetap saja apapun alasannya, ia tidak suka istrinya dekat dengan pria lain.
Seroja membuang nafas kasar, sepertinya Arkana masih marah padanya. Iapun memutuskan untuk tidur sambil memeluk punggung suaminya. Dirinya berharap besok pagi pria itu akan kembali hangat kepadanya.
...----------------...
Arkana telah bersiap untuk berangkat ke kantornya. Pria itu masih saja terlihat dingin pada sang istri. Seroja hanya mengamati gerak-gerik suaminya. Dirinyapun ikut kesal lantaran hal sepele seperti itu harus dibesar-besarkan oleh Arkana.
" Hari ini kau berangkatlah dengan Aulia dan Arzel, aku ada meeting pagi. " ucap Arkana sambil membenahi dasinya.
Seroja terdiam sejenak, ia yakin itu hanya akal-akalan Arkana saja karena masih marah padanya.
" Ya sudah. Di rumah saja itu lebih baik. Bukankah kau bilang aku tidak boleh berdekatan dengan Arzel? Biarkan saja kuliahku terbengkalai, lagipula ada suami yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadapku. Bukankah kita harus saling percaya satu sama lain." Seroja kembali berbaring di atas ranjangnya.
Pria itu mengernyitkan dahi karena heran,
" Apa maksud perkataannya barusan? Apa dia sedang menyindirku? "gumam Arkana melirik sekilas pada sang istri.
Sindiran pedas Seroja agaknya benar-benar tepat sasaran. Pria itu merasa apa yang baru saja istrinya katakan seolah membalikkan kata-katanya waktu itu.
Ada rasa sesal yang menyusup di hati Arkana. Iapun kemarin menuntut istrinya untuk percaya padanya sewaktu Aluna memeluknya waktu itu. Tapi kini, dirinya justru tidak mempercayai istrinya sendiri.
" Baiklah kalau kau tak ingin berkuliah. Aku memang sedang sibuk hari ini. Kalau kau ada waktu, datanglah nanti siang ke kantor. Sebagai istri yang baik seharusnya kau membawakan bekal makan siang untuk suamimu." ia menyindir balik istrinya. Harga dirinya masih tinggi untuk mengakui secara langsung kesalahannya saat ini.
__ADS_1
" Aku akan meminta maaf saat dia ke kantor nanti. " tekadnya dalam hati.
Pria itu beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri sang istri. Tanpa berbicara ia menyodorkan tangannya agar dicium oleh Seroja.
Wanita itu mencium tangan Arkana, tak lupa sang suami juga meninggalkan sebuah kecupan dikeningnya. Tetapi, dirinya pergi tanpa berpamitan ataupun berbicara sepatah kata. Dirinya ingin mengesankan bahwa saat ini ia masih kesal pada istrinya.
Seroja menatap kepergian sang suami, sebuah senyum tersungging di salah satu sudut bibirnya.
" Sok jual mahal sekali. Aku tahu kau tidak akan bisa berlama-lama marah padaku." batinnya penuh percaya diri.
...----------------...
Menjelang siang, Seroja beranjak menuju dapur untuk memasak bekal makan siang sesuai permintaan suaminya.
Ia membuka kulkas, barang kali ada sesuatu yang bisa ia buat khusus untuk suami tercintanya. Bi Yani dan Bi Sumi yang kebetulan ada disana merasa heran dengan keberadaan wanita itu di dapur.
" Non Seroja cari apa? Apa tidak kuliah hari ini? Tumben sekali jam segini masih ada di rumah? " tanya Bi Yani penasaran.
" Tidak Bi. Aku hari ini bolos, Arkana ingin aku membuatkan bekal makan siang untuknya." jawabnya tanpa rasa bersalah.
" Betul itu, Non. Saya setuju, ndak kuliah ndak papa. Suami Non Seroja kan orang kaya uangnya ndak ada habis-habisnya. " Bi Sumi menimpali.
Seroja terkekeh melihat tingkah kedua pelayan tersebut,
" Betul kata Bi Yani, Bi. Seroja jangan ditiru. Tidak ada harta yang tidak akan habis, sedangkan ilmu itu akan terus bermanfaat dalam hidup kita. Kalau bujan suamiku yang sedang ngambek, aku juga pasti kuliah hari ini. " curhatnya pada keduanya.
" Jadi, Tuan Muda lagi ngambek Nona? " jiwa kepo Bi Sumi menjadi-jadi. Bi Yani kembali memukul lengan wanita berdarah jawa tersebut.
Seroja kembali tertawa karenanya, " Bibi pengen tahu aja. Oh ya, kangkung dan ikan asin sama pete dikulkas bawah untuk siapa? Kenapa aku tidak pernah melihat Bibi memasak makanan seperti itu?" tanyanya ingin tahu.
" Anu Non, itu biasanya buat kita sendiri kalau lagi kangen makan makanan kampung. " jelas Bi Sumi.
" Buat Seroja ya, Bi. Aku mau memasak makanan itu untuk suamiku. Boleh ya Bi,, please. " kelakar gadis itu.
Keduanya terbelalak mendengar penuturan wanita tersebut,
" Nggak salah, Non? " ucap keduanya kompak.
__ADS_1
" Kalau nggak salah, berarti bener dong Bi."
Mereka seakan tak percaya jika Arkana mau memakan makanan seperti itu. Sebab, setahu mereka Arkana lebih menyukai makanan berbau eropa dan tidak pernah memakan makanan kampung seperti itu.
Tak butuh waktu lama, Seroja telah menyelesaikan acara memasaknya. Setelah selesai menyiapkan semuanya, gadis itu meminta tolong pada sopir pribadi keluarga untuk mengantarnya ke kantor Arkana.
" Semoga dia menyukai makanan yang aku bawa. "
...----------------...
Arkana melirik jam berwarna keemasan yang bertengger di pergelangan tangannya. Sebentar lagi waktu makan siang akan segera tiba. Ia berharap istrinya akan datang dan membawakan bekal untuknya.
Tap...Tap..Tap...
Terdengar langkah sepatu seseorang memasuki ruangannya. Pria itu mengembangkan senyumnya, ia berpikir bahwa kali ini istrinyalah yang datang.
" Kau?! " seketika raut wajahya menjadi tegang saat melihat keberadaan Aluna diruangannya.
" Untuk apa kau kemari? " tanyanya dingin. Dirinya cemas lantaran khawatir istrinya akan tiba sebentar lagi.
Aluna duduk dihadapan pria itu sambil tersenyum ramah kepadanya.
" Maafkan jika aku mengganggu, aku kesini hanya ingin membawakan bekal makan siang untukmu. Aku tahu dari dulu kau menyukai spaghetti bolognese dengan mozarella diatasnya." ungkapnya beralasan.
Sekejap pria itu tergiur dengan makanan yang dibawa Aluna untuknya, gadis itu masih ingat betul makanan yang begitu disukainya.
" Maaf, tapi istriku juga sebentar lagi akan datang membawakan bekal untukku. " jawab pria itu datar.
" Benarkah? "
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, terdengar langkah kaki seseorang yang berlari memasuki ruangan itu.
" Maaf aku terlambat,, aku sudah membawakan bekal untukmu. " ucapnya ngos-ngosan sambil menunjukkan bekal yang ia bawa.
Serojapun mengangkat wajahnya, dirinya tertegun melihat seorang wanita yang ada dihadapannya saat ini.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..