Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
MEMBALAS SI PEMBULI


__ADS_3

Sesi pertama mata kuliah berakhir, Seroja berpamitan pada Aulia untuk pergi kekantin. Dirinya ingin membeli bakso super pedas dengan porsi jumbo untuk mengurangi rasa stres di pikirannya akibat sikap Arkana tadi pagi.


" Aulia,, Apa kau mau ikut denganku ke kantin? Ayolah, aku ingin sekali makan bakso hari ini. Arzel,, apa kau juga mau ikut denganku? " ajaknya pada kedua sahabatnya.


" Ti,, tidak. Aku disini saja, masih ada tugas yang belum kuselesaikan."


Seroja heran sebab gadis itu nampak gugup. Iapun kini berganti menatap Arzel.


" Aku sedang malas ke kantin. Aku tidak lapar."


Aulia terhenyak mendengar jawaban pemuda itu.


" Kau pergi saja. Aku tak mau kau menggangguku saat mengerjakan tugas." paksanya pada Arzel.


" Sudah kubilang aku tidak lapar, dan aku ingin disini. Kalau kau mau belajar cari saja tempat yang lain, jangan memaksaku pindah. " tolak pemuda itu tak terima.


Seroja mendengus kesal mendengar pertengkaran keduanya yang tidak pernah ada habis-habisnya. Bukannya pikirannya tambah ringan, justru kini telinganya semakin panas karena mereka.


" Sudah, sudah. Lebih baik aku pergi sendiri daripada mendengarkan kalian ribut tak ada habisnya."


Gadis itupun pergi begitu saja, ia sudah tak sabar ingin mengisi perutnya. Aulia seolah hendak mencegahnya, tapi Seroja telah terlanjur pergi darinya.


Keringat dingin membasahi tubuh Aulia, gadis itu nampak tegang dan gelisah saat ini. Arzelpun sebenarnya telah menyadari gelagat aneh dari gadis itu sejak tadi. Namun, dirinya tidak tahu gerangan apa yang membuat Aulia jadi gelisah seperti itu.


" Apa kau tidak ingin pergi dari sini? Barangkali kau mau membeli minuman atau mencari buku di perpustakaan? Ya, bukankah kau butuh buku panduan untuk menyelesaikan tugasmu tadi?" Gadis itu seolah menginginkannya untuk pergi dari sana.


Arzel melirik kesal padanya, Aulia seolah tak ada hentinya memaksa pemuda itu untuk pergi dari sana.


" Sudah berkali-kali kukatakan, aku ingin disini. Kau saja yang pergi ke perpustakaan, kau bisa mengerjakan tugasmu disana jika merasa terganggu olehku." tegas pemuda tersebut.


Aulia sudah kehabisan akal, pria itu sama sekali tak mau beranjak dari kursinya. Raut wajahnya kini berubah murung, ia sendiri bingung harus bagaimana untuk menyelesaikan masalahnya.


" Hei,, Kau kenapa? kuperhatikan sedari tadi dirimu tampak gelisah. Cerita saja padaku, siapa tahu aku bisa membantu. Bukankah kau juga sering membantuku mengerjakan tugas-tugasku."


Pria itu sudah tak mampu membendung rasa penasarannya, ia yakin gadis itu sedang mengalami masalah ketika melihat perubahan mimik wajahnya saat ini.


Aulia merasa ragu dan malu untuk menyampaikannya. Namun, dirinya tak mungkin terus-terusan menyembunyikan hal ini. Iapun akhirnya mau jujur pada pemuda disampingnya.


" Sepertinya ada yang menaruh lem dibangkuku. Saat aku hendak berdiri, tanpa sengaja bagian belakang celanaku ikut tersobek karenanya." ungkapnya gugup sekaligus malu.


Arzel mengepalkan jemari tangannya lantaran geram, ia yakin pasti ada yang sengaja mengerjai gadis pujaannya. Namun, dirinya berusaha untuk tetap tenang agar gadis itu tidak semakin kalut.


Pemuda itu mengambil sweater yang tersimpan di dalam tasnya.


" Ambillah. Ini mungkin bisa menutupi bagian belakang pakaianmu yang sobek. " ia menyodorkan sweater tersebut pada Aulia.


Gadis itu masih terlihat kebingungan,


" Tapi? Aku harus memotong bagian belakang celanaku ini agar sobeknya tidak semakin memanjang. Disini terlalu banyak orang, sepertinya aku harus menunggu sampai semuanya pulang."


Arzel mengembangkan senyuman di salah satu sudut bibirnya, " Itu hal yang sangat mudah sekali bagiku."


Pemuda itu tiba-tiba berdiri dan bertepuk tangan untuk menarik perhatian seluruh mahasiswa. Benar saja, mereka semua menatap Arzel lantaran heran. Auliapun merasa penasaran tentang hal apa yang akan dilakukan pemuda tersebut.


" Perhatian semuanya. Hari ini adalah hari bahagia untukku. Oleh sebab itu aku mau mentraktir kalian semua makan dikantin sepuasnya. Siapa saja yang mau, kalian boleh datang kesana, aku yang akan membayar tagihannya. "


Tak butuh waktu lama, tentu saja mereka tergiur dengan tawaran Arzel. Mereka berbondong-bondong pergi meninggalkan ruangan sebelum jam istirahat berhasil.


Aulia memegangi dadanya lantaran lega, akhirnya seluruh mahasiswa pergi dari sana.


" Terimakasih banyak. Ternyata kau cukup cerdas juga. " ungkapnya senang.


" Cepat lakukan saja apa yang tadi kau katakan. Aku akan kekantin menyusul mereka. Akupun harus tahu siapa yang berani melakukan hal ini padamu. " Arzel beranjak dari kursinya dan menunggu diluar terlebih dahulu untuk memastikan agar tidak ada yang kembali memasuki ruangan.


Aulia mencoba sedikit berdiri setelah memastikan Arzel telah pergi dari sana. Ia mengambil sebuah cutter dari kantongnya lalu berusaha memotong bagian belakang celananya yang sobek.


" Huh,, akhirnya berhasil juga. " ia mengusap peluh yang menetes di wajahnya karena gugup.

__ADS_1


Gadis itu berdiri tegak, kemudian menalikan sweater Arzel dipinggangnya dan memastikan sweater tersebut benar-benar menutupi bagian celananya yang robek. Sebuah senyum terlukis di wajahnya lantaran lega masalahnua kini telah terselesaikan.


Tanpa ia sadari, Arzel sedang memperhatikannya sedari tadi dari balik pintu ruangan. Jiwa nakal masih saja belum hilang sepenuhnya dari dirinya. Pria itu tak berkedip ketika melihat di bagian atas paha Aulia yang begitu mulus terekspos akibat celananya yang sobek.


Buru-buru dirinya pergi setelah Aulia selesai membereskan pakaiannya. Rasanya ia ingin tertawa sendiri saat mengingat kebejatan yang ia lakukan barusan.


" Maaf,, tapi aku tidak akan melakukannya pada gadis lain. " batinnya merasa geli.


...----------------...


Seroja sedang asyik duduk sambil menyantap pesanan baksonya yang super pedas. Satu bulatan bakso ia lahap sepenuhnya lantaran rasa kesalnya ketika mengingat perlakuan Arkana tadi pagi.


" Tenang Seroja. Kau harus kuat, jangan sampai dirimu jadi lemah hanya karena seorang pria." batinnya menguatkan.


Tetap saja gadis itu tak bisa menutupi kesedihannya, netranya mulai berkaca-kaca kembali. Ia melahap kembali satu bakso utuh berharap rasa sedihnya bisa berkurang.


Samar-samar ia mendengarkan beberapa gadis sedang tertawa cekikikan dibelakangnya.


" Aku yakin, si cupu itu pasti kebingungan karena tidak bisa berdiri dari bangkunya. Jika dia memaksa, pasti celananya sobek dan itu akan membuatnya malu didepan anak-anak yang lain. " mereka kembali tertawa mendengar penuturan gadis itu.


Seroja penasaran, ia menoleh sedikit kebelakang untuk mengetahui siapa yang berada disana. Dirinya cukup terkejut, sebab mereka adalah salah satu geng mahasiswa centil dikampusnya.


" Siapa yang sedang mereka kerjai sebenarnya? " batinnya bertanya-tanya.


Gadis itu kembali menyantap baksonya, kali ini rasa sedihnya cukup berkurang lantaran rasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh para mahasiswi tersebut.


" Biarkan saja dia menanggung akibatnya. Kalau bukan gara-gara si cupu itu, pasti Arzel tidak akan memarahiku seperti kemarin didepan anak-anak yang lain." ungkap gadis yang ada disana kesal.


Seroja begitu terperanjat mendengar apa yang baru saja gadis itu katakan. Ia yakin gadis cupu yang dimaksud adalah Aulia. Siapa lagi? Hanya sahabatnya itu yang biasa dipanggil cupu disana, apalagi ini berkaitan dengan Arzel.


" Kurang ajar!! Apa yang mereka lakukan pada Aulia. Ada apa sebenarnya? " ia semakin penasaran.


Dirinya kembali dikejutkan saat anak-anak diruangannya nampak berbondong-bondong mendatangi kantin. Salah satu mahasiswa disana berteriak pada pemilik kantin.


" Bu,, tolong siapkan seporsi bakso dan minuman dingin untuk kami semua. Nanti, teman kami mahasiswa baru yang akan membayarnya." pinta salah seorang diantaranya.


Seroja kembali dikejutkan akan hal tersebut.


Pucuk dicinta ulampun tiba, pemuda itu akhirnya datang dan duduk dihadapannya. Seroja segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya. Ia berbisik pada pemuda itu.


" Katakan, apa yang terjadi? Kenapa kau mentraktir anak-anak disini? Aku mendengar gadis-gadis dibelakangku sepertinya sedang membicarakan Aulia. "


Arzel melirik kearah gadis-gadis yang dimaksud oleh Seroja.


" Kurang ajar, jadi mereka rupanya. " ucapnya geram.


Arzelpun menceritakan semuanya pada Seroja. Ia bercerita tentang pertengkarannya dengan mereka beberapa hari yang lalu saat gadis itu sedang sakit. Iapun menceritakan apa yang terjadi pada Aulia saat ini.


Seroja ikut geram mendengarnya, dirinya jadi teringat akan Arkana yang dulu begitu kompak dengannya saat mengerjai Helena. Ia merasa bahagia mengingat saat-saat itu dan sepertinya kini iapun harus melakukannya kembali.


" Kita harus membuat perhitungan dengan mereka."


Arzel menatap seketika kearah gadis itu, sebuah seringai kini muncul di wajah tampannya.


" Aku setuju." jawabnya senang.


...----------------...


Arzel dan Seroja memperhatikan para mahasiswi tersebut. Mereka semua segera beranjak karena merasa tak nyaman ketika melihat kedatangan Arzel disana. Seroja memperhatikan salah satu diantaranya sedang berbisik sebelum meninggalkan kantin tersebut.


" Sepertinya ada yang sedang mereka rencanakan. Aku takut mereka akan membuli Aulia setelah ini. Kita harus selangkah lebih maju dari mereka. " ucap Seroja.


Ia kembali berbisik pada pemuda itu dan mengusulkan rencananya. Arzel kembali menyeringai senang, ia setuju dengan rencana Seroja.


" Ayo,, secepatnya kita harus pergi dari sini. " mereka bersama-sama pergi meninggalkan kantin.


Benar saja dugaannya, para mahasiswi itu berniat kembali ke ruangannya saat menyadari Aulia tidak ikut ke kantin barusan.

__ADS_1


" Aku yakin rencana kita berhasil. Si cupu tadi tidak ada disana, aku yakin sekarang dirinya sedang kesulitan berdiri atau kalau tidak dia sedang kebingungan karena celenanya yang sobek. " mahasiswi itu tertawa diikuti oleh sahabat-sahabatnya yang lain.


Mereka memasuki ruangan bersama-sama dan memperhatikan Aulia yang sedang sibuk membaca. Salah satu diantaranya menghampiri gadis itu sambil tersenyum sinis dihadapan Aulia.


Aulia menyadari kehadiran mereka, sebenarnya iapun merasakan gelagat tidak baik dari para mahasiswi itu. Iapun yakin mereka juga yang telah mengerjainya tadi, apalagi salah satu diantaranya adalah gadis yang waktu itu bertengkar dengan Arzel. Ia berpura-pura acuh melihat kedatangan mereka.


Tiba-tiba mahasiswi itu menarik paksa buku yang sedang dibacanya. Aulia ikut terpancing emosi karenanya.


" Hei,, apa yang kau lakukan? Kembalikan bukuku. " gadis itu berdiri karena kesal.


Mahasiswi itu kembali menyerinagi sini padanya.


" Kau mau buku ini. Ambillah. " bukannya memberikan buku itu, dirinya justru melempar kebelakang pada geng nya.


Seluruh mahasiswi itu tertawa mengejek kepadanya. Mereka puas lantaran puas melihat wajah Aulia yang merah padam menahan geram. Tapi, mereka yakin si cupu itu tidak berani berbuat macam-macam.


" Oh,, jadi kau menutupi celanamu yang robek dengan sweater itu." ejeknya kembali.


Aulia menatap kesal padanya.


" Aku yakin pasti kau yang mengerjaiku tadi bukan? Kau benar-benar keterlaluan ! Aku sama sekali tidak pernah mengusikmu."


" Kau memang tidak pernah mengusikku, tapi gara-gara kau Arzel jadi benci padaku. " bentaknya pada Aulia.


" Teman-teman! Sepertinya akan seru jika kita merampas sweaternya dan menunjukkan celananya yang robek pada seluruh anak-anak. Kita permalukan saja gadis ini." perintahnya.


Merekapun berjalan mendekati Aulia yang terlihat cemas dan ketakutan. Gadis itu berjalan mundur, berusaha menjauh dari para mahasiswi tersebut.


" Tolong, jangan lakukan itu. Aku berjanji tidak akan mengusik kalian kembali. Aku mohon."


Netranya mulai berkaca-kaca lantaran takut, tapi gadis-gadis itu justru menertawakannya dan semakin mendekat kearahnya. Aulia berusaha mempertahankan sweater tersebut agar tidak sampai terlepas darinya.


" Aaahhh,, "


Gadis itu terkejut saat salah satu diantaranya hampir berhasil merebut sweater tersebut. Untung Aulia buru-buru menariknya kembali sebelum benar-benar terlepas.


" Hentikan semua ini! Berani-beraninya kalian membuli teman kalian sendiri. "


Suara seorang pria yang kini tengah berdiri didepan pintu berhasil mengagetkan mereka. Apalagi saat mereka tahu bahwa dosenlah yang baru saja datang bersama Arzel dan Seroja. Aulia kini merasa lega, akhirnya ada juga yang membantunya. Ia segera membenarkan kembali sweaternya.


Para mahasiswi itu mematung ketakutan saat sang Dosen berjalan mendekat kearah salah satu diantara mereka.


" Kemungkinan kau akan dikeluarkan dari sekolah ini. "


Ucapan dosen itu seketika membuat mahasiswi yang menjadi tersangka utama menangis seketika. Biasanya mahasiswi yang membuat kesalahan akan diberikan sanksi skors, tapi diri.ya kaget ketika mendengar bahwa ia akan dikeluarkan dari sana.


" Pak, saya mohon. Saya rela diskors asal jangan dikeluarkan dari kampus ini. " mohonnya dengan berlinang airmata.


Dosen itu membuang nafas kasar,


" Maaf dengan berat hati saya tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Kau tahu siapa Aulia sebenarnya? Dia adalah putri dari Donatur terbesar di kampus ini. Mereka pasti tidak akan terima putrinya dipermalukan seperti ini."


Gadis itu begitu kaget mendengarnya, siapa sangka gadis cupu dan terlihat biasa saja tersebut adalah putri seorang konglomerat. Pupus sudah harapannya, ia pasti tidak akan termaafkan.


" Saya mohon, Pak. Saya sungguh menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Tolong, jangan keluarkan saya. " tangisnya semakin menganak pinak.


" Maaf, saya tidak bisa. " dosen ia hendak beranjak , namun Aulia segera menahannya.


" Pak tunggu. Saya tidak ingin dia dikeluarkan. Saya telah memaafkannya dan saya tidak akan mengatakan semua ini pada orang tua. Tolong izinkan dia untuk tetap berkuliah disini." pintanya pada sang Dosen.


Setelah bercakap cukup lama, akhirnya mahasiswi itu tidak jadi dikeluarkan. Iapun benar-benar menyesali perbuatannya dan meminta maaf dengan tulus kepada Aulia.


Seroja dan Arzel tertawa penuh kemenangan. Akhirnya mereka bisa memberikan hukuman pada mahasiswi tersebut tanpa harus mengeluarkan otot.


Arzelpun begitu kagum pada Aulia, gadis itu memiliki hati yang luas untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain.


" Semakin lama, aku merasa semakin tak sanggup untuk terlepas dari jeratan hatimu. Aulia just for Arzel. "

__ADS_1


Bersambung,,,


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...


__ADS_2