
Arkana dan Seroja saling terdiam di dalam mobil, bibir keduanya seolah kelu dan bingung untuk merangkai kata. Rasa gugup dan canggung menyusup diantara keduanya.
Tanpa terasa mobil telah sampai didepan kampus Seroja. Gadis itu hendak turun, tapi sang suami segera menahannya.
" Tunggu. A,,aku minta maaf untuk kejadian semalam. Aku tahu kau pasti sangat marah padaku."
Seroja menatap netra pria itu,
" Tidak ada yang perlu dimaafkan. Mungkin kita hanya sedang terbawa suasana saja. Kau lupakan saja kejadian semalam, anggap saja itu hanyalah sebuah kecelakaan. " jawab Seroja. Ia mencoba tersenyum menutupi kegelisahannya.
Arkana sedikit kecewa, ternyata kejadian semalam sepertinya tidak berkesan bagi gadis itu. Mungkin hanya dirinya saja yang merasa gelisah semalaman karena terbayang-bayang akan kejadian tersebut.
" Baiklah jika memang begitu maumu. Aku akan melupakan kejadian semalam. Ya sudah, kau masuklah. Aku harus segera ke kantor, ada meeting pagi ini. " ungkap pria itu tersenyum datar.
Seroja segera turun dari mobil, ia menatap mobil sang suami hingga tak nampak dari pandangannya.
" Bagaimana bisa aku menganggap itu hanyalah sebuah kecelakaan. Sementara hati ini terasa menggebu-gebu saat bersama denganmu. Tapi aku sadar , diriku tak berarti apa-apa bagimu. " batinnya bergejolak.
...----------------...
Seroja memasuki ruangannya, disana terlihat Aulia yang sudah tiba lebih dulu. Gadis itu tengah sibuk membaca buku.
" Apa tidak ada bosan-bosannya anak itu membaca buku. Tidak dirumah, tidak disini, hidupnya hanya dipenuhi dengan membaca buku."
Timbul niat dalam hatinya untuk mengerjai sahabatnya tersebut. Lumayan mungkin, hitung-hitung sebagai hiburan dari pada dirinya galau terus-terusan.
*Dor..!!
Astagfirulloh hal Adzim*...!!
Seroja terkekeh melihat Aulia memegangi dadanya lantaran kaget. Gadis itu hanya fokus membaca sampai-sampai dirinya tak menyadari kedatangan Seroja.
" Kau ini mengagetkanku saja. Jantungku hampir lepas karenamu. " Aulia memukul pelan lengan Seroja karena kesal.
Seroja masih saja terkekeh puas, ia duduk di bangku sebelah Aulia yang masih kosong.
" Maafkan, aku. Habis kau terlalu sibuk membaca. Aku heran, apa dalam hidupmu tidak ada yang lebih menyenangkan selain membaca? Apa kau tak tertarik untuk berpacaran misalnya? " godanya pada sahabatnya.
__ADS_1
Aulia mengerucutkan bibirnya, " Enak saja kau bicara. Mentang-mentang kau sudah punya kakakku, sekarang kau mau coba-coba mengejekku. Tentu saja aku mau memiliki seorang kekasih, tapi aku mau dia juga memiliki hoby yang sama denganku. Jadi kita bisa belajar dan membaca bersama-sama. " ucapnya sambil membayangkan pria seperti itu.
Yah, mungkin sosok Ardi saja yang tepat baginya. Penampilannya sederhana tapi dirinya begitu pandai dan suka membaca. Benar-benar cocok dengan kritrianya.
Tiba-tiba Seroja menarik ujung pakaian gadis itu.
" Hei,, hei. Baru saja kau mengatakannya, pangeran impianmu sudah datang." netranya membulat sempurna menatap sosok yang baru saja memasuki ruangan.
Aulia ikut penasaran melihat Seroja melongo seperti itu. Iapun ikut menatap ke depan dan melihat siapa yang datang. Netranya terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Seroja mencolek gadis yang sedang ternganga saat ini.
" Doamu terkabul juga, pangeranmu sudah datang. Aku kembali ke bangkuku dulu. " bisiknya seraya meninggalkan Aulia.
" Hei, tunggu."
Gadis itu berusaha mencegah kepergian sahabatnya. Namun Seroja keburu kabur dan melambaikan tangan dari tempat duduknya.
Aulia membersihkan kaca matanya, barang kali kaca mata itu kotor atau buram hingga salah mengenali orang. Ia memperhatikan Arzel dari atas hingga bawah tatkala Arzel telah tiba dihadapannya.
Pria itu menatap heran ke arahnya,
" Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh denganku? " iapun ikut memperhatikan penampilannya kali ini.
Tanpa menjawab, Aulia justru memegangi jidat pemuda tersebut lantaran bingung.
" Apa kau salah minum obat? Kenapa penampilanmu jadi seperti ini?" tanyanya heran.
Arzel menjitak pelan ujung kepala gadis itu,
" Enak saja kau bicara. Memangnya kenapa kalau aku berpenampilan seperti ini? Apa kau tertarik padaku? " lelaki itu mengangkat sebelah alisnya, berniat menggoda Aulia.
Aulia bergidik mendengarnya,
__ADS_1
" Manamungkin aku tertarik padamu. Meskipun kau berpenampilan seperti itu, dirimu sama sekali bukan tipeku. Hanya saja aku merasa aneh, tidak biasanya kau berpenampilan seperti ini. " jelasnya pada pemuda tersebut.
Arzel sedikit kecewa, tadinya ia pikir Aulia akan senang jika dirinya berpenampilan seperti ini.
" Aku hanya malu saja, bukankah aku berniat untuk memperbaiki diri. Aku ingin bergaul dan belajar denganmu, kuperhatikan teman-temanmu diperpustakaan juga berpenampilan seperti ini." jelasnya beralasan.
Aulia mengulum senyumnya, tingkah Arzel benar-benar konyol menurutnya.
" Kau tidak perlu mengubah jati dirimu, jadilah diri sendiri itu lebih baik. Aku senang kau niat belajar dan akupun tidak menuntutmu berpenampilan sepertiku. Setiap orang punya kenyamanan yang berbeda dalam berpenampilan. " gadis itu menasehati.
Arzel tersenyum tipis, setidaknya ia cukup menghibur Aulia di pagi ini. Melihat senyum gadis itu saja, sudah membuatnya bahagia.
" Eherm...Eherm...mahasiswa baru nih. Kompak banget sama Aulia, kayaknya cocok dech." goda Seroja menghampiri keduanya.
Aulia mendengus kesal, sahabatnya itu tiada henti menggodanya.
" Kau ini hentikan omong kosongmu itu. Aku dan Arzel, kami hanya berteman. Dia hanya ingin memperbaiki penampilannya saja supaya terlihat lebih kalem. " tegasnya tak terima.
Seroja membulatkan bibirnya sambil manggut- manggut. Ia mencoba mencerna kata-kata Aulia meskipun terdengar aneh. Untuk apa Arzel harus berpenampilan seperti itu jika hanya untuk memperbaiki diri.
Arzel berusaha untuk mengalihkan perhatian, ia tak mau gara- gara ini Aulia nanti malah menjauhinya.
" Hei, kenapa dengan lehermu? Apa kau baru saja mencoba bunuh diri? Kenapa kau memakai plester sebanyak itu?" tanyanya heran saat tanpa sengaja memperhatikan gadis itu.
Wajah Seroja jadi pias seketika, tanda dari Arkana itu benar- benar menyusahkannya.
" Dia bukan mencoba bunuh diri, tapi terinfeksi gigitan serangga. Serangga di kamarnya sangat liar bisa sampai iritasi seperti itu. " Aulia bermaksud membantu sahabatnya mencari jawaban.
" I,,iya. Aulia benar, ada banyak serangga di kamarku." tambahnya gugup.
Arzel terkekeh mendengarnya, setidaknya dirinya bukan pemuda lugu yang bisa dengan mudah dibohongi. Apalagi Seroja adalah wanita yang telah bersuami.
" Makanya, jangan suka bermain jorok. Eh,, maksudku jangan lupa jaga kebersihan. Kalau perlu semprotkan obat anti serangga supaya seranggamu tidak menggigit sembarangan. Sepertinya itu jenis serangga yang cukup ganas. Kau harus berhati-hati dengannya. " pemuda itu justru semakin menjadi-jadi.
Seroja hanya menyengir karenanya, sedikit banyak ia tahu arah pembicaraan Arzel. Entah siapa lagi yang akan membuatnya tenggelam ke dasar bumi kali ini.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...