
Kedua sejoli itu selesai bersantap siang. Seroja merasa lega sebab Aluna telah meninggalkan kantor suaminya.
Kini dirinya menatap sang suami penuh selidik,
" Apa kau sengaja memintanya untuk datang kemari? Bukankah kau bilang kau telah menjelaskan semua padanya? " tanyanya menuntut penjelasan.
" Aku tidak tahu jika dia akan kesini. Dia bahkan tidak menghubungiku sebelumnya. Katanya dia hanya ingin memberikan bekal makan siang untukku." jawab Arkana jujur.
Raut wajah Seroja berubah masam, wanita itu memberengkut kesal.
" Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya. Aku takut dia masih berharap padamu. Lebih baik kau jauhi dia. " ungkapnya ketus.
Arkana terkekeh mendengar peringatan sang istri, nampak sekali bahwa wanita iti sepertinya sedang cemburu.
" Aku tidak berbuat apa-apa dengannya. Bahkan tadi kau bilang bahwa kami boleh bersahabat. Sepertinya cukup adil bukan? Aku berteman dengan Aluna dan kaupun berteman dengan Arzel." pria itu justru samakin memanas-manasinya.
" Jelas saja berbeda. Aku dan Arzel hanya teman biasa, kami sama-sama tidak memiliki rasa. Sedangkan kau? Aku bisa melihat wanita itu masih mencintaimu dan tidak menutup kemungkinan kau akan tertarik lagi padanya." sanggahnya tak terima.
" Bagaimana jika akupun bisa merasakan Arzel juga memiliki hati padamu? Bukankah kita tidak bisa menyelami dalamnya hati seseorang? " balas Arkana sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Tentu saja aku tahu, sebab Arzel sebenarnya menyukai..."
Seroja tak berani meneruskan kata-katanya lantaran dirinya telah berjanji pada Arzel untuk merahasiakan hal itu dari siapapun. Arkana semakin penasaran, ia merasa istrinya sedang menyembunyikan sesuatu.
" Menyukai siapa? Cepat katakan! Atau kau juga merasa Arzel memang menyukaimu." Pria itu seakan menjepitnya.
Seroja menatap kesal pada suaminya,
" Dasar lelaki pencemburu. Bagaimana dirinya bisa berpikiran seperti itu? Padahal aku dan Arzel hanya duduk berdampingan saja, sedangkan dia? Dia asyik berpelukan dengan wanita itu." gerutunya dalam hati. Dirinya jadi teringat saat Aluna memeluk suaminya saat ditaman hiburan.
Arkanapun tahu saat ini istrinya sedang kesal padanya.
" Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau juga mengakui hal itu?" cecar Arkana kembali.
__ADS_1
Seroja mencebikkan bibirnya, " Kau benar-benar menyebalkan." ungkapnya kesal. Iapun memilih untuk beranjak dari pada harus berdebat yang tidak ada habis-habisnya dengan sang suami.
Arkana segera menarik tangan istrinya hingga wanita itupun jatuh ke pangkuannya. Ia memeluk pinggang sang istri dan meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Agaknya posisi seperti itu menjadi posisi ternyaman baginya.
Seroja terdiam, ia mengusap airmata yang hampir saja meleleh dari kedua bola matanya. Arkana menyesal telah membuat wanita itu bersedih kali ini.
" Maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Mungkin kau pikir aku terlalu berlebihan, tapi cinta ini benar-benar membuatku begitu takut kehilanganmu. " ungkap pria itu tulus.
Seroja membalikkan badannya hingga berhadapan dengan pria yang menjadi pasangannya saat ini. Netranya masih berkaca-kaca, ia menatap dalam pada sang suami.
" Kau tahu? Saat kau berkata bahwa kau mencintaiku, ingin kukatakan bahwa aku lebih-lebih mencintaimu. Saat kau cemburu melihatku berdekatan dengan pria lain, ingin ku ungkapkan bahwa hatiku begitu sakit saat melihatmu dipeluk oleh wanita lain. " air matanya tak terbendung lagi, dada bidang sang suami adalah tempat ternyaman baginya saat ini.
Arkana tak tahan melihat wanita yang ia cintai justru menangis karenanya. Ia mendorong perlahan bahu sang istri dan menatap penuh keyakinan.
" Maafkan aku, sekali lagi aku minta maaf padamu. Aku berjanji akan selalu mempercayaimu." ucapnya meyakinkan seraya menyeka airmata yang membasahi kedua pipi istrinya.
Serojapun terharu oleh ketulusan sang suami.
Wanita itu tiba-tiba mendaratkan bibirnya pada bibir sang suami, tentu saja Arkana menyambut hangat ciuman dari istrinya. Dirinya menarik tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciuman mereka. Begitu nyaman saat lidah keduanya sama-sama menjelajah dan menyesapi satu sama lain.
Arkana semakin terbawa suasana, tangannya kini mulai menyusup dibalik atasan yang dikenakan sang istri. Wanita itu mulai mendesah saat jemari sang suami asyik bermain di puncak bukit bergelombang miliknya. Iapun membuka satu persatu kancing kemeja suaminya.
" Tuan, sebentar lagi meeting akan segera dimulai." ucap sekertaris Arkana yang terburu-buru masuk ruangan atasannya lantaran beberapa kali mengetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam.
" Aarrghh.."
Pria itu berteriak lantaran Seroja menggigit cukup keras bibir bawahnya hingga menciptakan sedikit darah disana.
Tentu saja sang istri kaget melihat kedatangan sekertaris Arkana yang begitu tiba-tiba. Wanita itu segera mengeluarkan tangan Arkana yang masih berada di balik atasannya.
Sekertaris itupun tak kalah kagetnya tatkala tanpa sengaja melihat adegan dewasa di depannya. Wanita itu segera berbalik badan karena malu.
" Maafkan saya, Tuan. Para direksi telah menunggu anda diruang meeting. " ucapnya gugup, dirinya takut akan dipecat setelah kejadian ini.
__ADS_1
" Saya sudah mengetuk pintu ruangan anda berkali-kali. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. " ia mencoba membela diri.
Arkana dan Seroja segera berdiri dan membenahi pakaian mereka masing-masing. Pria itu mengancingkan kembali kemeja yang dipakainya, kemudian menegur sekertarisnya tersebut.
" Lain kali jika aku tidak menyahut, lebih baik kau menghubungiku lewat telepon kantor. Tindakanmu kali ini sangatlah tidak sopan, tapi kali ini kau kumaafkan. " tegasnya pada sekertaris tersebut.
Wanita itu menghela nafas panjang, nasibnya sungguh buruk hari ini. Bagaimana tidak? Padahal seharusnya
atasannya itu malu karena berbuat tidak senonoh disaat jam kerja, tapi dirinya justru yang disalahkan lantaran memergoki apa yang telah pasangan itu lakukan. Memang,, dari dulu yang kaya menindas yang lemah menurutnya.
" Baiklah Tuan. Sekali lagi saya minta maaf. Terima kasih telah mengampuni kesalahan saya. " ucapnya dengan terpaksa.
Arkana menatap sang istri yang tengah tertunduk malu.
" Tidak apa-apa, kau tak perlu malu seperti itu. Kau tunggulah aku disini, setelah meeting selesai kita akan pulang bersama-sama.
" Apa? Tenang katanya? Dirinya benar- benar tak tahu malu. Lihatlah wajah suamiku yang tampak seperti tanpa dosa." batin Seroja kesal.
" Baiklah, Sayang. " wanita itu berusaha memaksakan senyumnya.
Arkana lega , iapun mulai melangkahkan kakinya meninggalkankan ruangan tersebut bersama sang sekertaris, namun tiba-tiba pria itu berbalik dan kembali menghampiri sang istri.
Seroja mengernyitkan dahi karena heran.
" Apa ada yang tertinggal disini?"
Pria itupun mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri.
" Kita lanjutkan lagi yang tertunda di apartemen nanti. " bisiknya menggoda pada wanita itu. Sontak wajah Seroja merona seketika mendengar apa yang baru saja dikatakan suaminya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejek kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1