
Warning area 21+....
Harap bijak memilih bacaan, yang belum cukup umur harap di skip ya.
Happy reading....
Arkana telah tiba ditempat dinnernya bersama Aluna. Pria itu nampak gagah, meskipun tubuhnya sedikit lebih kurus lantaran kurang menjaga pola makannya akhir-akhir ini.
Aluna melambaikan tangannya saat melihat kehadiran pria tersebut. Ia begitu senang lantaran Arkana menepati janjinya. Pria itupun kini telah duduk berhadapan dengannya.
" Aku senang akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu sejak setengah jam yang lalu. " ungkapnya senang.
Yah, malam ini Aluna menunjukkan penampilan terbaiknya. Pakaian seksi sudah menjadi andalannya untuk memikat kaum adam. Dirinya memang paling bisa untuk menggoda lawan jenisnya, tapi tidak untuk pria dihadapannya.
Tubuh Arkana ada disana, namun pikirannya entah kemana. Sejak kejadian waktu itu, Andara sama sekali tidak menegur bahkan menyapanya sama sekali kecuali untuk hal-hal yang penting saja. Pria itu cukup frustasi, padahal dia sendiri yang menginginkan hal itu.
" Hei,, ada apa denganmu? Kenapa kau malah melamun? Apa kau tidak mendengarkanku barusan? " tanya Aluna sekali lagi sebab pria itu seolah tak menggubrisnya sama sekali.
Arkana terkesiap, pikirannya telah kembali ke tempatnya saat ucapan wanita itu membuyarkan segala lamunannya.
" Ehh,, maafkan aku. Oh ya, bagaimana dengan hasil pemeriksaanmu kemarin? " tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Aluna tersenyum tipis,
" Aku belum menerimanya, besok baru hasilnya akan keluar. Aku sendiri tidak tahu, akhir-akhir ini tubuhku terlalu mudah lelah dan lemas." ungkapnya pada pria tersebut.
" Semoga kondisimu lekas membaik. " ungkap Arkana membalas senyumnya.
Seseorang kini tengah mengeratkan rahangnya dibalik buku menu yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Dirinya kesal melihat sang suami saling melempar tawa dengan wanita penggoda tersebut. Namun, ia berusaha menahan untuk tahu lebih lanjut hubungan keduanya.
Arkana dan Aluna tengah memesan makanan dan minuman. Kebetulan Arkana berpamitan pada Aluna untuk pergi ke toilet sebentar. Dengan senang hati wanita itu mempersilahkan, tentu saja ini kesempatan emas baginya untuk bisa melancarkan aksi selanjutnya.
Saat makanan dan minuman tersebut datang, dengan segera ia memasukkan obat perangsang tersebut pada minuman Arkana.
" Maaf, aku terpaksa harus menjebakmu seperti ini."
Seroja terperanjat saat melihat wanita itu memasukkan sesuatu kedalam minuman suaminya. Meskipun ia tidak tahu apa yang dimasukkan wanita itu, tapi ia yakin itu bukanlah hal yang baik. Dirinya hendak beranjak dan menghampiri wanita itu, namun ternyata Arkana telah kembali kesana. Jika pria itu melihatnya, pasti ia justru akan mencurigai dirinya.
Pria itu tanpa sengaja melihatnya, dengan segera Andara menutup wajahnya kembali dengan buku menu yang ada diatas mejanya.
" Kenapa aku seperti melihat Andara? Atau ini hanya imajinasiku saja?" batinnya menatap gadis yang berada tak jauh dari mejanya.
Aluna kembali menarik lengan Arkana.
" Kau kenapa?Apa yang sedang kau lihat?" tanyanya penasaran.
"Ti,, tidak. Kupikir tadi aku melihat temanku, ternyata bukan. " elaknya seketika.
Iapun kembali ketempat duduknya, sesekalu ia masih mengamati wanita yang dilihatnya tadi. Dari postur tubuh, sepertinya wanita itu memang Andara.
__ADS_1
Aluna dan Arkana mulai menikmati makan malamnya, beberapa saat kemudian wanita itu menawari pria tersebut untuk meminum minumannya.
Pria itu mulai meneguk minumannya. Seringai tipis terukir di bibir Aluna, Arkana kini telah masuk perangkapnya. Netra Serojapun membola seketika, ia merutuki dirinya sendiri lantaran bukannya menolong justru ia bersembunyi dari sang suami.
" Semoga wanita itu tidak meracuni suamiku. " batinnya gelisah.
Arkana mulai merasakan hawa panas dalam tubuhnya, pandangannyapun mulai kabur. Dirinya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Aluna tersenyum penuh kemenangan, ia mulai melancarkan misinya kembali. Saat pria itu mulai kehilangan keseimbangan, iapun menangkap tubuh Arkana dan membisikkan sesuatu padanya.
" Ayo sayang,, kita akan bersenang-senang malam ini." suaranya seakan mendayu-dayu hingga membuat bulu kuduk Arkana meremang seketika. Sentuhan wanita itu di dadanya menimbulkan gelenyar luar biasa dalam tubuhnya.
Arkana mencoba meraih kembali kesadarannya, dirinya kini mengerti Aluna telah memasukkan sesuatu diminumannya.
" Brengsek kau !" ia mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur ke lantai dan berusaha untuk segera pergi dari sana.
Aluna segera berdiri untuk mengejar Arkana, namun salah satu pelayan disana segera menahannya untuk tinggal.
" Kurang ajar, berani sekali kau menghalangiku!" bentaknya kasar.
" Maaf Nona, silahkan nikmati dulu makanan anda dan bayarlah sebelum pergi. " ucap pegawai itu seraya terus menghalangi jalannya.
Dirinya memang sengaja dibayar Seroja untuk menahan wanita tersebut.
Aluna menatap Arkana yang menghilang dari pandangannya. Dengan segera iapun kekasir dan membayar tagihannya supaya bisa segera mengejar pria tersebut. Namun, ia sama sekali tak menemukan jejak Arkana. Saat dirinya menuju parkiran, ternyata mobil pria itu telah melaju meninggalkan parkiran.
...----------------...
Aaaarrghhhh....
Arkana mengerang menahan gejolak luar biasa yang ada didalam tubuhnya. Hawa panas itu seperti sengatan listrik yang bertubi-tubi menghantam tubuhnya.
" Sayang,, aku benar-benar tidak kuat." ucapnya menatap penuh hasrat pada sang istri. Yah, hatinya begitu senang, entah mimpi entah bukan tapi saat ini dirinya sedang bersama Seroja.
Wanita tersebut ikut panik, dalam hati ia merutuki Aluna yang telah memberikan obat perangsang pada suaminya. Ia tahu akibat fatal yang bisa terjadi jika pria itu tidak mendapatkan pelampiasan. Dan tidak mungkin pula mereka melakukannya dalam mobil disaat jalanan ramai seperti malam ini.
Ia segera berhenti disebuah hotel terdekat dari sana dan menyewa sebuah kamar untuk mereka. Secepatnya ia menuntun sang suami menuju kamar hotel dan menjatuhkannya diatas ranjang.
Seroja menelan salivanya sendiri melihat suaminya menggelinjang lantaran menahan hasrat. Rasanya ia bingung, saat ini ia harus melayani sang suami dalam keadaan tidak sadar.
Wanita itu mulai merangkak naik keatas suaminya. Arkana mencoba memperhatikan wajah itu baik-baik.
" Sayang, benarkah ini kau?" tanyanya dengan suara parau lantaran menahan gejolak yang semakin memanas.
Seroja mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami,
" Tolong cobalah perlahan, jangan sampai kau melukai anak kita." bisiknya di telinga sang suami lalu mengecup sekilas bibir suaminya.
Arkana berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengontrol gerakannya. Ia mulai mencumbu bibir istrinya dengan lembut, Serojapun membalas ciuman itu dengan perlahan. Semakin lama ciuman itu semakin dalam, saling melu**t dan mengulum lidahnya hingga bertautan sebagai pelepasan rasa rindu yang lama terpendam.
__ADS_1
Sambil berciuman, satu persatu Arkana membuka kancing baju istrinya hingga nampak olehnya dua bukit indah yang tertutup oleh kacamata.
Gleekk...
Jakunnya mulai naik turun saat ia berhasil membuka penutup bukit tersebut. Oh,, sungguh sangat menggoda pandangannya. Dengan tetap menautkan lidahnya, ia mulai mer***s sesuatu yang terasa begitu pas ditangannya. Kali ini terasa lebih kenyal dan padat, mungkin karena saat ini istrinya sedang hamil.
Eessstttt....Aaahhhh...
Seroja mulai mengeluarkan suara khasnya, ia menggigit bibir bawahnya untuk mengendalikan gejolak dalam dirinya. Sentuhan sang suami seolah bagai sengatan-sengatan kecil yang berhasil menaikkan gairah yang selama ini dipendamnya. Iapun sangat merindukan sentuhan tersebut.
Ciuman Arkana mulai turun dari bibir menuju leher jenjang sang istri dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan disana. Tak cukup sampai disitu, pria itu mulai mengalihkan ciumannya pada bukit indah yang telah menegang saat ini. Pria itu kini bagaikan seorang bayi yang sedang kehausan.
Tangannya mulai bergerak kebawah dan membuka apa yang tersisa disana. Ia mengelus bagian perut bawah sang istri hingga menimbulkan sensasi tersendiri bagi istrinya.
Esshhh...Aaaahh...
Wanita itu mendesah kembali, perasaan geli tak karuan menyeruak dalam dirinya saat ini.
" Sayang apa kau sudah siap? " bisik lelaki itu sambil terus mencium bagian sensitif sang istri.
" Eeeummmm,, lakukanlah. "
Decitan ranjang menjadi saksi penyatuan keduanya, ruangan yang dingin kini berubah panas saat peluh membasahi mereka. Entah berapa lama keduanya meluapkan rasa rindu lewat penyatuan itu hingga Arkana tergolek tak berdaya setelah berkali-kali memperoleh pelepasannya.
Pria itu kini seperti bayi kecil yang tengah tertidur pulas dengan tubuh polosnya. Seroja segera menutupi tubuh sang suami, dan berniat beranjak dari sana. Sejujurnya ia masih kecewa saat pria itu memberi kesempatan pada Aluna untuk bisa mendekatinya.
" Maaf,, aku belum siap bersamamu. " wanita itu memunguti pakaiannya dan segera meninggalkan kamar tersebut.
...----------------...
" Seroja,, Seroja !! "
Arkana meneriakan nama sang istri saat terbangun dari tidurnya. Ia menatap sekitar, namun tidak ada siapa-siapa disana. Padahal, semalam ia bermimpi tengah bercinta dengan begitu liar dengan istrinya.
" Kenapa rasanya begitu nyata." gumamnya seorang diri. Tapi, ia yakin semalam dirinya memang sedang bercinta dengan istrinya.
Ia membuka tubuhnya yang ternyata polos tanpa sehelai benang yang menutupinya dan segera menutupnya kembali. Ranjang itupun rasanya masih basah setelah percintaan panasnya semalam.
" Benar,, aku tidak bermimpi. Aku memang bercinta dengan istriku dan semoga saja itu memang istriku. Tapi, kenapa dia malah pergi dari sini? " Arkana mulai menganalisa dan mengingat-ingat semuanya.
"Aku harus segera menemukan jawabannya! " tekadnya bersemangat. Ia segera membersihkan diri kemudian meninggalkan hotel tersebut untuk menyelidiki kebenarannya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya....
__ADS_1