
Arkana turun dari kamarnya dengan perasaan malas. Sebenarnya ia enggan menemui Helena, tapi karena gadis itu membantu mencari tahu siapa yang membuat kekacauan dipestanya, iapun akhirnya mau menerima gadis tersebut sebagai kekasihnya.
" Arkana?! " sapa Helena dengan begitu antusias saat melihat Arkana turun untuk menemuinya. Gadis itu berhambur hendak memeluknya, namun dengan cepat Arkana menepisnya.
" Ini di mansionku. Ada Mama disini, jaga sikapmu! " tegas Arkana pada gadis itu.
" Untuk apa kau kemari? " lanjutnya bertanya.
Gadis itu sedikit kecewa karena Arkana bersikap dingin padanya, tapi hal tersebut semakin membuatnya bersemangat untuk dapat menaklukkan Arkana. Ia duduk di bangku sebelah kekasih barunya dan bergelayut manja dilengan Arkana.
" Tadi aku mencarimu dikampus, tapi ternyata kau tidak masuk. Bukankah sekarang kita sudah menjadi pasangan, harusnya kau senang aku menemuimu kesini. " ucapnya manja.
" Aku sedang malas kuliah dan tidak ingin diganggu, aku ingin beristirahat dirumah. Aku lupa belum menyampaikan peraturan sebagai kekasihku untukmu. " ungkap Arkana. Dirinya hendak menepis tangan gadis itu dari lengannya, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat kedatangan Seroja yang hendak menyuguhkan minuman.
" Maaf Nona, Tuan. Ini minuman kalian. " gadis itu menyuguhkan minuman sambil sesekali melirik kedua pasangan tersebut.
" Terima kasih. " ucap Helena ramah, ia begitu senang sebab Arkana tidak menolaknya kali ini.
Arkana diam-diam melirik Seroja. Setelah gadis itu tak nampak lagi, ia menjaga jarak dari Helena. Iapun menampik tangan Helena yang bergelayut padanya.
Helena merasa kesal dengan sikap Arkana padanya,
" Kenapa kau bersikap seperti itu padaku? Bukankah kau telah berjanji untuk menjadi kekasihku setelah aku membantu mencari dalang dibalik rusaknya pestamu malam itu? "
Arkana melirik tajam kearahnya hingga membuat nyali gadis itu menciut.
" Kau memang sudah menjadi kekasihku saat ini, tapi kau belum tahu aturan sebagai kekasihku bukan? "
Helena melongo, ia memang belum tahu aturan apa yang dimaksud Arkana. Ia mendengarkan secara seksama peraturan apa yang dimaksud pria tersebut.
" Aku tidak suka disentuh, terkecuali oleh kemauanku sendiri. Dan akupun tidak suka wanita yang berstatus kekasihku datang ke mansion apalagi didepan orangtuaku tanpa persetujuanku. Apa kau mengerti? " tegas Arkana.
Helena heran mendengar apa yang disampaikan pria tersebut, ia baru mendengar ada seseorang yang pacaran tanpa bersentuhan.
" Ta,, pi? " belum sempat ia menyanggah Arkana sudah memotong pembicaraannya.
__ADS_1
" Tidak ada tapi-tapi. Terserah kau setuju atau tidak. Kalau kau masih ingin menjadi pasanganku, kau harus menuruti semua perintahku! " paksa Arkana.
Helena nampak berpikir, sebenarnya ia tidak setuju dengan peraturan seperti itu. Namun, menjadi kekasih Arkana adalah impian para gadis dikampus. Tampan, kaya raya dan dirinya terkenal suka memberikan hadiah mewah pada para mantannya. Ia berharap suatu saat nanti dirinya mampu mengambil hati pria tersebut.
" Baiklah, aku setuju. Yang terpenting untukku adalah kau menjadi pasanganku sekarang. " Gadis itu tersenyum semanis mungkin. Ia hendak bergelayut kembali pada Arkana, tapi tatapan pria tersebut menyurutkan niatnya.
Ting...Tong...
Suara bel mansion kembali berbunyi, Seroja yang kebetulan mendengarnya segera membukakan pintu.
" Mana Arkana? Apa gadis brengsek itu ada disini? "
Tiba-tiba Sisil datang dengan wajah yang begitu kesal. Seroja terkejut, iapun bingung siapa lagi gadis ini. Apalagi, wanita itu berani marah-marah didepannya.
" Maaf, anda siapa Nona? Tuan Muda ada didalam. Siapa yang anda maksud gadis brengsek? " tanyanya sopan. Namun, tanpa basa basi Sisil mendorongnya dan memasuki mansion tanpa permisi.
" Sepertinya sebentar lagi akan terjadi perang dunia. Dasar playboy cap kadal, rasakan sendiri akibatnya. " batin Seroja senang. Iapun secara diam-diam mengikuti Sisil dari belakang.
Amarah Sisil membucah saat melihat Arkana berdua dengan Helena. Dirinya kesal sebab sahabatnya itu tega menikungnya dari belakang. Helena membocorkan semua rencananya sewaktu dipesta Arkana kemarin.
" Dasar gadis brengsek! Berani- beraninya kau merebut Arkana dariku dengan cara licik ! " teriaknya pada Helena.
Helena memasang wajah acuh dan sinis padanya, " Salah sendiri kau memakai cara licik untuk mendekati Arkana. Kau sengaja membuatnya mabuk bukan? Supaya kau bisa menidurinya malam itu. Dasar gadis murahan!"
Sisil tak terima mendengar hinaan gadis itu, secara tiba-tiba ia menghampiri dan menjambak rambut Helena. Arkana yang melihatnya bingung sekaligus terkejut melihat kelakuan Sisil. Serojapun melongo seketika melihat kedua wanita itu mulai bertengkar.
" Sepertinya akan terjadi pertandingan seru, Ayo hajar terus! " batinnya bersorak di balik dinding.
Kedua gadis itu saling menjambak dan memukul satu sama lain. Arkana kebingungan sebab baru kali ini ia melihat wanita berkelahi. Apalagi dengan pakaian mereka yang minim, rasanya ia muak melihat keduanya.
" Hentikan ! Jangan membuat keributan dirumahku! " teriaknya kesal. Ia takut Mamanya akan turun dan melihat kejadian tersebut.
Helena dan Sisil tidak menggubris perintahnya, keduanya semakin menjadi-jadi.
" Rasakan ini ! " Sisil menampar pipi Helena dan kembali menjambak rambutnya.
__ADS_1
" Dasar kurang ajar! " Helenapun tak mau kalah, ia menjambak rambut gadis itu dan menyikut mendorongnya hingga terjatuh.
Arkana semakin kebingungan sebab keduanya tidak mau berhenti berkelahi. Dengan terpaksa ia melerai keduanya.
" Arkana milikku! " teriak Helena saat Arkana hendak membantu Sisil berdiri. Ia segera menarik lengan pria itu kedekatnya.
Sisil segera berdiri, iapun menarik tangan Arkana untuk meraihnya, " Bukan, dia milikku. Dasar pelakor! " teriaknya sambil menarik Arkana kesisinya.
Seroja ingin tertawa sepuas-puasnya melihat pemandangan didepannya, namun dirinya berusaha agar tawanya itu tidak terdengar oleh mereka. Ia menyoraki kedua gadis itu dari kejauhan.
Bianca yang sedang berada dikamarnya merasa penasaran saat mendengar keributan dibawah. Ia memutuskan untuk turun dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Tap..Tap..Tap..
Suara seseorang yang menuruni tangga bahkan tidak terdengar oleh mereka. Seroja membelalak seketika saat dirinya menyadari siapa yang datang kali ini. Bianca memelototi gadis itu saat melihatnya tertawa sendiri dari balik tembok.
Seroja membungkukkan badan dan berniat meninggalkan ruangan tersebut. Namun, tiba-tiba saja Bianca menahannya dan justru menarik gadis itu bersamanya.
" Hentikan! Siapa yang berani-beraninya membuat keributan di kediamanku! " bentaknya hingga membuat yang sedang berkelahi terdiam seketika.
Arkana menunduk malu, ia yakin Mamanya tidak akan mengampuninya kali ini. Kedua gadis itupun tak kalah malunya, mereka lupa bahwa dirumah tersebut ada orang tua Arkana.
" Maafkan saya, Tante. Gadis ini yang membuat keributan terlebih dahulu. " Helena berusaha mencari aman dan menujukan semua kesalahan pada Sisil.
Sisil merasa tak terima, iapun ikut mengadu pada Bianca. " Gadis ini yang membuat masalah terlebih dahulu, dia berani menikungku dari belakang. "
" Apa kau bilang? Kau sendiri yang menggunakan cara licik untuk mendapatkan Arkana. " Helena tak terima dengan tuduhan Sisil, keduanya hampir saja bertengkar kembali.
Bianca sungguh heran dengan kelakuan kedua gadis tersebut, apalagi penampilan mereka sungguh tidak senonoh menurutnya.
" Hentikan ! Tidak ada yang akan memiliki Arkana karena putraku sudah memiliki calon istri! " ucapan Bianca sontak menghentikan keduanya, bahkan Arkana membelalak seketika saat mendengar ucapan sang Mama.
" Gadis ini adalah calon istri Arkana. " Bianca mendorong pelan Seroja kedepan ketiganya. Ketiganya terbelalak, Serojapun terkejut seakan tak percaya dengan apa yang disampaikan Bianca barusan.
Bersambung,,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku ini. Dukungan kalian adalah semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelum