Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
KEPERGIAN ARKANA DARI MANSION


__ADS_3

Helena dan Sisil segera melepaskan Arkana saat mendengar apa yang disampaikan Mama Bianca. Mereka menatap Seroja dari atas hingga bawah. Rasanya sungguh tidak dapat dipercaya gadis kampungan seperti itu adalah calon istri Arkana.


" Apa kalian tidak malu telah membuat keributan disini hanya karena memperebutkan calon suami orang?" sindir Bianca pada keduanya.


Kedua gadis itu menatap Arkana seolah tak rela pria tersebut akan dimiliki oleh orang lain. Dengan berat hati keduanya pergi meninggalkan mansion sambil menatap sinis ke arah Seroja.


Arkana tersenyum lega, ia segera mendekati sang Mama untuk berterimakasih.


" Untung ide Mama sangat cemerlang. Aku sudah kehabisan akal untuk memisahkan mereka. Makasih Ma. " ungkapnya sambil memeluk Bianca.


Serojapun bernapas lega, ia yakin itu hanya akal-akalan majikannya supaya kedua gadis itu segera pergi darisana. Manamungkin wanita itu menjodohkan putranya dengan gadis miskin sepertinya? Iapun tidak akan mau bila harus dijodohkan dengan pria dingin dan menyebalkan seperti Arkana.


Bianca menatap heran kearah putranya, perlahan dirinya melepaskan pelukan Arkana.


" Siapa yang sedang bercanda? Kau pikir Mama tidak benar-benar serius mengatakan hal itu? Mama memang berniat menjodohkan kalian berdua. "


Arkana dan Seroja semakin terkejut, dengan kompak keduanya menjawab, " Tidak. "


" Ma, manamungkin aku menikah dengan gadis kampungan sepertinya! Mama tahu bukan siapa gadis yang aku cintai? Ayolah Ma! Jika Mama kesal karena kedua gadis tadi, Mama boleh menghukumku seberat-beratnya, tapi tidak dengan menikahi gadis gila itu! " tolak Arkana tegas.


Seroja kesal pada Arkana sebab pria itu menghinanya secara terang-terangan.


" Nyonya, sayapun tidak ingin dijodohkan dengan putra anda. Saya ingin menikah dengan pria pilihanku sendiri, yang jelas bukan dia! " tolaknya sambil menatap sinis ke arah Arkana.


Bianca memandangi keduanya, " Keputusan Mama tidak dapat ditentang. " ucapnya tegas. Ia menatap putranya dengan penuh kekesalan.


" Bukankah Mama sudah bilang, jangan pernah mempermainkan perasaan wanita. Mama sangat kecewa melihat kelakuanmu barusan! Kau bilang kau menyukai Aluna, tapi mana buktinya? Kaupun tidak tahu bukan? Bagaimana Aluna saat ini? Apa dia masih mencintaimu? Mama ingin kau menikah dengan gadis baik-baik. " jelasnya.


Arkana tak terima dengan pendapat Mama Bianca.


" Aluna dan aku masih saling mencintai hingga saat ini, kami masih berhubungan baik. A,, aku hanya menjadikan gadis-gadis itu pacar semu Ma. Itu semua hanya untuk popularitasku dikampus. Aku tidak pernah melakukan perbuatan yang dilarang, itu hanya sekedar bersenang-senang. " jelasnya pada Bianca, iapun menatap sinis kearah Seroja.


" Dan gadis itu? Aku yakin dia hanya ingin mencari muka didepan Mama. Mama tahu? gadis gila itu berani merusak dan mengempesi mobilku tanpa sebab dan pergi begitu saja. " lanjutnya menunjuk kearah Seroja.

__ADS_1


Seroja merasa tak terima, ia menyanggah apa yang dituduhkan Arkana padanya.


" Hei, aku tidak pernah lari dari tanggung jawab. Bukankah kita sudah membuat kesepakatan? Itu semua hanyalah salah paham."


Bianca yang mendengar pertengkaran keduanya merasa pusing, iapun mengambil keputusan akhir untuk keduanya.


" Sudah, hentikan. Keputusan Mama tidak bisa diganggu gugat. Arkana kau akan Mama jodohkan dengan Seroja. Itu lebih baik daripada kau harus bermain dengan gadis-gadis seperti itu. Mama tidak ingin kau terbawa dalam pergaulan bebas."


Arkana begitu kecewa pada Mamanya, dirinya merasa sang Mama begitu egois dan hanya mengambil keputusan sepihak. Di zaman sekarang sepertinya sudah tidak berlaku lagi perjodohan seperti itu.


" Ya sudah kalau itu memang menjadi keputusan Mama. Aku lebih baik pergi dari sini!" Pria itu segera keluar dari mansion dengan perasaan begitu kesal.


Bianca tidak menyangka putranya berbuat senekad itu, iapun berusaha mencegah putranya agar tidak pergi meninggalkan rumah. Namun, ternyata Arkana langsung pergi dari mansion dengan mobilnya.


Wanita itu nampak bersedih, memang ia mengambil keputusan tersebut secara sepihak sekaligus mendadak. Dirinyapun secara diam-diam megawasi kelakuan putra putrinya lewat para bodyguard. Meskipun Aulia sering menutupi kelakuan kakaknya, namun ia tahu bagaimana polah tingkah putranya itu sebenarnya.


Seroja menyesalkan apa yang baru saja terjadi. Dirinya tak enak hati sebab sejak kedatangannya di mansion, keluarga tersebut malah bersitegang seperti sekarang. Ia mendekati Bianca yang terlihat sedang duduk dan bersedih dikursi ruang keluarga.


Bianca menatap gadis itu, sebuah senyum tersimpul diwajahnya yang sendu. Dirinya sama sekali tidak pernah menyalahkan Seroja dalam hal ini.


" Kau tidak perlu merasa bersalah, ini semua adalah keputusanku sendiri. Entah kenapa aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Menurutku, kau adalah gadis yang baik. " ia berusaha menenangkan Seroja.


Seroja merasa pikiran majikannya tidaklah benar.


" Nyonya, anda belum mengenal siapa saya sebenarnya. Saya tidak sebaik yang anda pikirkan. " sanggahnya seketika.


Bianca tersenyum kembali, " Terkadang kita tidak harus mengatakan bahwa diri kita baik. Biarlah sikap dan tingkah laku yang mencerminkan segalanya. Aku akan kembali ke kamarku, tolong jangan kau masukkan hati perkataan Arkana barusan. " ia menepuk pundak gadis itu, kemudian kembali ke kamarnya.


...----------------...


Malam tiba, Alvin telah kembali ke mansion. Seperti biasa keluarga itu melakukan makan malam bersama. Ia melirik bangku Arkana yang masih kosong, dirinya heran beberapa hari ini Arkana tidak ikut makan malam bersama.


" Aulia, panggil kakakmu. Apa dia belum pulang lagi hari ini? " tanya Alvin pada putrinya.

__ADS_1


Aulia heran, sebab dikampus ia tidak melihat kehadiran sang kakak disana.


" Kak Arkana sepertinya tidak kekampus hari ini. Aku tidak melihatnya sedari tadi, bahkan dirumahpun aku belum menjumpainya. "


Bianca masih diam tak menanggapi, ia bingung harus menjelaskan apa pada suaminya. Seroja melirik wanita tersebut, iapun memilih diam dari pada salah bicara nantinya.


Alvin hendak beranjak dari bangkunya, ia berniat untuk memanggil putra sulungnya itu. Namun, saat hendak berdiri, Bianca tiba-tiba menahannya.


" Papa tidak perlu memanggilnya, Arkana tidak ada di mansion. Dia pergi dari sini, nanti aku akan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya."


Alvin tak mengerti apa maksud dari sang istri, ia ingin bertanya lebih jauh. Namun, ia mengurungkan niatnya sebab ada Killa disana.


Auliapun penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ia menginjak kaki Seroja pelan , berharap sahabatnya tersebut mengetahui apa maksud perkataan Mamanya. Seroja hanya mengangguk, ia berniat menceritakan semua setelah makan malam usai.


Seluruh anggota keluarga telah menyelesaikan makan malamnya , Bianca dan Alvin


menemani putri kecilnya sebelum kembali ke kamar. Setelah Killa tertidur, keduanya segera memasuki kamar mereka.


Alvin sudah tidak tahan untuk menanyakan hal yang mengganggu pikirannya sedari tadi.


" Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud perkataanmu diruang makan barusan. Pantas saja aku melihatmu murung sejak pulang dari kantor tadi sore."


Bianca berhambur ke pelukan sang suami. Tangisnya pecah, ia menceritakan semuanya pada Alvin tentang kedua gadis yang memperebutkan putranya, tentang niatnya serta penolakan Arkana yang berujung dengan perginya sang anak dari rumah.


Alvin berusaha menenangkan istrinya, ia tak sanggup melihat wanita itu bersedih hati.


" Kau tenang saja, Dia pasti akan kembali. Aku yakin dirinya tidak akan bisa pergi lama-lama dari rumah. Tapi, aku mohon kau pertimbangkan keputusanmu. Mungkin saja dia belum siap menerima semuanya. " ia membalas hangat pelukan sang istri.


" Terimakasih. Mungkin kau ada benarnya juga."


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..

__ADS_1


__ADS_2