
Jam makan malam tiba, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Begitupun pasangan pengantin baru, mereka terlihat datang bersama-sama menuju meja makan.
Bianca melirik keduanya, dirinya masih ingin tertawa mengingat kejadian tadi sore.
" Mama kenapa tersenyum sendiri melihat kakak dan Seroja? " Aulia tanpa memperhatikan sang Mama.
" Ti,, tidak. Mereka kan baru saja datang. Oh ya Seroja? Makan yang banyak ya, kau pasti sangat lelah." wanita itu tersenyum pada menantunya.
" Memangnya Seroja habis ngapain kelelahan. Mama bisa saja. " Aulia dengan polosnya menertawakan Mamanya.
Uhuk..Uhuk...Uhuk..
" Kau tidak apa-apa? "
Arkana segera memberikan segelas air putih untuk istrinya saat wanita itu tiba-tiba tersendak makanan. Dia harus bisa berperan sebagai seorang suami yang perhatian. Walaupun dirinya tahu apa yang membuat Seroja tersendak seperti itu.
Wajah Seroja langsung memerah seperti tomat, apalagi saat orang tua dan mertuanya menatap sekilas padanya. Ia sudah bisa menebak apa yang ada di kepala mereka.
Bianca semakin senang melihat kedekatan keduanya, iapun mengerti menantunya saat ini pasti sedang malu karenanya. Iapun berusaha mengalihkan perhatian.
" Mari kita lanjutkan saja makan malamnya. " ajaknya pada semua yang ada disana. Merekapun kembali fokus untuk menyantap makan malamnya.
...----------------...
Malam hari, pasangan pengantin baru itu telah berada dikamarnya. Seroja terlihat duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, sesekali ia melirik sang suami yang sedang santai duduk berselonjor diatas ranjang sambil memangku laptopnya.
Sore kemarin, drama kembali terjadi. Keduanya saling ribut memperebutkan ranjang. Seroja meminta pria itu untuk mengalah pada seorang wanita.
Namun kali ini Arkana tidak mau mengalah, beberapa hari dirinya sudah mengalah untuk tidur di sofa hotel. Kini giliran gadis itu yang harus tidur di sofa kamarnya sebab dirinyalah yang berkuasa disana.
" Hei,, kenapa kau melihatku seperti itu? Awas saja kalau kau mau merayuku lagi. Keputusanku sudah bulat, kau tidurlah disana dan aku yang akan tidur disini. " tegas Arkana saat tanpa sengaja ia melihat gadis itu memperhatikannya.
" Tidak! Siapa juga yang mau merayumu. Aku sudah terbiasa tidur dimana saja. Tidak seperti kau yang selalu saja mengeluh hanya karena tidur disofa. Dasar pria manja."
" Kau! "
__ADS_1
Buru-buru Seroja berpura-pura tidur ketika Arkana hendak membalasnya. Pria itu hanya mendengus kesal. Ia segera menutup laptopnya dan membaringkan dirinya diranjang lantaran malam sudah cukup larut.
*Heh..heh..heh..
Heh..heh...heh*..
Arkana membolak-balikan tubuhnya lantaran tidak bisa tidur saat mendengar Seroja yang terus saja merintih. Pria itu merasa kesal, padahal besok pagi ia harus bekerja, tapi malam ini tidurnya harus terganggu oleh suara rintihan Seroja.
Iapun bangun dan menghampiri Seroja untuk protes kepadanya. Namun, ia mengurungkan niatnya lantaran tak tega melihat gadis itu kedinginan karena dinginnya AC ruangan.
Arkana segera mengambil selimut dan bantal untuk istrinya. Dengan telaten ia mengangkat kepala Seroja dan memberikan sebuah bantal untuknya. Lalu ia menutupi tubuh gadis itu agar lebih nyaman dan hangat.
Seutas senyum terukir di wajah tampannya ketika gadis itu terlihat meringkuk sambil tersenyum merasakan kehangatan di tubuhnya. Ia mencoba mengetes apakah gadis itu benar-benar tidur atau berpura-pura saja.
Ia melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Seroja, namun gadis itu ternyata tidak merespon.
" Sepertinya dia sudah tertidur pulas. " gumamnya dalam hati.
Iapun mengusap-usap kepala gadis itu beberapa lama karena gemas. Wajah Seroja terlihat begitu cantik dan polos seperti bayi saat sedang tertidur. Tapi, dirinya langsung terhenyak saat menyadari sikapnya barusan.
Arkana segera berdiri dan kembali ke ranjangnya. Mungkin dirinya hanya terbawa suasana. Ia mencoba melawan gejolak didalam hatinya, ia yakin cintanya masih utuh untuk satu wanita yaitu Aluna.
...----------------...
Pagi menjelang, Seroja terbangun sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya. Rasanya tidurnya semalam cukup nyaman, meskipun agak dingin menurutnya.
Dirinya baru menyadari bahwa saat ini tubuhnya telah berselimut dan memakai bantal.
" Siapa yang memakaikanku selimut dan bantal? Apa mungkin dia? " batinnya.
Ia menatap ranjang pria itu yang telah kosong. Kedua sudut bibirnya terangkat, meskipun terlihat acuh ternyata Arkana pria yang cukup perhatian menurutnya.
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka, Arkana baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang melilit dipinggangnya.
__ADS_1
Glekk....
Seroja menelan kasar ludahnya saat disuguhi pemandangan yang begitu menggoda didepannya. Buru-buru i menutup mata karena malu.
" Sudah,sudah tidak perlu berlebihan seperti itu. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan semua ini." Arkana telah berdiri dihadapannya. Ia membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajah Seroja.
Kedua netra Seroja membola seketika saat pemandangan seperti itu justru kini begitu dekat tepat dihadapannya. Ia kembali menutup wajahnya, jantungnya jadi tak karuan lantaran hal ini.
Arkana mendengus kesal, dirinya harus buru-buru bekerja namun harus mengurus terlebih dahulu gadis ini. Ia menarik Seroja agar berdiri dan menuntunnya kelemari pakaian. Pria itu sengaja bangun lebih awal karena gadis itu sepertinya harus diospek terlebih dahulu agar tahu tugas-tugasnya sebagai istri.
Gadis itu berjalan sambil menutupi sebagian wajahnya. Arkana memberhentikannya tepat di depan lemari pakaian.
" Cepat pilihkan baju kerjaku ! " perintahnya pada Seroja. Sambil menutup mata gadis itu mencoba meraba-raba pakaian yang ada disana.
Arkana geleng-geleng kepala, seketika ia menurunkan telapak tangan Seroja dan mengambil sendiri baju kerjanya lantaran tak sabar dengan gadis itu.
Seroja kembali menelan kasar ludahnya, apalagi saat Arkana mengambil pakaiannya tadi tanpa sengaja gadis itu menyenggol dadanya yang kekar. Belum lagi, aroma tubuh Arkana yang begitu maskulin hingga membuat imajinasinya terpencar kemana-mana.
" Lihat kesini, perhatikan jika orang sedang berbicara kepadamu. " pria itu meluruskan tubuh Seroja agar sejajar dan berhadap-hadapan dengannya.
" Ya Tuhan, bisa- bisa aku mati berdiri didepannya. " batin Seroja tak karuan.
" Lihat aku! " tegas Arkana sekali lagi.
" I,, iya. " Seroja memberanikan diri menatap sang suami.
" Mulai hari ini kau yang harus menyiapkan segala keperluanku. Air hangat untukku, pakaianku, sepatu kerja, dasi semua harus dirimu yang mengurusnya. Dan ingat, kau harus bangun lebih awal dariku karena kau harus menyiapkan keperluanku. Jangan seperti ini, kau tidak boleh bermalas-malasan. Mengerti? Kau masih ingat dalam perjanjian tertulis kalau kau harus menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri dan menuruti perintah suami.
" I,,iya aku mengerti. " jawab Seroja gugup. Itu kalimat paling aman baginya agar Arkana bergegas menjauh dari hadapannya.
" Baguslah kalau begitu. " Arkana tersenyum bangga. Benar saja, pria itu akhirnya menjauh darinya.
Seroja bernafas lega, " Selamat,, selamat!" ia memegangi dadanya yang tidak karuan.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...