
" Aulia sayang, apa Seroja dua hari ini masuk kampus? Kakakmu bilang mereka ingin tinggal di apartement beberapa hari ini." Bianca menghentikan langkah putrinya yang hendak berangkat kuliah bersama Arzel.
" Tidak,Ma. Sebenarnya akupun sedikit khawatir padanya, kemarin dia menelponku dan mengatakan kurang enak badan. Tapi kemungkinan besok dia sudah mulai masuk kuliah." terang Aulia.
Raut kecemasan semakin tergambar jelas di wajah Bianca. Ia takut terjadi apa-apa dengan menantunya. Rencananya ia ingin menjenguk gadis tersebut disana siang ini.
...----------------...
Arkana telah berangkat ke kantornya, ia meminta sang istri untuk banyak beristirahat dan cuti kuliah dulu sementara.
Serojapun mengikuti apa yang diperintahkan suaminya. Mau bagaimana lagi? Agaknya sang suami sedang giat bertempur bahkan iapun masih menyempatkan untuk berolah raga pagi sebelum berangkat ke kantornya.
" Hooammm!! "
Gadis itu mulai mengeliat dan beranjak bangun. Diliriknya jam yang menancap sempurna di dinding kamar tersebut, waktu menunjukkan pukul 10 pagi.
" Dia benar-benar mengerjaiku." gerutunya sambi melemaskan otot-otot tubuhnya.
Sebuah senyuman terukir indah diwajahnya. Dirinya tak menyangka, sekarang ia telah menjadi istri seutuhnya dari Arkana.
Terkadang takdir memang jorok. Padahal ia dan Arkana dulu seperti musuh bebuyutan, tapi kini justru mereka saling mencintai meskipun harus melewati drama nikah kontrak sebelumnya.
Ia menatap seisi kamar tersebut. Lagi dan lagi dirinya dibuat lega. Kamar yang tadinya terdapat begitu banyak foto Arkana dan mantan kekasihnya, kini telah bersih. Justru, dibagian tengah dinding kamar telah terpajang foto pernikahan mereka yang cukup besar.
Entah sejak kapan, dirinyapun tidak menyadari hal itu. Kemarin hampir dirinya tak bangun dari ranjangnya selain pergi ke kamar mandi. Suaminya yang kebetulan tidak bekerja, memaksanya untuk melayani pria itu seharian diatas ranjangnya. Ia tak menyangka, pria sok lugu itu begitu ganas jika sudah diatas sana.
Gadis itu beranjak dari peraduannya menuju kamar mandi. Pasti akan sangat menyenangkan jika ia bisa berendam cukup lama sambil menikmati aroma terapi yang ada di dalam bath up mandinya.
" Apa ini? "
Seroja geleng-geleng kepala saat melihat maha karya indah ciptaan sang suami yang hampir mirip lukisan yang membujur di sekujur tubuhnya. Apa memang seperti ini yang dinamakan profesi sebagai istri? gerutunya dalam hati.
Hampir setengah jam ia berada di dalam sana, setelah membersihkan dirinya gadis itupun segera menggunakan jubah mandi milik sang suami.
__ADS_1
" Apa aku harus terus- terusan memakai jubah mandi ini?" batinnya menatap pakaian yang ia kenakan saat ini.
Mau bagaimana lagi? Dirinya kesana memang tidak membawa pakaian sama sekali. Hanya pakaian basah yang dikenakannya waktu itu, dan itupun dirinya tak tahu entah dimana keberadaannya saat ini.
" Aku harus segera mencucinya, jika tidak dengan mudah dia bisa memangsaku kembali." gerutunya kesal, meski iapun sebenarnya menikmatinya.
Ia berinisiatif untuk memakai pakaian suaminya terlebih dahulu, sebelum mencari keberadaan pakaiannya untuk dicuci. Netranya membola seketika lantaran melihat begitu banyak pakaian wanita yang sepertinya masih baru berjajar rapi di lemari pakaian berukuran besar itu.
" Pakaian siapa ini? apa jangan- jangan? "
Pikirannya tertuju pada wanita yang menjadi cinta pertama bagi suaminya. Sebab, seingatnya Arkana pernah meminjamkan pakaian wanita itu yang diambilnya dari kamar lain yang ada diapartemen tersebut.
Rasa kecewa hampir-hampir menghinggapi dirinya, namun suara ponsel yang berdering membuatnya sedikit lupa akan pikiran negatifnya barusan.
" Assalamualaikum, sayang. Apa kau sudah bangun?" ucap seseorang dari balik telepon yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Gadis itu memberengkut kesal saat mengingat baju-baju yang ada dilemari tersebut.
" Apa kau belum membuka lemari pakaian? Aku telah meminta Bibi yang biasa membersihkan apartemen untuk menyimpan baju-baju yang aku belikan untukmu lengkap dengan isi-isi didalamnya. "ungkap pria yang terdengar sedang terkekeh dari balik telepon.
Hati Seroja sungguh lega, ternyata pakaian itu memang sengaja dibeli untuknya. Tapi tunggu? Kapan bibi itu masuk. Oh,, sungguh dirinya pasti malu sekali sebab ia tidur hanya mengenakan jubah mandi tanpa selimut sebagai penutupnya.
" Kapan Bibi itu masuk? Kenapa aku tidak menyadarinya? Lalu, apa maksudmu dengan isi-isi didalamnya? " pertanyaan terakhirnya itu begitu bodoh menurutnya, ia menyesal menyebut hal itu padahal tentu saja ia tahu maksud dari suaminya.
" Bibi datang sewaktu aku hendak berangkat bekerja. Aku memintanya memasukkan baju-baju itu ke kamar kita. Akupun meminta padanya agar jangan membangunkanmu yang sedang tertidur. Apa kau tidak tahu isi-isi dalam pakaianmu itu. Aku membelinya sambil membayangkan semoga ukurannya pas dibadanmu." goda Arkana pada sang istri.
Seroja seketika merona dibuatnya, arti kata " membayangkan" itu seolah ia bisa dicernanya dengan baik.
" Sejak kapan kau menjadi suami mesum seperti ini, heum?"
" Tentu saja sejak aku memiliki istri yang mampu membuat pikiranku selalu berfantasi dibuatnya." Arkana kembali teringat beberapa kejadian yang selalu membuatnya sulit tidur lantaran mengingat Seroja.
" Dasar mesum." ucap wanita itu sambil menggigit bibir bawahnya lantaran malu.
__ADS_1
" Mesum hanya padamu, sayang. Ya sudah, aku ada meeting sebentar lagi. Jangan lupa sarapanmu sudah ada di meja makan. Bersiaplah menyambutku nanti malam. " pesan pria itu sebelum akhirnya menutup panggilannya. Tak lupa ia meninggalkan sebuah kecupan sayang untuk istri tercintanya itu.
Seroja kembali geleng-geleng kepala. Suaminya kini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Perlakuannya benar-benar sangat manis pada istrinya.
" Terima kasih Ya Rabb, kini kau telah memberikan pasangan yang benar- benar menyayangiku. " batinnya berbunga-bunga.
Gadis itu segera mengambil salah satu pakaian yang ada disana yang kebanyakan terlihat sedikit seksi jika dibandingkan pakaian yang ia gunakan sebelumnya. Ia berniat menikmati sarapan pagi yang disiapkan untuknya setelahnya.
Ting...Tong..
Suara bel apartemen membuatnya harus menghentikan sarapan paginya kali ini. Dengan cepat ia menyuapkan sesendok besar makanan terakhirnya dan meminum segelas air agar makanan itu dengan mudah masuk ke kerongkongannya.
" Mama? " netranya membola seketika saat mengetahui siapa yang datang. Iapun segera mempersilahkan mertuanya untuk masuk ke dalam apartemen.
Bianca tersenyum ramah saat Seroja menyambut hangat kedatangannya.
" Maafkan Mama mengganggu. Mama hanya khawatir, tidak biasanya kalian tinggal di apartemen. Apalagi, Aulia bilang kau tak masuk kuliah dua hari ini. Katanya kau sedang tidak enak badan. "
Seroja menelan kasar salivanya, ia membuat alasan seperti itu lantaran itu alasan paling gampang menurutnya.
" Mama jangan khawatir. Aku sudah lebih baik sekarang. Kemungkinan aku akan kembali berkuliah besok, tapi masalah tinggal disini aku belum tahu sampai kapan. Aku hanya menuruti Arkana, Ma." jelas Seroja.
Bianca tersenyum lega mendengarnya,
" Mama tidak apa-apa jika kalian memang ingin tinggal disini sementara. Mama paham kalian masih pengatin baru pasti tidak ingin diganggu. Mama harap kalian cepat memberikan cucu untuk kami berdua. "
Wajah Seroja merona seketika mendengar permintaan mertuanya. Tapi, memang benar adanya mereka sedang berusaha keras mencetak bibit-bibit unggulan saat ini. Serojapun tak menolak jika memang ia harus hamil disaat kuliahnya belum tuntas. Bagaimanapun tugas sebagai istri harus ia utamakan saat ini.
" Siap, Ma. " ucapnya mantap.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian diaini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..
__ADS_1