
Keduanya telah tiba dikampus, Arkana dan Seroja masih saja diam seribu bahasa. Meskipun Arkana tidak menyukai gadis tersebut, namun dalam hatinya masih ada rasa bersalah akibat kata-katanya tadi.
Tak dapat dipungkiri, kata-kata pria tersebut memang begitu mengena bagi Seroja. Ia sadar dirinya hanyalah gadis miskin dengan tampang pas-pasan. Tapi, apakah salah jika dirinya berusaha untuk menjaga kehormatan dan harga dirinya?
Arkana hendak membuka pintu mobilnya,
" Biar aku saja, aku pengawalmu sekarang. " gadis itu menahannya.
" Tidak, rasanya sungguh aneh memiliki pengawal seorang perempuan. " Arkana menepis tangan Seroja, iapun segera keluar dari mobilnya.
Semua mata tertuju padanya, para mahasiswa terkejut saat melihat Arkana, sang idola kampus datang bersama seorang gadis dengan penampilan yang biasa saja. Banyak diantara mereka yang bertanya-tanya, siapa gerangan gadis tersebut.
Helena dan Sisil terbelalak melihat kedatangan pria tersebut bersama gadis yang dijodohkan dengannya. Keduanya terbakar cemburu, dengan begini kesempatan memiliki Arkana pasti akan semakin kecil.
Arkana melirik Seroja yang berjalan dibelakangnya. Ia sungguh tidak nyaman dibuntuti seorang perempuan. Pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, Seroja yang sedari tadi berjalan menunduk tanpa sengaja menabraknya.
*Jedug..
Awww*..
Dirinya kaget, tanpa disadari kepalanya menabrak punggung Arkana. Pria itu membuang nafas kasar untuk menahan kekesalan, Seroja benar-benar gadis yang ceroboh.
" Kalau berjalan pakai mata. Untuk apa kau mengikutiku? Cepat pergi keruanganmu. ungkapnya kesal.
" Nyonya sudah berpesan padaku untuk mengawalmu kemanapun kau pergi. Aku akan masuk ke ruanganku jika kaupun begitu. " Seroja tak mau kalah.
" Ya sudah. Aku akan ke toilet pria, apa kau juga ingin ikut denganku? " Arkana sungguh heran dengan pemikiran gadis ini.
" Aku akan menunggumu diluar. " balas Seroja.
Arkana geleng-geleng kepala, memang dirinya berniat untuk pergi ketoilet. Tapi jika Seroja mengikutinya, itu sungguh tidak nyaman baginya. Dengan terpaksa iapun tetap ketoilet sebab ia hendak menunaikan hajatnya.
Seroja menunggu pria tersebut didepan ruang toilet. Beberapa pria yang hendak masuk ke dalam menatap heran kearahnya. Gadis itu seperti kurang kerjaan berdiri didepan toilet.
Serojapun merasa malu melakukannya, tapi mau bagaimana lagi Bianca semalam berpesan agar dirinya selalu mengawasi pria tersebut. Ia berusaha menyembunyikan mukanya, khawatir jika ada yang mengenalinya.
Arkana telah keluar dari toilet, ia melirik kearah Seroja saat melintasinya. Diapun heran, mau-maunya gadis ini mengekorinya kemanapun dirinya pergi. Seroja kembali berjalan di belakang Arkana saat pria tersebut meninggalkan tempat tersebut.
" Hei, Bro. " Rehan menyapa Arkana saat kebetulan ia bertemu sahabatnya. Ia menatap gadis yang berada tak jauh dari pria itu dari atas hingga bawah.
" Siapa gadis ini? Apa dia calon istrimu? " tanyanya penasaran. Sebab dari penampilannya, gadis itu seperti gadis biasa dan Arkana akan dijodohkan dengan seorang pembantu oleh sang mama.
__ADS_1
" Jaga mulutmu, manamungkin aku mau menikah dengan gadis kampungan sepertinya. Dia pengawalku. " ungkap Arkana dingin.
Rehan mendelik seketika, baru kali ini ia mendengar seorang pria dikawal oleh seorang gadis. Ia mendekati Seroja dan memperhatikannya lamat-lamat. Gadis itu merasa risih diperhatikan seperti itu oleh seorang pria.
" Kau manis juga. " pria itu berusaha menggodanya dan hendak mencoel dagu Seroja.
Awww...
Teriaknya kesakitan saat dengan sigap Seroja memelintir tangannya. Arkana melirik sekilas, sebuah senyum terukir disalah satu sudut bibirnya. Sahabatnya itu belum tahu siapa Seroja yang sebenarnya.
" Ampun-ampun! Tolong lepaskan aku. Aku minta maaf bila tidak sopan padamu. " Rehan meringis kesakitan sebab gadis itu tak juga melepaskan tangannya. Ia melirik Arkana, berharap pria tersebut mau menolongnya.
" Lepaskan dia! Cepat kembali keruanganmu. Akupun akan masuk keruanganku. " perintah Arkana.
Sebenarnya Seroja kesal dengan pria yang hampir melecehkannya. Namun mau bagaimana lagi, Arkana meminta dirinya untuk melepaskan pria itu dan jam kuliah memang sebentar lagi akan dimulai.
" Baiklah. Ingat! Jangan centil dan jangan tebar pesona pada gadis-gadis. " Seroja memperingatkannya. Rehan membelalak, wanita itu sudah seperti seorang istri yang mengawasi suaminya agar tidak berselingkuh.
Arkana membuang nafas kasar, mau tak mau ia harus menuruti gadis tersebut. Ia takut gadis itu akan membuat laporan yang bukan-bukan pada Mamanya. Ia hanya mengangguk tanpa menjawab dan berlalu menuju ruangannya.
Seroja tersenyum lega, akhirnya ia bisa menjalankan perintah Bianca, setidaknya di hari ini saat pertamakali ia menjadi pengawal Arkana.
" Apa yang kau tertawakan? Tidak ada yang lucu. " Arkana melirik tajam padanya.
Rehan semakin puas menertawakannya, " Kau sudah seperti suami takut istri. "
Arkana merasa kesal, secara spontan ia menarik baju pria itu hingga membuat Rehan seketika menghentikan tawanya. Ia hafal sifat Arkana yang sedikit tempramen.
" Sorry, Bro. Aku hanya bercanda. " ucap Rehan meringis sambil memelas kepadanya.
" Kau harus membantuku untuk menjauhkan gadis itu dariku. Aku tidak suka diawasi seperti anak kecil. " ungkapnya kesal.
" Tenang Bro,, nanti kita pikirkan caranya. Sekarang lebih baik kita masuk terlebih dahulu."
Perlahan Arkana melepaskannya. Rehan hanya mampu geleng kepala, ia sudah biasa diperlakukan seperti itu. Namun, ia tahu Arkana adalah sahabat yang baik sebenarnya. Merekapun masuk kedalam ruangannya.
...----------------...
Jam kuliah telah berakhir, Seroja segera mencari Arkana di ruangannya. Ia tak ingin kehilangan jejak pria tersebut. Untung saja Arkana baru keluar dari ruangannya. Gadis itu segera menghampiri Tuan barunya.
" Kau lagi, kau lagi. Bisakah kau tak mengikutiku terus-terusan? Aku risih diikuti perempuan kampungan sepertimu. " Arkana kehilangan moodnya saat melihat kedatangan Seroja.
__ADS_1
" Aku hanya menjalankan perintah Nyonya. " jawabnya singkat.
Rehan yang sedang bersama Arkana ingin tertawa melihat keduanya.
" Sudahlah, lebih baik kita ke kantin sekarang. Perutku sudah lapar." ia menepuk pelan pundak sahabatnya untuk menenangkan.
Arkana hanya melirik tajam pada Seroja, iapun mengikuti kata-kata sahabatnya tersebut. Rehan mengajak pria tersebut menuju kantin. Keduanya duduk dan segera memesan makanan. Seroja hanya berdiri, sebab manamungkin ia duduk tanpa seizin pria tersebut.
" Dasar pria tak ada akhlak, tega-teganya dia membiarkanku berdiri dan melihatnya makan seenak itu. " batinnya kesal.
Ia menatap Arkana yang sedang menikmati makanannya, sepertinya terasa enak bagi Seroja. Airliurnya seakan hampir menetes, iapun sebenarnya lapar saat ini. Cacing diperutnya meronta-ronta minta untuk segera diisi, ia hanya memakan sepotong roti tadi pagi karena takut terlambat.
Arkana secara diam-diam melirik gadis itu, seulas senyum tipis tersimpul dibibirnya. Rencana Rehan dan dirinya sepertinya berhasil. Pasti gadis itu kesal hanya berdiri saja dibelakangnya.
Seroja yang sedang berkhayal menikmati makanan itu tiba-tiba dikagetkan oleh seseorang yang menyikutnya dari belakang. Ternyata Sisil gadis itu, ia hendak merangk Arkana dari belakang. Namun, Seroja mendorong pelan gadis itu menjauh dari Arkana.
" Hei, upik abu. Apa yang kau lakukan? " ungkapnya kesal. Ucapannya tersebut mengalihkan perhatian Arkana dan Rehan padanya.
" Aku hanya menjalankan tugas, tidak ada gadis yang boleh mendekati Arkana. " jawabnya enteng.
" Memangnya siapa dirimu, berani-beraninys melarangku seperti itu, dasar kampungan. " balasnya kembali.
" Aku adalah pe,, " belum sempat ia meneruskan kata-katanya, Arkana segera menyela.
" Bukankah kau tahu siapa dia ! "
Ucapan Arkana membuatnya bingung, sebab setahunya gadis itu adalah orang yang dijodohkan dengan Arkana. Arkanapun tak ingin Sisil tahu Seroja pengawalnya, sebab Sisil gadis bermulut ember, ia malu seisi kampus tahu dirinya memiliki pengawal seorang wanita.
Kesempatan ini dipakai Seroja untuk mengerjai pria tersebut. Ia memang gadis cerdas, ia tahu isi otak Arkana.
" Sayang, aku lapar sekali. Aku ingin memesan makanan. " secara tiba-tiba ia menabrak Sisil dan duduk disamping Arkana sambil memesan makanan. Ia mengatakan pada pelayan bahwa Arkana yang mentraktirnya, agar pria itu membayar pesanannya.
Pria itu hanya terdiam, ia tak mungkin melarang Seroja. Iapun membiarkan gadis itu makan dengan kenyang disampingnya.
Sisil merasa kesal, iapun pergi dari sana dengan perasaan dongkol.
" Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. " batin Seroja merasa menang kali ini.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat author biar tambah semangat nulisnya. Makasih sebelumnya...
__ADS_1