
" Kenapa kau masih berdiri disini? Apa kau tidak tahu kamar mandinya dimana? " Bentak Arkana mengagetkan Seroja.
Gadis itu membalikkan badan, ia terkejut melihat kehadiran Arkana. Dirinya hendak menanyakan perihal gadis yang ada di foto.
" Itu? " ia menunjuk kearah foto, namun pria itu mengalihkan topik permasalahannya.
" Sudah, cepat ambil dan cuci bajuku sana. Kau bilang kau harus cepat sampai mansion. " sela Arkana.
" I,, iya. " Seroja merasa malu sendiri, tidak seharusnya ia ikut campur masalah privasi orang lain. Iapun segera mengambil baju Arkana dan mencucinya.
Setelah semua beres, merekapun bersiap kembali ke mansion.
" Jangan kau ceritakan apa yang menimpaku barusan pada Aulia. Aku tidak mau dia menertawakanku nantinya. " pinta Arkana.
Seroja tersenyum manis kearahnya, " Kau tenang saja. Aku pandai menyimpan rahasia. "
Arkana cukup terpana melihat gadis itu berpenampilan seperti saat ini, ia terlihat lebih cantik dan anggun.
" Dia cantik juga. Bukan, bukan ! Hanya sedikit lebih cantik daripada biasanya, kampungan. " batinnya mengelak.
Mereka akhirnya tiba dimansion. Hari sudah agak sore, harusnya mereka telah bersiap memasak untuk makan malam sekarang. Seroja terburu-buru masuk rumah, Arkana membantunya membawa sebagian belanjaan.
" Seroja, apa ini kau? " Aulia terkejut melihat penampilan Seroja yang begitu feminim dan tidak seperti biasanya.
Rona merah menghiasi pipi Seroja, ia benar-benar malu kali ini,
" Jangan melihatku seperti itu, kau pasti ingin menertawakan penampilanku bukan? Kalau bukan karena kakakmu, aku tidak mungkin memakai pakaian seperti ini. "
" Tidak, kau terlihat sangat cantik. Aku senang kau berpenampilan feminim seperti ini. Kakak ?! Bagus sekali ide kakak. Seroja terlihat sangat cantik, betul kan? " Aulia bertanya pada Arkana yang baru saja muncul membawa belanjaan.
Arkana hanya melirik tanpa merespon, meskipun dalam hati sebenarnya iapun mengakui gadis itu terlihat lebih cantik dari biasanya.
" Ini belanjaanmu, cepatlah memasak. Aku sudah sangat lapar. " Arkana menaruh belanjaannya diatas meja dapur.
Aulia mengerucutkan bibirnya, bisa-bisanya sang kakak mengalihkan pembicaraan. Tapi? ia penasaran kenapa kakaknya mengubah penampilan Seroja seperti itu? Apa jangan-jangan Arkana mulai menyukai Seroja? Ia mulai sedikit curiga.
" Hei ! Jangan berpikir yang bukan-bukan. Ayo cepat kita memasak, sebelum kemalaman." Seroja sengaja mengagetkan sahabatnya yang tampak melamun.
__ADS_1
" He eum. " Auliapun mengikuti Seroja. Keduanya sengaja menyuruh para pelayan untuk tidak berbelanja dan memasak sebab dirinya ingin menyiapkan makan malam hari ini.
Arkana naik keatas kamarnya, ia tidak berminat mengikuti acara masak memasak kedua gadis tersebut.
...----------------...
Hampir dua jam kedua gadis itu memasak, mereka sengaja memasak bermacam-macam hidangan sebab belum tentu besok-besok mereka bisa masak memasak seperti ini. Mama Bianca bersama para pelayanlah yang biasanya memasak untuk mereka.
Arkana turun dari lantai atas, perutnya sudah keroncongan sedari tadi. Kedua gadis itu memasak begitu lama menurutnya.
Aroma masakan yang begitu menggoda mulai menggelitik indra penciumannya. Ia tak menyangka kedua gadis itu bisa memasak sewangi ini. Terutama Aulia, dirinya seorang gadis namun kerjanya hanya membaca dan belajar. Jarang sekali ia membantu Mamanya memasak didapur.
" Kakak? Baru saja aku ingin memanggilmu untuk turun dan makan malam bersama kami." Aulia masih menyajikan makanan diatas meja makan.
" Kau ini, masak saja begitu lama. Lihatlah ini sudah jam delapan malam, perutku sudah keroncongan sekali." keluh Arkana.
" Tenang saja. Semuanya akan terganti denfan makanan kami yang begitu nikmat dan luar biasa enak. " Aulia membanggakan diri sambil menunjukkan hasil masakan mereka berdua.
" Heh ?? Aku tak percaya masakan kalian bisa enak." ledek Arkana. Ia duduk di kursi meja makan sambil mengamati makanan yang tersaji disana. Terlihat sangat menggugah selera.
Seroja memanggil Intan adiknya untuk bergabung bersama, juga sang ibu yang sudah mulai membaik saat ini. Namun, wanita itu lebih memilih untuk makan dikamarnya saja saat ini.
Aulia memperhatikan cara makan kakaknya yang begitu rakus dan sepertinya sangat menikmati makanannya.
" Bagaimana enak kan, Kak? Seroja yang mengajariku memasak. Ia memang pandai memasak sedari dulu. " puji Aulia pada sahabatnya.
" Kau terlalu berlebihan, ini juga berkat bantuanmu. " sela Seroja merasa tak pantas dipuji.
" Kau benar. Masakan ini rasanya biasa- biasa saja. Apanya yang enak? Masih enak juga masakan Bi Yani dan Bi Sumi. " sanggah Arkana dengan mulut penuh makanan. Ia masih tak mau mengakui kenyataan bahwa makanan tersebut benar-benar enak.
Ketiga gadis itu saling melirik dan tertawa. Bagaimana bisa pria itu mengatakan tidak enak sedangkan ia sudah sering menambahkan makanan kedalam piringnya.
Heikkk....Alhamdulillah
Arkana bersendawa karena kekenyangan saat ia telah menyelesaikan makan malamnya. Aulia tertawa melihat perilaku kakaknya tersebut.
" Tidak enak ya Kak? " ia melirik Seroja dan Intan yang juga tertawa melihat tingkah Arkana.
__ADS_1
" Iya, makanannya kurang enak, hanya saja aku lapar. Aku kekamar dulu, rasanya aku mengantuk sekarang. Hoam." pria itu menguap karena kekenyangan.
Aulia hanya mampu geleng-geleng kepala, ternyata sikap kakaknya yang suka gengsi dan tidak mau mengakui kenyataan itu masih belum juga hilang sampai sekarang.
...----------------...
Setelah membereskan meja makan, Aulia dan Seroja mengerjakan tugas kuliah bersama-sama di kamar Aulia, meskipun lebih banyak ngrumpi dan ngobrol dari pada mengerjakan tugasnya.
Aulia begitu penasaran dengan sikap sang kakak pada Seroja, ia curiga pria itu mulai menaruh hati pada sahabatnya. Seroja membantah semua yang dipikirkan Aulia, ia berdalih baju yang diberikan pria itu sebab dirinya tadi terjatuh diselokan. Ia tak ingin membongkar aib Arkana tadi siang.
" Sudah, sudah! Jangan meledekku lagi. Aku mau kembali kekamarku saja." Seroja memasang wajah cemberut.
" Kau marah ya? Aku setuju-setuju saja kalau memang kau menjadi pasangan kakakku. " ledek Aulia kembali.
" Iiih,, kau ini. Sudah kubilang aku tidak suka dengan kakakmu. " Seroja mencubit pinggang Aulia karena kesal.
Aawwww....
Aulia merintih kesakitan, gadis itu sekarang gantian yang suka mencubitnya.
" Rasakan sendiri akibatnya, makanya jangan suka meledek orang lain. Wee " Seroja segera kabur dari kamar Aulia setelah berhasil mengerjai gadis itu.
Ia menuruni tangga untuk kembali ke kamarnya. Samar-samar terdengar seseorang sedang tertawa dari arah ruang keluarga. Dirinyapun penasaran dan melihat siapa yang ada disana.
Arkana telah mengakhiri chatingannya dengan Aluna sebab gadis tersebut ada pemotretan sebentar lagi. Dirinya lalu menatap layar laptop yang berisi gambar gadis tersebut. Rasanya ia sudah rindu sekali dengan kekasihnya itu.
" Wah,, cantik sekali. Gambar ini sama persis dengan gadis yang fotonya ada di kamarmu tadi siang. " ungkap Seroja dengan polos.
Arkana segera membalikkan badan saat tahu ada Seroja ada dibelakangnya. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
" Apa yang kau lakukakan disini? Apa kau menguping pembicaraanku? " tanyanya datar.
Glekk..
Seroja menelan ludahnya sendiri, ia teringat bahwa Arkana tidak mau orang lain ikut campur urusan pribadinya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat Author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...