Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
HARI YANG DITUNGGU-TUNGGU


__ADS_3

Setelah selesai menemui Ardi, Seroja segera mencari keberadaan Arkana dikantin. Gadis itu sangat heran, baru saja Arkana putus dari Helena, sekarang pria itu telah dekat dengan perempuan lainnya.


Tanpa berpikir panjang, Seroja langsung menarik Arkana dari bangkunya.


" Nanti kita sambung lagi, aku pergi dulu." teriak Arkana sambil melambaikan tangan pada gadis yang baru dikenalnya.


Keduanya menuju parkiran, Arkana kesal lantaran Seroja telah merusak kesenangannya.


" Kau ini mengganggu saja, baru saja aku berkenalan dengan gadis itu." gerutunya sambil membuntuti gadis tersebut dari belakang


Seroja menghempaskan lengan Arkana dari genggamannya.


" Dasar buaya darat, baru saja kau putus dengan Helena. Sekarang kau sudah berulah lagi." umpatnya tak terima.


Keduanya masuk kedalam mobil, Arkana memperhatikan raut wajah Seroja yang nampak kesal padanya.


" Kenapa kau marah padaku? Aku juga tidak mengganggumu saat bersama pria itu. Dasar menyebalkan! "


Seroja enggan berdebat kali ini, ia memilih untuk diam dari pada meladeni Arkana yang pasti tidak akan habisnya.


Sepanjang perjalanan gadis itu tampak melamun, ia terlihat meremas-remas ujung pakaiannya karena gelisah.


Arkana sesekali melirik gadis yang ada disampingnya, sikap Seroja terlihat lain dari biasanya.


" Kau kenapa? Sepertinya ada masalah?"


Seroja menatap sekilas pria itu kemudian memandang sisi jalan.


" Bisakah kita mampir ditaman itu sebentar?" pintanya sambil menunjuk taman yang kebetulan berada di sebelah kiri jalan.


Arkana menepikan mobilnya didekat taman tersebut. Keduanya turun, Seroja mengajak pria itu untuk duduk di salah satu bangku kosong yang ada disana.


" Ada apa? Kenapa kau mengajakku kemari? " tanya Arkana heran.


Gadis itu masih saja meremas ujung bajunya, ia menggigit bibir bawahnya karena cemas.


" Eumm,, besok adalah hari dimana aku harus mengungkapkan perasaanku pada kak Ardi. Aku benar-benar sangat gugup." ungkapnya jujur.


Arkana terkekeh saat mendengar pengakuan gadis itu,


" Kau ini begitu saja bingung, tinggal bilang saja aku cinta padamu. Mudah bukan?"


Seroja memberengut kesal, pria itu seolah menyepelekan perasaannya.


" Kau tidak tahu, aku telah begitu lama memendam perasaan untuk Kak Ardi. Aku bingung, bagaimana caranya agar aku bisa mengungkapkan perasaanku dengan lancar? Sementara mulutku ini rasanya sulit sekali berkata-kata saat berada didekatnya."


Gadis tersebut nampak bepikir hingga sebuah ide tercetus dari kepalanya. Tiba-tiba saja ia menarik tangan Arkana dan membawanya kedekat bangunan yang agak sepi dari orang yang berlalu lalang.


" Utuk apa kau membawaku kesini?" tanya Arkana sambil mengamati sekeliling.


Dengan malu-malu Seroja mengatakan niatnya,


" Eeumm,, aku harap kau mau membantuku supaya aku bisa mengungkapkan perasaanku dengan lancar. Aku ingin kau berpura-pura sebagai Kak Ardi, aku akan mengutarakan cintaku kepadamu. Bagaimana? Apa kau setuju? " pintanya bersemangat.


Arkana mencebikkan bibirnya, ada saja ide konyol yang dibuat oleh gadis itu. Meskipun demikian, dengan terpaksa iapun menuruti kemauannya.


" Baiklah, ayo cepat! "


Keduanya kini telah berdiri berhadapan. Seroja mengatur nafasnya sebelum ia mulai mengungkapkan perasaannya pada pria didepannya.


" Kak Ardi, ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Hal yang telah begitu lama aku pendam dan tanpa berani aku mengungkapkannya. Sejak aku mengenalmu, aku sudah sangat mengagumimu." gadis itu mengambil nafas kembali sebelum meneruskan kata-katanya.


" Kau yang selalu ada disaat aku membutuhkanmu. Kau yang selalu membantuku disaat aku kesusahan. Kau temanku berbagi dalam suka dan duka. Kau,, "


Belum sempat Seroja menyelesaikan kalimatnya, Arkana telah memotong pembicaraannya terlebih dahulu.


" Sudah-sudah, kau ini ingin mengungkapkan perasaan, tapi seperti orang mendeklamasikan puisi saja." sindir Arkana, gadis itu terlalu berbelit-belit menurutnya.


Seroja menunduk kecewa, padahal ia telah menyusun kata-kata itu jauh-jauh hari sebelumnya.


" Maafkan aku. Aku juga tidak tahu harus bagaimana sebab ini pertama kalinya aku menembak seorang laki-laki." wajahnya berubah murung, kemungkinan usahanya kali inipun akan mengalami kegagalan.


Arkana merasa tak enak hati melihat perubahan raut wajah gadis itu yang mungkin tersinggung oleh kata-katnya.


Ia memegangi kedua bahu Seroja, kemudian mengangkat wajah gadis itu yang sedari tadi tertunduk karenanya. Netranya menatap penuh arti pada kedua bola mata indah milik Seroja.

__ADS_1


Kedua netra itu bertemu, Arkana memajukan sedikit wajahnya untuk mengikis jarak diantara keduanya.


" Aku cinta padamu. " bisik pria itu perlahan.


Kalimat singkat, tapi terasa penuh arti. Keduanya seolah larut dalam suasana.


Jantung Seroja berdetak tak karuan saat Arkana mengucapkan kalimat tersebut. Telapak tangannyapun terasa dingin karena gugup. Ia ingin mundur untuk membuat jarak, namun sialnya tubuhnya kini telah terhimpit oleh tembok yang ada di belakangnya.


" Hei,, ayo cepat jawab! Bukankah kita saat ini sedang berakting?" Arkana tak sabar menunggu jawaban gadis yang ada di hadapannya.


Seketika Seroja terbangun dari lamunannya, dirinya baru teringat bahwa mereka kini sedang bermain sandiwara.


"Oh iya. Kau benar sekali, aku lupa kalau kita sekarang sedang berpura-pura. Iya,, "


Gadis itu tertawa untuk menutupi kegugupannya. Ia memukul-mukul pelan dada bidang Arkana, rasanya lega sekali menyadari hal tersebut hanyalah sandiwara belaka.


Arkana terkekeh karenanya, gadis ini benar-benar konyol menurutnya. Apalagi, saat rona merah menghiasi wajah perempuan itu barusan.Terlihat sekali jika dirinya sedang tegang barusan.



" Sudah-sudah kita akhiri saja sandiwara ini. Lebih baik kita pulang, aku harus bersiap-siap untuk besok. " Seroja tidak ingin meneruskanya kembali. Ditatap Arkana seperti barusan saja ia sudah gugup sekali, bagaimana dia menghadapi Ardi besok?


Keduanyapun memutuskan untuk kembali ke mansion. Arkana menasehati gadis itu agar mengutarakan perasaannya dari hati yang paling dalam saja, tidak perlu dibuat-buat. Hal itu justru akan lebih mengena pada pujaan hatinya.


...----------------...


Hari minggu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Seroja sedang berdiri didepan cermin untuk memastikan penampilannya kali ini.


Dirinya terlihat begitu cantik dengan pakaiannya yang lebih feminim dari biasanya. Ia sedang belajar sedikit demi sedikit berpenampilan seperti gadis pada umumnya, namun harus tetap sopan.


Gadis itu lalu keluar dari kamarnya, ia mencari keberadaan Arkana yang berniat untuk mengantarnya kesana. Pria itu akan pergi bersamanya lantaran sang Mama baru tiba semalam. Wanita tersebut tidak akan mengijinkan putranya untuk pergi tanpa Seroja. Jadi, lebih baik ia pergi bersama gadis itu sambil mencari udara diluar.


Tak disangka, Bianca ternyata telah berada diruang keluarga bersama Arkana. Keduanya kagum dengan sosok Seroja yang semakin cantik dengan pakaian feminimnya.


" Seroja? Kau cantik sekali, sayang. Aku senang sekali dengan penampilanmu sekarang. " puji Bianca pada gadis tersebut.


" Terima kasih. Anda terlalu berlebihan, Nyonya. " ia kembali merona karena malu.


" Bolehkah aku pergi bersama Arkana sekarang? " pamitnya pada wanita itu. Kebetulan Arkanapun telah berpamitan untuk mengajaknya keluar barusan.


" Baik, Nyonya. Saya sendiri yang akan memberinya pelajaran jika dia berani berbuat macam-macam. " jawabnya dengan senang hati. Ia merasa diatas angin jika Bianca telah kembali.


Arkana lagi-lagi harus mengalah, ia tidak mau gadis itu melaporkan kelakuannya pada sang Mama. Keduanyapun segera pergi ketaman hiburan. Seroja tidak ingin Ardi menunggunya terlalu lama.


Mobil tiba dipintu luar taman hiburan, keduanya sepakat untuk bertemu ditempat itu kembali pada jam yang telah ditentukan.


" Awas, jangan berani berbuat macam-macam. Kalau sampai aku mencium bau perempuan ditubuhmu? Aku pastikan kau tidak akan pulang dengan selamat. " ancam Seroja sebelum keluar dari dalam mobil.


" Iya, iya. Kau ini cerewet sekali. Harusnya kita kompak untuk saling tutup mulut. Aku memberimu waktu untuk bersama pria itu, begitupun kau harusnya memberiku waktu untuk berkencan juga." protes Arkana.


" Tidak bisa. Aku masih bisa menjaga sikapku sedangkan kau pria kecentilan. Aku akan tetap menjalankan perintah Nyonya dengan baik. " tegas Seroja.


Iapun segera keluar setelah memberi ceramah pada pria tersebut. Arkana menatap kepergian Seroja,


" Dasar bawel. Cantik juga dia hati ini. " gerutunya sambil tersenyum seorang diri.


...----------------...



Seroja mencari-cari keberadaan Ardi, gadis itu melambaikan tangannya saat sosok yang ia cari berada tak jauh darinya. Ardi segera menghampiri sang pujaan hati, iapun ikut terpesona dengan kecantikan gadis itu.


" Aku mencarimu kemana-mana. Kupikir kau tidak jadi datang. Aku hampir tidak mengenalmu, kau cantik sekali hari ini. " sapanya sambil terengah-engah. Ia begitu bersemangat untuk bertemu gadis itu.


Pipi Seroja merona saat mendengar pujian yang dilontarkan pria tersebut. Ia senang, Ardi menyukai penampilannya.


" Terima kasih. Maaf membuatmu menunggu." ucapnya malu-malu.


Keduanya berjalan beriringan, Ardi menggandeng tangan Seroja bersamanya Mereka bermain serta menaiki beberapa wahana yang ada disana, sambil mengingat cerita masa lalu keduanya. Ardi memang pernah mengajaknya beberapa kali kesana, sebelum sang ibu melarangnya untuk berhubungan dengan gadis tersebut.


Ia melihat seorang pedagang gula kapas tak jauh dari sana, dirinya berniat untuk membelikan makanan itu pada Seroja. Seroja memang menyukai gula kapas seingatnya.


" Tunggu sebentar disini, aku akan membelikan gula kapas untukmu. " Ardi meninggalkan gadis itu sementara, lalu kembali dengan membawa gula kapas ditangannya.


" Ini untukmu. Ayo kita duduk disana saja." ajaknya sambil menggandeng kembali tangan Seroja dan membawanya ke sebuah bangku kosong yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


Gadis itu mulai memakan gula kapasnya, ia begitu menikmati makanan itu. Terlihat bibirnya belepotan karena terlalu bersemangat memakannya.


" Kau ini masih sama seperti dulu, kalau makan seperti anak kecil,, belepotan semua. " pria itu mengusap sisa gula kapas yang menempel di tepi bibir Seroja.


Hati Seroja begitu senang, pria itu selalu bersikap manis padanya.


Ardi menatap kearah gadis itu,


" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, sesuatu yang telah lama ingin kuungkapkan padamu."


Seroja seperti ingin melompat kegirangan dari bangkunya, ia tak menyangka pria itu justru sepertinya yang akan menembaknya terlebih dahulu. Ia berusaha mengontrol sikapnya, dirinya harus bisa bersikap setenang mungkin.


" Memangnya apa yang ingin kak Ardi katakan padaku? " ia berpura-pura tidak mengerti.


Pria itu mulai mengutarakan perasaannya.


" Sebenarnya sejak pertama kita bertemu, aku sudah tertarik padamu. Sikapmu yang manja dan periang, hatimu yang begitu baik membuatku jatuh cinta padamu." netranya menatap penuh damba pada gadis disampingnya.


" Namun, sikap ibuku yang selalu kasar, membuat nyaliku menciut untuk mengungkapkan semuanya. Seroja, maukah kau menjadi kekasihku dengan semua kekurangan yang aku miliki? " pintanya sambil menggenggam erat jemari tangan gadis pujaannya.


Tanpa berpikir panjang, Serojapun langsung menerima cinta Ardi, apalagi dari dulu ia memang mengagumi pria itu.


" Tentu aku mau. Akupun memiliki perasaan yang sama dengan kak Ardi. Sebenarnya dari dulu aku juga menyukaimu. " jawabnya spontan.


Betapa senang hati Ardi, ternyata selama ini cinta mereka saling bersambut. Namun, raut wajahnya tiba-tiba berubah murung. Seroja bingung dengan perubahan sikap pria itu, bukankah seharusnya pria itu terlihat bahagia?


" Kak Ardi kenapa? Apa kakak tidak senang mendengar bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama sepertimu?" tanyanya ragu.


Ardi begitu terkejut dengan apa yang baru saja Seroja katakan.


" Tidak, itu tidak benar. Tentu saja aku senang karena kau membalas cintaku. Hanya saja, ada satu hal lagi yang harus ku sampaikan padamu. " jawaban pria itu semakin membuat Seroja penasaran.


" Kau tahu? Bulan depan adalah bulan kelulusanku. Kemarin dosen memanggilku, beliau mengatakan bahwa aku resmi mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Australia. Aku bingung sebab orang tuaku juga menginginkan aku bersekolah disana." jelasnya pada Seroja.


Bak naik pohon hendak menuju puncak, gadis itu harus menerima kenyataan terjatuh kembali. Keduanya baru saja meresmikan hubungan, tapi kini ia harus bisa mengikhlaskan pria itu jauh darinya.


Ingin rasanya ia menangis saat itu juga, namun ia tidak ingin menjadi beban pikiran sang kekasih barunya. Ia berusaha tegar, dirinya jadi teringat Arkana yang selama ini menjalin hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Hubungan merekapun baik-baik saja selama bertahun-tahun.


" Akupun akan selalu mendukung semua keputusan kak Ardi selama itu lebih baik. Aku yakin kak Ardi bisa jadi orang sukses setelah dari sana." gadis itu berusaha menyemangatinya.


Ardi senang gadis itu mau mendukungnya, bea siswa ini adalah impiannya dari dulu. Ia ingin menjadi orang yang sukses dan membanggakan orang tuanya.


" Seroja, apa kau mau menungguku? Aku berjanji akan menikahimu saat aku lulus dan mendapat pekerjaan layak. Percayalah padaku, selama ini aku hanya mencintaimu dan selamanya akan terus begitu. " tekadnya bersemangat.


" Heeumm,, aku akan menunggumu. Kau tidak perlu khawatir, akupun akan belajar dengan keras supaya bisa menyusulmu kesana. Walaupun, itu sepertinya sangat berat. Aku tak sepandai dirimu. " gadis itu mencoba tertawa, namun air matanya tak bisa untuk ditahan. Ia tak mampu untuk membohongi perasaannya.


Ardi mengusap perlahan air mata yang membasahi wajah gadis itu. Disentuhnya bibir ranum yang selama ini selalu menggoda hasratnya. Seroja menatap nanar pria tersebut, Ardi kini telah mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak diantara keduanya.


Hati Seroja bergejolak, mungkin inilah yang akan menjadi ciuman pertamanya. Dirinya mulai menutup mata, seperti drama korea yang sering ditontonnya.


Alangkah terkejut dirinya saat justru bayangan Arkana yang telah menciumnya kini kembali keingatannya. Pria itu memberinya nafas buatan yang berarti ia telah merampas ciuman pertama Seroja.


Tanpa sadar, ia mendorong tubuh Ardi menjauh darinya. Pria itu sedikit kecewa karena telah gagal mencium kekasih barunya.


" Maaf, aku lancang." ucapnya merasa tak enak hati.


" Ti,, tidak kak. Justru aku yang seharusnya minta maaf. Aku teringat ibu berpesan agar aku tidak pergi melebihi jam 5. " ia beralasan.


Ardi melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah lima sore.


" Lebih baik kita segera pulang. Aku akan mengantarkanmu kerumah majikan ibumu." ajak Ardi padanya.


Seroja membelalak seketika, manamungkin ia mengajak Ardi ke mansion. Bisa-bisa Ardi tahu Aulia juga anak majikannya.


" Tidak perlu, Kak. Lagipula naik angkot darisini cukup mudah. Aku takut majikan ibu berpikir yang bukan-bukan tentangku karena kami baru beberapa bulan disana." gadis itu kembali membuat alasan.


Akhirnya Ardi merelakan gadis itu pulang seorang diri. Meskipun kecewa, lelaki itu sangat senang karena cintanya bersambut kali ini.


Seroja pergi dengan raut wajah penuh emosi, ia ingin segera bertemu dengan pria yang berani melecehkannya.


" Kali ini aku benar-benar akan membuat perhitungan dengannya. Pria bre***ek !!" umpatnya kesal.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Makasih sebelumnya..-----

__ADS_1


__ADS_2