Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
KECEMBURUAN ARKANA


__ADS_3

Sore ini Arzel berniat mengantar Seroja dan Aulia ke mansion. Sebelumnya, ia telah menyampaikan niat baiknya pada Bianca untuk mengantar keduanya ke rumah selama kuliah.


Bianca begitu antusias dengan kedekatan Arzel dan keluarganya, apalagi Dinda memang mempercayakan pengawasan putranya tersebut pada keluarga mereka, setelah orang tua Arzel kembali ke Amerika.


Aulia dan Seroja duduk di bangku belakang. Arzel memperhatikan sekilas Aulia dari balik kaca spion, dirinya lega gadis itu sudah bisa terseyum kembali setelah kejadian yang menimpanya tadi siang.


" Apa kita akan langsung pulang? " tanyanya pada keduanya.


" Tidak. " " Iya."


Kedua gadis itu menjawab serempak, namun dengan jawaban yang berbeda.


" Kita pulang saja, aku tidak nyaman dengan pakaian seperti ini." ungkap Aulia beralasan.


Sedangkan Seroja, sebenarnya ia memang malas untuk pulang ketika mengingat kelakuan Arkana padanya. Hatinya pasti kembali bersedih bila diacuhkan kembali oleh pria tersebut.


" Aku lapar. Setidaknya kita makan dulu ya diluar. Ayolah Aulia, bukankah kau tadu belum makan siang?" rajuknya pada sang sahabat.


" Aku belum begitu lapar. Kau ini, sudah makan bakso dikantin masih saja lapar. Apa perutmu itu terbuat dari karung? " Aulia menertawakannya.


Raut wajah Seroja berubah seketika, gadis itu menjadi murung. Kata-kata itu mengingatkannya kembali akan suaminya yang sering sekali meledeknya seperti itu.


Aulia jadi tak enak hati, dirinya berpikir bahwa Seroja tersinggung oleh kata-katanya barusan.


Arzel melirik kedua gadis yang tak terdengar lagi ocehan mereka.


" Sudah, kalian jangan berdebat lagi. Kita akan pergi ke salah satu mall terdekat. Aulia, kau bisa membeli baju terlebih dahulu, setelah itu kita akan mencari makan bersama-sama. Bagaimana? Apa kalian setuju dengan ideku barusan? "


" Baiklah kami setuju. " ucap keduanya kompak. Arzel ikut senang melihat mereka jadi bersemangat kembali.


...----------------...


Ketiganya kini tiba di salah satu mall besar yang ada di ibukota. Mereka masuk ke dalam mall tersebut. Aulia mengajak keduanya memasuki salah satu outlet pakaian yang ada disana.


" Seroja, ayo masuk kedalam bersamaku. Sepertinya kau juga perlu membeli pakaian. Kau harus belajar untuk berpenampilan lebih feminim sekarang. pintanya hendak menyeret gadis itu agar ikut bersamanya.


Seroja melepaskan tangannya dari Aulia, dirinya enggan jika harus berbelanja seperti wanita pada umumnya.


" Tidak, tidak. Aku malas berbelanja seperti itu. Biar Arzel saja yang menemaninu, aku akan menunggu kalian berdua disini. "


Aulia dan Arzel saling bertatap, seketika Aulia menolak usulan sahabatnya.

__ADS_1


" Tidak, tidak! Aku tidak mau. Kalian berdua tunggulah disini, aku akan mencari celana sebentar. " Aulia segera masuk lantaran tak ingin pemuda itu mengikutinya.


Seroja dan Arzel duduk disalah satu bangku yang berada tak jauh dari sana. Keduanya saling mengobrol sambil sesekali tertawa mengingat kejadian tadi siang.


" Aku rasanya ingin tertawa melihat ekspresi gadis tadi saat dirinya tahu siapa Aulia sebenarnya." ungkap Seroja sembari tertawa mengingat mahasiswi yang melongo lantaran tahu bahwa Aulia adalah putri donatur terbesar di kampusnya.


Arzel ikut tersenyum menanggapi ucapan Seroja.


" Iya, akupun juga puas gadis itu telah mendapat balasan atas perbuatannya. Terkadang kita menganggap remeh seseorang hanya dari penampilannya saja. " dirinya menambahkan.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah geram memperhatikan keduanya yang terlihat begitu akrab. Dadanya seolah terbakar melihat gadis itu tertawa lepas bersama pria lain.


Yah,, pria itu adalah Arkana. Sepulang kerja dirinya berniat pergi ke salah satu mall mencari sepatu dan pakaian wanita. Beberapa hari lagi, Papanya akan melakukan konferensi pers guna peresmian pengangkatan dirinya sebagai pimpinan terbaru di perusahaan Pramudya Group.


Sang papa memintanya untuk memperkenalkan Seroja sebagai pasangannya ke hadapan publik. Dirinya berniat mengubah gadis itu agar terlihat lebih feminim dan anggun dalam acara yang akan digelar nantinya.


Pria itu begitu bersemangat jika melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Seroja. Ia menyesal lantaran telah bersikap acuh kepada gadis itu pagi tadi. Pikirannya berusaha menghindar, tapi hatinya seolah tak ingin jauh dari wanita tersebut.


Dirinya begitu senang setelah mendapatkan pakaian dan highheels yang sepertinya sangat cocok untuk Seroja. Namun, ketika hendak pulang kini dirinya justru dihadapkan dengan pemandangan yang berhasil membakar amarah dalam dirinya.


Ia segera mendatangi Seroja dan Arzel yang tengah asyik bercanda.


Seroja tertegun melihat sang suami kini tengah berdiri dihadapannya. Akan tetapi, dirinya kesal lantaran tatapan pria itu nampak tak bersahabat.


" Terserah aku mau berbuat apa. Aku tidak harus menjelaskan apapun padamu." tegas Seroja tanpa memandang lawan bicaranya.


Arzel hanya mematung kali ini, sepertinya hubungan pasangan pengantin baru itu sedang tidak baik. Apalagi, terlihat jelas dari tatapan Arkana barusan terhadapnya, pria itu kini tengah terbakar cemburu. Ia tak ingin terlibat lebih jauh karena hubungannya dengan Arkana selama ini terjalin cukup baik.


" Ayo cepat pulang bersamaku. " Arkana menarik paksa tangan Seroja, namun gadis itu justru menghempaskan genggaman pria tersebut.


" Aku akan pulang bersama Aulia dan Arzel! Jangan paksa aku." hardik Seroja tak mau kalah, netranya berkaca-kaca karena pria itu terlalu kasar terhadapnya.


Arkana membuang nafas kasar, penolakan sang istri membuatnya semakin berapi-api. Ia kembali mencengkeram tangan gadis itu lebih kuat dan menariknya untuk pergi bersamanya.


Seroja berusaha melepaskan diri, namun Arkana semakin memperkuat cengkramannya. Arzel yang melihat hal tersebut kini ikut terbawa emosi.


" Hei,, jangan memaksanya jika dia tidak mau. Aku tidak suka kau berbuat kasar pada wanita! " Arzel berusaha membantu Seroja.


Arkana semakin bertambah geram, ia mendorong tubuh Arzel hingga terjatuh ke bangku tempat pemuda itu duduk barusan.


" Kau tidak perlu ikut campur urusanku. Dia istriku dan aku berhak berbuat apapun terhadapnya! " tegas Arkana memperingatkan.

__ADS_1


Seroja tak tega melihat Arzel jadi terlibat dalam masalahnya, dengan terpaksa ia ikut pergi bersama sang suami agar urusannya tidak semakin runyam.


Arzel hanya mampu menatap kepergian mereka. Benar kata Arkana, dirinya jelas tidak berhak ikut campur urusan pribadi mereka.


Tak berselang lama, Aulia keluar dengan dari outlet tersebut. Dirinya menghampiri Arzel yang tengah duduk mematung seorang diri.


" Kemana Seroja? Bukankah seharusny dia bersamamu? " tanyanya sambil memperhatikan sekeliling.


" Kakakmu yang pencemburu itu telah membawanya pergi." ungkapnya datar.


Aulia cukup terkejut mendengar sang kakak berada disana, tapi ia tak mengerti apa maksud Arzel barusan.


Arzelpun menceritakan kedatangan Arkana yang mendadak. Pria itu cemburu melihat Seroja berduaan dengannya dan langsung membawa gadis tersebut pergi bersamanya.


Aulia hanya tersenyum menanggapinya,


" Sudahlah, tidak perlu ikut campur urusan mereka. Lebih baik kita mencari makan saja. Aku lapar sekali." ajaknya sambil mengelus-elus perutnya yang sedang keroncongan.


Seketika mood Arzel berubah 180 derajat. Pria itu begitu senang, apalagi justru Aulia sendiri yang mengajaknya makan bersama.


Keduanya berjalan menuju salah satu restoran yang ada disana. Setelah duduk dan memesan makanan, keduanya segera menikmati makanan yang telah disuguhkan diatas meja.


Sesekali Arzel mencuri-curi pandang gadis yang ada disampingnya. Sebuah senyum terukir di kedua sudut bibirnya ketika mampu melihat gadis itu dari dekat. Timbul niat dihatinya untuk mengulik lebih jauh mengenai Aulia.


" Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan anak-anak lain, selain Seroja. Apa kau memang tidak suka bergaul dengan mahasiswa laki-laki misalnya. Harusnya gadis seusiamu sudah mulai tertarik dengan lawan jenis." tanyanya penasaran.


Seketika wajah Ardi tergambar jelas diingatan Aulia. Hanya pemuda itu yang selama ini menarik perhatiannya. Tapi, dirinya tak mungkin jujur pada Arzel. Lagipula, dirinya sadar siapa gadis yang dicintai Ardi selama ini.


" Tidak, aku belum menemukan yang cocok. Selama ini aku bergaul, tapi hanya dengan orang yang cocok dan sepemikiran denganku. Kau saja yang tidak pernah tahu, kenalanku banyak di perpustakaan. Aku lebih cocok dengan orang yang sehobi denganku." ungkapnya beralasan.


" Belum menemukan? Memangnya seperti apa tipe pria yang kau sukai? " lanjutnya bertambah penasaran.


" Pintar jelas. Baik hati, pengertian, sopan dan memiliki hobi membaca sepertiku. Bisa dibilang kami orang yang setipe. " ungkap Aulia kembali.


Arzel menghela nafas panjang, semua kriteria itu jelas sama sekali berbeda darinya. Apalagi, selama ini dimata Auli dia bukankah pria yang baik.


" Sepertinya aku harus berjuang ekstra keras. Biar bagaimanapun Aulia harus menjadi milikku." tekadnya dalam hati.


Bersambung,,,


Maaf author belum bisa membalas koment teman-teman readers semuanya. Pekerjaan author sangat padat akhir-akhir ini. Terima kasih untuk semua yang terus mendukung author ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya. Makasih sekali lagi🤗...

__ADS_1


__ADS_2