
Tok...Tok...Tok....
Seroja memasuki ruangan sang atasan untuk memberikan laporan hasil rapat mereka bersama para petinggi perusahaan kemarin. Wanita itu menatap sang suami yang tengah sibuk berkutat di depan laptopnya. Sebuah senyum nan manis tersimpul di wajahnya. Selama beberapa hari bekerja, dirinya tak menemukan kejanggalan apapun disana.
Arkana menatap sekilas wanita itu lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
" Taruh saja dokumen itu disini dan kembalilah ke ruanganmu." ucapnya tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
Seroja membuang nafas kasar, Arkana seolah membuat jarak kepadanya. Sulit sekali untuk mendekati lelaki tersebut, padahal disaat hamil seperti ini ingin sekali rasanya ia bisa bermanja pada sang suami.
Wanita itu berjalan mendekat dan menaruh dokumen dihadapan sang atasan.
" Ini, Tuan. Apakah tidak ada lagi yang bisa kulakukan untukmu?" tanyanya berbasa-basi.
Arkana mendongakkan wajahnya, mata itu seolah mengingatkannya pada sang istri. Rasanya ia tak sanggup berlama-lama dengan gadis tersebut, ada beberapa hal dari gadis itu yang terasa sangat mirip dengan istrinya. Dirinya takut hal itu hanyalah halusinasinya saja lantaran terlalu rindu dengan Seroja.
" Sudah kukatakan, cepat kembali ke ruanganmu. Aku tidak butuh bantuan apa-apa darimu." jawabnya dengan nada sedikit meninggi. Iapun kembali fokus pada pekerjaannya.
Andara mendengus kesal, sikap Arkana terlalu kasar pada seorang wanita menurutnya. Hal itu tidak bisa dibenarkan, meskipun kini dirinya sedang terpuruk, dirinya tidak bisa serta merta melampiaskannya kepada orang lain.
" Bisakah anda berbicara sedikit sopan pada bawahan? Saya bermaksud baik, tidak seharusnya anda berkata kasar kepadaku." sarkasnya tak terima.
Ucapan Andara yang cukup berani membuat pria itu sedikit terpancing emosinya. Pria itu seketika berdiri dari tempat duduknya.
" Disini aku adalah atasan. Aku bisa berbuat apa saja semauku, kau tidak berhak mengaturku sama sekali. Atau kau memang sudah tidak sayang dengan pekerjaanmu, Hah? " tegas Arkana kesal.
Andara berjalan mendekat ke arahnya, gadis itu seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak takut dengan ancaman Arkana.
" Anda memang berhak melakukan apa saja, tapi anda tidak bisa memecat saya begitu saja tanpa alasan yang jelas." kecam Seroja tak mau kalah. Dalam hati ia sudah merutuki sang suami, pria ini sama persis menyebalkannya seperti saat pertama mereka bertemu.
Arkana merasa tertantang oleh perkataan gadis tersebut,
" Baiklah. Aku tidak akan memecatmu, tapi kau sendiri yang akan meminta padaku untuk keluar dari sini. " tekadnya dalam hati.
Andara berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut, namun dengan segera Arkana menahannya.
" Kau mau kemana? Bukankah tadi dirimu menawarkan diri untuk membantuku disini? Sekarang kemarilah, aku mau kau menyalin semua dokumen ini untuk presentasi kita besok di depan para klien. Setelah itu aku mau kau membantuku merapikan dokumen-dokumen di rak penyimpanan. " pintanya pada wanita tersebut.
Andara memberengkut kesal, moodnya sepertinya sudah menghilang saat mendengar perkataan Arkana tadi. Namun, apa boleh buat dirinya yang terlebih dahulu menawarkan diri.
Tanpa menjawab, wanita itu mengambil dokumen-dokumen yang harus disalinnya kemudian keluar meninggalkan ruangan atasannya. Sebuah seringai muncul di salah satu sudut bibirnya,
" Kau mau menabuh genderang perang bersamaku lagi, Sayang? Baiklah aku terima tantanganmu." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
...----------------...
Waktu menunjukkan hampir pukul empat sore hari, Seroja menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan. Ia mengelus perutnya yang sedikit mulai membuncit sekarang.
" Maafkan Papamu sayang, dia akan menyesal saat menyadari siapa yang sedang dikerjainya saat ini ."
Wanita itu beranjak dari kursinya, ia membawa setumpuk dokumen yang baru saja ia selesaikan dengan penuh semangat keruangan atasannya.
" Ini. Aku telah menyelesaikan pekerjaanku. " ucapnya sambil menyodorkan hasil kerjanya.
" Untuk menata dan membersihkan rak penyimpanan dokumen akan ku kerjakan lagi besok. Jam kerjaku sudah hampir habis. " tambahnya sambil memperhatikan jam keemasan yang bertengger manis di pergelangan tangannya.
Arkana menatap datar kepadanya,
" Kau lembur hari ini. " perintahnya tegas.
Seroja seakan tak percaya jika dirinya diwajibkan lembur untuk hal yang menurutnya tidak terlalu penting.
" Apa itu perlu? Kurasa aku bisa melakukannya besok pagi. Lagi pula kau tahu aku sedang hamil, harusnya kau justru mengurangi jam kerjaku." tolaknya pada sang atasan.
Arkana menyeringai, sepertinya wanita dihadapannya sudah mulai masuk perangkapnya. Dirinya memang ingin wanita itu menjauh dari hidupnya.
Ia tak ingin menjadi seorang pengkhianat, sejak awal bertemu ada sedikit ketertarikan dalam dirinya terhadap Andara. Jika perasaan ini dibiarkan, ia takut wanita tersebut berhasil merebut hatinya, sedangkan dirinya sendiri berharap Seroja masih hidup dan akan kembali ke sisinya.
Lagi- lagi suami menyebalkan namun dicintainya itu seolah sengaja memancing kekesalannya.
" Sabar-sabar Seroja. Ini ujian bagimu." tanpa banyak bicara ia berjalan menuju rak penyimpanan dan mulai membersihkan sekaligus memilah dokumen disana.
Beberapa lama wanita itu bebersih, tanpa sengaja ia menemukan beberapa botol minuman keras yang tersembunyi dibalik sana. Pikiran buruk merasuki otaknya, ia yakin minuman tersebut adalah milik suaminya.
Dengan penuh kekesalan ia membawa botol itu dan menaruhnya di depan sang suami.
" Ini apa? Kenapa minuman seperti ini ada diruanganmu, heum? " tanyanya penuh selidik.
Arkana hampir terlupa akan botol-botol minuman tersebut, memang akhir-akhir ini dirinya mulai bisa mengontrol kebiasaan buruknya tersebut.
" Itu bukan urusanmu. " jawabnya seolah tak peduli.
Brruuuakkk...
Jiwa bar-bar Seroja muncul seketika saat mendengar jawaban dari Arkana. Wanita itu menggebrak meja hingga pria dihadapannya langsung terkesiap saat menyadari kelakuannya.
" Kau pikir dengan bermabuk-mabukan bisa menyelesaikan segalanya? Aku benar-benar tidak suka kau seperti ini. Harusnya kau bisa melampiaskan kesedihanmu itu pada hal-hal yang lebih positif. Aku sangat kecewa padamu !" ungkapnya kesal.
__ADS_1
Arkanapun langsung berdiri lantaran sikap bawahannya yang kurang sopan menurutnya. Ia mulai mendekatkan wajahnya dengan sorot mata penuh kekesalan.
" Jaga sikapmu! Berani-beraninya kau membentak atasanmu. Memangnya siapa dirimu berani-beraninya mengatur hidupku!"
" Tentu saja aku berhak karena kau adalah su..!" Spontan Andara menjawab pertanyaan Arkana, namun untung saja dirinya segera sadar bahwa saat ini ia sedang menyamar.
Arkana semakin penasaran lantaran wanita itu menahan ucapannya. Ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Seroja hingga membuat wanita itu gugup dan berjalan mundur untuk membuat jarak terhadapnya.
Arkana justru tertantang untuk semakin mendekat kepadanya. Gadis itu hampir terjatuh akibat highheelsnya, untung saja dengan sigap Arkana menangkap dan memeluknya hingga mengikis jarak diantara keduanya.
Jantung keduanya berdetak tak karuan, inilah sebenarnya yang ditakutkan Arkana. Ia mulai menaruh perasaan pada wanita tersebut.
Apalagi saat menatap bola mata Andara nan indah. Meskipun mata itu berwarna hazel, tapi sorot itu sama persis saat dirinya menatap sang istri. Hah, lagi-lagi dirinya kesal lantaran takdir seolah sedang mempermainkannya.
Inilah hal yang begitu ingin Seroja rasakan dari sang suami. Jiwanya seolah menghangat mendapat pelukan dari pria tersebut. Lama keduanya saling bertatap dan berperang dengan pikiran masing-masing hingga Andara tiba-tiba saja mual dihadapannya.
Uwek...Uwek...
Arkana panik saat gadis itu berlari menuju toilet ruangannya. Tanpa berpikir panjang, pria tersebut menyusulnya karena cemas. Ini sama persis saat istrinya mengalami morning sickness beberapa waktu yang lalu.
" Kau tidak apa-apa? Apa kau butuh sesuatu saat ini? " ia mendekati wanita itu karena panik sambil membawa segelas air putih dan tissue ditangannya.
Andara tiba-tiba saja berbalik dengan nafas sedikit tersengal setengah mengeluarkan seluruh isi didalam perutnya. Lagi dan lagi, posisi mereka yang begitu dekat membuat keduanya saling bertatap penuh makna.
" Aku tidak apa-apa. Kau jangan cemas." ucap Andara sambari mengambil tissue di tangan Arkana dan mengusapkannya ke area bibirnya.
Oh,, hal itu semakin membuat Arkana terhipnotis dengan bibir merah jambu yang begitu menggoda. Rasanya imajinasi bersama sang istri kembali muncul di benaknya. Hasratnya semakin berpacu untuk bisa menyesap bibir merah jambu tersebut.
Serojapun ikut terbawa suasana, tentu saja ia mendambakan saat-saat seperti ini. Keduanyapun saling mendekatkan wajah untuk mengikis jarak diantara keduanya. Hampir-hampir saja keduanya berciuman, namun Arkana segera kembali pada kesadarannya.
Buughhh....
Sebuah hantaman pelan ke arah tembok membuyarkan konsentrasi keduanya. Arkana segera beranjak dari sana dan kembali ke meja kerjanya. Andarapun merasa tak enak hati, sepertinya sang suami sedang berperang melawan perasaannya. Dengan segera ia berlari mendekati Arkana.
" Cepat pergi dari sini. Kau tidak perlu lembur hari ini." pria itu berkata sambil menundukkan pandangannya.
Seroja mematung seketika, kali ini ia tak ingin melawan. Apalagi sang suami sepertinya tersiksa menahan hasratnya. Iapun terpaksa melangkah keluar meninggalkan ruangan atasannya.
" Maafkan aku. Semoga masalah ini cepat terselesaikan dan aku bisa kembali lagi bersamamu sebagai istri seutuhnya."
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat Author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...
__ADS_1