Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
EXTRA PART- ENDING " AKU MAU BELAJAR "


__ADS_3

Aulia tertegun menyaksikan apa yang ada dihadapannya saat ini. Seorang pria melamarnya di depan khalayak ramai dan mengatakan bahwa ia telah menyimpan rasa itu bertahun-tahun lamanya.


Dirinya berharap ini hanyalah mimpi, tapi nyatanya ini memang benar-benar harus dihadapi. Seumur-umur ini kali pertama ia ditembak oleh seorang pria. Lalu? Sekarang dia harus menjawab apa? Apa mungkin dirinya harus pergi berlari meninggalkan tempat ini.


Ia benar-benar tak menyangka, ternyata seluruh anggota keluarganya ikut serta dalam rencana ini. Apa itu artinya mereka telah mendukung sepenuhnya tindakan gila Arzel?


Sorot matanya menatap tajam kearah pria yang sedang berdiri sambil membawa microfon di tangannya.


" Arzel, apa-apain ini? Apa kau sudah gila! "


Ucapannya yang lantang dan tegas membuat seluruh orang yang berada disana turut tercengang. Suasana riuh tepuk tangan kini berganti menjadi kebisuan yang melanda. Acara yang disangka akan berakhir romantis ternyata sepertinya akan berubah menjadi petaka.


Arzelpun ikut tercengang, dirinya tak menyangka Aulia bisa bertindak setegas barusan. Dari kata-katanya tersirat bahwa gadis itu sangat tidak menyukai tindakannya kali ini.


Seketika hatinya terasa luluh lantah. Jawaban dari Aulia seolah tergambar oleh sikapnya barusan. Ingin rasanya ia meninggalkan panggung itu dan pergi untuk meluapkan kekecewaannya saat ini juga. Namun, ia tak ingin mengecewakan semua orang yang telah mendukungnya. Setidaknya ia kalah dengan terhormat.


Pemuda itu mengangkat kembali mic yang hampir saja terjatuh dari tangannya. Iris matanya menatap penuh ketulusan pada gadis pujaannya. Perlahan dirinya mulai merangkai kata.


" Aulia, maaf jika kau tidak menyukai semua ini. Tapi, aku telah merencanakan semua jauh-jauh hari. Kupikir ini kesempatan terakhirku untuk menyatakan perasaan yang kupendam selama ini."


Netra Aulia berkaca-kaca, ia menatap kearah keluarganya. Bianca, Alvin, Arkana dan Seroja turut merasa bersalah. Mereka tak menyangka reaksi Aulia akan seperti ini.


" Ma, Pa, Kakak, Seroja! Aku kecewa pada kalian semua. Bisa-bisanya kalian bersekongkol dan berbuat seperti ini padaku. "


Bianca tak mampu membendung airmatanya.


" Sayang, maafkan kami. Kami bisa melakukan semua ini karena kami percaya cinta Arzel begitu tulus padamu. " sesal Bianca.


" Benar apa yang dikatakan Mama. Kami tidak bermaksud apa-apa. Kami hanya ingin kau mendapatkan lelaki yang baik dan tepat untukmu. " Arkana ikut melakukan pembelaan.


Sebuah layar yang tadinya tertutup kini tiba-tiba terbuka. Semua mata tertuju pada apa yang dipertunjukkan disana.


Ternyata Arzel membuat rekaman suara dengan gambar-gambar yang terpampang disana. Tentang dirinya yang telah memiliki ketertarikan sendiri pada Aulia sejak kecil. Tanpa Aulia sadari ternyata pemuda itu sering mencuri potretnya sedari dulu.


Lama-lama perasaan tertarik itu berubah menjadi kagum. Ingin sekali ia mendekati gadis kecil pujaannya, tapi caranya justru membuat gadis itu menyangka bahwa dirinya hanya ingin menjahilinya saja.

__ADS_1


Arzelpun pindah ke Amerika, dirinya pikir setelah disana ia mampu melupakan Aulia. Namun, tidak sama sekali. Seberapa cantik gadis-gadis yang ada disana tak mampu memudarkan perasaannya pada Aulia.


Berkunjung ke Indonesia merupakan hal terbaik untuknya. Untuk mampu melepaskan rindu walau itu hanya sekedar wajah Aulia yang kurang bersahabat dengannya.


Lama-lama ia tak ingin mampu mengendalikan perasaannya. Ia ingin sekali memperjuangkan cintanya. Mungkin ini bodoh, tapi dirinya berusaha agar bisa di DO dari kampusnya di Amerika agar bisa dipindahkan ke Indonesia.


Setelah disini, nyatanya iapun tak berani mengungkapkan perasaannya. Baru saat diujung tanduk begini, ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyatakan cinta. Bukan, tepatnya memperistri Aulia sebab rasanya hanya gadis itu yang mampu memporak-porandakan hatinya.


Aulia ikut menatap layar tersebut, dirinyapun tak menyangka jika ternyata Arzel telah mencintainya sejak lama. Bahkan, dirinya tak sadar kapan Arzel mencuri-curi potretnya.


Lalu dirinya harus menjawab apa? Bahkan dirinya belum pernah berpikir sama sekali untuk menikah. Dan Arzel? Ia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya pada pemuda itu.


" Aulia, aku siap mendengar jawaban apa saja darimu. Jika memang tak ada sedikitpun rasa untukku. Akupun siap menerimanya. Kau jangan pernah merasa terpaksa ataupun kasihan padaku. Cinta itu berasal dari ketulusan." ucap pemuda itu was-was menunggu jawaban.


Aulia nampak diam ditempatnya, Gadis itu berfikir beberapa lama membuat Arzel semakin gundah gulana.


" Maaf, aku masih ingin belajar. " jawabnya datar.


Bak petir di siang bolong, tak terkira pedihnya perasaan Arzel saat ini. Namun, mau bagaimana lagi? Ia harus siap dengan semua yang menjadi keputusan Aulia.


" Tunggu, apa begitu saja yang kau katakan sebuah perjuangan?"


Ucapan Aulia barusan sukses membuat pria itu berbalik kembali. Nyatanya saat ini netranya tengah memerah menahan tangis. Ia masih tak mampu berkata-kata. Hanya sorot matanya yang dalam menatap nanar ke arah gadis impiannya.


Aulia membalas tatapan itu, sejenak netra keduanya bertemu dan menyelami perasaan masing-masing.


" Aku mau belajar,


" Aku mau belajar mencintaimu..


" Aku mau belajar memahamimu..


" Dan Aku mau belajar menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti..."


Deggghhh...

__ADS_1


Raut wajah Arzel berbinar seketika, senyum mengembang sempurna di wajahnya yang tampan. Sungguh ini sesuatu yang luar biasa baginya, ini semua diluar dugaannya.


Raut ketegangan disanapun kini berubah menjadi kebahagiaan. Arzel segera berlari dengan berjuta kebahagiaan diwajahnya menuju sang pujaan hati. Ia berhambur memeluk Aulia dengan penuh semangat.


Aulia hampir kewalahan menghadapi bobot tubuh Arzel. Namun, dirinya bisa merasakan kenyamanan dan kehangatan disana. Ragu-ragu iapun membalas pelukan pemuda tersebut.


" Terima Kasih." Arzel mengecup puncak kepalanya.


Aulia memejamkan mata menikmati pelukan itu. Sungguh hatinya ikut berbunga-bunga. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta.


Semua yang hadir bertepuk tangan riuh. Akhirnya acara berakhir dengan begitu romantis. Keduanya masih saja berpelukan tanpa menghiraukan sekitarnya.


" Eheerrmm..eheerrmmm.. Arzel tidak bisa memeluk mencium sembarangan belum muhrim. " Dinda sang Mama memperingatkan putranya.


Bluusshh..


Rona merah menghiasi wajah Aulia, dengan segera ia mendorong tubuh Arzel menjauh darinya. Seluruh keluarga tertawa melihat tingkah keduanya.


Arzel justru kembali menarik gadis itu kepelukannya.


" Tenang saja, Ma. Kapanpun aku siap menghalalkannya. Bahkan sekarangpun aku siap dibawa ke KUA."


Jawaban Arzel menambah gelak tawa seluruh keluarga. Yah, akhirnya semua berakhir bahagia. Arzel dan Auliapun akan segera menyusul Arkana dan Seroja ke pelaminan.


TAMAT....


Makasih semua readers yang setia mengikuti cerita ini. Jangan lupa mampir di novel terbaruku.


" Terbelenggu Cinta Si Culun. "


Semoga terhibur..Maaf bila ada salah kata semoga novel ini bermanfaat untuk semuanya.


Salam Author


SR

__ADS_1


__ADS_2