
Hari ini Aulia datang kekampus bersama sopir pribadi papanya. Mau bagaimana lagi, sejak kejadian kemarin dirinya tidak diperkenankan oleh sang ayah untuk berangkat dan pulang sendiri.
" Berhenti disini, Pak. " pinta Aulia ketika sampai ditikungan dekat kampusnya.
Pak Kusno heran, " Bukankah kampus masih jauh, Nona? Apa tidak sebaiknya saya menurunkan anda didepan pintu gerbang atau diparkiran? Saya harus memastikan anda sampai dikampus dengan selamat. "
Aulia memberengkut kesal, dirinya merasa tak nyaman karena ruang geraknya dibatasi.
" Pak Kusno ikuti saya saja dari belakang. Bukankah itu sama saja? Aku hanya ingin seperti mahasiswa biasa. Aku tidak ingin diperlakukan istimewa. Tolong ya Pak, saya mohon. " pinta gadis itu memelas.
" Baiklah, Nona. Saya mengerti. " ucap pria paruh baya tersebut ramah. Ia kagum pada gadis itu, meskipun berasal dari keluarga berada, tapi dirinya tak pernah menyombongkan harta kedua orang tuanya bahkan selalu bersikap rendah hati.
Aulia telah tiba diruangannya, ia melirik bangku Arzel yang masih kosong. Masih teringat olehnya peristiwa semalam ketika sang Papa memukul pemuda itu sebelum dirinya menjelaskan yang sebenarnya. Dirinya pasti semakin tak enak hati jika masalah ini sampai ke telinga Om Dion dan Tante Dinda.
Akhirnya pemuda yang sedang dipikirkannya, kini telah masuk ke ruangan.Seperti biasa ia mendudukkan dirinya kasar pada bangku di sebelah Aulia. Gadis itu berpura-pura acuh padanya.
" Bantu aku mengerjakan tugas ini. " Arzel menunjukkan tugas kuliah yang sama sekali belum ia kerjakan.
Aulia sedikit lega, sepertinya pria itu tidak mengambil hati sikap Papanya semalam.
" Dasar pemalas. Pantas saja kau sampai tak lulus kuliah, kerjamu saja seperti ini. Tidak, aku tidak akan membantumu. Jangan ganggu urusanku. " ia segera mengambil salah satu buku dari dalam tasnya dan berlagak sedang sibuk membaca.
Arzel tiba-tiba merebut buku itu darinya.
" Apa kau lupa pesan Mamamu semalam? Dasar gadis tidak tahu balas budi, bukankah aku juga sudah menolongmu kemarin. Hanya mengerjakan tugas seperti itu tidak akan sulit bagimu. " sindirnya pada Aulia.
Gadis itu menghela nafas panjang,
" Baiklah. Kali ini aku akan membantumu mengerjakan tugas. Tapi lain kali, aku hanya akan membimbingmu, kau harus mencari sendiri sumbernya di perpustakaan. " tegasnya pada Arzel.
" Baiklah. Dasar cerewet. " pria itu mencebikkan bibirnya.
" Setidaknya aku bisa lebih sering bersamamu nanti. " batinnya senang.
Beberapa mahasiswi datang menghampiri keduanya, mereka mencoba untuk mendekati Arzel yang kini jadi pusat perhatian para kaum hawa dikampusnya.
" Hai, Arzel. Apa kau mau bergabung dengan kami nanti di kantin. Anggap saja ini sebagai penyambutan atas kehadiranmu dikampus ini. " salah seorang pimpinan geng mahasiswi itu memegang pundak Arzel berharap pria itu mau menerima ajakannya.
Arzel menanggapinya datar,
" Aku sedang tidak ingin diganggu. Aku tidak suka disentuh orang lain."
Gadis itu bukannya pergi justru malah semakin menggoda tanpa menghiraukan ucapannya.
" Ayolah, daripada kau bersama si cupu itu. Bukankah lebih baik kau bersenang-senang dengan kami? Kali ini aku yang akan mentraktirmu."
Brruuuakkkk.....
Seluruh mahasiswi disitu tersentak kaget, mereka tak menyangka Arzel begitu arogan. Pria itu berdiri sambil menunjuk-nunjuk gadis tersebut.
" Bukankah sudah kubilang, jangan ganggu aku! Aku telingamu itu sudah tidak berfungsi? Aku akan membuat perhitungan denganmu jika kau berani menghinanya! " bentaknya pada gadis yang barusan menggodanya.
Gadis itu bergidik ngeri sekaligus malu diperlakukan seperti itu didepan teman-temannya. Ia menatap kesal pada Arzel dan juga Aulia kemudian segera pergi menjauh dari sana.
Amarah Arzel mulai mereda setelah kepergiannya, iapun duduk kembali. Aulia melirik sekilas pemuda itu,
" Kau ini membuat masalah saja. Bisa-bisanya kau mengancamnya agar tidak menghinaku, padahal kau sendiri yang selalu meledekku seperti itu. Pria aneh." ia kembali fokus mengerjakan tugas Arzel.
" Karena hanya aku yang boleh berkata seperti itu padamu, bukan yang lain. " tegasnya menatap serius pada Aulia.
__ADS_1
" Heeuhhh,, kau ini ada-ada saja. " gadis itu geleng-geleng kepala dibuatnya. Tapi dirinya senang, setidaknya ada satu orang lagi yang membelanya dikampus selain Seroja. Dirinya kerap mendapat bullian lantaran jarang bergaul dan berpenampilan seperti gadis culun.
...----------------...
Arkana telah pulang dari kantornya, kali ini dirinya pulang lebih cepat dari biasanya. Sakitnya Seroja membuat dirinya bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera kembali ke mansion.
Dirinya begitu khawatir dengan keadaan sang istri. Siang tadi iapun menanyakan keadaan wanita itu lewat Bi Sumi melalui panggilan selular. Ia memastikan bahwa Seroja jangan sampai telat makan dan minum obat. Namun, dirinya meminta Bi Sumi untuk tidak mengatakan hal itu pada Seroja.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, terlihat gadis itu sedang duduk bersandar diatas ranjangnya. Arkana yang tadinya buru-buru ingin segera masuk ke kamar, seolah acuh terhadap gadis itu. Ia segera mandi dan berganti dengan pakaian santai.
Serojapun hanya terdiam sambil menonton TV. Sesekali ia memperhatikan apa yang tengah suaminya itu lakukan.
Arkana mendudukkan dirinya ditepi ranjang, ia menoleh kepada wanita yang ada disebelahnya.
" Bagaimana keadaanmu? Apa sekarang sudah baikan? " tanyanya datar.
" Heeumm,, rasanya sudah agak mendingan. Rasa sakit dipunggungku sekarang sudah agak berkurang." jawabnya kaku. Entah kenapa dirinya selalu merasa gugup bila berdekatan dengan pria itu.
Arkana tersenyum tipis bahkan hampir tak terlihat. Ia tak ingin menunjukkan rasa senangnya didepan wanita tersebut. Dengan ragu ia menawari gadis itu kembali,
" Apa kali ini aku perlu mengompres punggungmu kembali? " entah berharap atau bagaimana padahal menurutnya ia tak berhasrat sama sekali dengan wanita disebelahnya. Ia hanya menawarkan bantuan saja, tidak lebih.
" Ti,, tidak perlu. Bukankah sudah kukatakan jika aku sudah lebih baik sekarang. Kau tak perlu melakukannya lagi. " jawab Seroja seketika. Meskipun dalam keadaan sakit, tak dapat dipungkiri dirinya merasakan gelenyar-gelenyar aneh saat disentuh oleh lawan jenisnya. Dirinya rugi banyak sekarang.
Suasana kembali canggung sekarang, Arkana sibuk mengotak-atik ponselnya, sedangkan Seroja, ia memilih fokus pada acara yang ditontonnya. Sesekali keduanya mencuri-curi pandang memperhatikan orang disebelahnya.
Pria itu melirik jam dinding yang ada dikamarnya, waktu makan malam telah tiba. Ia segera turun dan meminta Bi Yani membawa makanan mereka ke atas saja. Setelah itu, dirinyapun kini kembali ke kamar bersama Bi Yani yang membawakan nampan berisi makanan dan minuman.
" Kenapa cepat sekali? Bukankah sekarang jam makan malam? " tanya Seroja heran melihat kedatangan pria itu kembali. Ia menoleh pada seseorang yang berada di belakang pria itu.
" Mama menyuruhku untuk menemanimu makan malam di kamar, jadi aku terpaksa harus makan disini bersamamu. " ujar Arkana beralasan.
Bi Yani yang belum pergi dari sana tersenyum mendengarnya. Padahal Tuan Mudanya sendiri yang meminta untuk membawa makan malam mereka ke kamar, tapi dia menggunakan Sang Mama sebagai alasan.
" Sepertinya Tuan Muda masih jaim sama istrinya. Kalau cinta nggak perlu malu- malu gitu, Tuan. " Dalam hati ia merasa geli pada majikannya itu.
" Bi Yani kenapa senyum-senyum sendiri, apannya yang lucu? " Seroja ikut tersenyum melihat tingkah aneh wanita tersebut.
Kedua netra Arkana membola seketika, agaknya ia mengerti apa yang sedang dipikirkan pelayannya itu. Buru-buru ia memberi kode pada Bi Yani agar segera keluar meninggalkan kamarnya.
Bi Yani menelan kasar ludahnya melihat pria tersebut menatapnya tajam. Ia mengerti maksud majikannya itu.
" Ti,, tidak Nona. Saya hanya teringat tingkah lucu Bi Sumi barusan. Kalau begitu saya permisi dulu. "
Buru-buru ia keluar dari kamar tersebut agar majikannya tidak merasa terganggu karenanya.
" Selamet- selamet. " ia merasa lega saat keluar dari kamar tersebut.
Kini tinggal mereka berdua di dalam kamar, Seroja kembali gugup saat Arkana menyodorkan sepiring makanan untuknya.
" Apa kau bisa makan sendiri? " tanya pria itu sambil menyerahkan makanan pada sang istri.
" Ten,,tu saja bisa. Kedua tanganku ini baik-baik saja. " jawab Seroja terbata-bata.
" Oh,, baguslah. Cepat habiskan makananmu, setelah itu minumlah obat. Aku tidak mau kerepotan karena harus merawatmu terus-terusan. " ungkap pria itu datar, padahal ada sedikit rasa syukur dalam hatinya karena ia bisa lebih dekat lagi dengan gadis itu.
" Cih,, siapa juga yang memintanya untuk repot-repot mengurusku. Menyebalkan. "
__ADS_1
Seroja menyuapkan sesendok besar makanan ke dalam mulutnya karena kesal.
Arkana memperhatikan cara gadis itu makan.
" Pelan-pelan makannya, kau seperti orang yang tidak pernah diberi makan." sindir pria itu seraya menikmati makanannya.
Uhuk....Uhuk....
Seketika gadis itu tersendak saat mendengar apa yang diucapkan Arkana barusan. Pria itu segera mengambilkan segelas minuman untuknya.
" Sudah kubilang, pelan-pelan saja. Tidak perlu terburu-buru, aku tidak akan merebut makananmu." ucap Arkana sambil menyodorkan minuman itu pada istrinya.
" Terima kasih. " gadis itu segera meminum sedikit air untuk mengurangi rasa nyeri akibat tersendak barusan. Dalam hati ia merutuki Arkana lantaran pria itulah yang membuatnya hingga tersendak seperti itu.
Arkana mengambil piring makannya dan menyeret kursi yang ada disamping wanita tersebut.
" Kenapa kau malah makan disini? " Seroja bingung dengan tingkah pria itu.
" Memangnya tidak boleh? Tidak enak hanya makan seorang diri disana." jawabnya acuh.
Seroja terdiam, dirinya juga aneh memangnya apa salahnya jika pria itu makan di sebelahnya. Ia berusaha menelan makanan yang terasa begitu sulit masuk kedalam kerongkongannya.
Akhirnya ia bisa bernafas lega setelah dengan susah payah dirinya berhasil menghabiskan sepiring makanan yang ada ditangannya saat ini. Ini mungkin menjadi hari paling sulit bagi dirinya untuk makan.
" Ya Alloh, ada apa denganku." batinnya bingung. Ia segera meminum obat yang pria itu berikan padanya.
Arkana senang gadis itu telah makan dan
meminum obatnya dengan baik. Ia meminta Seroja untuk beristirahat setelahnya. Sedangkan dirinyapun segera mengambil posisi disamping wanita itu untuk dapat tidur nyenyak dengan pembatas guling tentunya.
Pria itu menutup tubuhnya dengan selimut sambil memunggungi Seroja. Sedangkan gadis itu bukannya tidur, ia justru kembali menyetel televisi. Ia tak bis tidur lantaran memikirkan kejadian bersama Arkana akhir-akhir ini.
Untung saja ada acara komedi yang membuatnya terhibur kali ini. Ia tertawa seorang diri menyaksikan film tersebut hingga membuat Arkana susah tidur karenanya.
Pria itu merasa terganggu, tawa gadis itu membuat rasa ngantuknya menguap begitu saja.
" Kau ini berisik sekali. Memangnya apa yang sedang kau tonton?" Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menatap layar televisi. Seketika iapun ikut tertawa menyaksikan acara tersebut.
" Ha,, ha,, ha lucu bukan? Aku sudah menyaksikannya sedari tadi." ungkap Seroja senang.
Arkanapun cukup terhibur dengan acara tersebut. Sudah lama memang dirinya jarang menonton televisi. Kini dirinya yang asyik menontonnya bahkan setelah acara tersebut selesai.
Tanpa disadari seseorang kini telah bersandar dipundaknya. Seroja telah terlelap akibat rasa ngantuk yang ditahannya sedari tadi lantaran menikmati acara komedi.
Pria itu tersenyum, ada rasa nyaman tersendiri saat Seroja berada begitu dekat darinya. Ia memalingkan sedikit wajahnya menghadap gadis tersebut.
" Cantik."
Satu kata itu saja yang terbersit di otaknya. Kini bibir merah muda milik Seroja yang menjadi pusat perhatiannya.
Glekkk...
Pria itu menelan ludahnya kasar, terlintas kembali di pikirannya saat ia terpaksa mencium gadis itu saat tenggelam di kolam beberapa waktu yang lalu.
Ragu-ragu, ia mengusap perlahan bibir tersebut dengan jemari tangannya. Apa yang akan dilakukan Arkana setelahnya?
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya....