
Aulia dan Arzel baru saja pulang dari kampusnya. Bu Yani dan mbak Sumi segera menghampiri keduanya untuk menyampaikan apa yang baru saja terjadi di mansion.
" Non Aulia, Tuan Arzel ! Gawat! Tadi Nyonya sepertinya baru bertengkar dengan Non Seroja. Non Seroja pergi dari rumah dalam keadaan menangis Nona." ungkap Mbk Sumi ketakutan.
Aulia dan Arzel begitu terperanjat mendengarnya, mereka langsung naik ke lantai atas untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Dilihatnya pintu kamar Arkana yang sedikit terbuka, sang Mama terdengar menangis di dalam sana.
Gadis itu berlari mendekati Mamanya yang masih terisak dan terduduk di lantai.
" Mama? Ada apa sebenarnya? Kenapa Mama seperti ini? " tanyanya sambil membantu sang Mama berdiri dan duduk di tepi ranjang.
Ia memperhatikan sekeliling, terlihat sebuah map dan beberapa foto berserakan di atas lantai. Arzel segera memungutinya, dirinya terkesiap saat tanpa sengaja membaca surat kontrak nikah dan beberapa foto Seroja bersama pria yang nampak asing baginya.
" Seroja dan Kakakmu ternyata selama ini hanya berpura-pura menikah demi kepentingan masing-masing. Mereka tega membohongi Mama. Seroja menikah hanya untuk mendapatkan uang imbalan dari kakakmu dan membantu usaha kekasihnya yang hampir bangkrut." jelasnya saat Arzel mulai membaca surat kontrak tersebut.
Auliapun terperanjat seketika mendengar penuturan sang Mama. Apalagi mendengar kata kekasih Seroja, yang ia tahu kekasih Seroja selama ini hanyalah Kak Ardi.
Ia merampas surat kontrak dan beberapa foto yang ada di tangan Arzel. Netranya membulat sempurna kala menyadari apa yang dikatakan Mama Bianca benar adanya.
Namun, dirinya merasa janggal dengan pria yang bersama Seroja dan keluarganya. Bagaimanapun dirinya sudah dekat dengan Seroja sebelum keluarga mengenalkannya sebagai cucu Bi Irah yang mereka cari-cari selama ini.
Ia kembali mendekati sang Mama untuk menanyakan kebenarannya.
" Siapa pria ini, Ma? Apa dia yang Mama maksud kekasih Seroja?" tanyanya memastikan.
Bianca hanya mengangguk, Aulia seolah tak percaya sang Mama bisa percaya sesuatu yang belum tentu jelas kebenarannya. Ia mencoba menjelaskan secara halus pada mamanya.
" Ma, aku dan Seroja sudah bersahabat dekat sebelum Mama, Papa dan Kak Arkana mengenalnya. Aku tahu dan hafal betul dengan siapa Seroja dekat. Dia selalu curhat kepadaku saat ada masalah. Dan dia sama sekali tidak pernah bercerita tentang pria ini."
__ADS_1
Penjelasan Aulia berhasil membuat sang Mama terkesiap. Dirinya baru menyadari bahwa ia terlalu terbawa emosi tadi hingga tak mau mendengar penjelasan dari menantunya. Hatinya seolah tertutup oleh rasa kecewa lantaran kebohongan yang dilakukan anak dan menantunya.
Tanpa sengaja Arzel memungut kertas kecil yang terlihat kusut akibat diremas seseorang. Dirinya terkejut melihat sebuah cek bertuliskan nominal 10 milliar yang tertera disana. Pemuda itu berniat mengembalikan cek tersebut pada Bianca.
" Maaf Tante, apa ini milik Tante? " ia
menyerahkan cek itu pada Bianca.
" Astagfirulloh hal adzim. Apa yang telah aku lakukan barusan?" ia tak menyangka Seroja malah membuang cek tersebut.
Airmatanya kembali menganak pinak, dirinya merasa begitu bersalah pada menantunya. Bagaimana jika benar apa yang dikatakan wanita itu bahwa dia dan Arkana sudah saling mencintai sekarang? Dirinya sungguh menyesali perbuatannya barusan.
Aulia mengusap kedua lengan sang Mama, dirinya ikut berderai airmata lantaran tak tega melihat keadaan Bianca saat ini. Rasanya ini pertama kali dirinnya menyaksikan sang Mama mengalami penyesalan mendalam.
" Aulia, Ma..Mama telah mengusir Seroja." ungkapnya dalam tangis.
Aulia kembali menenangkan mamanya,
" Terima kasih, Sayang. Kau sudah semakin dewasa sekarang." ungkap Bianca seraya memeluk putrinya.
Arzel memperhatikan keduanya, senyum tipis mengembang di wajah tampannya. Dirinya semakin kagum pada sang pujaan hatinya.
...----------------...
Seroja berjalan tanpa arah dan tujuan. Pikirannya kalut, ia benar-benar terluka atas kekecewaan sang mertua kepadanya. Padahal, sedari awal bertemu Bianca sudah seperti sosok ibu baginya. Ia memperlakukan dirinya sama seperti anak-anaknya yang lain.
Wanita itu duduk di sebuah bangku yang ada di tepi jalan. Tubuhnya semakin mudah lelah sekarang.Dirinya teringat dengan tespack yang disimpannya dikamar mandi. Senyum getir terukir di wajahnya, harusnya saat ini pasti ia sudah tahu dirinya hamil atau tidak.
__ADS_1
" Dia pasti sedang menunggu kabar baik dariku. " batinnya jadi teringat sang suami.
Seroja mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia tak menyangka ada begitu banyak pesan yang dikirimkan sang suami padanya. Belum lagi dari adiknya, Intan, dari Aulia dan sebuah nomor yang tidak tertera namanya disana.
Ia membuka pesan dari suaminya, rentetan pertanyaan tentang apa yang ia lakukan seharian ini, apa dia makan dengan baik, bagaimana kesehatannya, lalu bagaimana hasil testnya hingga kenapa dirinya tak mengangkat telepon darinya. Seroja tersenyum sendiri membacanya,
" Dasar pria protektif." gerutunya seorang diri.
Airmatanya kembali terjatuh. Jika saja sang suami ada di sampingnya saat ini, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Ia mengusap airmatanya, berusaha untuk tegar menghadapi semuanya.
Tadinya ia berniat menghubungi Arkana, tapi diurungkannya. Ia takut kondisi yang masih kalut justru akan membuat dirinya seolah mengadu domba ibu dan anak tersebut. Ia ingin menenangkan diri untuk sementara saat ini.
Ia membuka pesan dari sebuah nomor asing. Netranya membola seketika saat melihat sang suami sedang berpelukan dan berciuman bersama Aluna. Apalagi, wanita itu terlihat menggunakan gaun tidur seksi yang pasti membuat siapapun bisa tergoda karenanya. Sebuah pesan tertulis dibawahnya.
" Dan akhirnya, dia akan tetap menjadi milikku seutuhnya. Kami menghangatkan diri di tengah dinginnya kota Tokyo. "
Jlebb...
Hati Seroja seolah teriris karenanya. Rasa cemburu pasti apalagi, suaminya bersama wanita gila itu disana. Airmatanya kembali bergulir, kenapa seolah-olah datang bertubi-tubi padanya?
" Apa ini alasannya dia tidak mau membawaku kesana. Dia ingin bersenang- senang dengan wanita itu?" batinnya menangis meratapi semua masalah yang dihadapinya saat ini.
Dirinyapun teringat janji saling percaya yang mereka berdua ucapkan. Ia harus bertahan meski pikiran buruk sedang melanda dirinya saat ini.
" Aku tidak boleh menuduh sebelum mendengar sendiri kebenarannya dari mulut suamiku. Seroja, kau wanita kuat. Bertahanlah untuk seseorang yang mungkin kini berada didalam rahimmu. " batinnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Wanita itu memutuskan hendak kembali ke apartemen. Ia khawatir ibunya akan cemas jika tiba-tiba saja ia kembali ke rumahnya. Disanapun banyak kenangan dengan sang suami, itu pasti bisa menghibur kesedihan yang ada di hatinya saat ini.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍