
Arzel, Aulia dan Seroja telah menyelesaikan mata kuliahnya hari ini. Seperti biasa, pemuda itu berniat mengantar mereka menuju mansion. Namun, saat tiba diparkiran Seroja memperhatikan sebuah mobil yang begitu mirip dengan mobil suaminya.
" Bukankah itu mobil Arkana? " ia menarik lengan Aulia dan menunjuk mobil yang ia maksud barusan.
Aulia memperhatikan sekilas mobil itu.
" Benar, itu mobil Kakak. Tapi, siapa pria yang berada didekat mobil itu? Aku belum pernah melihatnya." ungkapnya penasaran.
Pria yang dimaksud memperhatikan ketiganya, setelah membuka ponselnya sesaat, iapun menghampiri mereka bertiga.
" Maaf. Benar anda Nona Seroja? Saya supir kantor Tuan Arkana. Beliau memintaku untuk membawa anda ke kantornya. " jelas pria itu sopan.
Arkana memang sengaja menyuruh supir untuk menjemput istrinya. Ia tidak mau Seroja terlalu dekat dengan Arzel, bukan hanya Arzel lebih tepatnya dengan lawan jenis.
Arzel menyunggingkan senyuman ke salah satu sudut bibirnya,
" Sepertinya suamimu masih ketagihan." sindirnya pada Seroja.
Gadis itu memberengkut kesal, " Apa maksudmu berkata seperti itu. Ternyata kau sama mesumnya dengan Arkana. Percuma kau mengubah penampilanmu menjadi culun seperti itu, tapi kelakuanmu sama saja." ejeknya balik. Ia sangat malu lantaran ada orang lain diantara mereka.
Arzel kembali terkekeh, " Ternyata kau mengakui bahwa suamimu sendiri itu memang mesum."
Seroja mencebikkan bibirnya. Percuma meladeni Arzel, yang ada justru arah pembicaraannya semakin tidak karuan.
" Mari Pak, kita pergi dari sini. Tidak usah meladeni pria gila seperti dia." sindirnya pada Arzel. Gadis itupun berlalu menuju mobil sang suami.
" Baguslah. Jadi aku bisa berdua sepuasnya dengan Aulia. " gerutu Arzel.
Aulia terbelalak seketika saat mendengar ucapan Arzel barusan.
" Apa kau bilang? "
" Ti,, tidak. Maksudku, kita pulang hanya berdua saja jadinya." pria itu meralat ucapannya kembali.
Seroja tiba-tiba berteriak dari balik kaca mobilnya, " Awas Aulia! Yang itu lebih ganas dari yang kau kira. Hati-hati dengannya. " iapun pergi sembari melambaikan tangan pada sahabatnya.
Aulia hanya mampu geleng-geleng kepala, setelah kelulusan sang Kakak, sepertinya Arzellah lawan terbaru Seroja.
" Mari kita pulang. " ajak pemuda itu pada Aulia. Keduanya menuju parkiran dimana mobil Arzel berada.
Arzel melajukan mobilnya meninggalkan kampus, ia menatap sisi jalan sambil mencari sesuatu disana.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita mampir ke toko buku dulu. Akhir-akhir ini aku kesepian, Mama dan Papa telah kembali ke Amerika. Aku ingin mencoba mengisi waktu dengan membaca buku. Apa kau tahu toko buku terdekat disini?" pemuda itu sengaja ingin lebih lama bersama Aulia.
" Iya,, tentu saja aku mau. Di depan sana belok kiri ada toko buku langgananku. Kebetulan aku juga habis bacaan dirumah. Aku ingin mencari buku-buku terbitan baru." jawab Aulia bersemangat.
Arzel tersenyum setipis mungkin hingga hampir tak terlihat. Ternyata rencananya kali ini berjalan dengan mulus. Ia berhasil mengajak Aulia pergi bersamanya.
Keduanya tiba di sebuah toko buku yang cukup terkenal disana. Arzel benar-benar heran, ekspresi Aulia saat melihat toko buku hampir sama dengan melihat setumpuk berlian.
" Ayo masuk. " ajak gadis itu sambil menggandeng tangan Arzel untuk masuk ke dalam toko. Pria itu bisa dibilang menang kali ini, tanpa dipaksa Aulia terlihat semakin nyaman bersamanya.
Ia hanya mengekori Aulia yang terlihat sibuk mencari buku bacaan sambil membaca penggalan ceritanya. Arzel berlagak memilah-milah buku yang hendak dibelinya agar gadis itu tidak curiga.
Apa kau sudah menemukan buku yang kau sukai? " tanya Aulia pada pemuda itu.
Ia sendiri telah mengisi tas belanjanya dengan beberapa buku yang disukainya.
Arzelpun tak mau kalah, ia mengambil begitu banyak buku hingga hampir memenuhi tas belanjanya. Akan tetapi, jangan ditanya apa dirinya benar-benar akan membacanya atau tidak. Misinya hanya untuk mengambil hati gadis dihadapannya.
Aulia menatap sedikit ragu padanya, " Apa kau yakin akan membaca buku sebanyak itu?"
" Tentu saja, buku sebanyak ini pasti bisa aku kuasai dalam seminggu. " jawabnya bangga.
Ia mengambil buku tersebut dan menyerahkannya pada Arzel.
" Kau perlu ini. Bukankah kau ingin lulus dengan nilai yang tinggi? Disini banyak bab yang bisa kau jadikan referensi untuk mengerjakan tugas-tugasmu. "
Arzel mengamati buku itu sekilas,
" Sepertinya aku tidak memerlukannya. Aku sudah hafal mengenai bab-bab disana. " jawabnya spontan.
Aulia tercengang mendengar ucapan Arzel. Tentu saja dirinya tak percaya, manamungkin pemuda dengan IPK yang begitu rendah hingga tak lulus kuliah menguasai materi yang ada di buku tersebut.
Ia mencoba memberikan beberapa pertanyaan yang tertuang dalam buku tersebut. Dirinya kembali dikejutkan tatkala Arzel menjawab pertanyaan itu dengan benar bahkan diluar kepala.
" Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kau harus rela tidak lulus kuliah dan melanjutkannya disini?"
Pertanyaan Aulia barusan membuat Arzel mematung seketika. Dirinya tak menyangka Aulia bisa berpikir sampai kesana. Gadis itu memberi tatapan seolah menuntut jawaban darinya.
Arzel menjitak pelan kepala gadis itu kembali.
" Kau ini, bukankah sudah kukatakan, Mama dan Papa akan menghukumku jika aku tak lulus lagi tahun ini. Tentu saja aku sudah belajar dengan keras sebelumnya. Aku bukannya bodoh, hanya saja aku pemalas. Jika aku sungguh-sungguh belajar, kaupun bisa kukalahkan. " jelasnya dengan bangga pada Aulia.
__ADS_1
Raut wajah Aulia kini berbinar kembali, jawaban Arzel barusan sepertinya bisa ia terima dengan akal sehatnya. Arzelpun bisa merasakannya, dirinya ikut lega bisa mencari alasan yang tepat untuk gadia itu.
" Baiklah. Aku akui ternyata kau pintar juga bisa menguasai buku ini dengan cepat. " gadis itu mengembangkan senyumnya.
Kini gantian Arzel yang menatap dalam pada dirinya. " Apa aku sudah masuk dalam kriteriamu?"
Deg...
Aulia sontak terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Arzel. Dirinya bingung harus menjawab apa, sedangkan selama ini ia belum pernah berpikir sejauh itu bersama Arzel. Satu-satunya pria yang pernah ia kagumi hanyalah Ardi.
Arzel memahami apa yang ada dihati Aulia saat ini. Mungkin terlalu dini menanyakan pertanyaan semacam itu pada gadis pujaannya.
" Hei,, jawab. Apa aku sudah masuk kriteria sebagai anak didikmu? Mama sudah mempercayaimu untuk membantuku dalam belajar." ralatnya kembali.
Seketika Aulia bernafas lega, ia sendiri tak mengerti bagaimana bisa ia berpikir sejauh itu.
" Tentu,, tentu saja. Kau sudah cukup pintar sekarang. Mulai hari ini kau resmi menjadi anak didikku." jawab Aulia gugup sekaligus lega.
Ia hendak berlalu lantaran malu, namun tanpa sengaja keranjang belanjanya menyenggol keranjang belanja milik Arzel hingga buku keduanya jatuh berserakan.
Spontan keduanya berniat mengambil buku tersebut. Tanpa disadari kepala mereka justru beradu satu sama lain.
*Duugh...
Awww*....
Arzel segera mengelus kepala Aulia yang merintih kesakitan. Raut kecemasan kini menyelimuti wajahnya.
" Kau tidak apa-apa? " ucapnya cemas sambil meniup dan mengelus-elus puncak kepala Aulia. Padahal kepalanyapun bertatap cukup keras dengan kepala gadis itu.
" A,, aku tidak apa-apa. " gadis itu kembali gugup.
Aulia menatap pria yang kini berada begitu dekat dengannya. Untuk pertama kali ia merasa ada seseorang yang begitu perhatian terhadapnya.
Arzel memastikan gadis itu benar-benar baik-baik saja. Ia segera membereskan buku mereka yang berserakan di lantai.
" Jika seandainya kau tahu, aku melakukan semua ini untukmu. Apa kau akan menerima ketulusanku? " batin pria yang telah membiarkan kuliahnya terbengkalai hanya untuk bisa mendekati gadis yang belum tentu mencintainya.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1