
" Kakak? Ada apa denganmu? Kenapa kau mandi lumpur seperti itu? " Intan heran melihat Seroja yang baru saja pulang dengan pakaian begitu kotor. Dirinya tak berhenti tertawa saat melihat kakaknya seperti anak kecil yang habis bermain di kubangan lumpur.
" Terus,, terus saja menertawakanku. " Gadis itu mengerucutkan bibirnya karena kesal sang adik justru menertawakannya. Ia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya yang begitu kotor.
Dikamar mandi iapun tidak henti-hentinya mengumpati orang yang hampir saja menabraknya barusan.
" Dasar brengsek! Awas kalau ketemu akan kubuat perhitungan dengannya. " umpatnya sambil menggosok-gosok bagian tubuhnya yang masih saja bau menurutnya.
Bagaimana tidak kesal, ia hendak menjajajakan dagangannya ke seberang trotoar. Namun, saat hendak menyebrang sebuah mobil melaju dengan sangat kencang dari arah belakang. Bukannya memperlambat laju kendaraan, mobil itu justru menambah kecepatannya.
Untung saja dengan sigap dirinya bisa menghindar, namun apesnya ia malah masuk ke kubangan jalan yang berlubang. Tadinya ia senang, sebab mobil itu akhirnya berhenti. Mungkin orang tersebut ingin meminta maaf padanya, tapi ternyata orang itu justru melajukan kembali mobilnya.
" Kau pikir aku tidak bisa menemukanmu, ha? Sampai ke lubang tikuspun aku pasti akan mencarimu. " umpatnya kembali sambil menyelesaikan ritual mandinya.
" Tunggu, Tunggu ! Sepertinya aku tahu mobil itu ada dimana. Ya, ya semoga tebakanku kali ini benar. Kau tunggu saja pembalasan dariku ya. " sebuah seringai muncul di wajah gadis itu. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk membalaskan kekesalannya.
...****...
Aulia heran saat musik yang tadinya begitu menggelegar tiba-tiba mati begitu saja. Dilihatnya dari balik kaca jendela, ternyata pesta telah berakhir. Ia begitu terkesiap saat melihat kondisi sang kakak yang telah basah kuyup saat ini dan kedua orang tuanya yang sepertinya pulang lebih awal.
Ketiganya terlihat masuk kedalam mansion. Gadis itupun penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, ia memutuskan untuk menyusul ketiganya dibawah.
Diruang keluarga terlihat Arkana yang berdiri sambil menundukkan kepalanya sedari tadi. Yah, diam dan menjawab pertanyaan itu dirasa lebih baik saat ini. Ia paham watak sang ayah yang tidak suka dengan orang yang banyak bicara.
" Ma, Pa? Kalian sudah pulang? " Aulia segera menyalami kedua orang tuanya.
" Papa? Kenapa lengan Papa diperban? Apa yang telah terjadi pada Papa? " dirinya begitu terkejut saat nampak sedikit kain perban yang tertutup kaos lengan pendek sang ayah.
" Papa mengalami sedikit musibah di jalan, Sayang. Tadi kami dihadang perampok, mereka berhasil melukai lengan Papa. Untung saja ada gadis pemberani yang menolong Papa barusan. " jelas Alvin pada putrinya.
Deg....
Arkana segera mengangkat kepalanya saat mendengar apa yang terjadi pada sang ayah. Rasa sesal memenuhi perasaannya saat ini, sedari tadi bahkan dirinya tak menyadari bahwa Papanya sedang terluka.
Ia merasa bersalah sebab disaat Papanya sedang terkena musibah dirinya justru asyik berpesta pora bersama sahabat-sahabatnya.
Pandangan Alvin kembali tertuju kembali pada putra sulungnya. Kali ini ia harus menuntut penjelasan mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi.
" Arkana! Jelaskan pada Papa. Kenapa kau berani mabuk-mabukkan di mansion? Apa kau juga yang menyiapkan minuman keras untuk sahabat-sahabatmu itu? Kau benar-benar mencoreng nama baik Papa.
Dengan spontan dirinya langsung menggelengkan kepala, sebab ia memang tidak tahu menahu darimana sebenarnya minuman itu berasal.
" Tidak, Pa. Aku tidak pernah menyiapkan minuman seperti itu. Anak-anak justru yang memberikannya padaku, jadi aku terpaksa meminumnya. A,, aku tidak enak dengan mereka." jelasnya pada sang Papa.
__ADS_1
" Oh,, jadi kalaupun mereka memberimu racun, kaupun akan meminumnya juga hanya karena perasaan tidak enak pada teman, begitu? " sindir Alvin kembali.
" Maaf, Pa. Aku memang bersalah, aku siap menerima hukuman dari Papa. Aku jamin hal ini tidak akan terjadi kembali." jawabnya penuh penyesalan.
" Pertanyaan Papa belum selesai! Kau belum menjelaskan pada Papa mengenai dua orang wanita yang joged begitu intim denganmu. Apa mereka wanita koleksimu? Papa tidak pernah mengajarkan untuk mempermainkan perasaan seorang wanita dan Papa sangat menentang hal itu ! " Alvin memperingatkan.
" A,, aku juga tidak tahu bagaimana bisa aku berdansa dengan gadis-gadis itu Pa. Mungkin, karena mabuk aku tidak sadar dengan apa yang telah aku lakukan. Aku tidak pernah mempermainkan perasaan wanita, aku hanya mencintai Aluna dan Papapun tahu hal itu. " jelasnya gugup.
" Kau jangan pernah membohongi, Papa. Aulia? Apa benar selama ini kakakmu tidak punya teman wanita dikampus? " Tatapan penuh intimidasi ia tujukan kali ini pada anak perempuannya.
" Tentu saja banyak, Pa! " jawab Aulia spontan.
Raut wajah Arkana seketika menjadi pucat pasi, ia tak menyangka Aulia berani mengatakan hal itu pada Papanya. Ia yakin Papanya akan memberikan hukuman yang lebih berat lagi padanya kali ini.
Begitupun Alvin, ia bertambah kesal sekarang karena putranya telah berani berbohong. Wajahnya kini telah berubah merah padam karena memendam kemarahan.
" Maksudku, Kakak memiliki banyak teman wanita Pa, tapi bukan kekasih mereka hanya sebatas bersahabat saja. " Aulia menata kembali ucapannya. Iapun sebenarnya tak tega bila Kakaknya harus menerima hukuman dari sang Papa.
Huh...
Arkana seperti mendapat angin segar, untung saja Aulia meralat kembali ucapannya. Ia bisa sedikit bernafas lega sekarang.
Begitupun Alvin, emosinya perlahan berangsur- angsur turun. Kalau Aulia tak meralat ucapannya tadi, bisa dipastikan sebuah bogem mentah pasti akan mendarat diwajah putranya.
" Baik, Pa. " jawab Arkana singkat.
" Sebagai hukumanmu karena telah bermabuk -mabukan semalam, Papa putuskan akan memotong uang jajanmu selama sebulan ini menjadi setengahnya saja. Sekarang kalian semua kembalilah ke kamar masing-masing. " Alvin membuat keputusan terakhir.
Dengan berat hati Arkana menerima keputusan sang Papa. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak ada uang jajan sama sekali menurutnya.
...----------------...
Pagi ini seperti biasa Arkana berangkat ke kampusnya untuk mengikuti kuliah pagi. Iapun harus mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membawa minuman keras di pestanya. Dia benar-benar kesal, karena hal ini dirinya harus mendapat hukuman dari sang Papa.
Ia segera masuk ke dalam kampusnya dan menemui Aldo sahabat yang mencekokinya dengan minuman keras semalam.
" Hai Sayang? Maaf karena semalam aku langsung pergi meninggalkanmu. Aku tidak enak hati saat melihat muka Papamu yang tidak bersahabat. " Sisil langsung bergelayut manja saat melihat kedatangan kekasihnya.
Arkana menghempaskan tangan gadis itu karena risih,
" Dimana Aldo? Aku harus membuat perhitungan dengannya ! " ucapnya kesal.
Sisil begitu terkejut saat nama Aldo disebut, ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan minuman keras kemarin. Dan sudah dipastikan iapun akan terseret dalam masalah ini.
__ADS_1
" A,, aku tidak tahu apakah dia akan kekampus hari ini atau tidak. Tapi sepertinya aku belum melihatnya sedari pagi. " jawabnya gugup.
Tanpa banyak bicara Arkana meninggalkan gadis itu seketika, apapun yang terjadi dirinya harus menemukan Aldo secepatnya.
Seroja menatap gedung perkuliahan yang ada dihadapannya saat ini. Dirinya menyeka airmata yang hampir saja lolos dari kedua sudut matanya. Kampus tersebut adalah kampus tempatnya berkuliah beberapa bulan yang lalu.
Dulu dirinya memang berkuliah disana. Berkat bantuan dari keluarga majikan neneknya dan beasiswa dari kampus, ia bisa berkuliah dikampus yang paling elite di ibukota.
" Sudahlah Seroja! Tanpa berkuliahpun kau pasti juga akan sukses nanti. Ingat tujuan utamamu kesini adalah membalas orang yang hendak menabrakmu. Semangat! " ucapnya menghibur dirinya sendiri.
Dirinya tahu bahwa mobil tersebut adalah termasuk deretan mobil mewah dikampusnya dulu, meskipun ia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya.
" Benarkan dugaanku? Mobil itu ada disini ! " gumamnya sambil mengamati sekitar. Saat dirasa cukup aman, ia mendekat ke arah mobil tersebut.
" Akhirnya ketemu juga." seringai licik muncul di salah satu sudut bibirnya.
" Kali ini kau harus pulang sambil mendorong mobilmu, rasakan akibatnya karena berani bermain-main denganku. Duughhh. " satu pukulan mendarat di bagian belakang mobil. Belum puas sampai disitu, ia mulai mengempesi keempat ban mobil tersebut.
" Akhirnya selesai juga, tinggal kita lihat saja hasil akhirnya." Gadis itu segera bersembunyi kembali saat dirasa ada yang datang.
Pucuk dicinta ulampun tiba, benar saja Arkana yang datang kesana. Kali ini dirinya hendak pergi menyusul Aldo ke rumahnya.
Ia begitu terkejut saat terlihat bagian belakang mobilnya sedikit penyok dan keempat ban mobilnya yang telah kempes.
" Sial !! Siapa yang berani melakukan ini! Aargghh." Umpatnya kesal.
Seroja yang sedari tadi bersembunyi dibalik tembok tak jauh darisana. Rasanya tak mampu menahan tawanya karena puas, hingga tanpa disadari dirinya menginjak botol bekas yang ada di belakangnya.
Krrreeekkk...
" Siapa itu? " teriak Arkana saat mendengar sesuatu yang mencurigakan.
Seroja sedikit panik saat pria itu mulai curiga akan keberadaannya.
" Lebih baik aku pergi dari sini sebelum dia menemukanku.
Gadis itu hendak beranjak dari sana, namun tiba-tiba seseorang menahan pergelangan tangannya.
" Mau kabur kemana kau? "
Bersambung....
Maaf teman-teman slow up ya, author terus terang sampai sekarang belum fit sehabis mudik. Makasih buat semuanya yang tetap mendukung karya- karya author. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat author ya.Makasih sebelumnya..
__ADS_1