Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
DIGODA MERTUA


__ADS_3

" Hei,, ini sudah malam. Apa kau tidak kembali ke kamarmu? Kakakku pasti sudah menunggu istri kesayangannya. " goda Aulia kembali pada Seroja.


Gadis itu meminta tolong pada Aulia untuk mengizinkannya tidur disitu malam ini.


" Aku mohon, izinkan aku tidur disini malam ini saja. " rajuknya pada Aulia. Rasanya ia tak sanggup bertatap muka dengan Arkana setelah kejadian barusan. Pasti pria itu berpikir jika dirinya adalah wanita gampangan yang dengan mudah ia taklukkan.


" Tidak bisa. Bagaimana kalau Mama dan Papa tahu jika kau tidur disini? Pasti mereka akan berpikir kalau kalian sedang bertengkar." tegasnya pada Seroja.


Gadis itu memberengkut kesal, dirinya dengn sengaja mencari alasan untuk mengulur-ulur waktu, siapa tahu Arkana telah tidur saat dirinya kembali ke kamar.


" Kalau begitu, ajari aku berjalan menggunakan highheels lagi supaya aku semakin lancar, atau ajari aku memakai make up atau ajari aku mengerjakan tugas kuliah. Bagaimana? " rajuknya kembali.


" Sudah,, sudah. Pokoknya aku tidak mau, aku sudah sangat mengantuk. Cepat kembalilah ke kamarmu. Ini sudah pukul 11 malam, kakakku mungkin sudah tertidur sekarang. " paksa Aulia mendorong-dorong Seroja agar keluar dari kamarnya.


Gadis itupun terpaksa berjalan kembali menuju kamarnya. Ragu-ragu dirinya membuka perlahan gagang pintu, berharap yang didalam telah terbuai ke alam mimpi saat ini.


Perasaan lega menyelimuti Seroja kala ia melihat lampu kamar kini telah padam. Dirinya mengamati sekilas ranjang tempat mereka tidur, terlihat Arkana sedang terlelap disana.


" Huh...untung saja dia sudah tidur. " batinnya lega.


Akhirnya iapun naik keatas ranjangnya, memasang guling penyekat diantara keduanya, kemudian tidur saling memunggungi.


" Semoga dirinya melupakan kejadian tadi. Andai ku bisa, akan kuhapuskan ingatannya tentang hal itu dan kusimpan sendiri di dalam sanubariku. Oh Seroja,, kau puitis sekali." gumamnya dalam hati.


Hampir saja ia berguling-guling karena senang, jika tidak teringat pria itu ada disampingnya sekarang.


...----------------...


Arkana POV


Arkanapun sebenarnya tidak bisa tidur, kejadian tadi merupakan hal pertama yang pernah ia lakukan. Hasrat dalam jiwanya terasa menggebu-gebu, jantungnya berpacu begitu kencang saat dirinya begitu dekat dengan Seroja.


Iapun sebenarnya menyadari tanda yang tanpa sadar ia buat sebagai pelampiasan hasratnya. Ia ingin menahan Seroja, tapi gadis itu malah buru-buru pergi meninggalkannya.


Ia yakin Seroja akan sangat malu, apalagi saat Aulia juga melihatnya. Ia menunggu kepulangan Seroja, namun gadis itu tak kunjung datang ke kamar.

__ADS_1


" Dia pasti sangat malu untuk bertemu denganku. "


Akhirnya Arkana mematikan lampu kamarnya dan berbaring di atas ranjang. Paling tidak, Seroja akan mengira bahwa dirinya sedang tidur saat ini.


Pria itu memejamkan mata, namun jiwanya tetap terjaga. Dirinya menyadari kedatangan Seroja serta bagaimana gadis itu mengendap-endap mendekati ranjangnya.


Seutas senyuman tersimpul di bibirnya, ia lega gadis itu kini telah terbaring disampingnya. Ingatan tentang gadis itu kembali merayapi pikirannya.


" Apa dia juga merasakan hal yang sama?" batinnya bertanya-tanya.


......................


Pagi menjelang, seperti biasa Arkana mandi dan berniat memakai baju kerjanya. Netranya tertuju pada pakaian yang telah disiapkan di dekat ranjangnya. Senyumnya mengembang, ternyata Seroja tidak kesal kepadanya. Akan tetapi, dimana gerangan wanita yang telah menyiapkan pakaian untuknya?


Arkana segera memakai pakaian kerjanya. Saat ia keluar dari walk in closet dirinyapun tak menjumpai Seroja dikamar.


" Kemana perginya gadis itu? Apa mungkin dia sudah kebawah? " gumamnya heran. Ia segera memakai sepatu dan mengambil tas kerjanya, lalu menyusul ke bawa barang kali istrinya sudah berada di ruang makan.


Benar saja, ternyata Seroja sudah bergabung dengan yang lain di meja makan. Semalaman dirinya mengalami sulit tidur.


Bianca menatap putranya yang baru saja duduk dan bergabung dengan mereka.


" Arkana, kau pasti mencari-cari istrimu bukan? Kau tahu, Seroja hari ini rajin sekali. Dia yang telah memasak dan menyiapkan sarapan untuk kita semua." ungkapnya senang.


Arkana memandang sang istri, tapi Seoja justru menundukkan pandangannya. Iapun kembali menatap lawan bicaranya.


" Iya, Ma. Pantas saja sejak pagi dia tidak ada dikamar. Dia juga sudah menyiapkan pakaian dan tas kerjaku. Istriku benar-benar rajin. " pujinya pada Seroja.


Gadis itu seolah melayang diudara mendengar pujian sang suami. Entah kesambet dari mana, pria itu akhir-akhir ini sering sekali memujinya.


" Kau tak perlu berlebihan. Memang itu sudah tugasku. " ia tersenyum tipis dan berusaha menjaga sikapnya.


Bianca memperhatikan sesuatu di leher Seroja.


" Nak, ada apa dengan lehermu? Apa kau sedang terluka? Kenapa kau memasang hansaplast disitu? " tanyanya heran.

__ADS_1


Uhuk...Uhuk...


Kini giliran Arkana yang tersendak, ia kaget dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan sang Mama. Iapun segera menghabiskan segelas air putih untuk menghilangkan rasa nyeri di tenggorokannya.


" Arkana, pelan-pelan makannya. Jangan gugup seperti itu." sindir Bianca pada putranya.


Ia kembali menatap penuh tanya pada sang menantu.


Seroja terlihat gugup, otaknya berputar keras untuk mencari alasan yang tepat pada mertuanya.


" I,, ini. Leherku gatal Ma, aku menggaruknya hingga lecet. Jadi aku menutupnya dengan plester luka. " ucapnya gugup.


" Harusnya kau tak perlu menutupinya supaya cepat kering. Mama punya krim khusus untuk gatal atau kalau tidak kita bisa memeriksakannya ke dokter. " Bianca menasehati.


" Tidak perlu, Ma. Ini juga sudah hampir sembuh. Nanti aku akan membukanya saja." tolaknya seketika.


" Ini semua karena ulah putramu yang liar, Ma. Suamiku,, kau benar- benar berhasil menenggelamkan mukaku ke dasar lautan. " batinnya kesal.


Arkana segera menundukkan pandangannya ketika melihat Seroja melirik tajam kearahnya. Ia yakin gadis itu kini sedang kesal terhadapnya.


Keduanya berpamitan pada kedua orang tuanya. Bianca memperhatikan mereka dari jauh. Tanpa ia sadari tangan sang suami telah melingkar dipinggangnya. Pria itupun hendak berangkat kerja sekarang.


" Kau ini,, seperti tidak pernah muda saja. " sindirnya pada sang istri.


Bianca terkekeh mendengar ucapan suaminya barusan.


" Aku memang sengaja menggoda mereka. Ternyata putramu itu tak kalah liarnya denganmu." ia mencubit pinggang sang suami karena gemas.


" Kau juga sama saja. Apa tidak ada bagian lain yang lebih menggemaskan selain pinggangku untuk kau cubit? " godanya pada sang istri. Pria itu mengecup puncak kepala sang istri yang menjadi bagian favoritnya.


Bianca memeluk Alvin, dirinya bersyukur memiliki pendamping yang begitu setia dan perhatian padanya. Bahkan saat uban sudah mulai tumbuh disela rambut hitam keduanya. Perasaan cinta itu justru semakin bertambah besar dan tak lekang oleh waktu.


" Semoga putraku benar-benar mendapatkan cinta sejatinya. " doanya dalam hati. Ia berharap hubungan Arkana dan Seroja akan tetap langgeng hingga maut memisahkan keduanya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2