Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
MENINGGALNYA ALUNA


__ADS_3

" Tuan, sepertinya mereka mengikuti kita." ungkap pilot yang mengemudikan pesawat milik Glenn.


Lelaki itu memperhatikan kebawah, benar saja beberapa iringan mobil mengikuti mereka dari bawah.


" Sial! Turunkan sedikit pesawat. Kita tembaki mereka dari atas!" perintah lelaki itu pada beberapa anak buah yang ikut bersamanya.


Dor..Dor...Dor...


Puluhan peluru menghujani mobil yang ditumpangi Alvin, Arkana dan para bodyguard. Beberapa diantaranya terhenti lantaran terkena tembakan dari udara. Arkana yang kebetulan mengemudikan mobil bersama sang ayah mencoba menghindar agar tak terkena tembakan bertubi-tubi yang dilayangkan pada mereka.


" Pa,, aku akan mencoba lebih dekat dengan helikopter itu. Kita harus bisa menembak bagian mesin pesawat supaya pesawat itu kehilangan kendali. " cetus Arkana.


" Baiklah. Berhati-hatilah. " pinta Alvin.


Arkana hanya mengangguk, dirinya kini lebih fokus dalam menyetir. Beberapa tembakan masih dilayangkan dari atas udara sehingga dirinya harus lebih waspada karenanya. Terlihat mobil para bodyguard mulai tumbang satu persatu.


" Sial! " Pekik Arkana kesal lantaran Glenn berhasil melumpuhkan seluruh anak buahnya. Kini hanya tersisa ia dan sang ayah yang berada didalam mobil.


Glenn menyeringai senang menyadari hal tersebut. Memang posisinya jauh lebih menguntungkan saat ini.


" Tembaki terus mobil itu. Jangan sampai mereka lolos!" perintahnya kembali.


Dor...Dor...Dor....


Arkana hampir saja terkena tembakan, untungnya ia masih bisa selamat saat mobilnya miring dan hampir terguling. Kini mereka masuki daerah yang sedikit rimbun sehingga posisi sedikit menguntungkan bagi mereka.


Alvin mengeluarkan sebagian tubuhnya dan menembaki ke arah pesawat.


Dor...Dor...Dor...


Tembakannya kali ini cukup berhasil, helikopter tersebut oleng hingga terpaksa harus mendarat darurat.


Rrraaaagggghhhhh....


" Aaarrrgghh. Kurang ajar !!" umpat Glenn kesal saat pesawatnya mulai oleng dan menabrak pepohonan hingga terpaksa berhenti seketika.


Mereka segera melompat keluar sebelum pesawat tersebut meledak.


Dduuummmb...


Pesawat meledak saat seluruh awaknya berhasil melompat keluar. Mobil Arkana mendekati lokasi kejadian. Ia melajukan mobil itu perlahan sembari memperhatikan sekitar. Ia yakin mereka masih bersembunyi dibalik semak belukar.


Dor...Dor...


Dirinya terkejut saat mendengar tembakan dari arah belakang hingga mengenai kaca spionnya. Alvin segera mengarahkan tembakan ke arah sumber suara.

__ADS_1


Dor..Dor..


Anak buah Glenn yang tengah bersembunyi berhasil ia lumpuhkan.


Dor..Dor..


Alvin berhasil menembak satu lagi saat anak buah Glenn mengarahkan tembakan kepada mereka.


" Papa benar-benar keren. Kita berhasil melumpuhkan seluruh anak buahnya. " ungkap Arkana bangga.


" Tetap fokus. Kita masih punya musuh yang pastinya berbahaya." Alvin memperingatkan putranya.


Baru saja dirinya selesai bicara, mobil itu telah tertembak mengenai kaca dan bagian ban mobil.


" Arrghhh..sial !" Keduanya segera turun lantaran mobil mereka tak mampu lagi berjalan.


Dor...Dor...


Suara tembakan kembali tertuju pada mereka, untung saja timah panas itu hanya mampu menggores bagian lengan Arkana. Netra mereka tertuju pada Glenn yang bersembunyi di balik pohon. Pria itu hendak menembak kembali, namun sialnya ia kehabisan peluru saat ini.


Glenn mencoba kabur, namun Arkana berhasil menembak salah satu kakinya hingga memy pria tersebut tumbang seketika. Seakan tak ada kapoknya, Glenn kembali berdiri dan berusaha untuk kabur. Akan tetapi, kondisinya yang lemah membuat langkahnya terganjal.


Dengan terpaksa Arkana menembakkan sebuah peluru kembali hingga mengenai kaki sebelahnya. Pria itupun tumbang dan tak mampu berkutik kembali. Arkana dan Alvinpun segera berlari menghampirinya.


Glenn sudah tak mampu berbuat apa-apa, ia langsung menyerah begitu saja.


" Lebih baik kau bunuh aku sekarang! " pintanya kesal. Dirinya bagai seekor semut kecil yang siap diinjak oleh sang gajah.


" Kau pikir dengan membunuhmu semua masalah akan beres, heum? Kami bukan orang yang tak berhati sepertimu. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu ke pihak yang berwajib. Dan aku lebih senang melihatmu tersiksa di penjara seumur hidupmu." Arkana menekankan.


Iapun akhirnya menelpon pihak kepolisian untuk segera menuju tempat kejadian perkara. Setelah menunggu hampir satu jam lantaran posisinya yang jauh dari kota, akhirnya Glenn berhasil diciduk oleh pihak yang berwajib.


" Akhirnya kita berhasil, Pa. " keduanya saling beradu tangan dan tersenyum penuh kemenangan.


******


Seroja, Aulia, Mama Bianca, dan keluarga Pak Anwar menunggu dengan penuh kecemasan di mansion keluarga Pramudya. Bagaimana tidak? Hampir seharian ini tidak ada sama sekali yang bisa mereka hubungi untuk menanyakan kabar.


" Ma, aku takut terjadi apa-apa. "


Netra Seroja berkaca-kaca. Dirinya takut terjadi sesuatu pada keluarga terutama sang suami. Rasanya baru beberapa saat mereka bersatu, mana bisa mereka terpisah kembali. Begitupun Aulia, tentunya ia juga tak ingin keluarganya mendapatkan musibah. Apalagi, sebentar lagi dirinya akan wisuda.


Biancapun tak kalah cemasnya, namun sebagai orang yang lebih dewasa ia harus bersikap lebih bijak.


" Kita serahkan saja semuanya pada Yang Maha Kuasa. Semoga semua selalu ada dalam perlindungan- Nya. " ia merangkul dan memeluk anak serta menantunya. Mengalirkan semangat untuk senantiasa berfikir positif bahwa semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Ting...Tong...


Suara bel berbunyi mengalihkan perhatian semuanya. Dengan segera Aulia membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


" Papa? Kakak? Apa yang terjadi? Dimana yamg lainnya? " tanyanya cemas ketika melihat keduanya kusut dan berantakan. Belum lagi kemeja putih Arkana yang terlihat merah karena darah segar.


Keduanya masuk terlebih dahulu, lalu duduk diruang tamu. Seroja, Bianca dan yang lain segera menghampiri mereka.


" Kami berhasil menangkap Glenn, pria itu telah dijebloskan ke jeruji besi saat ini. Namun, kondisi Aluna kini sedang kritis di rumah sakit. Kami menemukannya tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Sedangkan Arzel, ia sekarang menjalani perawatan akibat luka tembak dilengannya. " jelas Arkana.


Seluruh penghuni mansion merasa terkejut dan iba mendengarnya. Namun, mereka bersyukur lantaran masih diberi keselamatan.


Dert...Dert....


Tiba-tiba ponsel Arkana berbunyi, ternyata Mama Aluna yang menelponnya kali ini. Terdengar isak tangis dari seberang sana.


" Arkana, tolong datanglah ke rumah sakit bersama istrimu. Aluna kritis, dia ingin berbicara pada kalian sekarang. " ungkap wanita itu dengan suara parau. Ia segera menutup telepon lantaran tak mampu lagi berkata-kata.


Arkana menyampaikan hal itu pada Seroja, dengan segera merekapun pergi ke rumag sakit sesuai permintaan Aluna.


****


Keduanya telah tiba dirumah sakit, lalu menuju ruangan tempat Aluna dirawat. Rasa terenyuh dan iba meliputi perasaan mereka saat memandang Aluna yang tergolek lemah dengan infus dan selang oksigen sebagai alat bantu pernafasannya.


Keduanya berdiri disamping ranjang Aluna, wanita itu seolah tersenyum tipis meskipun sepertinya sedikit memaksakan.


" Terimakasih kalian ma,,u datang kemari. Aku hanya ingin me,,minta ma,,af atas kesalahanku pada ka,,lian berdua. " ucapnya lemah dengan suara yang terbata-bata.


Seroja tak mampu membendung airmatanya, sebagai wanita hatinya begitu lemah saat membayangkan penderitaan Aluna saat ini. Sungguh, dirinya sama sekali tak menyimpan dendam pada wanita itu. Ia senang Aluna berniat untuk bertobat dan menyesali perbuatannya. Sesekali ia menyapu airmatanya,


" Sudahlah, kami telah memaafkanmu. Sekarang kau beristirahatlah saja, kau harus berjuang untuk segera sembuh." Ucapnya menyemangati.


Aluna tersenyum tipis kembali,


" Ka,,u wanita yang ba,,ik. Se,, moga kalian ba,,ha,,gia. Kalau be,,gitu aku bisa pergi de,,ngan tenang. " Semua terkesiap mendengar kata-kta terakhir dari Aluna.


Yah, wanita itu menggelinjang hebat saat jiwa dan raganya benar-benar terpisah. Ia menghembuskan nafas terakhir setelah penyesalannya akan dosa-dosa selama ini.


" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. "


Semoga ia tenang disisi-Nya dan diampuni segala dosa-dosanya.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya....

__ADS_1


__ADS_2