
Keluarga Pramudya kini telah tiba di mansion. Mereka pergi ke kamar masing-masing lantaran rasa penat yang menuntut mereka untuk segera beristirahat.
Begitupun Arkana dan Seroja, keduanya langsung merebahkan diri diatas ranjang akibat rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya.
Seroja membuang nafas panjang,
" Huh,, hari yang melelahkan. Tubuhku terasa pegal, belum lagi otot kakiku yang tersiksa karena sepatu hak tinggi itu. " keluhnya kesal.
Pria itu memalingkan wajah ke arahnya, tadinya ia berniat menanggapi ucapan gadis tersebut. Namun, fokusnya justru beralih pada wajah dan setiap lekuk tubuh gadis itu yang begitu menggoda.
Wajah Seroja yang masih teroles make up, belum lagi pakaian pas badan yang menampakkan lengan dan kakinya yang putih bersih menyulut kembali gairah dalam diri Arkana. Pria itu tak berkedip saat nampak olehnya kedua bukit kembar yang biasanya tertutup oleh kaos longgar, kini terpampang nyata lantaran posisi gadis itu yang telentang.
Ia bahkan tak menyadari bahwa gadis itu kini tengah menatap kesal kepadanya.
" Dasar mesum! Kenapa kau melihatku seperti itu?! " Seroja memukuli Arkana dengan guling yang ada di sebelahnya.
"Aaww..awww..awwww..."
Teriak Arkana saat beberapa kali Seroja menghantamkan guling dengan cukup keras kepadanya. Lantaran kesal, iapun menarik guling tersebut hingga membuat Seroja ikut tertarik dan jatuh ke pelukannya.
Arkana menatap dalam gadis yang kini ada dalam pelukannya, dengan posisi Seroja yang setengah menindihya.
" Jangan salahkan aku. Akupun pria biasa yang bisa tergoda jika kau berpakaian seperti ini. " ucapnya jujur. Pria itu mendekatkan bibirnya, berharap kejadian kemarin akan terulang kembali.
Meskipun Seroja kesal, tapi posisi seperti ini berhasil membuat degub jantungnya berdetak tak karuan.
" Setidaknya jangan permainkan perasaanku seperti ini. " ia membalas tatapan nanar pria tersebut.
Gadis itu segera berdiri, lalu mengambil pakaian gantinya kemudian berlari menuju ke kamar mandi. Ia sengaja menyalakan shower agar tak terdengar aktivitas yang ia lakukan didalam sana.
Gadis itu menjatuhkan tubuhnya seraya menangis meratapi nasibnya. Ia seolah menyesali keputusannya menikah kontrak dengan Arkana. Pernikahan kontrak yang membuat dirinya terjerat pusaran cinta pria tersebut.
" Aku tidak bisa melanjutkan ini semua. Aku tak mau terjerat semakin dalam. Lebih baik sandiwara ini segera diakhiri."
Arkana mematung seketika mendengar apa yang baru saja gadis itu katakan. Ia berusaha mencerna kalimat tersebut.
__ADS_1
" Mempermainkan? Apa itu artinya dia juga..." pria itu tersenyum getir lantaran baru menyadari semua ini.
Ia beranjak dari ranjang lalu mengganti pakaiannya. Dirinya menatap pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka. Iapun kembali ke ranjangnya sambil duduk menunggu gadis itu keluar dari sana.
Ceklek...
Hampir setengah jam lamanya Seroja berada di kamar mandi. Gadis itu keluar dari sana dengan kaos longgar dan celana panjang untuk menutupi tubuhnya. Rambutnya terlihat basah lantaran guyuran shower yang barusan ia nyalakan.
Arkana memperhatikan gadis yang kini berjalan mendekati ranjang.
" Maafkan kekhilafanku tadi. A,, ku tidak mampu mengontrol diriku sendiri. " ucapnya penuh penyelasan.
Seroja menundukkan pandangannya, ia tak ingin Arkana melihat matanya yang sembab lantaran menangis barusan.
" Lupakan saja." jawabnya singkat. Iapun membaringkan diri diatas ranjang sambil memunggungi Arkana.
Pria itu semakin merasa bersalah, ia malu pada dirinya sendiri lantaran terlalu mudah mengucapkan kata maaf atas kehilafan yang terus- menerus ia lakukan.
Keduanya saling memunggungi satu sama lain dengan pemikiran masing-masing.
Arkana merasa gelisah, sepertinya Seroja harus segera tahu perasaannya yang sesungguhnya.
Seroja tak bergeming, ia masih kecewa dengan apa yang pria itu lakukan tadi.
Arkana kembali melanjutkan ucapannya.
" Aku tahu kau masih belum tidur. Sekali lagi aku minta maaf. Jika kau ada waktu, hari minggu nanti aku mau kita bertemu di taman hiburan. Ada sesuatu yang ingin aku ungkapkan padamu. " pintanya pada gadis tersebut.
Seroja masih terdiam tak menanggapi, tapi dalam hati iapun bertekad untuk menemui pemuda itu. Dirinya berniat untuk membatalkan surat perjanjian kontrak nikah mereka.
" Aku harus segera mengakhiri semuanya." tekadnya dalam hati.
Arkana tersenyum getir saat gadis itu masih tak juga memberi jawaban. Pria itu membuang nafas kasar. Ia segera mematikan lampu kamar berharap esok mood gadis itu akan membaik kembali.
...----------------...
__ADS_1
Subuh menjelang, Arkana mengerjapkan mata berusaha untuk segera bangun dari peraduannya. Namun, dirinya merasakan sesuatu yang cukup berat menindih badannya. Ia membuka kedua matanya dengan sempurna. Betapa terkejut dirinya kala menyadarinSeroja kini sedang meringkuk sambil memeluknya dari belakang.
Pria tersebut mengembangkan senyumnya, sepertinya gadis itu kedinginan lantaran rambutnya yang masih basah semalam. Ia memutar pelan badannya agar Seroja tak terbangun olehnya.
" Ternyata kau semakin cantik jika tidur seperti ini. " ungkapnya dalam hati.
Arkana semakin merapatkan tubuhnya untuk memberikan kehangatan pada gadis itu.
" Aku sudah benar- benar kehilangan akal sehatku. Padahal sudah jelas dia akan marah jika ia tahu aku berbuat seperti ini.
Aku sudah tidak peduli, yang terpentingadi aku nyaman bersamanya. " batinnya sambil mendekap erat tubuh gadis itu.
Tak puas hingga disana, ia kembali menatap wajah Seroja. Rasanya ia tak ada bosan-bosannya memperhatikan wajah cantik gadis itu. Timbul hasrat dalam dirinya untuk mencumbu seluruh wajah wanita yang telah berhasil merebut hatinya tersebut.
Cup..
Sebuah kecupan berhasil mendarat di kening Seroja. Lagi dan lagi, pria itu kini beralih ke kedua pipi dan hidung mancung milik istrinya. Dan yang terakhir, bagian yang paling ia sukai, bibir gadis itu.
Jantungnya berdebar kencang saat hendak meneruskan aksi mesumnya kali ini. Meskipun sedikit ragu, perlahan ia mulai mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu.
Namun, tiba-tiba saja gadis itu mengeliat. Arkana jadi gelagapan karenanya. Ia segera bangun dan beranjak dari atas ranjangnya.
" Aku tak bisa menunggu lama-lama sebelum imanku benar-benar goyah karenanya. " Ia sampai geleng - geleng kepala mengingat kelakuannya barusan.
Serojapun mulai terbangun, rasanya ia tidur begitu nyaman malam ini. Gadis itu tersenyum seorang diri. Sebenarnya ia sadar dengan apa yang dilakukan Arkana barusan terhadapnya.
Ia sendiri jadi plin plan dalam menentukan sikapnya. Padahal, semalam ia menangis lantaran pria itu hampir saja melecehkannya. Namun, pagi ini dirinya bahagia mendapat perlakuan manis seperti itu.
Setelah memikirkan kejadian itu hingga tak bisa tidur, ia berhasil menemukan kemungkinan lain. Iapun mulai berpikir jika Arkana sepertinya juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Mungkin keadaan mereka sama, masih ragu dengan perasaannya.
Ia sengaja memancing pria tersebut dengan berpura-pura tanpa sadar tengah memeluknya. Tidak apa-apa bukan? Toh secara agama mereka berdua sah sebagai suami istri. Ia ingin tahu apakah pria itu memang tertarik padanya atau tidak.
" Setidaknya aku harus berjuang mendapatkan cintaku. Ya Alloh,, aku mohon semoga dirinya bisa menjadi pasangan pertama dan terakhir bagiku. " doanya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...
Makasih buat para readers yang setia mendukung. Maaf author belum bisa membalas koment kalian satu-persatu dikarenakan kesibukan author di dunia nyata. Jangan lupa tetap dukung karya keduaku ini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya . Makasih semuanya🤗------