Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
PERTEMUAN BIANCA DAN ENENG


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Bianca dengan sengaja menyempatkan diri untuk melewati jalanan dimana dirinya terakhir kali bertemu dengan Seroja. Ia berharap dapat bertemu dengan gadis yang telah menolong suaminya tersebut untuk berterimakasih padanya.


" Ma, itu Kakak penjual kue. " tunjuk Killa saat tak sengaja melihat Seroja yang sedang menjajakan gorengannya pada orang-orang yang lewat.


Bianca segera menengok, benar saja gadis itu terlihat ada diseberang jalan. Iapun segera menyusul bersama putri kecilnya.


" Kakak penjual kue !!" panggil Killa padanya.


Senyum ramah merekah di kedua sudut bibir Seroja. Ia segera menghampiri Bianca dan Killa.


" Nyonya,, anda disini? Kebetulan sekali. " sapanya ramah.


" Aku kemari memang sengaja ingin bertemu denganmu, maukah kau makan siang bersama kami? " Bianca mencoba menawari.


Seroja terlihat bingung, disatu sisi dagangannya belum habis dan iapun harus segera pulang menyiapkan makan siang dan obat untuk ibunya. Namun, disisi lain ia merasa sungkan harus menolak ajakan wanita dihadapannya.


Bianca memahami kebingungan yang tergambar jelas di wajah Seroja. Ia mencoba memberi solusi pada gadis itu.


" Jangan khawatir, tidak akan lama. Hari ini aku akan memborong semua daganganmu. Bagaimana? Apa kau setuju? " dirinya mencoba memberikan penawaran.


" Baiklah, Nyonya. Terimakasih banyak. "


Gadis itu akhirnya mau menerima tawaran Bianca, mereka memutuskan untuk makan siang disalah satu restoran yang berada tidak jauh darisana.


Bianca memesankan beberapa makanan yang paling lezat direstoran tersebut, kebetulan restoran itu memang salah satu restoran langganannya.


Netra Seroja tak henti-hentinya mengamati makanan yang telah tersaji diatas meja. Air liurnya serasa hendak menetes membayangkan makanan tersebut masuk kedalam mulutnya.


Kruyuk...Kruyuk...


Bunyi khas perutnya yang lapar terdengar hingga ke telinga Bianca. Rasanya Bianca ingin tertawa melihat tingkah gadis dihadapannya yang sepertinya sangat lapar.


Seroja merasa malu, ternyata perutnya tidak bisa diajak kompromi.


" Maaf Nyonya, cacing-cacing diperutku selalu saja bernyanyi saat melihat makanan enak. Mereka memang tidak tahu malu, padahal aku sudah memberikan amunisi yang cukup banyak padanya tadi pagi. "


Bianca tertawa mendengar kelakar gadis yang ada dihadapannya.


" Kau tenang saja, ayo cepat makan sebelum dingin. Kalau kurang, nanti aku akan memesan kembali untukmu."


Dengan lahap Seroja memakan makanan yang ada dihadapannya. Cita rasa makanan yang memang sangat enak ditambah lagi rasa lapar dalam dirinya membuatnya tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan seluruh makanannya. Suara sendawa yang cukup keras menandai bahwa gadis itu benar-benar kenyang saat ini.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba raut wajahnya terlihat murung. Dirinya teringat ibu dan adiknya yang juga jarang makan makanan enak seperti ini.


" Kenapa? Apa masih ada yang kurang? Atau kau ingin menambah lagi? " Bianca kembali memperhatikan perubahan mimik wajah gadis tersebut.


" Tentu saja tidak, Nyonya. Hanya saja aku teringat akan ibu dan adikku. Mereka jarang sekali merasakan makanan seenak ini. " ungkapnya menundukkan kepala.


" Oh ya? Kau bilang ibumu sakit? Apa beliau sudah sembuh sekarang? Kita bahkan belum sempat berkenalan waktu itu. Aku Bianca dan ini putriku Killa. Bolehkah aku tahu siapa namamu? " Bianca ingin mengenal gadis itu lebih jauh. Ia meminta putrinya ikut memperkenalkan diri.


" Hai Killa, namamu cantik sekali secantik wajahmu. Perkenalkan nama kakak, Seroja. Kau boleh memanggilku Kak Seroja. " Gadis itu menjabat tangan gadis kecil yang begitu menggemaskan menurutnya.


Deg....


Bianca tertegun mendengar nama gadis dihadapannya. Nama itu sama seperti nama yang Bi Irah berikan pada cucu beliau. Dalam hatinya bertanya-tanya mungkinkah gadis itu adalah putri Eneng yang selama ini ia cari-cari?


" Kau bilang namamu Seroja? Apakah Ibumu bernama Eneng? " tanyanya sedikit ragu.


Seroja heran saat wanita itu mengetahui nama ibunya.


" Bagaimana anda bisa tahu nama ibuku? Apa anda mengenal beliau? " tanya Seroja heran.


Bianca terbelalak hampir tak percaya. Entah jodoh entah kebetulan semata, namun ia sangat senang jika benar gadis itu adalah orang yang selama ini ia cari-cari.


Seroja seakan tak percaya, namun apa yang disampaikan oleh Nyonya yang ada didepannya hampir sama dengan cerita sang ibu.


" Nyonya, sebaiknya anda jangan terlalu berharap. Aku tidak ingin anda nantinya kecewa bila ternyata bukan saya orang yang anda maksud sebenarnya. Bisa saja ini hanya kesamaan nama belaka. " Seroja menasehati, dirinya takut bila ternyata dugaan Nyonya Bianca salah terhadapnya.


Bianca mengembangkan senyumnya,


" Kau jangan khawatir, aku tahu itu. Tapi entah mengapa hatiku mengatakan hal yang sama bahwa kaulah orang yang selama ini aku cari. Bolehkah aku bertemu dengan ibumu? " pinta Bianca memelas.


" Baiklah. Kalau itu keinginan anda, aku akan membawa anda bertemu dengan ibuku. Beliau ada dirumah dan saat ini sedang sakit. " Seroja menjelaskan apa yang dialami ibunya.


Keduanya sepakat, setelah memesan beberapa makanan direstoran untuk ibu dan adik Seroja. Mereka segera pergi untuk bertemu dengan Eneng, ibu Seroja setelahnya.


...----------------...


Uhuk...Uhuk...Uhuk...


Eneng merasakan sakit pada dadanya. Ia melirik jam dinding yang ada dikamarnya, waktu menunjukkan pukul dua siang, namun entah mengapa putrinya belum juga datang.


" Kemana Seroja? Kenapa dia belum kembali?" batinnya bertanya-tanya.

__ADS_1


Dirinya mencoba meraih obat dan air putih yang ada dimeja samping ranjangnya. Namun kondisinya yang sangat lemah membuatnya kesulitan melakukan hal itu.


Pyarrrrr...


Tanpa sengaja gelas itu justru jatuh dan berserakan dilantai.


" Ibu? " Seroja yang baru saja datang tanpa sengaja mendengarnya. Dirinya begitu panik dan segera memasuki kamar ibunya. Ia meminta Bianca dan Killa menunggu diluar.


Uhuk...Uhuk..Uhuk...


Terdengar sang ibu yang masih saja terbatuk-batuk.


" Bu? Maafkan aku karena terlambat datang. Ibu pasti ingin meminum obat, tunggu sebentar aku akan mengambilkan airputih untuk ibu. " gadis itu keluar sebentar, kemudian kembali dengan membawa segelas airputih ditangannya.


Dengan segera ia meminumkan obat untuk ibunya, untung saja batuk sang ibu sedikit mereda setelahnya.


" Seroja, maafkan ibu. Ibu hanya merepotkanmu saja. " wanita itu tiba-tiba menangis dipelukan putrinya.


Serojapun tak kuasa menahan airmatanya, ia tak tega melihat sang ibu yang selalu saja menyalahkan dirinya sendiri.


" Tidak Bu. Sudah berapa kali kukatakan, aku senang merawat ibu. Ibu tidak pernah menjadi beban untukku. Maaf tadi aku terlambat, aku bertemu dengan seseorang barusan. " dirinya berusaha menenangkan sang ibu.


" Oh ya, hampir saja aku terlupa. Aku datang bersama Nyonya itu kemari, beliau ingin bertemu dengan ibu. " ia teringat Bianca yang sedang menunggunya didepan.


" Siapa orang yang ingin bertemu dengan ibu, Nak? " tanya Eneng heran.


" Sebentar, aku akan memanggilnya kemari. " gadis itu keluar untuk mengajak Bianca masuk menemui ibunya.


Bianca segera memasuki kamar ibu Seroja. Alangkah terkejut dirinya saat melihat wanita yang sedang terbujur tak berdaya diatas ranjangnya.


" E,, neng ? " Bianca mendekati ranjang wanita itu untuk memastikan. Dirinya merasa begitu iba saat mengetahui kondisi wanita itu sekarang.


" Nyo,, nya Bianca? " wanita itu samar- samar mulai mengenali wanita yang berdiri dihadapannya saat ini.


Bianca tak mampu lagi membendung airmatanya, ia tak menyangka hidup Eneng begitu menderita selama ini. Dipeluknya perlahan wanita tersebut.


" Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan baik. "


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..

__ADS_1


__ADS_2