
Pagi ini Seroja nampak ceria. Setelah beberapa hari bolos, akhirnya sekarang ia bisa berkuliah kembali. Ia merapikan pakaiannya sambil bercermin.
Arkana mendekati sang istri, justru kini dirinya yang terlihat bermuka masam. Pria itu memeluk pinggang Seroja dan meletakkan kepalanya diceruk leher istrinya. Ia memperhatikan pantulan mereka dari balik cermin.
" Sepertinya kau senang sekali bisa berkuliah. Memangnya ada yang sedang kau rindukan disana. " ucapnya lesu.
" Tentu saja ada. Aku rindu Aulia, Dosen, teman-teman termasuk Arzel juga." goda Seroja pada sang suami.
Seketika pria itu memberengkut kesal, ia melepaskan pelukannya begitu saja dari istrinya saat mendengar nama Arzel disebut.
Seroja terkekeh melihat tingkah laku suaminya yang kekanak-kanakan.
" Kau ini, begitu saja kesal. Maaf,, aku hanya bercanda. Tentu saja aku lebih bahagia bersamamu, tapi jika kau kerja aku benar-benar kesepian seorang diri disini. Mungkin kalau aku hamil dan memiliki anak, aku akan lebih senang mengurus mereka dari pada harus belajar. Kau tahu sendiri, otakku ini pas-pasan." ia merasa sadar diri.
Arkana kembali mengembangkan senyumnya.
" Siapa yang berani mengatakan istriku itu bodoh berarti dia harus berhadapan denganku. Aku tak peduli meski kau tak lulus kuliah, karena kau telah memiliki suami yang bertanggung jawab sepenuhnya padamu." ucap Arkana bangga. Ia kembali memeluk erat pinggang istrinya.
" Jangan membahas masalah hamil dan anak-anak lagi sekarang. Bisa-bisa kau batal kuliah hari ini. " Bisik pria itu pada istrinya.
" Dasar menyebalkan. Ayo cepat kita berangkat. "
Keduanyapun meninggalkan apartemen menuju kampus Seroja berada.
...----------------...
Aulia dan Arzel ternyata telah tiba lebih dulu di kampus. Sejak Arzel tinggal di kediaman Pramudya, pria itu menjadi semakin rajin dan bersemangat untuk kuliah. Tentu saja, dengan begitu waktunya bersama Aulia lebih panjang.
Keduanya menatap kehadiran sahabatnya yang sudah beberapa hari tidak masuk kuliah. Aulia menyapa Seroja yang baru saja tiba.
" Kemana saja kau? Apa benar kau sedang sakit beberapa hari ini? " tanyanya pada Seroja.
" Iya,, aku sedang kurang enak badan akhir-akhir ini." ia terpaksa membohongi sahabatnya. Mana mungkin dirinya mengatakan pada Aulia bahwa ia telah digempur habis-habisan oleh kakaknya.
Arzel menyunggingkan senyuman ke salah satu sudut bibirnya.
" Sepertinya dia terlalu lelah bertarung." ejek Arzel padanya.
Aulia terkejut mendengar penuturan Arzel barusan.
__ADS_1
" Benarkah Seroja? Memangnya kau bertarung melawan siapa? Apa ada yang mengganggumu lagi? " gadis itu cerdas, namun lugu jika diajak berbicara mengenai hal yang bersifat dewasa.
Arzel terkekeh mendengar pertanyaan Aulia barusan, namun tawanya terhenti saat Seroja melirik tajam ke arahnya.
" Tidak usah kau dengarkan dia. Sepertinya Arzel memang sudah sedikit tidak waras." ia mengerucutkan bibirnya lantaran kesal dan berlalu menuju bangku miliknya.
Aulia menatap keduanya secara bergantian,
" Kalian berdua sama-sama aneh. " gerutunya heran melihat kedua orang itu saling mengejek satu sama lain.
Serojapun memperhatikan kedua sahabatnya itu. Tanpa sengaja, pulpen Aulia tampaknya jatuh ke lantai. Dengan sigap Arzel mengambilkan pulpen tersebut hampir berbarengan dengan Aulia. Keduanya saling melempar tawa.
Namun, yang membuat Seroja terkejut adalah sikap Arzel yang mengelus puncak kepala Aulia seolah menunjukkan rasa sayang pemuda itu pada sahabatnya.
" Apa Arzel menyukai Aulia? " batinnya penasaran.
...----------------...
Mata kuliah pertama berakhir, Seroja berniat mengikuti sahabatnya untuk belajar di perpustakaan. Iapun masih penasaran mengenai hubungan Aulia dan Arzel.
Ketiganya nampak fokus pada buku bacaannya. Seroja sesekali melirik kedua sejoli tersebut. Dirinya kembali dibuat heran, Arzel bukannya membaca, tapi justru ia sibuk memandangi Aulia yang sedang serius membaca.
Tanpa ia sadari, Aulia memergoki perilakunya itu.
" Seroja? Kenapa kau memperhatikan kami seperti itu?"
Seroja langsung gelegapan karenanya, apalagi Arzelpun ikut menatap kepadanya.
" Ti,, tidak apa-apa. Aku hanya kagum, kalian benar-benar serius dalam belajar. " gadis itu beralasan.
Aulia geleng-geleng kepala, ia merasa heran dengan tingkah Seroja hari ini.
...----------------...
Malampun tiba, sesuai janjinya pada sang istri, Arkana membawa Seroja pulang ke mansion. Saat makan malam telah usai, keduanya segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
" Tunggu sebentar, aku ingin mengambil air minum dibawah. Rasanya tenggorokanku kering sekali. " ia meletakkan tangan sang suami yang melilit dipinggangnya.
" Jangan lama-lama. Apa aku perlu mengantarmu? " tanya sang suami yang kini berganti memeluk guling di sampingnya.
__ADS_1
" Tidak perlu,, aku hanya sebentar. " gadis itupun beranjak menuju dapur.
Ia segera membasahi tenggorokannya yang kering dengan segelas air minum. Saat hendak kembali ke kamarnya, tanpa sengaja dirinya melihat Arzel yang begitu terburu-buru keluar dari dalam rumah.
" Aneh sekali, memangnya dia mau kemana?"
Rasa penasaran membuat dirinya berniat mengikuti pemuda tersebut. Ternyata, Arzel berjalan menuju taman yang berada disamping mansion. Dirinya teringat sewaktu pertama kali melihat pemuda itu datang, Arzelpun sedang berada disana saat itu.
Gadis itu terperanjat saat tiba-tiba pemuda itu bersembunyi dibalik tembok sambil memperhatikan ke arah atas. Seroja semakin penasaran dengan tingkah laku Arzel. Ia berjalan mengendap-endap untuk memastikan apa yang sedang dilakukan pemuda itu.
" Jadi selama ini, kau sedang memperhatikan Aulia darisini. Kupikir waktu itu kau mau mencuri di rumah ini." sindir Seroja sambil melipat kedua tangannya.
Arzel terbelalak seketika, ia tak menyadari jika Seroja memergoki apa yang tengah ia lakukan disana. Iapun membekap mulut gadis itu dan menariknya menjauh dari sana. Dirinya tak ingin Aulia sampai tahu apa yang ia lakukan selama ini.
" Tolong, jangan katakan ini padanya. Aku tidak mau dia menjauhiku lantaran hal ini." mohonnya pada Seroja.
Gadis itu terkekeh mendengar Arzel memohon kepadanya. Berarti sejak lama pemuda itu memiliki perasaan pada Aulia.
" Katakan dengan jujur, sejak kapan kau menyukai adik iparku itu?" cecarnya pada pria yang ada dihadapannya.
Arzel mengajak Seroja untuk duduk di salah satu bangku taman. Iapun mulai menceritakan semuanya pada wanita ith. Mengenai dirinya yang sudah sejak dulu menyukai Aulia, tentang sikap gadis itu yang selalu saja berburuk sangka padanya, tentang kesengajaannya supaya tidak lulus kuliah di Amerika hanya untuk berkuliah disini agar bisa mendekati Aulia.
Seroja benar-benar tak menyangka Arzel bisa sampai nekad berbuat seperti itu untuk bisa mendapatkan Aulia. Ia menepuk pundak Arzel untuk menyemangati pemuda itu.
" Kau tenang saja, aku salut dengan perjuanganmu. Aku berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun dan membantumu untuk memperjuangkan cintamu. " ucapnya bersemangat.
Arzel tersenyum tipis, " Terima kasih. "
Keduanyapun hendak beranjak dari sana, tapi tanpa mereka duga Arkana telah berdiri dihadapan keduanya dengan tatapan penuh kecemburuan.
" Jadi,, disini rupanya kau mengambil airminum?" sindir Arkana menatap kesal pada sang istri.
Glekkk....
Seroja menelan kasar salivanya, kali ini dirinya seperti maling yang tetangkap basah sedang mencuri.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...
__ADS_1